Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Butuh Teman


__ADS_3

Ting tong ....


Terdengar suara bel kamar ditekan oleh seseorang. Retha mematikan sebentar kompor yang baru dinyalakannya. Buru-buru ia berlari ke arah pintu untuk membukanya.


"Permisi, saya disuruh mengantarkan barang ini ke sini," ucap seorang pelayan hotel menyerahkan tas milik Retha.


"Terima kasih, Mas." Retha menerima tas tersebut dan kembali menutup pintu.


Ucapan Bara ternyata tidak main-main. Lelaki itu sungguhan ingin mengajaknya tinggal di kamar hotel tersebut. Tidak ada yang bisa Retha lakukan selain pasrah menerima. Bara telah membayarnya sebagai ganti dari Zack. Ia mencoba menepis kegalauannya dan melanjutkan acara memasak yang tertunda.


Kulkas dan dapur di kamar hotel tersebut kebanyakan berisi olahan makanan instan. Masih ada sedikit sawi hijau dan wortel yang bisa ia masak srbagai campuran menu utama mie goreng yang akan dibuatnya. Memasak bukan hal yabg sulit untuknya. Karena ibunya sudah lama meninggal, mau tidak maau ia harus bisa menggantikan peran sang ibu di rumah.


"Oh, Pak Bara sudah selesai." Retha meletakkan hasil masakannya di meja kemudian menghampiri Bara yang baru keluar dari kamar mandi.


"Stop! Jangan pegang-pegang!" Bara memberi kode agar Retha tidak mendekatinya.


Retha menghentikan langkah. Ia heran kenapa Bara memilih berjalan tertatih dengan tongkatnya padahal ia hanya berniat membantu. Retha agak khawatir karena Bara sangat lama hanya untuk mengganti pakaian. Ia sempat khawatir terjadi apa-apa di dalam.


Saat Retha hendak membantu Bara duduk di kursi, lelaki itu kembali menolaknya. Membuat Retha bingung sendiri kenapa lelaki itu tiba-tiba bersikap ketus kepadanya. "Maaf ya, Pak. Saya hanya membuatkan mie goreng dengan bahan seadanya."


Bara memandangi makanan yang ada di hadapannya. Meskipun menggunakan bahan seadanya, tampilannya lumayan menarik dan menggugah selera. Pengolahan mie dipadukan dengan udang, sosis, daging, serta sayuran yang yang membuat komposisi warnanya menarik.


Bara mengambil sedikit hidangannya dengan garpu menggunakan tangan kirinya. Makanan yang wanita itu buat terasa enak seperti ekspektasinya.


"Bagaimana kalau saya bantu menyuapi Bapak?"


Bara melirik ke arah Retha. "Kamu kira saya anak kecil?" ketusnya.


"Bukan hanya anak kecil yang perlu disuapi, Pak. Orang sakit juga wajar disuapi apalagi tangan kanan Bapak sedang sakit."

__ADS_1


"Berarti kamu juga mau membantu saya mandi?" ucapnya. Bara sangat suka melihat perubahan taut wajah Retha.


"Sepertinya Bapak bisa makan sendiri. Selamat makan!" Retha langsung pura-pura sibuk memakan makanannya. Lelaki itu selalu mengatakan sesuatu yang membuatnya menyesal ingin menawarkan bantuan.


Bara menahan tawa merasa berhasil menggoda Retha. "Apa barangmu sudah diantarkan? Tadi aku menelepon Zack untuk mengantar barang-barangmu."


"Sudah, Pak. Waktu Bapak mengganti pakaian, ada yang datang mengantarkan barang. Pasti Bapak kesulitan ya, hanya mengganti pakaian saja butuh waktu lama."


Bara terdiam. Ia melirik ke arah Retha. Alasan yang membuatnya lama di kamar mandi ada di depannya. "Kalau kamu mau membantuku mengganti pakaian mungkin akan lebih cepat selesai," goda Bara.


Lagi-lagi Retha dibuat mati kutu dengan perkataannya sendiri. Memurutnya, pembicaraan yang Bara lakukan selalu menjurus ke arah yang int1m. Sedangkan ia malu sendiri harus ketahuan pekerjaannya dan bertahan dengan lelaki yang ia hormati sebagai salah satu wali murid di sekolah. Ia memilih kembali fokus untuk menghabiskan makanannya.


Selesai makan, Retha membantu mengganti perban di tangan Bara. Awalnya lelaki itu menolak dibantu. Namun, karena kesulitan, akhirnya ia menyerah Retha membantunya.


"Jadi, kamu meninggalkan tugas mengajar untuk melakukan pekerjaan ini?" tanya Bara.


Retha merasa sedih jika mengingat harus meminta cuti untuk pekerjaan semacam itu. "Benar, Pak. Saya meminta cuti seminggu untuk datang ke sini," jawab Retha sembari membersihkan area luka di lengan Bara.


"Kenzo anak yang baik. Awalnya dia suka melamun dan menyendiri, tidak mau bermain dengan teman-temannya. Sekarang, sepertinya dia sudah jauh lebih ceria dan mau bergaul dengan temannya."


"Pasti karena gurunya yang baik hati," puji Bara.


Retha hanya tersenyum. "Saya malah jadi terbebani mendapatkan pujian seperti itu dengan pekerjaan saya yang seperti ini."


"Ini masalah pribadimu, tidak ada kaitannya dengan kewajibanmu di yayasan. Kamu tetap seorang guru yang baik dan bertanggung jawab."


"Anda terlalu berpikiran positif terhadap orang lain."


Bara tidak ingin lebih jauh ikut campur dengan kehidupan Retha. Menurutnya, setiap orang memiliki sisi baik dan buruk. Seperti halnya Silvia yang masih belum sepenuhnya bisa ia lupakan. Orang-orang selalu menganggap Silvia sebagai wanita yang tidak baik, tega mencampakan suami dan anaknya. Padahal, Silvia tetap seorang ibu yang baik untuk Kenzo.

__ADS_1


Dia tahu perjuangan istrinya dulu saat hamil, melahirkan, bahkan mengasuh Kenzo selama dua tahun di awal hidupnya. Terkadang ia merasa dirinya sendiri yang buruk. Akibat ambisinya yang terlalu tinggi terhadap kesuksesan, ia tidak sadsr telah menyakiti hati Silvia, membuat wanita itu merasa kesepian dan akhirnya memutuskan untuk pergi.


Ia kembali memperhatikan wajah Retha yang masih sibuk menggantikan perban di tangannya. Perlakuannya begitu lembut dan hati-hati, membuatnya merasa diperhatikan. Perkataan ibunya tidak sepenuhnya salah. Sepertinya ia memang membutuhkan seseorang untuk merawatnya. Tinggal bersama seseorang di sisinya membuat rasa kesepiannya hilang.


"Apa gajimu di yayasan begitu kecil?" tanya Bara.


Retha tahu memana arah pertanyaan itu. "Gajinya cukup untuk kehidupan saya sehari-hari, Pak. Saya hanya merasa kesulitan karena ayah saya terlilit hutang rentenir. Sebagai anak, saya berusaha untuk membantu meringankan beban ayah saya."


"Adik saya yang masih SMA juga kebetulan sedang butuh banyak uang untuk urusan sekolahnya. Yang jelas, saya memerlukan uang bukan untuk berfoya-foya atau menuruti gaya hidup. Kebetulan saja saya sedang ituh banyak uang dalam waktu yang berdekatan sampai saya kewalahan."


"Sudah usaha pinjam ke sana kemari sampai uang yayasan sempat saya pinjam, akhirnya terpaksa saya memilih pekerjaan seperti ini."


Bara mendengarkan cerita Retha dengan seksama. Ia ikut terharu dengan cerita tersebut. Ternyata, Retha memiliki beban untuk memenuhi tanggungan keluarganya.


"Bisa bantu ambilkan obat yang ada di sana?" Bara menunjuk ke arah lemari tempat menyimpan obatnya.


Retha berjalan menuju tempat yang Bara tunjuk. Ia buka laci lemari dan mengambil botol berisi kapsul obat untuk diberikan kepada Bara.


"Kalau saran saya, lebih baik Bapak mendapatkan perawatan di rumah sakit atau pulang ke rumah saja. Masalah pekerjaan masih bisa ditunda, kesehatan Bapak yang paling utama. Bapak butuh perawatan yang lebih baik agar cepat sembuh."


Bara menelan dua butir kapsul dari wadah tersebut sembari tersenyum. "Saya sudah tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Sekarang, ada kamu yang akan merawat saya," katanya.


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, kalian boleh mampir dulu ke sini 😘


Judul: Terpaksa Menikahi Mantan Napi


Author: Unchi

__ADS_1



__ADS_2