Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Malam Spesial


__ADS_3

Seorang pelayan hotel memandu Bara dan Retha pada sebuah kamar hotel termewah yang berada di lantai 72. Saat pintu terbuka, nampak ruangan yang begitu luas selayaknya sebuah rumah dengan ruang tamu, ruang tengah, dapur, ruang makan, dan beberapa ruangan lainnya. Hiasan bunga serta lilin-lilin menyambut kehadiran mereka dalam suasana yang romantis.


Pelayan keluar ruangan seraya menutup kembali pintu kamar setelah tugasnya selesai. Bara memeluk pinggang wanita yang kini menjadi istrinya sembari menikmati suasana kamar bergaya klasik nan romantis. "Apa kamu suka?" tanyanya.


"Kenapa kita harus menginap di hotel? Bukankah kita bisa tidur di apartemen? Kamu terlalu banyak menghabiskan uang hanya untuk ini, Mas."


Sebenarnya Retha bahagia diberikan kejutan yang sangat luar biasa. Bara memberikan hal terbaik untuknya yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan bisa menikmatinya. Namun, mengetahui biaya menginap saja menghabiskan biaya hingga ratusan juta per malam, ia cukup syok. Bara mempersiapkan semua itu tanpa berunding dengannya.


Bagi Bara mungkin uang sebanyak itu bernilai kecil. Tapi, bagi Retha yang seumur hidupnya kesulitan mencari uang untuk bertahan hidup, ratusan juta adalah nilai yang cukup tinggi bahkan bisa membeli rumah baru.


"Aku ingin menghabiskan momen romantis ini bersamamu di tempat yang spesial. Kamu lebih berharga dari apapun yang aku miliki." Bara mengecup ceruk leher wanitanya.


Mendapat cinta yang begitu besar dari orang yang luar biasa pasti menjadi dambaan bagi setiap wanita. Retha salah satu wanita beruntung yang bisa mendapatkan hati seorang duda yang telah lama menutup pintu hatinya.


"Ganti bajumu dengan itu dan tunggu aku di tempat tidur," bisik Bara sembari menunjuk ke arah sebuah lingerie merah yang tergantung di sisi lemari. "Aku akan mandi sebentar dan menemuimu di kamar." Ia mencium sekilas pipi istrinya sebelum berlalu ke dalam kamar mandi.


Rerha berjalan memasuki kamarnya. Diraihnya sebuah lingerie merah yang telah dipersiapkan Bara untuknya. Lelaki itu menginginkan dirinya mengenakan lingerie berbahan lace yang menerawang serta pendek. Wajahnya memerah membayangkan dirinya mengenakan pakaian tersebut.


Ia menanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya kemudian mengenakan pakaian berwarna merah menyala tersebut. Warnanya sangat cocok dengan kulitnya yang putih hingga menciptakan kesan elegan dan s3ksi. Pakaian tersebut sangat menerawang hingga kulit tubuhnya bisa terlihat memalui celah-celah.


Sebelum datang ke sana, Retha sudah lebih dulu mandi dan bersiap pergi ke suatu tempat bersama Bara. Ia kira akan diajak ke sebuah pesta, namun ternyata diajak untuk malam pertama sebagai pasangan suami istri.


'Ini bukan pertama kalinya aku akan melakukan ini, tapi kenapa aku jadi gugup,' batinnya. Tangannya serasa gemetar dan detak jantungnya berdebar kencang saat duduk di tepian ranjang menantikan Bara.


"Malam ini kamu sangat cantik!" tanpa sadar Bara telah keluar dari kamar mandi dan berada di hadapannya. Lelaki itu mengenakan handuk kimono dengan rambut yang masih tampak basah dari sisa-sisa air mandi. Aroma sabun yang wangi menguar dari tubuhnya.

__ADS_1


Retha bertukar pandang dengan sosok lelaki yang membuat kehidupannya seolah berubah menjadi seorang putri. Dari yang kesulitan ekonomi, kini bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan jika dia mau, untuk bergaya mewah Bara pasti akan membiayainya. Ia begitu terharu dan bersyukur mendapatkan jodoh sosok sesempurna Bara.


Ada rasa canggung berhadapan dengan lelaki itu. Rasa yang ia rasakan seperti sebuah perjumpaan pertama. Tak disangka, mulai malam ini ia akan menjadi seorang istri yang membaktikan jiwa dan raganya kepada suami.


"Tanganmu gemetaran ... apa kamu gugup?" tanya Bara dengan nada lembut. Lelaki itu mengangkat tubuh Retha agar berdiri seraya memberikan pelukannya.


"Coba dengarkan detak jantungku ... debarannya begitu cepat sama sepertimu."


Retha menempelkan telinganya sembari mendengarkan debaran dari suaminya. Perasaannya menjadi sedikit tenang.


Bara mengecup puncak kepala sang istri yang berada dalam pelukannya. "Aku juga gugup karena akhirnya kamu menjadi istriku."


"Bajunya sangat cocok untukmu sesuai yang aku bayangkan," puji Bara.


Kedua tangan Bara bergerak begitu lembut menyusuri area leher semakin menurun ke pundak, melepaskan tali spagetti lingerie yang Retha kenakan. Retha melakukan hal yang sama. Ia melepaskan ikatan tali pinggang kimono yang melilit di pinggang Bara. Keduanya saling meloloskan pakaian satu sama lain hingga akhirnya tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi.


Retha maju selangkah, menerima ciuman mesra di bibirnya. Kedua bibir mereka saling berpaut dengan lembut. Bara merengkuh tubuh Retha sembari memperdalam ciuman. Ia bawa tubuh istrinya berbaring di atas ranjang empuk dan nyaman di kamar spesial mereka. Mereka berguling sambil bertatapan mesra. Malam ini, dunia seakan hanya milik mereka berdua.


Mata Retha melebar saat Bara mengangkat tubuhnya naik ke atas tubuh Bara. Ia menyangga tubuhnya dengan meletakkan kedua telapak tangan di dada bidang Bara. Wanita itu tampak tersipu malu.


Bara tampak mengulum senyum melihat pemandangan indah tepat di hadapannya. Kedua bukit kembar bergayut manja seakan menarik dirinya untuk memberikan sentuhan mesra. Bentuknya yang padat dengan ujung yang menegang tampak s3ksi dilihat dari bawah.


***


"Ah!" Angga memekik kecil saat Edis mengoleskan obat pada luka di wajahnya.

__ADS_1


"Apa sakit?" tanya Edis khawatir.


"Tidak apa-apa. Aku bisa menahannya."


"Tahan sedikit lagi." Edis melanjutkan mengoleskan obat pada beberapa titik luka yang ada di wajah Angga.


Beberapa saat yang lalu, sekelompok pemuda nakal yang pernah ingin mengganggu Edis kembali berusaha mengeroyok Angga. Saat itu Angga dan Edis memang sedang jalan berdua, Edis sedang membeli sesuatu di mini market. Sementara Angga menunggunya di bangku taman.


Saat Edis kembali dari belanja, ia melihat Angga sedang dikeroyok beberapa pemuda yang pernah mengganggunya. Ia langsung berteriak minta tolong sehingga mereka kabur.


"Jangan pernah keluar malam kalau tidak benar-benar perlu, apalagi kalau sendirian," ucap Angga kepada Edis.


"Aku tidak menyangka mereka akan kembali dan balas dendam pada Kakak." wajah Edis berubah memelas.


"Sepertinya tempat ini memang tempat tongkrongan mereka. Berhati-hatilah!"


"Kakak juga harus hati-hati, kalau bisa jangan lewat sini."


Edis menghela napas. Ia memandangi wajah Angga dengan tatapan sendu. Baru beberapa hari lalu luka di wajah Angga mulai membaik, kini muncul lagi luka baru.


Baru kali ini Edis merasakan mencintai seseorang terasa sangat berat. Perasaannya terus saja dipenuhi oleh kecemasan terhadap kondisi Angga. Hatinya ikut merasakan sakit melihat kondisi Angga yang terluka.


"Aku minta maaf. Semua gara-gara aku Kakak jadi seperti ini," ucapnya dengan nada menyesal.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Angga bingung.

__ADS_1


__ADS_2