
"Selamat datang ...." Aldo menyambut kehadiran Retha dengan senyuman penuh. Ia sangat bahagia bisa kembali menemukan wanita yang selalu membuatnya terpesona di klab malam.
Retha menghela napas. Ia berusaha untuk bersikap tenang dan tidak menunjukkan ketakutannya. Ternyata orang yang meneleponnya adalah Aldo, lelaki gila yang selalu mengganggunya di klab.
"Retha, duduk dulu. Ayo, masuklah!" Aldo berniat merangkul Retha namun ditepis.
"Dimana adikku?" tanya Retha tanpa basa-basi.
"Ah, kenapa langsung dibahas itu. Kita bisa bicara berdua dulu. Sudah lama juga kita tidak bertemu."
"Aku datang ke sini untuk adikku, bukan untuk berbicara yang tidak perlu denganmu," tegas Retha.
Aldo sesaat tercengang dengan sikap Retha. Wanita itu kini terlihat lebih berani dari pada sebelumnya. "Oke, baiklah!" ia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk menghadirkan orang yang Retha mau.
Tak berselang lama, mereka membawa paksa Edis dan Pak Agus ke hadapan Retha.
Retha terkejut melihat kondisi adiknya di sana. Juga kondisi sang ayah yang memprihatinkan, namunia sama sekali tidak kasihan kepada lelaki itu. Justru ia ingin memaki ayahnya sendiri. Lelaki itu benar-benar membuatnya muak dan emosi, tidak pernah berubah sifatnya.
"Kakak!" seru Edis saat melihat kehadiran kakaknya. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman anak buah Aldo, namun masih gagal.
Retha yang juga ingin maju membela adiknya, ditahan oleh Aldo. "Kita bicara dulu baik-baik, kalau kesepakatannya baik, aku akan melepaskan mereka," ucap Aldo dengan nada yang lembut.
"Aku hanya perlu membawa adikku kembali. Silakan kalau kamu menginginkan ayahku tetap di sini," ucap Retha.
"Oh, jadi kamu tidak menyukai ayahmu yang seperti sampah itu? Ternyata kamu beda juga dengan adikmu." Aldo terkekeh. "Ayo kita duduk dulu," ajaknya.
Terpaksa Retha menuruti kemauan Aldo. Mereka duduk di sofa ruang tengah sembari melihat Edis dan Pak Agus yang masih dipegangi oleh anak buah Aldo.
"Jadi, aku dengar kamu sudah menikah?" tanya Aldo.
Retha mengangguk. "Aku telah menikah dengan Mas Bara." Ia berbicara dengan nada yang mantap.
Aldo tampak merasa kecewa telah mendengarnya secara langsung. "Ah, tidak apa-apa. Kamu bisa bercerai dengannya dan menikah denganku."
__ADS_1
Retha membulatkan matanya, menatap nyalang ke arah Aldo.
"Kenapa? Kamu jadi semakin manis kalau tersenyum begini."
Aldo berusaha mendekati Retha tanpa rasa sungkan. Ia mencoba menyibakkan rambut namun ditolak oleh Retha. Kesal dengan penolakan yang Retha berikan, ia mengunci tubuh Retha di sana. Dengan tidak tahu malu, ia berusaha menciumi Retha yang terus melawan.
"Lepaskan aku! Dasar lelaki gila!" teriak Retha sembari terus melindungi dirinya.
"Hahaha ... Aku memang sudah gila karena dirimu, Retha. Kamu semakin cantik dari terakhir kali kita berjumpa."
"Jangan lakukan apapun pada kakakku! Lepaskan dia! Brengsek kalian!" Edis meronta-ronda ingin melepaskan diri dari anak buah Aldo. Ia tidak rela melihat kakaknya sendiri hendak diperk0sa dihadapannya. Ia menangis meraung-raung meminta Aldo menghentikan sikapnya kepada sang kakak.
Pak Agus yang sudah tampak tidak berdaya dengan luka-luka di sekujur tubuh itu mulai terketuk hatinya melihat kondisi putrinya. Muncul rasa bersalah atas tindakannya selama ini yang sudah merepotkan sang anak. Hingga ia harus menyaksikan putrinya sedang diganggu oleh lelaki yang memberikannya banyak hutang.
"Brak!" pintu depan terbuka paksa menimbulkan suara keras.
Mendengar bunyi yang mengganggu itu, Aldo menghentikan kelakuannya. Ia sangat geram ada yang berani mengganggunya.
Bruk! Bruk! Bruk!
Bara muncul dengan gagah dari balik pintu, disusul kemudian oleh Zack dan Angga di belakangnya.
"Mas!" Retha berseru kegirangan melihat kehadiran suaminya.
Aldo tidak rela Retha lepas darinya. Ia mencengkeram tangan Retha dengan erat seraya mengacungkan sebuah pistol ke arah wanita pujaannya.
Bara dan yang lain memperlambat langkah, takut Aldo bersikap nekad dan bisa membahayakan salah satu dari mereka.
Edis merasa sedikit lega ada orang yang datang untuk menolong mereka. Apalagi salah satu di antaranya merupakan Angga, pacarnya.
"Siapa yang menyuruh kalian masuk? Keluar sekarang!" perintah Aldo dengan nada kasar. Ia semakin mendekatkan pistol miliknya hingga moncong pistol menempel di pelipis Retha.
Ketiga lelaki itu menghentikan langkah. Mereka mengangkat tangan tanda menyerah. Aldo memang lelaki yang cenderung nekad dan tidak suka disalahkan.
__ADS_1
"Hahaha ... Dasar kalian orang-orang sialan! Berani mengganggu usahaku mendapatkan Retha? Kalau aku tidak bisa memiliki Retha, lebih baik Retha mati saja!" ancam Aldo.
"Heh! Aldo! Kamu tidak waras? Aku beri tahu, ya! Retha itu sudah menikah. Jangan seperti orang tidak laku, di luaran sana masih banyak gadis-gadis yang menarik," ucap Zack untuk mengalihkan perhatian Aldo.
"Berisik!" bentak Aldo. Sepertinya dia tidak suka dengan apa yang baru saja Zack katakan. "Aku tidak peduli dia sudah menikah atau belum. Kalau Retha masih hidup, aku harus memilikinya. Kalau Retha sudah mati ... Mayatnya juga akan aku awetkan untuk menemani tidurku. Hahaha ...."
Perkataan Aldo membuat Retha merinding. Baru kali ini ia bertemu dengan orang yang memiliki sifat seburuk itu.
"Heh! Namamu pasti Bara, kan?" tanya Aldo kepada lelaki yang paling depan itu. Apalagi parasnya yang tampan membuatnya semakin kesal. Ia masih mengingat jelas wajah yang pernah dua kali menghajarnya. Karena ulah Bara juga ia beberapa kali merasa dipermalukan di depan umum.
"Pak Bara ... Istrimu akan segera menceraikanmu. Dia akan menikah kembali denganku."
"Sialan!" umpat Bara ia kembali maju tidak terima istrinya dibawa-bawa.
Aldo emosi dan mengarahkan pistolnya kepada Bara yang sedang berjalan ke arahnya.
Dor!
Satu tembakkan dilesatkan tepat mengenai lengan kiri Bara. Sontak semua orang yang ada di sana begitu terkejut. Aldo benar-benar melakukan hal nekadnya.
"Mas Bara!" Retha berteriak histeris melihat sang suami tertembak dan mengeluarkan darah.
Entah mendapat kemampuan tambahan dari mana, Retha menjadi lebih kuat menghadapi lelaki gila itu. Ia berhasil menepis tangan Aldo hingga pistol terlepas jauh dari arah mereka.
"Ban9s4t! Kamu berani melawanku, hah?" Aldo emosi. Ia menampar keras Retha hingga jatuh tersungkur. Tak puas hanya menampar, Aldo juga menendang-nendang tubuh Retha dengan kasar.
Bara semakin tidak terima melihat perlakuan yang diberikan kepada istrinya. Denga kondisi tangan yang terluka, ia maju, begitu pula dengan Zack dan Angga. Perkelahian pecah. Mereka berkelahi melawan anak buah Aldo.
❤
❤
❤
__ADS_1
Maaf ya readers, author ada kendala di real life. Doakan bisa segera up dengan teratur seperti biasa. Sementara menunggu update, bisa mampir ke karya teman author, ya 😘