
"Tanda tangani ini!"
Bara menyodorkan selembar kertas kepada Silvia. Wanita itu mengambil lembaran tersebut lalu membacanya secara seksama. Raut wajah yang awalnya bahagia karena Bara berinisiatif mengajaknya bertemu, tiba-tiba berubah menjadi syok setelah menyadari surat yang dipegangnya merupakan surat permohonan perceraian. Bukannya bahagia dengan kepulangannya, Bara justru ingin menceraikan dirinya.
"Ini maksudnya apa, Mas?" tanya Silvia tak percaya.
"Hanya untuk mengesahkan perceraian kita secara hukum negara. Tanpa persidangan kita juga sudah bercerai, bukankah tidak ada bedanya?" Bara meneguk teh hangat pesanannya. Ia sengaja mengundang Silvia ke kafe semi privat untuk membahas tentang perceraian.
Retha telah bersedia menunggu Bara menyelesaikan masalahnya. Istri kesayangannya itu memang sudah tidak pernah membahas tentang hubungannya dengan Silvia lagi. Retha bersikap seperti biasa, melayani dirinya selayaknya seorang istri yang baik.
Setiap malam ia pulang ke apartemen Retha untuk bercumbu mesra dengan sang istri. Sementara, ia hanya bertahan di apartemen lama sampai Kenzo telah tertidur. Bara tidak sudi menginap di sana apalagi ada Silvia. Ia telah memaafkan kesalahan Silvia, namun bukan berarti dirinya mau kembali pada wanita itu. Tiga tahun yang menyesakkan membuatnya tersadar bahwa menunggu sifat Silvia berubah merupakan hal yang sia-sia. Sifat buruk itu sudah menjadi watak yang tidak bisa dihilangkan.
"Aku pulang untuk memperbaiki hubungan kita, Mas! Kamu tidak ingat dengan keharmonisan keluarga kita dulu? Kasihan Kenzo kalau harus menerima perpisahan orang tuanya untuk kedua kali." Silvia berbicara dengan nada yang tegas. Bagaimanapun juga, ia tak ada niatan untuk bercerai dengan Bara.
"Siapa yang mengawali ini semua?"
Silvia tercekat tak bisa membantah. Bara mengingatkan kesalahannya yang dulu sempat pergi dari rumah. "Oke, itu salahku! Sekarang aku sudah berubah, Mas!" Silvia gregetan Bara tak pernah peduli padanya.
"Perasaanku padamu juga sudah berubah!" tegas Bara. Retha sudah memberikan kepercayaan padanya, ia tak mau mengecewakan wanita itu lagi.
"Apa ini karena Mama Ratih dan Thea? Kamu sungguh-sungguh mau menikah dengan wanita itu?" tebak Silvia.
Beberapa waktu yang lalu mereka memang sempat bertemu. Thea mengatakan banyak hal intimidatif terhadap dirinya. Ia tahu wanita itu tidak akan puas sebelum mewujudkan apa yang diinginkannya. Terlebih, Thea memiliki dendam pribadi kepadanya saat SMA.
"Itu bukan urusanmu! Yang jelas, aku ingi menegaskan kalau aku sudah tidak memiliki perasaan apapun kepadamu. Kalau kita bercerai, kamu bisa menjadi wanita yang bebas melakukan apapun kemauanmu."
__ADS_1
"Mas Bara pikir Thea wanita yang baik? Dia mungkin lebih kaya dariku, tapi belum tentu lebih baik dariku, Mas!"
"Kamu ini bicara apa? Jangan mengurusi apa yang nanti akan aku lakukan ke depan. Kamu urusi saja dirimu sendiri."
"Jangan mengurusi? Lalu bagaimana dengan Kenzo? Kalau kamu mau menikah lagi, itu akan berpengaruh kepada mentalnya!"
"Memangnya kelakuanmu tidak memberikan dampak untuk Kenzo?" sindir Bara.
"Setidaknya aku tetap ibu kandungnya. Sekarang aku juga berusaha menjadi ibu yang baik." Silvia kelabakan menjawab pertanyaan Bara.
Bara tersenyum menertawakan Silvia. "Tidak usah mengajariku cara membesarkan Kenzo dengan baik. Anak itu masih bisa bersikap sopan dan sayang kepadamu sebagai seorang ibu, apa kamu pikir bisa terjadi tanpa ada yang mengajari? Kamu kira Kenzo langsung bisa bicara dan berlari setelah dilahirkan?" Menurut Bara, Silvia sangat konyol. Wanita itu tetap saja tak mau mengakui kesalahannya.
"Cepat tanda tangani supaya urusan kita segera berakhir," ucap Bara.
Silvia terdiam. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu sembari memandangi lembaran kertas dari Bara. Dengan emosinya, ia merobek kertas itu menjadi bagian kecil-kecil dan melemparkannya hingga berserakan. "Aku tidak mau bercerai denganmu, Mas!" ucapnya dengan emosi.
"Aku tidak menginginkan uang darimu, Mas. Kamu jahat sekali menganggapku sebagai wanita mata duitan." Silvia meneteskan air matanya akibat ucapan Bara yang terdengar menyakitkan.
Bara memandangi Silvia. Susah kalau sudah melihat wanita itu mulai playing victim. Wanita itu terus menangis sesenggukkan di hadapannya. Untung saja mereka berada di ruangan tertutup. Jika mereka berada di ruang publik, Silvia akan semakin menjadi-jadi tingkahnya untuk mendapatkan perhatian orang lain.
"Kalau kamu sudah tidak mencintaiku, setidaknya pikirkan tentang Kenzo, Mas ... Huhuhu ...."
Silvia terlihat sedih dan menderita. Ia merasa orang lain tak pernah berusaha memahami dirinya. Segala tingkah lakunya selalu dianggap salah, tak terkecuali oleh Bara.
Bara sengaja mendiamkan Silvia, membiarkan wanita itu terus menangis. Ia tak mau merasa kasihan kepada wanita itu sekalipun tangisannya terdengar semakin kencang dan tersedu-sedu.
__ADS_1
"Huek! Huek! Huek!"
Bara melebarkan matanya karena terkejut. Silvia tiba-tiba seperti ingin muntah namun tidak ada muntahan yang keluar. Ia masih terdiam mengira Silvia masih berpura-pura. Akan tetapi, wanita itu malah jatuh pingsan.
"Silvia!" teriak Bara seraya menahan tubuh Silvia yang hampir jatuh.
Silvia benar-benar pingsan setelah menangis tersedu-sedu tadi. Bara menjadi panik. Ia tidak menyangka wanita itu akan tak sadarkan diri.
Bara mengangkat tubuh Silvia dalam gendongannya. Secara cepat ia melangkah dengan terburu-buru membawa Silvia keluar. Banyak orang yang menatapnya saat ia keluar sembari membawa Silvia.
Di area parkir, Pak Diman sudah menunggu Bara. Lelaki itu juga tampaknya kaget melihat Bara datang membawa Silvia dalam kondisi tak sadarkan diri.
"Ibu Silvia kenapa, Pak?" tanya Pak Diman cemas yang tadi berlari menyambut Bara. Ia berniat membantu Bara, namun majikannya itu menolak.
"Aku juga tidak tahu. Kita bawa saja dia ke rumah sakit, Pak Diman!" perintah Bara.
Pak Diman berlari membuka pintu mobil belakang, mempersilakan Bara masuk ke dalam bersama Silvia. Ia kembali berlari menuju kursi kemudinya untuk segera melajukan mobil menuju rumah sakit. Sesekali matanya melirik ke arah belakang. Ia masih heran Silvia akhirnya pulang dan menempati apartemen lama.
Bara memang tidak pernah menginap di sana, namun ia tetap tidak tega membayangkan bagaimana perasaan Retha melihat Bara bersama sang istri pertama. Retha wanita yang sangat baik dan ramah, jauh berbeda dengan sikap Silvia yang dulu kepadanya. Ia tidak rela wanita sebaik itu disakiti oleh Bara.
Pernikahan antara Bara dan Retha, Pak Diman merupakan salah seorang yang mengetahuinya. Ia orang yang sangat loyal kepada Bara dan mampu menyimpan rahasia tersebut dengan baik. Ia yakin jika Silvia tahu, Retha tidak akan selamat. Retha pasti akan dirundung oleh Silvia yang merasa lebih berhak dengan kehidupan Bara.
***
Sambil menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir, ya! 😘
__ADS_1