Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Rencana Pesta


__ADS_3

Bara telah mengganti pakaiannya. Seragam penjara yang selama satu bulan ini menjadi penutup tubuhnya telah dikembalikan pada tempatnya. Hari ini ia benar-benar memperoleh kebebasannya kembali. Nama baiknya juga ikut dipulihkan karena tidak terlibat dalam kasus proyek yang penyelidikannya masih bergulir.


Ia kembali memasuki ruangan di mana keluarganya telah menanti. Wajah pertama yang dipandangnya adalah wajah teduh Retha, istri tercintanya. Dengan langkah yang ringan ia berjalan ke sana seraya mendaratkan pelukan hangat kepada sang istri.


Tangisan haru Retha kembali mengalir. Ia sangat berayukur suaminya bisa dibebaskan dari segala tuntutan. Keresahan yang selama ini melanda hati kini telah berakhir.


Bara juga memberikan pelukan kepada ayah ibunya, juga Mikha dan Aryo. Mereka merupakan keluarga yang selama ini memberikan support terhadap dirinya. Tanpa mereka, ia tidak tahu apakah masih bisa bertahan menghadapi kerasnya sistem peradilan di negeri ini.


"Akhirnya kamu bisa kembali bebas, Nak!" ucap Ratih dengan haru. Ia juga tak kuasa menitihkan air mata saking senangnya. Ibu mana yang tega melihat anaknya mendekam di dalam penjara dalam waktu yang cukup lama baginya.


"Terima kasih sudah sabar dan percaya kepada Bara, Ma." Bara mengulaskan senyum. Sampai kapanpun, anak tetaplah anak. Begitu pula Bara yang masih suka memanja jika berada di depan sang ibunda.


Kebebasan Bara menjadi berita yang sangat menggembirakan. Untuk merayakan kegembiraan itu, keluarga Atmaja mengadakan acara makan siang bersama. Kenzo tampak duduk di pangkuan Bara seakan tidak ingin jauh dari sang ayah yang sudah lama tidak membersamainya.


"Jadi, Daddy bukan penjahat, kan? Polisinya salah tangkap orang, ya?" ucapan polos Kenzo membuat tawa bergema di ruangan bergaya Jepang yang mereka sewa untuk makan siang.


"Tentu saja, Kenzo. Daddy kan orang baik makanya dikeluarkan dari penjara," jawab Ratih.


"Aku kesal sama polisi, Oma! Daddy orang baik, harusnya tidak udah masuk penjara. Mereka sudah salah sama Daddy, harusnya mereka yang dipenjara."


Tawa kembali terdengan. Kepolosan Kenzo sangat menghibur mereka. Suasana keluarga yang hangat kini telah kembali seperti semula.


"Mereka kan sudah tinggal di penjara, Kenzo," sahut Gisel.


"Oh, iya. Polisinya juga bareng Daddy tinggal di penjara," Kenzo tampak berpikir keras sembari mengunyah makanannya.

__ADS_1


Orang-orang dewasa hanya tersenyum dengan pemikiran anak-anak mereka.


"Kak Kenzo, ayo main!" ajak Eril.


"Ayo!" jawab Kenzo semangat.


"Habiskan makananmu dulu, Kenzo!" pinta Bara.


"Aku sudah kenyang!" Kenzo segera turun dari pangkuan ayahnya dan berlari mengikuti Eril ke arah tempat bermain anak yang ada dalam satu ruangan tersebut.


Gisel ikut-ikutan meninggalkan makanannya untuk bergabung dengan Kenzo dan Eril.


"Jadi bagaimana, apa rencana kalian setelah ini?" tanya Pak Atmaja.


"Rencana apa, Pa?" Bara balik bertanya. Ia merasa tidak paham dengan maksud sang ayah.


"Mauku begitu, Pa!" jawab Bara enteng seakan tidak memiliki beban.


"Anak ini benar-benar ...." Ratih ikut gregetan juga dengan sikap putranya yang selalu saja terlihat santai.


"Urusan pribadi biar menjadi privasi, Pa, Ma. Aku tidak mau terlalu mengekspose keberadaan Retha. Tidak ada untungnya juga mengumbar kehidupan pribadi."


"Setidaknya orang-orang tahu kalau Kak Bara sudah menikah lagi dan bercerai dengan Silvia." Mikha ikut-ikutan bersuara. "Nanti kalau tidak tahu kasihan Retha, suaminya akan dikejar-kejar wanita ganjen!" tambahnya.


Bara menoleh ke arah Retha. Wanita itu terlihat sedang memandang ke arahnya juga hingga mata mereka saling beradu pandang. "Tidak ada wanita yang berani mendekatiku, Sayang. Soalnya aku ini galak!"

__ADS_1


Retha senyum-senyum sendiri dengan perkataan Bara yang apa adanya. Saat pertama bertemu Bara, lelaki itu memang tampak dingin dan angkuh meskipun wajahnya tampan. Wanita yang berniat mendekatinya pasti akan merasa rendah diri sebelum menggodanya. Bara seakan melabeli dirinya dengan duda dingin berselera tinggi.


"Kalau menurut Mama sih, sebaiknya kalian mengadakan pesta resepsi. Setidaknya anak kalian nantinya akan melihat foto pernikahan orang tuanya." Ratih tetap menginginkan Bara untuk mengumumkan pernikahannya.


"Setuju, Ma! Aku yang akan mencarikan WO terbaik kalau Kak Bara mau mengadakan pesta lagi!" Mikha berkata dengan penuh semangat.


"Kenapa jadi kamu yang paling semangat, Sayang. Itu kan terserah kakakmu yang mau menjalaninya," kata Aryo.


"Perusahaanku baru kena kasus, Ma. Kerugiannya juga besar masa malah memikirkan pesta ... Aku mau fokus membenahi perusahaan dulu," kilah Bara mencari alasan.


"Mama dan Papa yang akan membiayai, kamu tenang saja!" Ratih membantah alasan Bara. "Mumpung kandungan Retha juga masih kecil, lakukan saja pesta pernikahan. Kalian tidak perlu pusing-pusing memikirkan apapun, biar kami yang menyiapkan segalanya."


"Oh, iya. Retha katanya masih punya adik dan ayah, kan? Kak Bara kapan mau mengajak mereka ke rumah untuk berkenalan? Masa kita tidak dikenalkan dengan keluarga Retha," ucap Mikha.


Bara dan Retha langsung berpandangan. Retha tampak sedikit panik saat ayahnya disebut. Ia yang awalnya bahagia dengan penerimaan baik keluarga Bara menjadi pesimis jika membahas dengan ayahnya. Tidak ada satupun mertua yang akan menerimanya sebagai menantu jika mengetahui kelakuan ayahnya yang hobi judi dan mabuk-mabukan. Ia rasa keluarga Bara juga akan membencinya jika bertemu dengan ayahnya.


"Ayah Retha sedang berada di daerah pedalaman untuk berdagang. Sulit untuk bisa menghubunginya. Mungkin, kalau pestanya akan dilaksanakan menunggu ayah Retha muncul, anakku akan lebih dulu lahir ke dunia." Bara mencoba mencari alasan agar keluarganya tidak mencari-cari ayah mertuanya.


"Wah, kalau selama itu bagaimana, ya ... Masa tetap melaksanakan pesta tanpa melibatkan pihak mertua." Ratih bingung sendiri menyadari rencananya terancam gagal.


"Itu tidak sopan, Ma. Nanti dikira kita asal ambil anak orang." Mikha juga tidak setuju jika keluarga Retha tidak diundang.


"Makanya tidak usah repot-repot melaksanakan acara, Ma. Yang penting kami sudah sah menjadi pasangan suami istri di mata agama dan negara.


Selera makan Retha sedikit menghilang. Pikirannya kini tengah dipenuhi oleh sang ayah. Kepada Bara saja ia sudah sangat kehilangan muka dengan kelakuan sang ayah, apalagi jika dihadapkan dengan keluarga Bara.

__ADS_1


Kelakuan ayahnya semakin menjadi-jadi. Setelah menyusahkan dia dan adiknya, sang ayah tidak tahu malu menyusahkan Bara juga. Sudah dijatah 10 juta untuk satu bulan, masih terasa kurang hingga rumah pemberian Bara ikut terjual. Kalau bertemu dengan ayahnya lagi, ingin sekali ia memenjarakan saja ayahnya sendiri. Setidaknya sang ayah tidak akan berulah jika berada di dalam penjara.


__ADS_2