
Hendry memandangi istrinya yang masih menangis sesenggukan di ruang tamu. Setelah sampai di apartemen, entah mengapa wanita itu terus menangis dan belum mau berhenti. Ia merasa ada kaitannya dengan kejadian di mall tadi. Ia jadi merasa kesal istrinya menangis gara-gara mantan suami.
"Mau sampai kapan kamu menangis? Masa kamu menangisi orang-orang seperti mereka?" guman Hendry.
"Siapa juga yang mau menangis ... Aku juga tidak tahu kenapa harus menangis ... Huhuhu ...." Citra sudah berusaha untuk menghentikan tangisannya. Namun, air mata dan isakannya seakan terjadi di luar kendalinya. Ia sama sekali tidak menyesal dengan perceraiannya dulu, tetapi entah mengapa ia ingin menangis tanpa tahu kenapa ia ingin menangis.
"Lain kali kalau bertemu mereka, hadapi dengan berani! Tunjukkan kamu punya harga diri." Hendry kesal sendiri melihat istrinya yang seakan belum move on dari mantannya.
"Hiks! Hiks! Hiks!"
"Kamu masih mengharapkan mantan suamimu?" tanya Hendry kesal.
Citra menoleh ke arah Hendry dengan tangisan yang belum berhenti. "Aku tidak ada niatan seperti itu! Aku juga tidak tahu kenapa tidak bisa berhenti menangis ... Kenapa malah memarahiku! Huhuhu ...." Ia ikut kesal karena Hendry kesal padanya.
Melihat wanita itu menangis, hati Hendry menjadi luluh. Ia tak bisa lagi marah melihat sorot matanya yang bening itu. Ditariknya tubuh sang istri ke dalam pelukannya. "Ini terakhir kalinya aku mengizinkanmu menangisi masa lalu. Ke depannya, kamu hanya boleh tersenyum dan tertawa karena aku akan membuatmu bahagia," ucapnya.
Mendengar ucapan Hendry yang menenangkan, tangisan Citra justru semakin kencang. Ia membalas pelukan itu, memeluk erat tubuh suaminya dan meluapkan emosinya lewat tangisan.
'Kenapa kita tidak bertemu lebih awal saja? Seharusnya kamu tidak perlu merasa menderita di kehidupan ini,' batin Hendry.
Usai tangisannya berhenti, Citra menyibukkan diri memasak makan malam di dapur. Sementara, Hendry sibuk membuka-buka laci dan lemari entah apa yang sedang ia cari.
"Pa ...." Citra menghentikan panggilannya. Ia tahu konsekuensi jika salah memanggil Hendry. "Cari apa?" tanyanya sembari memindahkan masakan yang baru saja matang dari wajan ke piring.
Hendry berhenti membuka lemari. Ia menoleh ke arah Citra. "Aku mencari rokok. Sepertinya aku banyak menyimpannya di sini."
Citra terdiam. "Semuanya sudah aku buang," ucapnya.
__ADS_1
Hendry mengernyitkan dahi. Rokok bermerk Treas*rer yang per bungkusnya hampir seharga satu juta itu, stok di dalam lemari sudah hilang semua dibuang oleh Citra, tak tersisa satu batangpun.
"Sayang, kamu tidak sedang bercanda, kan? Kamu sembunyikan di mana?" tanya Hendry mencoba berpikiran positif.
"Sudah aku buang semua. Selain karena aku tidak suka bau rokok, itu juga tidak baik untuk kesehatanmu." Citra tidak terlalu peduli dengan kegundahan Hendry yang baru saja kehilangan rokoknya. Ia tetap santai menata hasil masakannya di meja makan.
Hendry benar-benar tidak bisa percaya Citra bisa membuang rokoknya. "Sayang, apa kamu tahu kalau rokok yang kamu buang itu harganya mahal?"
"Memang harganya berapa?" tanya Citra dengan polosnya.
"Satu juta per bungkus."
Citra tercengang. Ia sampai menutup mulutnya sendiri saking kagetnya. "Pantas saja petugas kebersihan kelihatan senang waktu aku bilang mau buang semua rokoknya!"
Citra benar-benar melakukan tugas bersih-bersihnya secara total, sampai rokok milih Hendry turut ia bersihkan.
"Untuk apa juga membeli barang semahal itu tapi bisa membahayakan kesehatan. Katanya ada gangguan di bagian itu, tapi hobi merokok masih terus jalan," gerutu Citra.
Hendry menghela napas. Ia berjalan mendekati Citra yang masih sibuk menata makanan di meja. Ia pandangi wanita yang tampak tidak merasa bersalah setelah membuang rokok-rokoknya.
"Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu," ucap Hendry.
"Itu juga bentuk tanggung jawabku sebagai istri untuk menjaga kesehatanmu selain memasakkan makanan seperti ini."
Ucapan Citra terdengar menarik untuk Hendry. Ia menarik wanita itu dan memojokkannya pada dinding area dapur. Ia menahan Citra dengan kedua tangannya sembari menyunggingkan senyum. "Tanggung jawab sebagai istri? Coba katakan sekali lagi!" ucapnya mengintimidasi.
"Rokok itu tidak baik untuk kesehatan. Aku tidak mau repot kalau nanti kamu sakit dan harus merawatmu," kilah Citra. Ia merasa Hendry sedang marah karena ia membuat rokoknya.
__ADS_1
"Kamu pintar sekali berbicara," ucap Hendry. "Aku rasa kamu akan lebih repot kalau aku sehat, Sayang ... Apalagi kamu sudah berani membawa-bawa tanggung jawab sebagai seorang istri." ia tersenyum-senyum. Didekatkannya wajah pada telinga Citra. "Aku bisa memintamu untuk melayaniku setiap malam, Sayang!" bisiknya.
Reflek Citra mendorong Hendry menjauh darinya. "Kita sudah sepakat tidak akan ada hal semacam itu!" sangkalnya. Ia jadi salah tingkah.
"Tapi, kalau kamu mengurusiku seperti ini, memasak makanan yang sehat, melarangku merokok, aku pasti akan cepat pulih. Pokoknya kamu harus bertanggung jawab kalau milikku bisa bangun lagi," godanya.
Citra merinding mendengarnya. "Sudahlah! Aku tidak mau membahas hal-hal aneh! Aku mau makan!" dengan kesal ia kembali ke meja makan.
Hendry mengikutinya. Ia duduk di kursi sembari memandangi Citra yang mengambilkan makanan di piring untuknya. Wajah Citra masih tampak kesal karena candaannya tadi.
"Kenapa kamu kesal setiap membahas hal wajar semacam itu?" tanya Hendry.
"Bisa dihentikan dulu pembahasan tentang itu?" Citra menyerahkan piring Hendry dengan kesal.
"Jangan melampiaskan kegagalanmu yang dulu kepadaku, Citra. Aku bukan mantan suamimu," ucap Hendry.
Citra terdiam merenungi ucapan Hendry. Ia menyuapkan makanannya sambil di otaknya berpikir akan hal tersebut. Mungkin ucapan itu ada benarnya. Hendry tidak punya salah apa-apa kepadanya, tapi ia selalu ingin meluapkan kekesalannya.
"Aku menyuruhmu membuang barang dan pakaian yang dulu agar kamu tidak lagi terikat dengan masa lalu. Ternyata hanya secars fisik saja yang berubah darimu. Sementara pikiranmu masih dipenuhi oleh masa lalu," ucap Hendry.
"Lalu, bagaimana kamu bisa mencoba menerimaku selama di hatimu tidak ada tempat? Padahal, aku ayah dari bayi yang ada di dalam kandunganmu," lanjutnya.
Citra menggerakkan tangan mengelus perutnya. Hingga kini ia sering lupa kalau di sana ada kehidupan. Selama hamil, ia tidak pernah merasakan tanda-tanda kehamilan seperti mual atau menginginkan sesuatu. Hari-harinya berjalan dengan biasa seolah bayi yang ada di dalam kandungannya tidak ingin merepotkannya seperti sang ayah. Ia tidak merasa terbebani dengan kehamilannya.
"Ingat pesanku, kalau bertemu dengan mantan suamimu atau keluarganya, jangan lupa menegakkan kepala. Sekarang, kamu bukan lagi Citra si anak yatim piatu penghuni panti, tetapi kamu adalah istriku."
"Jika sesuatu hal buruk terjadi, jangan sungkan untuk memberitahuku."
__ADS_1