Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Kecelakaan


__ADS_3

"Bu, ini saya serahkan uang yayasan yang saya pegang. Sekaligus juga pront out laporan keuangan selama satu semester ini," ucap Retha sembari menyodorkan tas berisi uang beserta lembaran catatan keuangan kepada kepala sekolah.


"Kamu sudah ada uangnya, Retha?" Ibu Jihan menerima pemberian dari Retha.


"Saya menggadaikan BPKB motor, Bu. Untuk menutup kekurangannya." Retha berkata bohong. Tidak mungkin ia mengatakan kebenarannya kepada Ibu Jihan.


"Saya dengar waktu itu ayahmu tertangkap polisi karena judi lagi? Bukan karena kamu kena tilang, kan?"


Retha terkejut Ibu Jihan bisa mengetahui hal tersebut.


"Keponakan saya kerja di kantor polisi, dia yang memberi tahu katanya melihatmu di sana. Kamu tidak perlu khawatir, saya juga tidak akan mengatakan masalahmu kepada guru yang lain."


"Terima kasih, Bu. Ayah saya memang terkadang melakukan hal yang dikiranya tidak salah."


"Kamu bersabar saja memiliki orang tua seperti itu. Bagaimanapun juga, dia juga sudah membesarkanmu dengan baik."


Retha mengangguk setuju dengan perkataan Ibu Jihan. "Ibu, minggu besok saya ingin izin tidak masuk sekolah selama satu minggu"


Ibu Jihan mengerutkan dahi. "Kenapa?"


"Ada acara pernikahan teman di luar kota. Saya diminta mendampingi." Lagi-lagi Retha mengatakan kebohongan.


"Kenapa temanmu menikah tidak menunggu minggu depannya lagi pas kamu libur semesteran."


Retha tersenyum. "Undangannya sudah terlanjur si sebarkan, Bu. Tidak mungkin diundur lagi."


"Ya sudah, Ibu izinkan kamu pergi. Selamat bersenang-senang dan jangan lupa oleh-olehnya, mungkin!" gurau Bu Jihan.


"Saya permisi dulu, Bu!" pamit Retha.


*


*


*


"Menurutku di depan restoran ini perlu dibangun ruang terbuka untuk publik. Apalagi view dari sini langsung menghadap ke laut. Kelihatannya sangat indah."


Bara tengah meninjau secara langsung progres pembangunan tempat wisata yang dipercayakan pada perusahaannya. Tampak, ia melakukan peninjauan bersama beberapa orang penting, termasuk salah satunya ayah Zack yang menjadi investor dalam proyek tersebut.


Pembangunannya baru dimulai minggu lalu. Bara sampai harus bolak-balik karena masih mengkhawatirkan tentang Kenzo. Padahal, putranya itu justru sangat betah tinggal bersama kakek neneknya. Apalagi di sana ada sepupu Kenzo, anak dari adik Bara. Mungkin karena Bara yang kesepian sampai setiap waktu merindukan putra tercintanya.


"Apakah material yang digunakan menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik?" tanya Bara ketika mereka meninjau ke dalam bangunan yang akan dijadikan hotel setinggi 15 lantai.


"Tentu saja, Pak. Saya pastikan seluruh material menggunakan bahan yang bermutu."

__ADS_1


"Aku dengar hotel ini akan dibuat menyerupai bentuk perahu. Tapi, dari depan sepertinya tidak ada mirip-miripnya dengan perahu."


"Bentuk perahu akan dibuat pada lantai teratas, Pak. Niatnya akan dibuat sebagai ruangan terbuka agar pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan di sini."


"Oh, begitu." ayah Zack mangguk-mangguk mendengar penjelasan dari Bara.


Perbincangan terus dilakukan sembari mengecek pelaksanaan proyek. Setiap proyek memang harus rutin dikunjungi untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diharapkan seperti penyelewengan dana maupun mengurangan kualitas material yang telah ditentukan.


Ketika mereka sedang asyik membahas proyek, Bara menyadari ada salah satu tiang kayu yang sepertinya miring dan akan jatuh menimpa mereka.


"Awas!" teriaknya.


Reflek Bara mendorong tubuh ayah Zack menjauh dari jangkauan tiang yang hampir ambruk. Saat ia akan berusaha menghindar, tangan kanannya sempat terkena tiang tersebut dan kakinya tertimpa tiangnya.


"Pak!" Sontak seluruh orang yang berada di sana berlari menghampiri Bara.


"Cepat panggil dokter atau ambulans!" teriak ayah Zack.


Kayu yang menimpa diangkat. Bara masih tersadar, namun merintih kesakitan.


"Ah!" pekiknya ketika mencoba menggerakkan kaki kanannya.


"Bara, jangan bergerak dulu. Tunggu dokter datang," pinta ayah Zack.


Perlu waktu beberapa menit sampai ambulan dan tenaga medis yang dibutuhkan datang. Untung saja mereka disiapkan dalam kegiatan proyek salah satunya mengantisipasi permasalahan semacam itu.


Bara segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Zack yang mendengar berita tersebut langsung datang ke rumah sakit menemui Bara. Untung saja lukanya tidak terlalu parah. Akan tetapi, kakinya perlu dipasang gips karena mengalami patah tulang ringan.


"Aduh, nggak nyangka temanku ini jadi kayak robot," ejek Zack melihat tangan Bara yang dibalut perban dan kakinya terpasang gips seperti mummi.


"Kamu kemana saja? Masa ayahmu yang harus jalan sendiri melihat proyek. Katanya kamu yang mau menggantikan?" Bara berkata dengan ketus.


"Ayahku kan masih sehat dan bugar, banyak jalan bagus untuk kesehatannya." Zack terkekeh sendiri.


"Ya, ayahmu jadi semakin sehat. Aku doakan kamu jadi pemuda jompo!"


"Hm, doanya kejam sekali. Ayahku saja tidak protes, kenapa kamu yang sewot? Pasti bosan kan, jalan dengan para lansia? Hahaha ...." Zack tertawa karena rekan bisnis yang Bara temani memang rata-rata sudah tua. Bara termasuk pengusaha sukses yang umurnya masih muda. "Makanya kalau kerja nggak usah rajin-rajin. Kasihan banget tiga tahun menduda sekarang jadi pincang begini. Kapan ... kamu bisa menikmati kehidupan. Kasihan, mana masih muda," Zack terus meledek Bara.


"Kamu nggak ada terima kasihnya ya, ini juga karena aku menolong ayahmu."


"Harusnya nggak usah kamu tolong biar aku lebih cepat dapat warisan."


Plak!


Bara memukul kepala Zack dengan tangan kirinya. "Gila, ya! Kamu mendoakan ayahmu sendiri cepat mati?"

__ADS_1


"Bercanda, Bar ... Sialan! Dalam kondisi begini tenagamu masih kuat saja," protes Zack sembari mengelus kepalanya yang sakit.


"Besok bantu aku melakukan peninjauan proyek, ya! Kalau berani menolak, aku tidak akan menganggapmu teman!" ancam Bara.


"Iya, iya ... bukan membantu, kan? Tapi jadi pembantu ...." Zack memutar bola matanya malas. "Hilang pengawasanku sebentar saja bos kesayangan jadi seperti ini."


"Memang kamu sibuk apa hari ini?"


"Biasalah, persiapan menyambut wanita-wanita cantik yang akan membuat tubuh lelaki jadi segar." Zack berkata sambil senyum-senyum sendiri.


"Bukannya kamu sudah pacaran dengan wanita yang ada di kolong meja waktu itu?" tanya Bara dengan lirikan mautnya.


"Maksudmu Emili, ya?" Wajah Zack tampak bersemu merah karena malu mengingat pernah dipergoki Bara.


"Ya, memangnya ada yang lain lagi?"


"Aku kan sedang LDR dengannya. Ini juga gara-gara kamu menyuruhku stay di luar kota. Dia juga punya banyak kerjaan. Aku kan butuh hiburan. Masa nggak boleh undang yang bening-bening buat penyegaran," Zack menunjukkan senyuman nakalnya.


"Kasihan Emili, Zack."


"Aku sudah berusaha berhenti kok, Bar. Kali ini hanya memanggil mereka untuk memijitku saja."


"Halah! Paling juga kebablasan." Bara tidak peecaya dengan ucapan temannya itu.


"Ye, ini benar! Beberapa anak buahmu juga ada yang pesan, tahu! Tiga bulan kerja di luar kota siapa yang tahan, coba? Paling kan cuma kamu yang senjatanya nggak tahu masih hidup apa nggak." Zack kembali meledek Bara. "Kamu mau satu? Lumayan bisa melemaskan tubuhmu yang kaku, siapa tahu bisa cepat sembuh."


"Nggak!" Bara menjawab tanpa ragu.


"Ye ... cuma pijit biasa nggak mau."


"Pergi sana! Aku mau istirahat!" usir Bara.


"Ck! Dasar teman songong, mau ditolong malah nolak!" gerutu Zack.


Bara memejamkan matanya berusaha mengabaikan keberadaan Zack.


*****


Sembari menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ya 😘


Judul: Kamuflase Cinta Sang CEO


Author: Age Nairie


__ADS_1


__ADS_2