
"Pak Bara, ada yang datang berkunjung," ucap salah seorang sipir dari balik jeruji besi.
Bara bangkit dari tempatnya mendekat ke arah pintu teralis besi yang sedang dibukakan oleh petugas lapas tersebut. Dengan tenang ia keluar mengikuti sang petugas berjalan menuju ruang jenguk. Ternyata, Ia diarahkan ke sebuah ruangan yang lebih privat. Ia penasaran dengan orang yang mengunjunginya untuk pertama kali setelah ia masuk penjara.
Saat melihat orang yang ada di ruangan itu, Bara rasanya ingin tertawa. Lagi-lagi Thea. Wanita itu bahkan datang lebih awal dibandingkan dengan pengacaranya. Selain sang pengacara dan Zack, ia bahkan tidak memberitahu keluarganya sendiri.
Petugas tersebut pergi setelah mengantarkan Bara ke ruangan yang mirip seperti ruang interogasi. Pintu di kunci, memberi kesempatan kepada Thea dan Bara untuk berbicara berdua secara privat.
"Pasti kaget ya, Bar. Melihat aku datang ke sini," ucap Thea seraya mrmpersilakan Bara untuk duduk di hadapannya.
"Aku pikir pengacaraku yang datang." Bara antara benci dan kesal menerima kedatangan wanita itu di sana.
"Oh, kalau kamu mau pengacara yang bagus, aku bisa memberikannya untukmu."
"Tidak perlu! Hari ini pengacaraku juga akan datang. Darimana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Bara tegas tanpa basa-basi.
Thea menyunggingkan senyum. "Dalam kondisi seperti ini ternyata kamu juga masih bisa galak kepadaku, ya? Apa kamu tidak mau berlutut dan memohon bantuanku?"
"Kalau itu yang kamu harapkan, lebih baik pergi saja. Aku tidak akan melakukannya!"
"Hahaha ...." Thea sudah menebak jika Bara akan langsung menolaknya mentah-mentah. "Sebagai salah satu investor utama dalam proyek, tentu saja aku tidak boleh ketinggalan berita sepenting ini, Bara. Kamu juga harus berterima kasih kepadaku dan orang-orang yang telah berhasil membungkam media agar berita ini tidak sampai terkuak ke luar."
Setelah rapat dadakan tadi malam, Bara juga sudah merasa bahwa dirinya yang sedang diincar untuk dijadikan tumbal. Meskipun bukan kesalahannya, permasalahan dalam proyek tetap perlu adanya pihak yang dipersalahkan untuk menutupi pihak-pihak lain yang terkait.
"Aku sudah mengingatkanmu Bara, untuk tidak terlalu percaya dengan orang lain. Ini akibatnya kalau kamu memberikan kepercayaan penuh terhadap bawahan."
Bara justru menyeringai dengan ucapan Thea. "Sebenarnya kamu juga sudah tahu masalah ini akan terjadi, kan? Jangan-jangan kamu memang sengaja membiarkannya agar aku yang terkena masalah."
"Ups! Apa niatanku sangat mudah ditebak?" Thea tidak menyangka Bara begitu cepat memberikan pernyataan yang memang sesuai dengan tindakannya.
__ADS_1
Thea aktif mengunjungi proyek, termasuk mengecek segala aspek yang berkaitan dengan proyek tersebut. Kendala mengenai pembebasan lahan memang menjadi masalah utama yang belum selesai sejak proyek telah dimulai.
Para pemilik lahan bersikeras tidak mau melepaskan lahan mereka karena nominal ganti rugi yang menurut mereka kurang sesuai. Belum lagi, mereka menginginkan setiap anggota keluarga dari pemilik lahan harus dilibatkan bekerja sebagai karyawan setelah proyek selesai.
Thea memang sengaja membiarkan tingkah sekertaris Bara dan beberapa orang pegawai yang berniat curang untuk mengadu domba antara pemilik lahan dengan pengusaha. Ia ingin melihat apa yang bisa Bara lakukan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan banyak pengusaha.
"Kamu terlalu tenang dalam menghadapi masalah seserius ini, Bara. Seharusnya kamu sudah sadar kalau saat ini kamu sedang dijadikan tumbal kesalahan."
"Aku sudah tahu!"
Thea mengangguk-anggukkan kepalanya. Bara memang tidak sebodoh yang ia kira. "Aku bisa saja membuatmu keluar dengan mudah dari sini kalau kamu menginginkannya."
"Kamu pasti menuntut persyaratan untuk itu, kan?" tebak Bara.
Lagi-lagi Bara bisa menebak jalan pikiran Thea. "Kamu memang orang yang mengagumkan, Bar. Itu yang membuatku selalu kagum padamu meskipun aku juga masih dendam kepadamu."
"Ceraikan Silvia dan menikahlah denganku!" pinta Thea.
Bara terkekeh. Thea selalu saja mengajukan persyaratan yang konyol. "Apa tidak ada lelaki yang mau denganmu sampai harus susah payah terus mengejarku?" sindirnya. "Jangan-jangan kamu tidak mau menikah sampai sekarang saking cinta matinya kepada orang yang katanya kamu benci ini." Permintaan Thea benar-benar terdengar lucu bagi Bara.
"Aku terlalu sempurna untuk dimiliki lelaki manapun, Bara. Tidak ada lelaki yang bisa mengimbangi kesempurnaanku. Aku mau menikah denganmu hanya untuk membalas perbuatan Silvia di masa lalu. Dia pasti akan sangat kesal kalau kamu ceraikan dan kita menikah."
"Ingat, Bara ... Kita sama-sama pengusaha. Bahkan urusan pernikahan bisa menjadi suatu kerjasama yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Di dunia bisnis tidak kenal istilah yang namanya cinta, tetapi keuntungan."
Senyuman yang terukir di bibir Thea menyiratkan kesan tipe orang yang menyepelekan sebuah hubungan. Apapun dalam hidupnya dinilai dari menguntungkan atau tidak menguntungkan.
"Apa kamu mau menjadi istri ketiga?" tanya Bara.
Thea mengernyitkan dahi. "Maksudnya?" Ia tidak paham dengan perkataan Bara.
__ADS_1
"Aku sudah punya dua orang istri. Kamu mau menjadi yang ketiga?"
"Hah! Jangan bercanda!" Thea tidak percaya dengan apa yang Bara katakan. Seolah lelaki itu hanya berusaha ingin membuatnya mengurungkan niat mengajukan persyaratan tersebut.
"Aku sungguh-sungguh ...." Bara berbicara dengan nada serius membuat Thea semakin yakin Bara tengah mengatakan hal yang sejujurnya.
"Coba pikir lagi, mana ada lelaki yang tahan ditinggalkan tiga tahun oleh istrinya tanpa menyentuh wanita lain. Kamu kira aku sebodoh itu mau menunggu Silvia? Aku sudah punya istri lain yang lebih muda dari Silvia. Dia juga sangat cantik dan tentunya menyenangkan saat diajak tidur di ranjang." Bara berusaha memprovokasi Thea dengan kata-katanya.
"Apa Silvia tahu hal ini?" tanya Thea penasaran.
"Belum. Dia belum tahu. Mungkin kalau tahu dia akan mengamuk. Jadi, apa kamu berminat menjadi istri ketiga, supaya pembalasanmu kepada Silvia semakin terasa manis?" tanya Bara yang semakin berusaha mempengaruhi Thea.
"Aku tidak percaya kamu bisa mengkhianati Silvia, Bara. Tidak mungkin kamu menikah diam-diam. Aku tahu kamu cinta mati kepada wanita itu."
"Sekarang sudah berbeda. Perasaanku yang sudah mati untuk Silvia. Aku sudah berniat ingin menceraikannya, tinggal menunggu Silvia menyetujui."
"Benarkah?" Thea sepertinya tidak bisa percaya hubungan Bara dan Silvia bisa berakhir tanpa campur tangannya. "Aku tidak akan percaya sebelum mengetahui wanita yang kamu sebut istri barumu secara langsung."
"Kamu bisa mengeceknya di kantor catatan sipil. Untuk orang yang punya banyak harta sepertimu pasti mudah mendapatkan informasi tentang diriku." Bara menantang Thea membuktikan sendiri ucapannya.
Thea menyeringai. "Kalau ucapanmu benar, aku akan membantumu keluar dari kasus ini. Juga memberikan hadiah untuk istri keduamu yang masih kamu sembunyikan," katanya.
"Aku orang yang bisa dipegang kata-katanya."
"Lihat saja nanti," ucap Thea.
"Kamu tidak mau menjadi istri ketigaku?" ledek Bara.
Thea berdecih. "Amit-amit!"
__ADS_1