
"Hah! Aku menyerah!" Edis meletakkan kepalanya di atas meja.
Kepalanya terasa hampir pecah mendengarkan penjelasan dari Angga mengenai materi persamaan trigonometri. Tidak ada satupun penjelasan yang singgah di otaknya. Apa yang Angga katakan seakan lenyap begitu saja tanpa sisa.
Tuga puluh menit telah berlalu, rasanya seperti seabad yang membosankan. Pulang sekolah, Edis berharap bisa diajak jalan untuk senang-senang oleh Angga. Kenyataannya, mereka berakhir di bangku depan minimarket mengisi waktu dengan belajar.
Angga berbaik hati mengajari Edis menyelesaikan PR nya. Bukan Angga namanya kalau memberitahukan jawaban tanpa melibatkan Edis untuk mencari tahu jawabannya sendiri. Selama tiga puluh menit, dari lima soal baru satu soal yang bisa Edis selesaikan dengan benar. Otaknya trlah panas dan tidak bisa digunakan lagi untuk berpikir.
"Ayolah, masa kamu tidak semangat untuk menaikkan peringkat. Setidaknya bisa masuk sepuluh besar, itu sudah bagus." Angga mencoba memberikan motivasinya kepada sang pacar.
Edis merasa Angga tidak akan memahami dirinya. Murid yang kelihatannya jarang belajar, santai, tapi selalu mendapatkan peringkat tiga besar tidak akan tahu susahnya perjuangan siswa bebal seperti dirinya. "Kak, peringkat terakhirku nomor 100 dari 150 siswa. Mana bisa tiba-tiba naik jadi peringkat sepuluh besar," keluh Edis.
Sesekali ia terlihat menghela napas. Sekolah menjadi hal yang paling menyebalkan setiap kali berhadapan dengan pelajaran matematika dan hitung-hitungan. Sialnya lagi, ia memaksakan diri mengambil jurusan IPA padahal kemampuan otaknya pas-pasan.
"Bisa, kalau kamu mau serius belajar. Memang di awal akan terasa berat, kalau sudah terbiasa juga akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kata orang, kalau bisa menguasai matematika, maka ilmu lain juga akan mudah dikuasai."
"Kayaknya aku mau pindah jurusan saja." Edis merasa pesimis dengan kemampuan otaknya sendiri.
"Sudah telat, ya! Sisa satu semester kamu akan naik ke kelas 12."
"Dan bertemu dengan matematika lagi ... Yang lebih mematikan." Edis semakin lemas membayangkannya. Di kelas 11 saat ini saja ia sudah merasa kesulitan apalagi nanti di kelas 12.
Angga tertawa kecil. Ia menepuk-nepuk kepala Edis dengan pelan. "Makanya jangan benci matematika. Soalnya seumur hidup kamu akan hidup berdampingan dengannya."
"Kita sudahi belajarnya ya, Kak! Aku sudah pusing." Edis menunjukkan ekspresi wajah yang memelas.
"Kalau kamu sudah menyelesaikan empat soal lainnya, baru kita berhenti."
Edis memanyunkan bibirnya sebagai tanda protes.
"Aku akan mengajarimu sekali lagi dengan penjelasan yang lebih mudah dipahami."
__ADS_1
Terpaksa Edis kembali menegakkan badannya. Ia berusaha menyimak penjelasan yang Angga berikan sebaik mungkin.
Sejak kejadian di rumah Angga saat itu, mereka tidak berani lagi berduaan di rumah yang sepi. Edis tidak pernah main ke apartemen Angga. Mereka memilih bertemu di luar, begitu pula dengan sesi belajar. Kadang Angga mengajarinya di perpustakaan, di taman, atau di depan minimarket seperti saat ini.
Entah hanya Edis yang merasakannya, ia menilai bahwa sikap Angga kepadanya telah banyak berubah. Angga menjadi orang yang sangat serius dan jarang memberikan sentuhan fisik seperti sebelumnya. Jangankan untuk berciuman, bergandengan tangan saja sudah tidak pernah.
Mereka sudah jarang makan bersama saat istirahat. Untuk bertemu setelah pulang sekolah saja hanya bisa dilakukan beberapa kali dalam seminggu. Angga semakin sibuk dengan persiapan ujiannya. Sekolah menambah jam belajar anak kelas 12 agar hasil belajar akan semakin maksimal.
Makanya Edis jadi kesal karena sekalinya bisa bertemu, ia justru harus belajar.
Sebenarnya penjelasan Angga juga sederhana dan lebih mudah dimengerti dari pada penjelasan gurunya. Akan tetapi, otaknya yang terlalu bebal memang sangat sulit beradaptasi dengan mata pelajaran semacam matematika.
"Hey! Kok malah melamun?" tegur Angga.
Edis terperanjat kaget. Pikirannya entah melayang ke mana, padahal sedang mendengarkan penjelasan dari Angga. "Maaf, Kak. Aku memang sudah konsentrasi."
Angga menghela napas. Ia menyerah. "Baiklah, kamu lanjutkan dulu sebentar. Aku akan carikan minuman dingin supaya otakmu tidak kepanasan," ucapnya.
Angga beralih dari tempat duduknya memasuki minimarket untuk mencari minuman yang diinginkannya. Ia berjalan ke arah deretan lemari pendingin yang memajang berbagai merk minuman dingin. Ia mengambil dua kaleng minuman bergambar panda yang isinya cincau. Menurutnya akan cocok dengan cuaca saat ini.
Tak lupa Angga menjelajahi area snack, mengambil keripik kentang, coklat, dan kuaci. Ia memasukkan belanjaannya ke dalam keranjang. Saat hendak menuju kasir, lemari es menarik perhatiannya. Ia yakin Edis akan suka jika ia belikan es krim.
Dari kaca jendela, ia bisa memperhatikan Edis yang sedang berusaha mengerjakan PR. Angga tersenyum. Sikap serius Edis saat belajar begitu menggemaskan. Tak pernah bosan ia mendorong Edis untuk semakin semangat belajar. Prestasi pacarnya itu memang cukup miris di kalangan anak IPA kelas 11.
Angga memutuskan memilih dua es krim berbentuk cone
Saat melihat kembali ke arah kaca jendela, ia melihat Edis sedang berbicara dengan tiga orang lelaki tidak dikenal. Mereka tampak sedang menanyakan sesuatu kepada Edis.
Angga menaruh es krim pilihannya ke dalam keranjang. Ia rasa jajanan yang dibelinya cukup untuk mereka habiskan berdua.
Angga berjalan menuju kasir, mengantri untuk membayar barang-barang yang telah dibelinya. Dengan sabar ia menunggu gilirannya, satu per satu pembeli menyelesaikan transaksinya di depan kasir.
__ADS_1
"Selamat siang menjelang sore, selat datang di IndoAlfa! Apa Anda mau menambah lagi belanjaannya?"
Akhirnya tiba giliran Angga untuk melakukan pembayaran. Ia menggeleng untuk menjawab pertanyaan dari kasir.
"Mungkin Anda mau menambahkan ayam goreng? Sosis bakar? Dimsum? Donat? Rotinya? Semuanya fresh, Kak ... Baru dibuat hari ini." seperti biasa, kasir minimarket menawarkan produk makanannya.
"Tidak, Mba. Itu saja belanjaan saya." Angga berusaha menjawab dengan sabar.
"Baik, akan mulai saya hitung ya, belanjaannya."
Satu per satu barang yang Angga ambil dikeluarkan dari dalam keranjang lalu diperiksa barcode-nya. "Totalnya seratus ribu, mau bayar cash atau dengan kartu?" tanya sang kasir.
Angga menyodorkan selembar uang merah kepada kasir teraebut.
"Uangnya pas ya, Kak! Ini barang Kakak. Terima kasih sudah berbelanja di tempat kami."
Angga segera membawa jajanannya keluar. Ia kembali ke meja tempat dia dan Edis tadi belajar. Anehnya, Edis tidak ada di sana. Angga celingukan mencari keberadaan pacarnya. Bangku-bangku di sebelahnya juga ada orang lain, tapi Edis tidak ada di sana.
Saat ia mrnoleh ke arah jalan raya, ia melihat Edis bersama dengan tiga lelaki yang sebelumnya mengajak bicara Edis. Pacarnya tampak masih membicarakan sesuatu dengan mereka. Ia merasa tidak nyaman. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul Edis.
❤
❤
❤
Hai, semua ... Cerita ini sudah mulai dibuat audiobook-nya loh ... Jangan lupa sempatkan diri dengerin dubber Kakak "Serenity" yang suaranya lembut seperti kapas, enak banget didengar saat pulang kerja atau di waktu senggang. 😘
__ADS_1