
Bara memarkirkan mobilnya dengan segera di basement apartemen. Dengan langkah memburu, ia menaiki lift menuju unit apartemen miliknya. Perasaannya sudah tidak karuan apalagi sebentar lagi akan bertemu lagi dengan Silvia setelah sekian lama.
Lift terasa begitu lambat menghantarkannya ke lantai atas. Ia semakin tidak sabaran. Saat pintu lift terbuka, buru-buru ia menuju ke arah unit apartemennya, membuka pintu dengan kode yang memang tidak pernah diganti olehnya. Makanya Silvia bisa masuk dengan mudah ke apartemen mereka.
Klik!
Saat pintu terbuka, suasana terasa begitu hening. Bahkan langkah kaki Bara sampai terdengar oleh dirinya sendiri. Bara melepaskan alas kakinya, menapaki lantai ruang tamu, ruang kamar, lalu menuju ke kamar keluarga yang biasa ia gunakan tidur. Lampu di sana tampak menyala karena Kenzo suka tidur dengan keadaan kamar terang.
Perlahan langkahnya semakin mendekati kamar. Di atas ranjang tebaring Kenzo yang telah terlelap tidur dan Silvia benar-benar ada di sana sedang menepuk-nepuk Kenzo. Ia hampir limbung saking syoknya melihat keberadaan istri pertamanya di sana. Tangannya gemetar berpegangan pada daun pintu.
Silvia menyadari kehadiran seseorang. Ia menoleh ke arah pintu dan mendapati Bara ada di sana. Ia juga terkejut sekaligus bahagia bisa bertemu kembali dengan lelaki yang sangat dicintainya.
"Mas Bara ...," sapanya.
Bara justru berbalik pergi saat Silvia melihatnya. Secara perlahan Silvia turun dari atas ranjang agar tidak membangunkan putranya. Ia berjalan mengikuti kemana Bara pergi. Tak lupa ia menutup pintu kamar agar Kenzo tidak terganggu dengan perbincangan mereka nanti. Bara tampak sedang berdiri di depan jendela kaca memandangi suasana malam kota dari sana.
"Mas ...." Sekali lagi Silvia berusaha memanggil Bara.
"Kenapa kamu kembali!" bentak Bara dengan nada emosinya.
Silvia terdiam. Ia tak berani berbicara. Ia sudah mengira jika Bara akan murka kepadanya. Dia memang salah, telah pergi terlalu lama tanpa memberikan alasan yang jelas.
"Aku dan Kenzo sudah terbiasa hidup tanpa kehadiranmu. Untuk apa kamu kembali lagi?" Bara berbalik menatap Silvia dengan tatapan kebenciannya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin membela diri, aku memang salah, Mas ... aku mau minta maaf dan memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan." Silvia merem4s-rem4s jarinya sendiri saking gugup bertemu dengan Bara. Lelaki itu terlihat semakin tampan dan rupawan setelah tiga tahun ia tinggalkan. Bahkan lebih terlihat terawat dan awet muda dari sebelumnya.
"Tidak ada yang perlu diperbaiki. Sudah benar kamu pergi dan tidak usah kembali lagi. Keluar dari rumah ini sekarang! Aku sudah tidak ingin melihatmu!"
Bara berjalan melewati Silvia berniat menuju ke kamar Kenzo. Namun, Silvia menahan tangannya. "Kalau Mas Bara memang sudah melupakan aku, lalu, kenapa apartemen ini masih sama seperti terakhir kali aku meninggalkannya?" tanya Silvia. "Kenzo bahkan masih mengenaliku sebagai ibunya," katanya.
"Kamu selalu mengingatkan Kenzo kepadaku selama tiga tahun. Kamu juga tidak menceraikan aku, bukankah itu tandanya kamu masih mengharapkanku pulang? Aku sudah kembali, Mas ... aku akan berusaha menjadi seorang istri yang baik."
Bara menepis tangan Silvia. "Telat kalau kamu mengucapkannya sekarang. Aku sudah tidak mencintaimu lagi."
"Jangan membohongi diri sendiri, Mas. Aku tahu kamu masih mencintaiku!"
"Aku hanya melakukannya untuk Kenzo, bukan untukmu. Aku ingin dia tumbuh dewasa dengan tetap menghormati seorang ibu yang bahkan dulu tega meninggalkannya begitu saja."
"Kenapa kamu kembali? Bukankah karirmu berjalan dengan baik? Kamu bisa bebas bekerja tanpa memikirkan keluarga, jadi tidak perlu kembali. Aku akan mengurus surat perceraian kita."
Tampaknya rasa sakit hati Bara sudah mengakar. Ia tidak bisa menerima permintaan maaf dan penyesalan dari Silvia. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Ia harus melewati hari-harinya dengan menahan tangisan batin demi anaknya. Sembari terus mengurusi bisnis yang baru berkembang, ia juga harus menjaga Kenzo yang masih kecil tanpa dukungan seorsng istri.
"Aku terpaksa melakukannya, Mas!"
Bara tertawa. "Terpaksa? Jangan membuatku ingin menertawakanmu. Meninggalkan kami itu sebuah pilihan, bukan keterpaksaan!"
"Kamu memang tidak suka menjadi ibu rumah tangga, kan? Memiliki anak bagimu sesuatu yang merepotkan." Bara membawa-bawa permasalahan yang dulu sering membuat mereka bertengkar kecil. Istrinya selalu mengeluh tidak bisa bekerja karena telah memiliki anak, karirnya meredup.
__ADS_1
"Seharusnya kamu bahagia karena sekarang tidak ada yang melarangmu lagi. Kejar karirmu sebaik mungkin!"
"Dulu aku memang masih labil, Mas ... aku egois. Tapi, dulu aku memang sangat butuh pekerjaan dan uang."
"Aku tahu dulu penghasilanku masih sangat kurang untukmu. Aku minta maaf untuk itu." Bara sadar diri dulu belum sesukses sekarang. Silvia yang sudah terbiasa pegang banyak uang dari hasil pemotretan, tiba-tiba harus menjadi seorang ibu rumah tangga dengan jatah uang bulanan yang pas-pasan.
"Bukan itu yang aku maksud ...." Silvia kebingungan untuk menjelaskannya. Ia tidak tahu bagaimana caranya agar Bara bisa memahami dirinya.
"Kamu seorang model cantik dan terkenal, seharusnya gampang bagimu untuk mendapatkan lelaki kaya yang bisa memenuhi kebutuhan hidupmu."
"Bagaimana bisa Mas Bara bicara seperti itu?" Mata Silvia berkaca-kaca hingga ia meneteskan air mata. "Mas Bara pikir dulu aku pergi karena sudah tidak cinta atau tidak peduli dengan Kenzo? Aku terpaksa, Mas!" Ia meninggkkan suaranya karena luapan emosi di dalam hatinya.
"Mas Bara pikir gara-gara siapa aku pergi? Gara-gara Mama Ratih! Ibumu sendiri!"
Bara membulatkan mata mendengar nama ibunya disebut-sebut oleh Bara. Ia berbalik menatap Silvia dengan marah. "Jangan bawa-bawa Mama dalam urusan kita!"
"Kenapa tidak boleh, Mas? Aku memang pergi karena Mama Ratih. Dia bilang aku hanya jadi beban untukmu, Mas Bara harus banting tulang untuk menghidupiku dan Kenzo padahal Mas Bara bisa hidup enak kerja di perusahaan Papa. Mama bilang aku hanya bisa jadi benalu tidak berguna, keluarga miskin yang tidak cocok menjadi bagian keluarga Atmaja." Silvia menceritakannya dengan deraian air mata.
"Mama tidak mungkin seperti itu. Kamu jangan mengarang cerita." Bara tidak percaya ibunya telah melakukan hal itu mepada Silvia.
"Tapi itu kenyataannya, Mas. Bahkan ayahku sampai dipecat dari perusahaannya karena permintaan Mama Ratih. Usaha warung makan sederhana juga dihancurkan orang-orang suruhan Mama. Bahkan sampai mereka harus mengungsi ke luar kota."
"Mama Ratih marah karena kamu selalu membantu keuangan keluargaku, termasuk untuk membuka warung. Aku dikira menjadikanmu sapi perah dan keluargaku dihina sebagai keluarga pengemis."
__ADS_1
"Apa aku salah kalau punya keinginan untuk bisa kaya? Supaya kamu merasa pantas memiliki istri sepertiku, juga Mama Ratih tidak akan memandangku sebelah mata lagi."