
Bara mengerjap-kerjapkan mata saat terbangun. Ia memandangi langit-langit kamar yang tampak familiar untuknya. Gelayar ingatan semalam mulai hadir dalam kepalanya yang masih terasa sedikit berat. Sedikit-sedikit ia ingat jika semalam dirinya mabuk dan pulang ke apartemen Retha. Ia bahkan mengajak istrinya itu untuk bersetubuh dengannya.
Semalam Bara sangat stres. Ia mampir sejenak ke sebuah klab malam untuk minum-minum demi menghilangkan kegundahannya. Masalah datang begitu mendadak saat ia benar-benar tidak siap. Tanpa sengaja ia telah menduakan Retha, wanita yang telah dia ambil dari ayahnya dengan janji suci di hadapan Tuhan.
Perasaan yang Bara miliki untuk Retha begitu tulus. Ia benar-benar jatuh cinta kepada wanita itu, bukan semata karena dulu pernah menidurinya. Ia hanya merasa telah menemukan wanita yang tepat sebagai teman hidup hingga akhir hayatnya.
Kembalinya Silvia dalam keluarga membuat rencananya berantakan. Tidak mungkin ia akan mulus memperkenalkan Retha ke dunianya. Statusnya yang masih menikah dengan Silvia akan menjadi ganjalan. Sementara, lagi-lagi ia mempertimbangkan dari sisi Kenzo. Ia tak bisa mengusir Silvia begitu saja. Wanita itu pasti akan membawa putranya pergi bersamanya.
Perlahan ia beringsut turun dari ranjang, menepuk-nepuk kepalanya yang pening. Ia bawa tubuhnya berjalan ke luar kamar mencari keberadaan wanita yang semalam menemaninya tidur.
Retha masih terlihat sibuk di area dapur. Wanita itu sedang mencuci piring di bawah kran air yang mengalir. Dari belakang ia berikan pelukan hingga membuat wanita itu terkejut.
"Mas Bara sudah bangun?" tanyanya dengan nada lembut. Suara itu telah menjadi candu bagi Bara. Ia ingin mendengarkannya setiap pagi tepat di telinganya.
"Hmm," Bara hanya menyandarkan kepalanya dengan manja kepada Retha.
"Sarapan dulu, Yuk! Aku sudah membuatkan Mas Bara sarapan."
Retha mengajak suaminya ke meja makan. Ia melayaninya mengambilkan makanan selayaknya seorang istri yang berbakti. Bara merasa terharu melihatnya. Menikmati waktu pagi dengan hidangan yang dimasak dengan penuh cinta oleh sang istri.
Terkadang ia berandai-andai lebih awal bertemu dengan wanita itu. Ia pasti akan menjadikan istri pertama dan terakhirnya. Ia tidak perlu merasakan kegagalan dalam berumah tangga.
Selama pernikahan, wanita itu tak pernah banyak menuntut kepadanya. Retha bahkan lebih banyak memberi dan melayaninya sebagai seorang istri. Bara merasa dirajakan olrh istrinya sendiri.
__ADS_1
Retha tak pernah memberikannya beban pikiran. Ia bisa menjaga diri, mengetahui batasan yang tidak disukai oleh Bara. Bahkan wanita itu justru merasa sungkan dirinya terlalu banyak memberikan bantuan finansial kepada ayah dan adiknya. Hingga ia tak pernah mau menggunakan jatah bulanan yang diberikan kepadanya. Kalau bukan Bara yang membelanjakan banyak barang, Retha tak akan membeli apapun dari luar negeri.
Bara kira semua wanita akan sama saja dengan istri pertamanya. Mereka tidak pernah puas dengan uang. Bahkan selama kepergian Silvia, ia semakin menjadi gila kerja untuk membalaskan ketidakmampuannya memenuhi tuntutan seorang istri.
Saat Silvia kembali, rasa yang dulu tumbuh untuknya telah gugur berganti. Perasaannya kepada Silvi tak lagi sama. Tak ada cinta lagi untuknya, tergantikan oleh kehadiran Retha yang masih baru namun mampu memberikan kehangatan di hatinya.
Bara menyuapkan makanan yang dimasak oleh istrinya. Seperti biasa, rasanya sangat luar biasa enak. Rasa yang akan membuat seorang suami selalu rindu untuk pulang ke rumah.
"Mas, sebenarnya semalam kenapa? Kok kamu pulang dalam kondisi mabuk?" tanya Retha disela-sela aktivitas makan mereka.
Bara terdiam sejenak. Ia tahu Retha mulai mencurigai tingkah anehnya. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin minum saja," kilah Bara.
Retha tidak percaya. Bara bukan tipe orang yang terlalu suka minum-minum. Kadar toleransi terhadap alkohol juga sangat bagus. Sepertinya semalam Bara meminum sangat banyak.
"Jangan diulangi lagi, Mas. Aku sangat khawatir kamu pulang menyetir sendiri. Apa kamu tidak memikirkan aku di rumah kalau terjadi apa-apa kepadamu?" Retha menampakkan wajah muramnya.
"Istri mana yang tidak khawatir suaminya kecelakaan, Mas! Belum lagi kalau di jalan ketemu cewek cantik pas mabok ... nanti tidur sama sembarangan orang!" Retha semakin memanyunkan bibirnya.
Bara semakin tidak kuat menahan tawa melihat kecemburuan sang istri. "Tenang, Sayang. burungku tahu sarang tempatnya pulang," Ia mengecup dahi istrinya. "Kalau sarangnya kira-kira siap sedia nggak sewaktu-waktu burungnya datang?" godanya.
"Mas, ini masih pagi, tahu!" Retha sampai membelalakkan mata dengan kemesvman suaminya.
"Aku kan sudah bilang, kalau dekat kamu rasanya kepengin terus, Sayang. Ini saja sudah ikutan bangun yang di bawah." Bara membawa tangan Retha memegang benda di antara kedua pahanya.
__ADS_1
"Mas! Cepat sarapannya terus ke kantor. Nanti bisa telat. Kamu juga belum mandi." Retha menepis tangan suaminya. Ia jadi ragu kalau semalam suaminya memang mabuk atau hanya akting. Rasanya bulan madu belum cukup untuk mencurahkan hasrat cinta mereka.
Bara masih tertawa-tawa. Ia kembali melanjutkan makannya sebelum sang istri memarahinya.
"Langsung mandi, Mas. Aku juga sudah menyiapkan baju kerjamu." Retha membawa bekas piring makan mereka ke washtafel untuk dicuci. Ia kira Bara akan langsung pergi ke kamar mandi. Akan tetapi, lelaki itu kembali memeluknya dari belakang.
"Mas kenapa, sih? Buruan mandi sana!" Retha berusaha tetap tenang mencuci meskipun suaminya bergelayut manja kepadanya.
"Aduh, Mas Bara!" protes Retha.
Tangan Bara mulai jahil menaikkan baju Retha ke atas hingga dua gunung membar mecuat ke luar. "Sayang, kamu tidak pakai br4?" tanyanya sembari memberikan pijitan pada kedua benda kenyal itu.
"Tadi aku buru-buru, Mas, nggak sempat pakai. Lagi pula ini masih di rumah juga. Nggak apa-apa, kan?" Retha meneruskan kegiatan mencuci piring meskipun perbuatan Bara membuatnya sedikit terpancing.
"Nggak apa-apa, dong. Aku malah senang. Kalau bisa pakai lingeri seperti semalam saat di rumah. Biar aku senang tiap pulang melihat istriku yang s3ksi dan menggoda," bisiknya seraya memberikan gigitan lembut di leher Retha. Wanita itu tampak memejamkan mata sesaat.
"Kamu nanti nggak keburu kerja kalau aku setiap hari pakai pakaian dinas, Mas." Retha menyudahi kegiatannya mencuci piring. Ia mengelap tangannya yang basah agar kering.
"Aku jadi memikirkan untuk pensiun dini supaya bisa terus bisa tinggal di rumah bersamamu, Sayang." Bukannya segera pergi mandi, ia melucuti pakaian sang istri di dapur.
"Mas, kamu ngapain, sih?" Retha heran sendiri dengan kelakuan Bara. Lelaki itu sangat hobi melepaskan pakaiannya meskipun tahu mereka masih ada di dapur.
"Aku mau mengajakmu mandi, Sayang. Kayaknya mandi berdua lebih menyenangkan dari pada mandi sendiri." Bara mengangkat Retha dalam gendongannya. Reflek Retha mengalungkan tangannya ke belakang leher.
__ADS_1
"Jangan kebiasaan seperti ini, Mas. Kalau ada Kenzo bahaya," tegur Retha.
"Mumpung Kenzo tidak ada di rumah dan mumpung kamu juga belum hamil. Pokoknya, kamu milikku!" Bara berbisik nakal di telinga Retha.