
Retha mulai mengerjap-ngerjapkan mata. Hal pertama yang terlihat di matanya adalah wajah Kenzo. Ia tertegun sejenak memikirkan mengapa anak itu tiba-tiba bisa ada di hadapannya. Ia kembali mengerjapkan mata, Kenzo masih ada di sana.
"Miss Retha sudah bangun?" tanya anak kecil itu.
Mata Retha mulai berkelana memandangi ke seluruh ruangan di sana. Terasa aneh dan tidak familiar. Itu bukan rumahnya.
Ia paksakan dirinya perlahan bangkit hingga terduduk di atas ranjang yang nyaman. Ada beberapa foto Bara yang terpajang di sana. Foto-foto yang memperlihatkan Bara saat mudanya dan baru kali ini ia melihat foto-foto tersebut.
"Kenzo ... Kenzo ...." Terdengar suara panggilan dari arah depan.
"Oma ... Kenzo di sini!" seru Kenzo. Anak itu masih tetap berada di sana, berdiri memandangi Retha.
Tak lama, seorang wanita paruh baya muncul dari arah pintu.
"Oma, Miss Retha sudah bangun!" seru Kenzo lagi.
Wanita itu tersenyum seraya berjalan menghampiri Retha yang masih terlihat kebingungan di tempat tidur.
Retha tertegun menyadari dirinya ternyata berada di rumah orang tua Bara. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba dia sudah ada di sana. Seingatnya, setelah pergi dari rumah sang ayah yang ternyata sudah dijual, Retha jalan-jalan sebentar di area taman kota sembari berpikir untuk pulang atau menginap saja di hotel.
Seharian ponsel sengaja ia matikan agar tidak ada yang menghubungi. Ia sedang berpikir untuk menghadapi Bara secara langsung atau memilih kabur.
Saat berada di sana, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, ia muntah-muntah sampai akhirnya jatuh pingsan. Setelah itu, ia tidak mengingat apapun yang terjadi padanya. Saat terbangun, ia sudah berada di kamar Bara dan Kenzo ada di hadapannya.
"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Ratih dengan nada lembut sembari menggenggam tangan Retha yang masih lemah.
__ADS_1
Retha kembali tertegun melihat tatapan tulus wanita itu. Meskipun usianya telah tua, namun masih terlihat cantik. Seharusnya ia memanggil wanita itu dengan sebutan ibu mertua. Sayangnya, pernikahan antara dirinya dan Bara adalah sebuah rahasia. Entah apa yang akan terjadi jika ibu Bara mengetahui bahwa dirinya istri kedua Bara.
Rasanya ia ingin menangis meluapkan penderitaan batinnya. Ia tak bermaksud menjadi seorang istri kedua. Ia hanya menerima permintaan Bara menjadi istrinya karena Bara mengatakan Silvia telah menjadi mantan istrinya.
Setelah semua yang terjadi, ia semakin paham kenapa Bara berusaha menyembunyikan keberadaannya. Sepertinya sang suami memang masih sangat mencintai Silvia. Belum lama pulang saja wanita itu telah dibuat hamil oleh Bara.
Bara hanya merasa tidak enak karena terlanjur menikahinya. Dirinya hanya dianggap sebagai pengganti sementara agar ranjang Bara tetap terasa hangat sebelum Silvia kembali. Rasa bencinya kepada Bara semakin besar walaupun rasa cintanya juga tidak memudar meskipun mengetahui dirinya telah dibohongi.
"Perkenalkan, namaku Ratih, omanya Kenzo. Aku ibunya Bara. Kata Kenzo kalian sudah kenal baik," ucapnya.
"Nama saya Retha, Bu," jawabnya dengan nada lemah.
"Iya, aku sudah tahu. Kenzo banyak bercerita tentangmu. Dia sampai tidak mau masuk sekolah kalau bukan kamu yang menjadi gurunya." Ratih merasa senang bisa bertemu langsung dengan guru kesayangan Kenzo. "Kenzo, tolong ambilkan teh di meja untuk Miss Retha!" pinta Ratih.
Kenzo langsung bergegas mengambilkan teh hangat lalu membawakannya kembali ke arah Retha.
Retha yang sungkan langsung menerima dan meminumnya. Rasa teh itu agak sepat seperti teh biasanya yang tidak diberikan gula. Saat air hangat itu melewati tenggorokannya, ia merasakan kelegaan. Usai minum, Retha memberikan gelas yang telah berkurang isinya kepada Ratih.
"Semalam kami menemukanmu jatuh pingsan di taman kota. Kenzo yang paling histeris saat melihatmu pingsan. Karena tidak tahu di mana alamat tempat tinggalmu, kami memutuskan untuk membawamu pulang ke rumah ini." Ratih menceritakan apa yang terjadi semalam kepada Retha.
"Terima kasih sudah menolong saya, Bu," ucapnya.
"Kami sempat khawatir karena kamu pingsan cukup lama. Tapi, dokter mengatakan kalau kamu hanya kelelahan dan dalam kondisi hamil muda. Syukurlah sekarang kamu sudah sembuh."
Retha tercengang mendengar Ratih mengatakan bahwa dirinya sedang hamil. "Maaf, Bu. Saya hamil?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Iya. Memangnya kamu tidak tahu kalau sedang hamil?" tanya Ratih keheranan.
Retha tidak jadi memeriksakan kandungannya di dokter karena melihat Silvia dan Bara ada di sana. Ia kira keluhan yang dialami tubuhnya hanya sekedar masuk angin karena memang belum lama juga ia telat datang bulan.
"Apa kamu mau menghubungi suamimu atau keluargamu? Mereka pasti akan sangat khawatir semalaman kamu tidak pulang ke rumah," kata Ratih.
Tubuh Rerha melemas. Kabar kehamilan seharusnya menjadi sesuatu yang sangat menggembirakan. Namun, ia justru merasa semakin sedih. Ia bingung dengan nasib anaknya kelak yang tidak mungkin diakui oleh ayah kandungnya di depan umum.
Pernikahannya memang tercatat secara resmi oleh negara, namun seperti kesepakatannya dengan Bara dulu, keberadaannya harus dirahasiakan sampai waktu yang tak pasti. Apalagi sekarang sudah ada Silvia yang juga sedang hamil, mungkin ia akan diabaikan saja meskipun juga tengah mengandung benih Bara.
"Nanti saja saya menghubungi mereka," ucap Retha sembari mengulaskan senyum.
Tak lama berselang seorang pelayan datang membawakan makanan ke kamar Retha. Ia benar-benar diperlakukan dengan baik di rumah itu. Ratih juga terlihat seperti seorang wanita yang penyayang. Retha semakin berusaha menyembunyikan identitasnya sebagai istri Bara. Ia tidak ingin perlakuan yang hangat itu berubah menjadi buruk mengetahui dirinya sebagai simpanan Bara.
"Miss Retha, Kenzo juga mau makan!" ucap Kenzo ketika melihat Retha baru menyuapkan makanannya ke mulut.
"Kenzo, ini makanan untuk Miss Retha. Kamu punya sendiri di bawah. Kalau mau, biar Oma ambilkan!" Ratih merasa tidak enak hati dengan polab Kenzo.
"Tapi Kenzo maunya makan bareng Miss Retha," ucap anak itu dengan lugunya.
"Kenzo ... Kita akan segera sarapan di bawah. Tidak boleh mengganggu Miss Retha!" Ratih berusaha membujuk cucunya.
"Ah, tidak apa-apa, Bu," ucap Retha. "Kenzo sini naik kalau mau makan barrng Miss Retha," ajaknya. Dengan semangat Kenzo langsung naik dan duduk di sebelah Retha.
"Anak itu tidak biasanya cepat dekat dengan orang lain. Tapi, manjanya tidak tertolong sama Miss Retha," gumam Ratih.
__ADS_1
Retha tersenyum. "Di sekolah kami dulu biasa makan bersama, Bu." Retha menyodorkan ayam horeng yang menjadi salah satu makanan Kenzo. Anak itu dengan lahap ikut memakan makanan yang dipersiapkan untuk Retha.
Ratih hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kenzo. Sekilas pikirannya melayang pada Bara dan Silvia. Tidak biasanya Bara menitipkan Kenzo di sana padahal di apartemen sudah ada Silvia.