
Usai bertengkar dengan sang ibu mertua, Citra memutuskan keluar rumah sambil menangis. Perutnya terasa masih lapar karena acara makan malam yang cukup kacau dan membuatnya semakin stres. Ia memilih menyusuri malam sendirian mengendarai sepeda motornya. Pilihannya jatuh pada pedagang nasi goreng yang ada di pinggir jalan.
Sebesar apapun usahanya untuk bertahan, selama sang ibu mertua turut campur dalam kehidupannya, Citra merasa menderita secara batin. Kunjungan yang ibu mertuanya lakukan selalu berakhir bencana.
"Pak, nasi gorengnya satu yang pedas. Sama minumnya es jeruk nanti dibungkus saja, ya!" ucap Citra saat sampai di tempat penjual nasi goreng.
"Baik, Mba. Tunggu sebentar, ya!" jawab sang pemilik warung sembari meneruskan masakan pesanan dari beberapa pelanggan yang lebih dulu datang.
Citra duduk di salah satu kursi plastik yang disediakan sembari memandangi lalu lalang kendaraan di jalan. Terkadang ia merasa tidak kuat lagi menghadapi permasalahan keluarga yang tak kunjung selesai.
"Mba, ini pesanannya."
Ucapan penjual nasi goreng membuyarkan lamunan Citra. Setelah setengah jam menunggu, akhirnya pesanan miliknya selesai dibuat. Citra membayar dua puluh ribu untuk mendapatkan sebungkus nasi goreng dan es jeruk.
"Terima kasih, Pak." kata Citra sebelum pergi menuju tempat ia memarkirkan motor.
Niatnya ia ingin memakan makanannya di taman kota sembari menenangkan pikiran. Kalau dia sedang stres, terkadang makan dijadikan pelampiasan.
Brak!
"Aduh!" pekik Citra. Tiba-tiba sebuah mobil menyenggolnya yang sedang berjalan setengah melamun.
Nasi goreng yang dibelinya dengan menghabiskan waktu 30 menit menunggu jatuh berhamburan sia-sia. Begitu pula nasib es jeruk yang dibelinya, tumpah tak bersisa. Ia bahkan belum meminum setetespun dari bungkusan es tersebut.
"Dasar orang gila! Parkir mobil tidak lihat-lihat!" gerutunya lirih. Padahal ia juga salah karena jalan tidak lihat-lihat. Kakinya tersenggol sedikit oleh mobil tersebut dan rasanya sedikit sakit.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang yang baru saja turun dari mobilnya.
Dengan perasaan kesal, Citra berbalik menghadap orang yang telah menyerempet dirinya.
"Citra!" seru lelaki itu.
Citra semakin heran ternyata orang tersebut mengenalnya. Sementara, ia sama sekali tidak tahu siapa lelaki itu. "Kamu siapa?" tanya Citra.
"Nah kan, aku sudah yakin kalau kamu tidak mengenaliku. Hendry Alexander, teman SMA kamu dulu," ucap Hendry sembari mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Oh, Hendry yang dulu suka lompat pagar sekolah buat kabur, ya?" kata Citra dengan polosnya. Ia membalas jabat tangan Hendry.
Hendry tidak bisa menahan tawa. Sudah bisa ditebak, hal yang paling teman-teman ingat dari dirinya adalah sisi jeleknya saja. "Ah, iya. Apa kakimu tidak apa-apa?" ia hampir lupa mengecek keadaan orang yang baru saja tersenggol mobilnya.
"Cuma sedikit pegal saja tadi. Tidak apa-apa, kok." jawab Citra.
"Kamu tadi habis beli nasi goreng? Bagaimana kalau kita makan bareng? Kebetulan aku juga mau makan nasi goreng di sini," ajak Hendry.
Citra sejenak memandangi penampilan Hendry yang begitu rapi. "Kamu mau makan di sini?" tanya Citra memastikan.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Hendry merasa heran dan mencari-cari apa yang salah dengan dirinya.
"Ah, tidak apa-apa," ucap Citra.
"Kalau begitu, ayo makan!" ajak Hendry.
Sebenarnya Citra cukup sungkan untuk menerima ajakan tersebut. Namun, uang yang dibawanya juga sudah habis, tidak bisa membeli makanan lagi. Sementara, perutnya masih keroncongan. Mau pulang juga akan sungkan dengan keberadaan mertua. Akhirnya, ia mengiyakan saja ajakan Hendry.
"Aduh!"
Hampir saja Citra terjatuh akibat tersandung sesuatu. Untung saja ada Hendry yang menahan lengan Citra. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Hendry.
"Kalau gara-gara tadi kamu kenapa-napa, aku bisa mengantarmu ke rumah sakit," ucap Hendry.
"Tidak usah, aku baik-baik saja, kok."
Keduanya berjalan menuju ke pedagang nasi goreng. Mereka duduk di bangku yang tersedia sembari menunggu penjual membuatkan pesanan mereka. Baik Hendry maupun Citra yang awalnya hanya ingin membungkus makanan malah berakhir makan di tempat bersama.
"Loh, ini kan Mba yang tadi baru beli," ucap sang penjual yang masih mengenali Citra seraya menghidangkan dua piring nasi goreng di hadapan mereka."
"Tadi saya yang menumpahkan nasi goreng dia, Pak. Makanya sekarang saya ajak makan untuk menggantinya," sahut Hendry.
"Eh, Mas Bule bisa bahasa nasional, ya?" penjual nasi goreng terlihat kaget mendengar Hendry berbicara. Ia kira Hendry seorang turis yang kebetulan makan di warungnya.
"Wajahnya saja yang bule, Pak. Jiwa raga 100% milik tanah air tercinta."
__ADS_1
"Tadi saya hampir tidak berani ajak bicara takut ditanya-tanya pakai Bahasa Inggris," ucap si pedagang yang kali ini membawa dua gelas es jeruk untuk mereka.
"Hahaha ... Tenang saja, Pak. Saya sangat fasih berbahasa nasional. Soalnya sejak lahir juga sudah di sini. Bahkan makan juga setiap hari nasi."
"Tapi, wajahnya tidak ada sama sekali kelihatan seperti orang lokal." penjual tersebut masih kelihatan kurang percaya dengan ucapan Hendry.
"Orang lokal mana, Pak? Negara ini punya ratusan suku bangsa dan bahasa. Ciri fisik dari berbagai daerah juga tidak ada yang sama. Jangan dimahalin pokoknya pak, mentang-mentang wajah saya begini nanti diberi harga turis," protes Hendry.
"Harusnya begitu, Mas Bule." penjual itu meninggalkan Hendry dan Citra. Ia kembali melayani pembeli lain yang datang.
Hendry melirik ke arah Citra yang sedang memakan nasi gorengnya sembari tersenyum-senyum. Sepertinya wanita itu juga mendengarkan perbincangannya dengan si penjual yang lucu itu.
"Kamu sudah menikah?" tanya Hendry tanpa basa basi. Dia memang terkenal supel dan mudah bergaul saat SMA.
"Sudah. Kamu sendiri?" tanya Hendry.
"Sama, aku juga sudah menikah."
"Kayaknya sudah lama tidak bertemu denganmu. Selama ini dimana?" kali ini Citra berinisiatif bertanya.
"Setelah lulus kuliah aku tinggal di luar negeri. Tidak lama setelah itu juga menikah dan tinggal di luar negeri. Istriku model internasional, setelah kontrak kerjanya di sana kita memutuskan untuk sama-sama pulang."
Citra mengangguk-angguk mendengar cerita Hendry. Kehidupan lelaki itu sudah pasti sangat baik, apalagi sampai mampu tinggal di luar negeri. Jauh berbeda dengannya yang hanya anak yatim piatu bahkan asal-usul kedua orang tuanya juga tidak jelas. Ia bisa bertahan karena hidup di panti asuhan.
"Sudah punya anak?" tanya Hendry lagi.
Kali ini pertanyaan Hendry membuat n4fsu makan Citra hilang. Pertanyaan semacam itu sangat menyakiti mentalnya. Apalagi hal tersebut yang menjadi salah satu penyebab permasalahan antara dirinya dan mertua.
"Belum, aku belum punya anak," jawab Citra dengan nada lemas.
"Sama. Aku sudah lima tahun menikah juga belum punya anak. Ternyata aku ada temannya juga. Hahaha ...."
Citra jadi heran kenapa Hendry tidak kelihatan sedih menceritakan hal tidak menyenangkan semacam itu. Ia semakin yakin jika memang anak sebenarnya tidak terlalu penting untuk lelaki. Mereka tidak punya beban sama sekali meskipun belum memiliki anak. Berbeda dengan wanita yang pasti akan dicemooh jika belum bisa melahirkan seorang anak.
***
__ADS_1
Sembari menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘