
Keluar dari ruangan dokter, Citra masih memikirkan ucapan sang dokter. Ia menggaruk-gatuk sendiri kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak menyangka kalau pengetahuan tentang dunia peranjangan juga penting demi menjaga keharmonisan rumah tangga juga menghasilkan keturunan.
"Bagaimana, ya? Masa aku harus nonton film dewasa buat belajar? Memangnya kalau aku tiba-tiba jadi agak nakal, Mas Yoga nggak bakalan jadi jijik," gumam Citra sembari berjalan.
"Jangan! Lepaskan! Tolong ...."
Telinga Citra mendengar samar-samar suara wanita minta tolong. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling, mencari asal suara tersebut. Ada seorang wanita yang sedang dijambret oleh preman. Sebelum ia bergerak menolong, jambret tersebut sudah lebih dulu berhasil merebut tas wanita itu.
Melihat sang jambret berlari ke arahnya, Citra pura-pura tidak tahu dan mengulurkan kakinya hingga jambret itu tersandung kakinya dan terjatuh. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk mengambil kembali tas hasil rampasan dan menendangi tanpa ampun preman itu.
"Dasar jambret kurang ajar! Kalau mau punya uang kerja, bukan jadi tukang rampas milik orang! Rakyat ikut-ikutan saja seperti penguasa! Tukang rampas!" Citra malah meluapkan emosinya kepada penjambret itu.
"Aduh! Sudah, Mba! Sudah! Sakit, tahu!" si penjambret berusaha melindungi diri dari amukan Citra."
"Kamu masih muda, pakai otak sama tenaga dong buat kerja! Jangan jadi penjahat! Mau jadi apa bangsa ini kalau pemudanya sudah malas kerja dan jadi kriminal! Kamu kira kelakuanmu seperti ini bisa membanggakan orang tua?" Citra terus memukuli si jambret yang masih kelihatan sangat muda dengan kesal.
"Iya, Mba. Iya ... Maaf. Saya mau pulang sekarang!"
Akhirnya Citra mau melepaskan jambret tersebut. Ia hampir lupa dengan wanita yang jadi korban jambret. Wanita pemilik tas yang dibawanya terlihat masih terduduk di jalanan memandangi dirinya. Segera Citra berjalan menghampiri wanita tersebut.
"Kamu ... Tidak apa-apa?" tanya Citra sembari membangunkan wanita yang tampak lebih muda darinya.
Citra mengajak wanita itu untuk mencari tempat teduh dan duduk di sana. Wanita itu masih saja memandanginya seolah keheranan.
"Kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Citra.
Wanita itu tersenyum. "Ah, tidak. Yang tadi itu kamu sangat keren," ucapnya.
"Keren bagaimana?" tanya Citra bingung.
"Kamu berani menghadapi orang jahat yang tadi," ucap wanita itu.
"Ah ... Yang tadi ...." Citra tertawa sendiri. "Itu biasa saja, sih. Apalagi jambretnya masih muda. Pernah juga bertemu dengan preman yang lebih galak. Lebih seram." Citra menceritakan sedikit tentang pengalamannya.
Wanita itu membulatkan mata. "Kamu sudah sering menghajar preman?" tanyanya dengan nada terkejut.
"Tidak menghajar juga, sih ... Lebih tepatnya berusaha melawan. Sebagai seorang karyawan pabrik, kadang mau tidak mau harus lembur. Kalau malam suka bertemu dengan orang yang tidak diinginkan seperti preman."
"Ini tasmu. Coba dicek dulu, apakah isinya masih lengkap atau ada yang hilang?" Citra menyerahkan tas kepada wanita itu.
Wanita itu tampak mengecek tas yang Citra berikan kepadanya. "Terima kasih, ya!" ucapnya seraya menutup kembali tas miliknya.
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanya Citra.
"Retha."
"Oh ... Nama kita hampir sama kalau diucapkan bunyinya. Namaku Citra," ucap Citra seraya mengulurkan tangan meminta berjabatan.
Wanita bernama Retha itu tersenyum seraya membalas jabat tangan Citra.
"Ngomong-ngomong, ada perlu apa di rumah sakit ini?" tanya Citra.
"Sedang menunggu suami. Nanti mau cek kandungan ke dokter."
Citra melebarkan mata. Ia tertegun sejenak sembari memperhatikan sosok wanita di sebelahnya terutama area perut. Orang yang ia kira masih seusia anak SMA atau kuliahan itu ternyata sudah menikah bahkan sedang hamil.
"Kamu ... Mau bertemu dengan Dokter Ester?" tanya Citra.
Retha mengangguk.
"Aku juga baru saja dari sana."
"Oh, kamu juga sedang hamil?" Retha terlihat antusias mendapatkan teman yang sama-sama pasien dokter Ester.
Retha berubah ekspresi. Ia jadi merasa iba seakan bisa turut merasakan kepedihan seorang wanita yang belum bisa memiliki anak.
"Aku kira tadi kamu masih muda, mungkin murid SMA atau mahasiswa. Malah ternyata sudah menikah dan sedang hamil."
Retha tertawa mendengar ucapan Citra. "23 tahun apakah masih bisa dibilang muda?"
"Itu masih muda, aku sendiri 29 tahun. Beberapa bulan lagi sudah kepala tiga."
Retha membulatkan mulutnya. "Tapi, kamu tidak kelihatan setua itu. Aku kira kita seumuran," ucapnya.
Citra tertawa kecil. "Kalau begitu kita tidak usah membahas umur, ya. Aku mau pura-pura amnesia dengan usiaku sendiri."
Retha ikut-ikutan tertawa. Menurutnya, wanita yang telah menolong dia merupakan orang yang lucu dan menyenangkan. Selama menjadi istri Bara, ia belum pernah bertemu dengan orang lain dan berbicara sedikit santai seperti saat ini.
"Kamu sudah berapa lama menikah?" tanya Citra.
"Baru kemarin."
"Hah? Kemarin?" Citra sangat terkejut mendengar jawabannya. Bagaimana bisa orang yang baru menikah kemarin sudah langsung hamil.
__ADS_1
"Ah, maksudku ... Resepsi pernikahannya baru kemarin. Kalau menikahnya sekitar empat bulan yang lalu." Retha tertawa melihat respon Citra yang terkejut. Wajahnya kelihatan lucu.
"Aku kira kamu hamil duluan."
"Hahaha ... Tidak seperti itu. Kalau kamu sendiri sudah menikah berapa tahun?" tanya Retha.
"Tiga tahun ... Dan belum punya anak." Citra menghela napas berat. Setiap kali membahas tentang kehamilan ia seakan memikul suatu beban berat.
Retha meraih tangan Citra dan menggenggamnya untuk memberikan penguatan. "Sabar, nanti kalau waktunya sudah tepat juga kamu bisa hamil."
"Hahaha ... Aku jadi serasa sedang dihibur oleh anak-anak."
"Anak-anak yang sudah bisa membuat anak maksudnya?"
Citra tambah tertawa dengan jawaban Retha. "Terkadang yang muda lebih punya ilmunya ya. Mungkin aku juga harus belajar kepadamu supaya bisa ketularan hamil sepertimu. Boleh minta nomormu? Kapan-kapan kita harus ketemuan agar aku bisa dapat tips cepat hamil ala anak muda." Citra mengeluarkan ponselnya. Retha membacakan nomor miliknya. Mereka bertukar kontak.
"Aku benar-benar tidak tahu caranya cepat hamil, Citra," ucap Retha.
"Tidak apa-apalah! Setidaknya aku dapat satu teman sharing tentang kehamilan. Siapa tahu bisa menular." Citra sudah sangat semangat mendapatkan seorang teman yang sedang hamil. Ia tidak sabar untuk nantinya mendengarkan cerita tentang rasanya hamil.
"Ada sih, mitos orang dulu supaya bisa ketularan hamil. Katanya harus menginjak kaki orang yang hamil supaya bisa ketularan hamil," kata Retha.
"Benarkah ada mitos seperti itu? Apa aku boleh mencobanya?" tanya Citra dengan semangat. Ia memang bertekad akan melakukan berbagai cara agar bisa hamil, termasuk mengikuti mitos-mitos yang tidak masuk akal.
"Tapi jangan kasar injaknya, cuma syarat saja ya ...." Retha agak ketakutan kalau sampai Citra menginjak kakinya sekuat wanita itu menghajar jambret tadi.
"Iya, aku injaknya pelan, kok." Citra mengangkat kakinya, diarahkan kepada kaki Retha. Perlahan ia menempelkan kakinya di atas kaki Retha sembari di dalam hati ia mengungkapkan harapannya untuk cepat bisa hamil.
"Sayang ... Maaf membuatmu menunggu lama."
Kehadiran seseorang membuat Citra kaget. Ia menarik kembali kakinya. Seorang lelaki tampan berpenampilan rapi menghampiri Retha. Citra menebak lelaki itu merupakan suami Retha.
"Citra, aku pergi dulu, ya. Sampai berjumpa lain kali," pamit Retha.
Citra mengangguk sembari mengulaskan senyum. Ia memandangi pasangan serasi yang tampak mesra itu berjalan meninggalkannya. Termadang ia merasa iri dengan pasangan lain. Mereka tampak begitu kompak, tidak seperti dirinya dan Yoga. Bahkan jika dia menceritakan hari ini peegi ke dokter, mungkin Yoga akan marah-marah.
***
Sembari menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author, ya 😘
__ADS_1