Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Tidak Mau Lepas


__ADS_3

21+


"Aduh, Sayangku capek, ya?" tanya Bara sembari menatap sepasang mata jernih yang menatapnya dengan tatapan sayu dan memelas. Seakan ia ingin mengatakan sudah tidak berdaya melayani suaminya yang menggila setelah pernikahan mereka.


Ekspresi wajah yang Retha tampilkan terus menjadi hiburan bagi Bara. Lelaki itu tertawa kecil menganggap istrinya sangat lucu. Orang yang selalu serius bekerja itu tiba-tiba menjadi malas untuk pergi ke kantor karena istrinya.


"Mas ... aku haus," ucap Retha dengan nada masih lemas.


"Oh, Sayangku haus."


Bara mengubah posisi mereka dari yang awalnya berpelukan menyamping menjadi menindih wanita itu di bawahnya. Sontak Retha melebarkan matanya dengan kelakuan Bara. Ia yakin lelaki itu masih ingin melakukannya.


"Mas, sudah ... ini sudah pagi ...." Retha berusaha menahan tubuh suaminya.


"Katanya mau minum. Kita akan ambil minum," bisik Bara nakal seraya kembali memasukkan miliknya secara penuh.


"Aku haus, Mas ... mau minum ... kamu begini terus ...," rengek wanita itu.


"Iya, Sayang. Kita juga mau ambil minum. Lingkarkan tanganmu ke leherku. Pegang yang erat, ya!" pinta Bara dengan nada isengnya.


Retha menurut. Ia kembali terkejut saat tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Ia mengeratkan pelukannya dengan kaki melingkar erat pada pinggang Bara. Bara benar-benar gila membawa wanita itu dalam gendongannya tanpa melepaskan penyatuannya. Tubuh Bara begitu padat, otot-otot dadanya terbentuk sempurna. Berat badan Retha yang bergelayut pada tubuhnya seakan tak berarti baginya. Retha seringan kapas baginya.


Dengan satu tangan Bara menahan tubuh istrinya sementara tangan yang lain digunakan untuk mengambil botol minum yang tergeletak atas meja makan. Rupanya koki hotel telah menyiapkan sarapan untuk mereka. Ia membantu Retha minum. Istrinya masih terlihat begitu menggemaskan di matanya. Ia semakin terlena untuk memeluknya sepanjang hari.


Bara meraih tubuh istrinya yang hampir limbung. Dibawanya tubuh sang istri ke arah meja makan dan memangkunya.


"Kamu sudah gila ya, Mas? Aku tidak bisa melakukan apa-apa kalau diajak seperti ini terus seharian," keluh Retha sembari menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Bara.


"Tenang, Sayang ... ini yang terakhir sebelum aku berangkat kerja." Bara menyuapkan makanan yang disediakan pihak hotel kepada Retha. Tak lupa ia juga menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri. "Setelah sarapan, aku akan membantumu mandi. Setelah itu, kamu boleh tidur lagi supaya nanti malam sudah kembali fit." Ia mengerlingkan matanya genit.


Retha menghela napas. "Aku harap nanti Mas Bara punya banyak kerjaan dan harus lembur."

__ADS_1


"Hahaha ... kenapa, Sayang? Dikasih enak kok malas-malasan."


"Enak sih enak, Mas ... tapi tubuhku sakit semua ..." Retha memanyunkan bibirnya.


"Makanya olahraga biar tidak cepat lemas." Bara kembali menyuapkan makanan kepada Retha. "Nanti aku pesankan alat fitnes untuk di apartemen kita."


Retha heran dengan lelaki itu yang kelihatannya tak memiliki rasa lelah sama sekali.


"Punya suami sepertiku harus pandai menjaga kesehatan, karena aku akan mengajakmu olahraga setiap malam. Kalau hari libur, kita akan olahraga seharian," goda Bara.


Mereka melanjutkan acara sarapan. Retha yang lemas tidak mau makan sendiri. Dengan penuh kasih sayang, Bara menyuapkan makanan kepada istrinya.


***


Edis berdiri di depan cermin merapikan rambut dan dandanannya. Ia meraih ponselnya, mengecek pesan yang masuk. Ternyata tak ada satupun pesan yang masuk. Semalam ia mencoba menghubungi Angga, khawatir terjadi apa-apa karena kekasihnya itu tidak memberikan kabar apapun. Ia berusaha berpikiran positif, lanjut berangkat ke sekolah bersama teman satu asramanya.


Sesampainya di sekolah, ia memberanikan diri ke ruangan kelas 12 untuk mencari Angga. Ia sangat berhati-hati berjalan agar jangan sampai bertemu Lova dan kawan-kawannya. Kalau sampai ketahuan, ia yakin akan dirundung seperti biasa.


Edis berdiri di dekat jendela kelas Angga. Ada teman Angga yang sedang membicarakan kekasihnya itu.


"Semalam aku ketemu dia di taman. Kayaknya nggak pulang lagi anak itu. Mana wajahnya babak belur. Heran aku sama dia."


"Iya. Kenapa sih anak itu? Sekarang kok jadi kacau begitu. Biasanya kan kita yang hobi tawuran."


"Padahal kita sudah hampir lulus, makanya tobat. Eh, dia malah baru mulai."


"Telat nakal dia."


Edis memiliki firasat yang kurang enak mendengarnya. Semalam Angga bilang mau pulang ke rumah. Ia berprasangka setelah mengantarnya kembali ke asrama, Angga tidak pulang lagi ke rumah dan kembali berkelahi.


Edis memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Ia akan menemui Angga nanti sepulang sekolah. Sepertinya lelaki itu memang tidak akan datang ke sekolah hari ini.

__ADS_1


"Lihat ini ... ada yang sudah berani ngelunjak masuk ke kawasan anak kelas 12."


Langkah kaki Edis terhenti. Sungguh sial ia harus berhadapan dengan Lova dan kedua temannya yang sangat membencinya.


"Maaf ya, Kak. Memangnya ada larangan anak kelas 11 lewat banguman kelas 12?" tanya Edis.


"Mentang-mentang kamu sudah pacaran sama Angga jadi makin berani dan nggak sopan ya sama kakak kelas?" sindir Lova.


"Ni anak punya pelet apa ya, sampai Angga bisa luluh?" ucap Nida.


"Angga jadi jarang masuk sekolah sejak kenal dia. Mana wajahnya sering bonyok-bonyok." sahut Siwi.


"Itulah gunanya pilih-pilih dekat sama orang. Dia ini anak nggak jelas. Kakaknya aja kerja di klab malam."


"Aku jadi khawatir Angga ikut-ikutan nggak bener."


"Kamu pakai tubuhmu ya untuk meluluhkan Angga? Dasar murahan!"


Edis mengepalkan tangannya. Telinganya terasa panas mendengarkan ucapan fitnah yang mereka lontarkan. Ia juga tidak terima kakaknya dibawa-bawa dan dijelek-jelekkan.


"Kalian iri, ya? Merasa kurang cantik dariku?" ejek Edis. Ia malah sengaja memancing emosi mereka.


Lova melebarkan matanya. "Iri? Kamu sudah gila? Aku jauh lebih cantik dan kaya darimu. Hahaha ... siapa kamu memangnya?" ejek Lova.


"Kalau kamu cantik, kenapa Kak Angga tidak menyukaimu? Jangan-jangan kamu salah pilih cermin." Edis ikut tertawa mengejek kakak kelasnya.


"Kurang ajar!" Lova hendak menampar Edis. Kali ini, Edis tak membiarkan kakak kelasnya itu menyakiti dirinya. Ia menepis tangan Lova dengan kasar.


"Kalau mau bersaing, tidak usah pakai mulut atau tangan. Buktikan saja kalau Kakak memang disukai oleh Kak Angga. Kalau tidak berhasil, itu salahmu sendiri yang memang tidak menarik!" ucap Edis dengan tegas. Kali ini ia berani membantah kakak kelasnya secara terang-terangan. Ucapan Edis membuat ketiga kakak kelasnya terdiam. Merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Edis memilih pergi meninggalkan ketiga orang yang sangat suka merundungnya.


Edis merasa bisa bernapas lega. Melawan ternyata lebih baik dari pada diam dan mengaku lemah. Meskipun nantinya mereka akan semakin meras memusuhinya, ia akan berusaha agar tetap tegak berjalan di atas kakinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2