Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Atasan Menyebalkan


__ADS_3

Citra langsung memandang Lilis. Ia tidak tahu telah berbuat salah apa sampai harus dipanggil oleh atasan barunya. Citra merasa tak melakukan kesalahan apapun.


"Memangnya kenapa, Rul?" tanya Citra penasaran.


"Aku tidak tahu, Pak Hendry hanya menyuruhku memanggil staf yang namanya Citra. Mungkin mau ditanya-tanya." Setelah mengatakan hal itu, Irul kembali ke tempat duduknya.


"Aduh, Lis. Gimana ini? Kayaknya mau ada pemangkasan karyawan lagi deh. Bagaimana kalau aku dipecat?" Tiba-tiba Citra merasa grogi.


"Masih mending kalau dipecat biasa, Cit. Kalau dituduh sudah bersekongkol dengan Pak Bono, bisa masuk penjara kan ...." Bukannya menenangkan, Lilis justru semakin membuat Citra khawatir.


"Lilis ...," rengek Citra.


"Nggak, ding ... bercanda. Paling kamu mau naik pangkat. Sana cepat masuk ke ruangan bos! Lumayan kan, bisa lebih lama lihat bos ganteng." Lilis mendorong tubuh Citra agar menuju ruangan Pak Hendry.


"Ganteng kalau galak juga buat apa!" keluh Citra. Ia menarik napas sebelum masuk ke dalam ruangan, berharap bayangan negatifnya tidak akan terjadi.


Citra tidak menyangka jika manajer baru di divisinya ternyata merupakan Hendry, teman satu SMA dulu. Sebenarnya Hendry kakak kelas Citra, namun karena sering membuat masalah waktu sekolah, ia jadi kenal dengan lelaki itu.


Ia sudah sengaja menghindar, mencoba menyingkir dari kerumunan. Tujuannya jelas, saat ia tahu Hendry yang akan menjadi manajer baru, ia tidak ingin ditegur olehnya. Takut karyawan lain akan mendekati dan memberikan banyak pertanyaan. Apalagi kalau mereka tahu jika Citra dan Hendry pernah satu SMA.


"Permisi, Pak ...."


Saat Citra membuka pintu, dua lelaki beraura dewa itu seakan menyilaukan matanya. Ia sendiri hampir tidak percaya dua orang baru di kantornya selain sama-sama tampan juga saling mengenal.


"Citra, Masuk!" pinta Hendry.


Citra menutup kembali pintu yang dibukanya seraya berjalan menghampiri kedua lelaki tersebut.


"Oh, ini yang kamu maksud tadi?" tanya lelaki di sebelah Hendry.


"Iya. Dia dulu adik kelasku di SMA. Otaknya lumayan encer, selalu dapat peringkat tiga besar di sekolah," puji Hendry.

__ADS_1


Citra tidak paham dengan tujuan Hendry memanggilnya. Apalagi sampai membahas tentang kehidupan SMA mereka terdahulu.


"Oh, iya. Citra, kenalkan ini Bapak CEO baru di kantor kita. Dia juga teman baikku, namanya Bara Atmaja."


Bara mengulurkan tangannya mengajak Citra berkenalan. "Sebenarnya aku hanya membantu lelaki ini saja jadi CEO sementara. CEO yang asli sebenarnya dia," ucap Bara.


Hendry langsung memukul keras pundak Bara. "Sudah aku bilang jangan katakan tentang hal itu, kan?" protesnya.


"Katanya dia bisa dipercaya. Jadi, nggak apa-apa kan kalau aku bilang? Aku tidak bisa main CEO-CEO an setiap hari juga, cepat selesaikan urusanmu!" pinta Bara.


"Apa? Mau perhitungan denganku? Tidak akan aku bantu kamu menangkap Thea dan ayahnya."


"Oh, jangan begitu ... Kamu harus tetap membantuku untuk itu." Bara kembali merayu Hendry agar tetap mau membantunya.


"Itu kita bahas lain kali saja. Kasihan karyawan kita ini kebingungan kenapa dia dipanggil ke sini, " ucap Hendry.


"Hahaha ... Kamu benar juga." Bara menoleh ke arah Citra yang dia anggap dari penampilan dan wajahnya merupakan karyawan biasa-biasa saja, berbeda dengan para karyawan lainnya. "Tidak usah khawatir, kami bukan ingin memecatmu. Kenapa kamu kelihatan tegang? Santai saja," ucapnya.


"Kami juga tidak bermaksud ingin menaikan gaji atau jabatanmu, jadi jangan senang dulu ...," sambung Hendry.


"Kalau begitu, aku mau pulang sekarang. Hari ini ada janji mau mengajak anak dan istriku jalan-jalan," pamit Bara.


Citra sedikit terheran dengan ucapan Bara. Setahu dirinya, istri Bara masih hamil muda dan baru beberapa bulan menikah, tapi lelaki itu mengatakan akan mengajak anaknya. Ia jadi berpikir, mungkin saja sebelumnya Retha sudah lebih dulu memiliki anak. Itu artinya, wanita yang ditemuinya itu telah menjadi ibu dalam usia yang masih muda.


"Heh! Ini hari pertama kerja mau langsung main kabur?" Hendry terlihat kesal kepada Bara.


"Kamu siapa? Aku CEO di sini, ya ... Berani mau mengatur-atur aku?" ledek Bara.


Hendry tak bisa berbuat apa-apa. "Ya sudahlah! Terserah kamu mau apa. Yang penting, jangan lupa rajin datang mengurus perusahaan."


Bara hanya mengacungkan jempolnya. Dengan santainya ia melenggang pergi meninggalkan ruangan Hendry.

__ADS_1


Hendry hanya bisa menghela napas. Ia memijit keningnya sendiri. "Citra, duduk dulu!" pintanya.


"Baik, Pak."


Citra mengikuti kemauan Hendry. Ia masih bertahan untuk bersikap sopan terhadap atasannya. Ia tidak ingin menjadi orang yang seenaknya hanya karena kenal baik dengan atasannya.


Hendry menatap fokus ke arah Citra. "Apa kamu tahu bagaimana kondisi perusahaan tiga tahun terakhir?" tanyanya.


Citra membalas tatapan Hendry. Ia masih belum mengerti kenapa dirinya dipanggil untuk ditanyai tentang perusahaan.


"Aku memanggilmu ke sini untuk urusan perusahaan, ya. Bukan karena aku tertarik padamu atau bagaimana. Kamu juga jangan menyukai aku, karena aku sudah punya istri dan istriku sangat cantik." Hendry mengulangi kembali perkataannya yang sempat ia katakan saat bertemu dengan karyawan yang lain.


Ingin rasanya Citra tertawa dengan kesombongan yang ditampilkan atasan barunya. "Maaf ya, Pak! Tidak semua orang tertarik dengan Bapak. Saya juga sudah menikah, jadi tidak perlu berpikir kalau saya tertarik dengan Anda."


"Oh, begitu, ya ... Soalnya banyak wanita yang bilang menyukai aku. Hanya untuk jaga-jaga saja, mudah-mudahan kamu bukan menjadi salah satunya." Hendry tersenyum miring.


Kalau lelaki di hadapannya bukan seorang manajer, mungkin Citra sudah memukul kepalanya. Baru kali ini ada orang begitu percaya diri mengakui ketampanannya sendiri.


"Silakan katakan apa urusan Anda, pekerjaan saya juga banyak, tolong jangan membuat waktu saya terbuang sia-sia!" tegas Citra.


Hendry tertawa ada karyawan yang berani berkata seperti itu kepadanya. "Baiklah, aku memang sengaja memanggilmu untuk mendiskusikan sesuatu. Karena kita sudah saling kenal, aku rasa kita bisa lebih saling mengerti," ucapnya.


'Kenal dari mana? Aku merasa kita tidak begitu kenal. Kenapa ada orang sepercaya diri ini,' batin Citra.


"Aku belum lama mengambil alih perusahaan ini. Tidak diaangka, ternyata kondisinya sangat bobrok. Terutama bagian divisimu, ulah manajer lama yang korupsi itu."


"Aku sengaja masuk menjadi manajer baru menggantikan manajer lama kalian. Aku ingin tahu, seberapa parah perbuatan yang pernah orang itu lakukan. Juga mencari tahu jika ada karyawan lain yang masih terlibat. Aku tidak ingin uangku terbuang sia-sia untuk membeli perusahaan ini. Kamu mau membantuku, kan?"


"Bantuan apa yang bisa saya berikan?" tanya Citra.


***

__ADS_1


Sembari menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author, ya 😘



__ADS_2