Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Malam Penuh Emosi


__ADS_3

Permisi ....


Angga numpang lewat dulu, ya ....


🧡🧡🧡


Angga akhirnya sampai di rumah. Perasaannya masih berbunga-bunga setelah bertemu Edis. Walaupun ia harus babak belur lagi dengan para pemuda liar itu, ia tak sedikitpun merasa rugi. Apalagi melihat Edis jadi perhatian padanya, membuat cerita luka menjadi sesuatu yang indah dan mereka akhirnya bisa pacaran.


Ia melepaskan sepatu dan kaos kaki di atas rak sebelum masuk ke ruang tamu. Niatnya akan segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya lalu mengirimkan pesan kepada Edis.


Langkahnya terhenti saat dirinya bertemu dengan sang ayah di ruang tengah. Keduanya saling mematung saat tatapan mereka bertemu.


"Kenapa dengan wajahmu?"


Fabian berjalan mendekat ke arah putranya. Ia begitu kaget melihat Angga dengan seragam sekolah yang masih melekat memiliki banyak luka-luka di wajahnya. Angga membuang muka. Tidak ia sangka jika sang ayah ternyata masih berada di apartemen. Ia kira lelaki yang usianya dua kali lipat dirinya itu sudah kembali pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.


"Wali kelasmu mengabari kalau kamu beberapa hari tidak masuk sekolah karena sakit. Apa jangan-jangan kamu bohong? Kamu berkelahi, kan? Kamu mau jadi preman!" Fabian sangat emosi dengan putranya. Ia telah bekerja keras membesarkannya, memberikan apa terbaik untuk Angga, namun anak itu malah menjadi semakin liar dan tidak bisa diatur.


"Sudah berapa kali Papa bilang, jangan membuat masalah! Kamu mau berulah lagi seperti dulu!" Fabian menggoncangkan kedua pundak Angga.


"Diam! Jangan menyentuhku!" teriak Angga sembari menyingkirkan tangan Fabian darinya.


"Kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan mamamu di alam sana memiliki anak yang bandel sepertimu?" Fabian yang dipenuhi emosi turut berkata dengan nada tinggi.


Angga terkekeh. "Gampang sekali kamu membawa-bawa nama Mama ... kamu pikir kenapa Mama bisa meninggal kalau bukan karena memiliki suami tukang selingkuh!"

__ADS_1


Umpatan Angga membuat Fabian terkejut. Ia terdiam dengan kata-kata yang Angga lontarkan.


"Dimana kamu waktu Mama sekarat dan hampir meninggal? Apa kamu sedang sibuk bermesraan dengan simpananmu itu?"


"Angga ...." Fabian mati kutu mendengar perkataan Angga.


"Mama memang akan kecewa jika melihatku yang seperti ini. Itu kalau dia masih hidup. Tapi, Mama sudah meninggal. Setidaknya aku jauh lebih baik darimu yang tega menyakitinya saat masih hidup."


"Kamu salah paham, Angga ... aku tidak bisa menemani Mamamu karena harus bekerja. Biaya perawatan rumah sakit sangat tinggi sementara kondisi keuangan perusahaan saat itu tidak stabil." Fabian heran kenapa Angga bisa berkata seperti itu kepadanya.


"Hah! Omong kosong!" bantah Angga. "Paling juga lagi sibuk dengan selingkuhanmu itu," sindirnya.


"Pel4curmu itu setiap hari meneror Mama, memintanya untuk bercerai denganmu. Setelah Mama meninggal, kamu pasti bahagia, kan, bisa tinggal bersama pel4cur itu?"


"Kenapa sampai sekarang aku belum mendengarmu menikahinya? Apa kamu takut akan kehilangan warisan perusahaan milik Mama?" Angga ingin menertawakan ayahnya yang sangat pengecut.


"Aku harap dia tidak mewarisi sifat kedua orang tuanya yang seperti sampah!"


Fabian benar-benar tidak menyangka anaknya mengetahui permasalahan di antara dirinya dan istrinya yang telah meninggal. Apa yang Angga tidak semuanya benar. Ia sendiri tak ingin mengingat atau membahasnya lagi. Masalah yang ingin ia kubur dalam-dalam justru kembali digali oleh putranya sendiri.


"Sampai sekarang, aku hanya mencintai Mamamu."


"Hahaha ... seharusnya kamu membuktikan dan mengatakannya saat Mama masih hidup!" Angga memberikan tatapan nyalang kepada ayahnya sendiri. Ia sangat muak berhadapan dengan lelaki yang menjadi penyebab kematian ibunya.


"Angga! Angga!" Fabian berusaha berteriak menghentikan anaknya yang berlari pergi ke luar apartemen. Pintu itu dibanting oleh Angga dengan keras.

__ADS_1


"Ah!" Fabian menjambak rambutnya sendiri. Pikirannya sangat frustasi. Angga satu-satunya keluarga yang ia miliki. Setelah kematian sang istri, ia berusaha mengurangi kesibukannya agar bisa dekat dengan putranya.


Angga yang dulu sempat menjadi anak nakal, kelakuannya berubah menjadi baik saat ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit. Istrinya sempat mengeluh jika Angga menjadi anak yang kasar dan sering memaki-maki ibunya sendiri. Ia hanya bisa memberi saran untuk bersabar. Istrinya menginginkan ia untuk lebih sering berada di rumah, namun ia tak bisa melakukannya. Ia sibuk bekerja keras dengan tujuan ingin membahagiakan anak dan istrinya.


Fabian memang pernah membuat kesalahan. Saat ia mabuk-mabukan dengan rekan bisnisnya, tanpa sadar ia menghabiskan malam dengan seorang wanita. Wanita itu mengatakan agar Fabian mau menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab. Namun, saat ia mengatakan sudah beristri dan memiliki anak, wanita itu tidak mengatakan apapun dan langsung pergi meninggalkannya. Hingga sekarang mereka bahkan tak pernah bertemu lagi.


Rasanya tidak mungkin jika wanita yang ditidurinya tanpa sengaja meneror istrinya dan mengatakan memiliki anak darinya serta memintanya bercerai. Ia merasa tak memiliki masalah dengan siapapun. Hidupnya hanya dihabiskan untuk bekerja setelah istrinya meninggal. Ia bahkan sudah lebih banyak waktu untuk Angga, namun anak itu yang jadi tambah jarang pulang ke rumah.


Ia heran sendiri dengan Angga. Anak itu saat di SMP jadi anak baik dan cerdas. Begitu pula saat awal SMA, ia menjadi anak yang manis, rajin, dan menjadi kesayangan guru di sekolah. Entah apa yang terjadi, akhir-akhir ini Angga jadi arogan. Anak itu sering tidak pulang ke rumah, jarang menjawab telepon dan pesan yang ia kirimkan.


***


Angga yang baru keluar dari apartemennya berjalan tanpa arah di kesunyian malam. Tampaknya malam ini ia akan kembali tidur di hotel lagi sampai ayah yang sangat ia benci pergi dari sana.


"Oh, b4jingan kecil ini ternyata datang lagi. Punya nyali juga dia sudah membuat kita babak belur!"


Lagi-lagi Angga harus bertemu dengan lima orang yang sempat mengeroyoknya saat bersama Edis. Ternyata mereka masih di sana. Bertemu mereka sebuah kebetulan yang ia harapkan. Angga sedang ingin melampiaskan kemarahannya.


Tanpa aba-aba, Angga langsung maju melakukan serangan. Kelima pemuda liar itu pun sama, dengan modal semangat dan dendam, mereka melayangkan pukulan kepada Angga. Dari segi bela diri, mereka sangat payah. Bisa menghadapi Angga karena beruntung saja jumlah mereka yang banyak.


Walaupun sudah kena hajar Angga, merek tidak kapok. Angga juga beberapa kali terkena pukulan. Kelima orang itu akhirnya mengalah pergi setelah merasa kalah lagi dari Angga. Mereka lari tunggang langgang sembari mengumpat dan bersumpah akan mencari Angga lagi.


Wajah Angga semakin kacau. Edis pasti akan menanyakan lagi tentang kondisinya. Padahal, wanita itu sudah bilang sangat benci melihatnya terluka. Angga berjalan gontai menuju hotel yang sudah biasa ia sewa untuk beristirahat malam ini.


Di sisi lain, Edis berada dalam asramanya. Ia melepaskan seluruh pakaiannya lalu berdiri di bawah guyuran shower yang hangat. Butiran air yang menyentuh permukaan kulitnya memberikan kesegaran.

__ADS_1


Sembari mandi, ia hanya memikirkan Angga. Lelaki itu sangat membuatnya penasaran. Angga yang sangat ia kagumi sebagai kakak kelas menjadi sosok yang lain setelah berpacaran dengannya. Wajahnya sering terlihat sendu seperti sedang menghadapi masalah berat yang tak ingin diceritakan. Padahal ia ingin menjadi seorang pacar yang bisa diandalkan dan dipercaya olehnya.


__ADS_2