Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Ayah Tidak Ada Akhlak


__ADS_3

"Katanya mau transfer, kok malah Kak Retha datang sendiri ke sini?" tanya Edis heran.


"Tidak apa-apa, Kakak mau ketemu kamu saja. Sudah lama juga kan kita tidak bertemu." Retha berusaha mengulaskan senyum.


Sebelumnya Edis menelepon sang kakak untuk meminta uang, katanya mau ditransfer secepatnya. Namun, ternyata Retha datang secara langsung ke asrama Edis. Wajahnya tampak sedikit murung.


"Bagaimana tadi hasil pemeriksaannya? Kakak hamil nggak?"


Retha sampai lupa kalau tujuannya datang ke rumah sakit untuk periksa kandungan. Setelah memergoki Bara dan Silvia mendatangi dokter kandungan dan mendengar berita Silvia hamil, ia tidak jadi memeriksakan kehamilannya.


"Ah, paling karena akhir-akhir ini aku kelelahan saja makanya haid telat. Aku yang terlalu terburu-buru mengira sedang hamil," ucap Retha. Ia sendiri belum yakin kalau memang dirinya benar-benar hamil.


"Kakak memang kelihatannya sedang kurang sehat. Wajahnya pucat."


Retha terdiam. Ia tidak ingin mengatakan permasalahan yang sedang dihadapinya. Entah apa yang akan adiknya katakan jika tahu suaminya ternyata masih memiliki istri. Dulu saja dia bekerja di klab malam Edis sudah sangat marah padanya, apalagi kalau tahu kakaknya menjadi istri kedua pengusaha. Lebih tepatnya istri simpanan.


Belum lagi tuduhan orang-orang yang pasti akan mengira dirinya pelakor tersembunyi. Setelah mengetahui Silvia sedang hamil anak Bara, mana mungkin ia tega hadir sebagai duri dalam pernikahan mereka.


Bara bisa berkata apa saja. Tapi, belum tentu dia berkata jujur. Apalagi saat mengatakan ingin segera menyelesaikan permasalahannya dengan Silvia, lelaki itu malah membuat Silvia hamil. Retha benar-benar kecewa.


"Kakak sedang ada masalah?" tanya Edis.


Retha hanya tersenyum kaku. "Masalah dalam pernikahan memang ada sedikit, Edis. Kakak memang ... Yah, sedang agak kecewa saja dengan Mas Bara. Mungkin sementara Kakak mau tinggal di rumah Ayah. Kamu tolong jangan bilang kalau Mas Bara menanyakan keberadaan Kakak, ya!" pintanya.


Sementara waktu Retha ingin menenangkan diri sembari menata pikirannya. Mengetahui kabar kehamilan Silvia benar-benar membuatnya syok, apalagi Bara ternyata masih mendampingi wanita yang katanya sudah tidak dicintainya itu. Menurutnya, Bara pembohong besar. Ia sudah mulai memberikan kepercayaan, namun Bara merusaknya.


"Kalau ada masalah bukannya lebih baik diselesaikan secara langsung, Kak? Kenapa harus menghindar sih, seperti bukan Kak Retha yang biasanya." Edis terlihat sedikit curiga dengan tingkah aneh sang kakak.

__ADS_1


"Hahaha ... Itu kan sebelum menikah, Dis. Setelah menikah cara orang mengekspresikan kekesalan memang berbeda-beda. Biar Mas Bara kebingungan dulu mencariku," ucap Retha asal. Sebenarnya ia juga tidak yakin kalau Bara akan mencarinya. Setelah mengetahui bahwa Silvia tengah hamil, mungkin Bara akan semakin berat melepaskan wanita itu. Silvia cantik, ibu dari Kenzo, anak kesayangan Bara. Sedangkan Retha hanya wanita yang baru datang kemudian ketika suasana lelaki itu tengah kesepian.


"Jangan lama-lama ngambeknya, Kak. Kasihan nanti Kak Bara," kata Edis.


"Iya, kalau sudah reda perasaan kesalku juga mau pulang kok. Pokoknya kamu bilang saja nggak tahu kemana Kakak pergi, oke?"


"Oke!" Edis mengacungkan jempolnya.


"Kalau begitu, Kakak pulang dulu ke rumah ayah. Kamu rajin-rajin belajar, kalau bisa jangan pacaran dulu!"


Edis hanya nyengir kuda mendengar nasihat kakaknya. Mereka berpelukan sebelum berpisah.


Retha kembali menaiki taksi yang kebetulan lewat di depan asrama Edis. Ia menyuruh sopir mengantarkannya ke perumahan yang Bara berikan untuk ayahnya.


Retha tak tahu lagi harus bersembunyi dimana yang aman selain bersama sang ayah. Ia yakin ayahnya juga bisa diajak kerja sama untuk menyembunyikan keberadaannya dari Bara. Jika mengingat kembali kejadian di rumah sakit, hatinya kembali terasa teriris. Bara menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya.


Ucapan sang sopir membuyarkan lamunan Retha. Tanpa terasa ia telah sampai di depan rumah milik ayahnya. Perjalanan yang telah ia tempuh terasa sangat cepat.


Retha turun dari dalam taksi sembari memberikan bayaran sesuai dengan ongkos yang tertera pada argo. Taksi tersebut langsung meninggalkan Retha setelah menjalankan tugasnya.


Retha memandangi rumah sederhana dua lantai yang lumayan besar itu. Rumah yang mungkin tidak akan pernah ia bayangkan jika tidak menikah dengan seorang pengusaha seperti Bara. Meskipun berada di wilayah pinggiran kota, namun harga jualnya cukup lumayan tinggi.


Retha mendekat ke arah gerbang yang menutupi area halaman rumah. Mengetahui gerbang dalam kondisi terkunci, ia menekan bel yang tertempel pada pagar tembok. Tak berselang lama kemudia, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah gerbang.


Anehnya, ada seorang wanita berusia empat puluh tahunan yang membukakan gerbang pintu itu. Wanita itu terlihat lumayan cantik, membuat Retha berekspektasi jika kemungkinan wanita itu merupakan pacar ayahnya.


"Selamat siang, ada perlu apa, Mba?" tanyanya.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Saya Retha, putri dari Pak Agus, pemilik rumah ini. Kalau ibu sendiri siapa, ya?" tanya Retha.


Wanita itu terlihat kebingungan. Ia mengernyitkan dahinya. "Maaf ya, Mba. Saya pemilik rumah ini sekarang," ucapnya.


Giliran Retha yang membulatkan mata. Jelas-jelas ia berada di depan rumah yang benar, rumah yang telah ia pilihkan sendiri untuk ayahnya. "Tapi, ini rumah ayah saya. Beberapa bulan lalu saya yang membelikan ini untuk ayah saya." Retha kukuh mempertahankan pendapatnya.


"Suami saya baru membelinya sebulan yang lalu, surat-suratnya juga lengkap. Kamu jangan mengada-ada!"


"Apa?" Retha semakin bingung dengan keterangan yang wanita itu berikan.


"Ada apa ini?" Sebuah suara lelaki muncul dari arah dalam setelah mendengar keributan antara wanita itu dengan Retha. Ternyata, lelaki itu bukan Pak Agus, ayah Retha.


"Ini, Mas ... dia ngeyel katanya ini rumah ayahnya yang bernama Agus. Bukankah ini sudah dibeli olehmu secara kontan?" tanya wanita itu.


Melihat kedekatan keduanya, Retha bisa menyimpulkan bahwa mereka merupakan pasangan suami istri.


"Ayah kamu namanya Agus, ya?" tanya lelaki itu kepada Retha.


Retha mengangguk. "Benar, Pak."


"Ayahmu sudah menjual rumah ini kepadaku satu bulan yang lalu. Katanya ia punya banyak rumah jadi mau menjual satu yang ini."


Penjelasan lelaki itu sungguh menjadi kejutan lain untuk Retha. Diam-diam ayahnya kembali bertingkah. Ia kira setelah hutang-hutangnya dilunasi serta diberi rumah yang sangat layak huni, ayahnya akan bertaubat. Siapa sangka rumah yang menjadi pemberian Bara itu akan dijual oleh ayahnya. Ia jadi malu sendiri datang ke tempat yang pemiliknya sudah berganti.


"Apa Bapak tahu, kemana ayah saya pergi setelah menjual rumah itu," tanya Retha.


"Kurang tahu juga, ya. Soalnya aku bukan tipe yang suka mengurusi kehidupan pribadi orang lain," jawab lelaki itu.

__ADS_1


Retha tersenyum kaku menahan malu. "Baik, kalau begitu saya permisi dulu. Maaf sudah membuat salah paham, ya!" Ia merasa tidak enak hati sendiri telah mengganggu kenyamanan keluarga yang mendiami rumah itu.


__ADS_2