Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Penculikan


__ADS_3

Terlalu lama menunggu Edis berbicara dengan orang asing, Angga tak sabar untuk menyusulnya. Saat ia hampir mendekat, ia melihat tubuh Edis ditarik paksa oleh ketika lelaki tersebut dan dimasukkan ke dalam sebuah mobil berwarna hitam.


"Edis!" serunya.


Dengan segenap tenaga ia berlari mengejar Edis. Sayangnya, mobil yang membawa Edis lebih dulu melaju. Ia semakin gila menambah kecepatan larinya, namun mobil itu terlalu kencang untuk dikejar.


Dengan napas tersengal-sengal, ia hanya bisa menyaksikan kepulan asap yang tertinggal dari mobil yang membawa Edis. Pikirannya jadi kalut menyadari pacarnya telah diculik paksa oleh orang asing.


Ia kembali lagi ke tempat semula ia bersama Edis. Hanya ada satu di otaknya, ia harus segera meminta pertolongan.


Saat sedang panik mencari nomor temannya yang bisa dihubungi, ponsel milik Edis bergetar. Sebuah panggilan masuk bernama "Kak Retha" muncul di layar. Ia yakin wanita itu adalah kakak Edis.


"Halo, Edis ... Kakak sedang berada di asramamu. Kamu dimana?"


Angga ragu untuk menjawab telepon tersebut.


"Halo? Edis?"


"Halo, Kak Retha ... Saya Angga, temannya Edis." Angga memberanikan diri untuk menjawab telepon tersebut.


"Tolong berikan teleponnya kepada Edis."


"Ah, hm ... Edis diculik, Kak!" ucap Angga dengan panik.


"Apa! Kamu bicara apa?"


"Ada sekelompok lelaki yang membawa Edis pergi, Kak. Naik mobil." Angga mengacak-acak rambutnya sendiri.


Suara dari seberang telepon sedikit tidak jelas. Sepertinya kakaknya Edis sedang berbicara dengan seseorang dengan panik karena ia memberi kabar buruk tentang Edis. Angga sendiri tidak tahu lagi harus berbuat apa. Pikirannya kacau tidak bisa digunakan untuk berpikir saking paniknya.


"Halo?" terdengar suara lelaki dari seberang telepon.


"Kata istriku tadi kamu bilang Edis diculik?"


"Iya, Edis diculik." Angga menjawabnya dengan gugup. Suara lelaki itu terdengar tegas dan menyeramkan di telinganya.

__ADS_1


"Dimana posisimu sekarang? Jangan pergi dulu, kami akan menyusul ke sana."


"Saya ada di depan minimarket IndoAlfa di jalan XXX."


"Tetap di sana. Kami akan segera datang."


"Baik."


Sambungan telepon dimatikan dari arah seberang. Angga tak bisa apa-apa selain menunggu kakak Edis datang. Orang-orang di sekitarnya tampak berbisik namun tak berani menanyakan langsung kepadanya.


***


"Oh, Ya Tuhan ... Bagaimana ini?" Retha tidak henti-hentinya menangis setelah mendapatkan kabar tentang Edis.


Ia berkunjung ke asrama untuk memberitahukan acara resepsi pernikahannya kepada sang adik. Niatnya ia ingin memberi kejutan, tetapi malah dirinya sendiri yang terkejut.


"Sudah, Sayang ... Kamu harus tenang. Kita pasti akan menemukan Edis." Bara memegangi tangan Edis sementara tangan yang satunya ia gunakan untuk memegang kemudi.


"Aku tidak bisa tenang, Mas! Kayaknya ini ada hubungannya dengan ayah lagi. Hutang-hutang ayah sudah aku lunasi tapi masih saja tetap begini," keluh Retha.


"Ingat kata dokter, kondisi kehamilanmu masih sangat rentan. Tidak boleh banyak pikiran apalagi sampai stres. Biar aku saja yang menangani masalah ini." Bara mengeratkan genggaman tangannya. Fokus pandangannya tetap tertuju ke arah depan mengemudikan mobil menyusuri jalanan yang cukup tersendat akibat kemacetan.


"Aku juga tidak mau banyak pikiran, Mas. Mau bagaimana lagi, Edis adikku." Air mata kembali jatuh membasahi pipi Retha. Ia berusaha mengusap buliran bening dari matanya meskipun terus saja keluar tanpa dikehendaki.


"Dia juga sudah menjadi adikku sekarang, jadi jangan cemas."


Mobil terus melaju menuju tempat yang ditunjukkan oleh teman Edis.


"Apa itu minimarketnya?" Bara menghentikan mobilnya di depan minimarket yang paling sesuai dengan petunjuk. Ia membali mengangkat teleponnya dan menelepon Edis.


"Aku sudah ada di depan, mobil warna putih yang terparkir di samping tiang listrik," ucap Bara kepada orang yang memegang ponsel milik Edis.


Retha membuka kaca pintu samping. Ia mengarahkan pandangan ke minimarket. Seorang pemuda berjalan setengah berlari membawa barang yang dikenali sebagai milik Edis menuju mobil mereka. Retha semakin yakin telah terjadi sesuatu kepada adiknya.


"Kamu temannya Edis?" tanya Retha. Wajahnya terlihat sangat cemas.

__ADS_1


Angga mengangguk seraya menunjukkan tas dan ponsel milik Edis.


"Masuklah ke dalam mobil!" petintah Bara.


Angga menurut. Ia membuka pintu belakang mobil dan masuk ke dalam. Retha menutup kembali jendela kaca sampingnya. Ia menoleh ke belakang, memperhatikan lelaki yang mengaku sebagai teman Edis.


Wajahnya sangat tampan dan manis, sepertinya juga anak yang baik. "Siapa namamu?" tanya Retha.


"Nama saya Angga, Kak," jawab Angga. Raut wajah Angga juga terlihat kebingungan dan putus asa. Sebagai anak muda, ia sendiri bingung akan melakukan apa untuk menyelamatkan Edis.


"Kamu benar teman Edis?" tanya Bara memastikan.


"Saya ...." Angga terlihat ragu untuk berkata-kata. "Saya ... Pacarnya Edis," jawabnya. Sebenarnya Angga sangat takut mengatakan hal tersebut. Ia takut dimarahi karena sebagai pacar tidak becus menjaga wanitanya. Tapi, ia juga tidak bisa berbohong.


Retha dan Bara saling berpandangan. Memang, tidak mungkin jika Edis dan pemuda itu hanya teman biasa. Apalagi mereka hanya jalan berdua sudah pasti mereka pacaran.


"Kenapa adikku bisa diculik? Kalian telah melakukan apa? Apa kalian berurusan dengan preman?" Retha memberikan pertanyaan beruntun saking khawatir ia kepada sang adik.


"Tidak, Kak!" bantah Angga. "Kami hanya jalan berdua. Tadi sedang membantu Edis mengerjakan PR nya. Karena katanya capek, saya masuk sebentar ke dalam minimarket membelikannya minuman. Saat di dalam, saya juga sempat melihat ada tiga orang lelaki sedang berbicara dengan Edis. Saat saya keluar, Edis sudah dibawa mobil berwarna hitam oleh ketiga lelaki tersebut."


"Mas ... Bagaimana ini?" Retha semakin panik mendengar penjelasan Angga.


"Tenang, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja." Bara tetap berusaha menenangkan istrinya.


Retha tak bisa menahan air matanya. Ia bersandar pada pintu mobil sembali terisak.


"Apa kamu hapal plat nomor kendaraan yang membawa Edis?" tanya Angga.


"B1235RZ." Angga menjawabnya tanpa ragu. Ia sangat mengingat plat nomor tersebut.


Bara berusaha tetap berpikiran jernih untuk menemukan Edis. Istrinya sudah tidak kuat memikirkan permasalahan itu. Ia malah jadi khawatir dengan kondisi kehamilan sang istri. Seminggu lalu Retha sempat keluar flek. Kata dokter efek stres dan kelelahan.


Selama ia di dalam penjara, Retha harus bolak-balik mengunjunginya. Ia yakin karena hal tersebut Retha jadi kelelahan dan menyebabkan sedikit gangguan pada kehamilannya. Baru selesai sang istri dipusingkan dengan nasibnya, kini harus kembali memikirkan tentang keberadaan Edis.


"Mungkin kita harus mengecek CCTV swalayan untuk mengetahui siapa pelakunya," ucap Bara.

__ADS_1


__ADS_2