Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Aku Sama Denganmu


__ADS_3

Citra akhirnya kesampaian untuk mengunjungi penthouse milik Retha. Hunian yang sangat luas dengan lima ruang tamu serta banyak ruangan lainnya yang tertata dengan indah. Bangunan yang terletak di bagian teratas apartemen Tower Nakula itu sudah seperti istana di atas awan. Pembandangan dari atas terlihat sangat indah.


Di saat suaminya membicarakan urusan bisnis dengan Bara, ia diajak oleh Retha untuk berkutat di dapur. Wanita yang tengah hamil besar itu masih lincah memasak sendiri meskipun ia pastinya mampu untuk menyewa seorang tukang masak.


Di penthouse itu hanya tinggal Retha, Bara, dan Kenzo. Ada seorang pengasuh yang biasa membantu menjaga Kenzo, namun hanya setentah hari kerja. Saat weekend juga pengasuh tersebut diliburkan. Katanya, mereka ingin menikmati keseruan menjadi sebuah keluarga dan semaksimal mungkin mengurus tempat tinggal mereka sendiri.


Sementara, Citra diberikan tiga orang pelayan untuk membantu mengurusi apartemen oleh Hendry. Suami Citra itu tidak mau istrinya kelelahan apalagi sedang hamil. Seluruh pekerjaan rumah tangga diserahkan kepasa tiga pelayan di apartemen, namun mereka juga hanya bekerja dari pagi hingga sore saja. Selebihnya, Citra yang mengurusi apartemen tersebut. Weekend juga para pelayan diliburkan.


"Apa kamu pernah membuat donat sebelumnya?" tanya Retha sembari membentuk adonan yang telah dibuatnya menjadi bulatan-bulatan, lalu melubanginya.


"Pernah sesekali. Tapi, sudah lama juga aku tidak membuat donat." Citra membantu Retha menyiapkan minyak panas yang akan digunakan untuk menggoreng.


"Ini salah satu makanan kesukaan Kenzo. Karena aku banyak waktu luang, aku sering membuat donat untuknya. Maklumlah, aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa," ujar Retha.


"Justru ibu rumah tangga yang kerjaannya tidak ada habisnya. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi tidak ada hentinya bekerja mengurus rumah, anak, dan suami."


"Hahaha ... Kamu benar juga. Tapi, di mata orang wanita yang memilih sebagai ibu rumah tangga hanya dianggap sebagai beban keluarga, tukang menghabiskan harta suami."


"Wanita bekerja juga belum tentu dihormati keluarga mertua. Aku rasa itu tergantung pribadi orang saja," ucap Citra. Ia jadi kembali teringat dengan masa lalunya yang menyedihkan. Mati-matian berjuang bersama suami, tapi pengorbanannya tidak dianggap sama sekali.


"Lagi pula, apa salahnya menghabiskan harta suami sendiri? Mereka juga bekerja keras untuk menyenangkan anak istri."


Retha memasukkan satu per satu donat yang telah dibentuknya ke dalam minyak panas. Citra membantu mengaduknya agar matangnya merata.


Retha terlihat senang. Baru kali ini rumahnya kedatangan tamu yang nyaman untuk diajak berbicara secara normal. Terkadang, Bara mengajaknya berkenalan dengan wanita kalangan atas, namun gaya bicara mereka seperti ada perbedaan.

__ADS_1


"Oh, iya. Bagaimana ceritanya kamu bisa menikah dengan Hendry?" tanya Retha. "Ah! Kalau kamu tidak nyaman menjawabnya, tidak perlu kamu jawab juga tidak apa-apa." Retha mengurungkan niat untuk ingin tahu saat mengetahui perubahan raut wajah Citra.


"Aku tidak sengaja mengandung anaknya," jawab Citra dengan seulas senyuman. Ia sedang berusaha untuk bersikap biasa terhadap apa yang telah terjadi padanya.


"Kamu ... Sedang hamil?" tanya Retha terkejut.


Citra mengangguk sembari tersenyum. "Usia kandunganku sudah 12 minggu. Ternyata cara yang kamu bilang agar bisa ketularan hamil sangat tepat. Setelah menginjak kakimu, aku jadi hamil," ucapnya.


"Oh, Ya Tuhan ... Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sedang hamil ... Aku tidak percaya ini!" Retha jadi salah tingkah dengan fakta yang baru saja ia dengar. "Aku jadi bingung apakah harus mengucapkan selamat atau tidak ... Ini sangat membuatku terkejut dan masih tidak percaya." Retha bingung ingin menunjukkan ekspresi seperti apa.


"Kalian ... Tidak sengaja tidur bersama, ya?" tanya Retha ingin tahu. Ia juga pernah mengalami hal gila bersama Bara yang membuat mereka kini akhirnya bersama.


"Atau ... Pak Hendry memaksamu tidur dengannya?" tebak Retha. "Soalnya dia kelihatannya seperti orang yang pemaksa!"


Citra tertawa dengan tebakan Retha. "Tidak seperti itu ... Semua tebakanmu salah! Kita tidak pernah melakukan hubungan semacam itu."


"Dokter salam menyuntikkan sp*rmanya padaku. Mereka salah mengira aku pasien yang akan menerima program inseminasi," jawab Citra.


Retha baru paham. Waktu itu Hendry dan Tatiana memang pernah mengatakan sedang mempersiapkan program memiliki anak. "Mereka mengira kamu Tatiana?" tanyanya meyakinkan.


Citra mengangguk.


"Kisah kalian benar-benar di luar dugaan, ya ... Sungguh sulit untuk dipercaya." Retha merasa terkejut mendengar kisah seberat itu. Ia kira kasusnya sudah paling berat di dunia ini. "Lalu ... Bagaimana dengan tanggapan suamimu sebelumnya? Apa kalian bercerai gara-gara masalah ini?"


Citra menggeleng. "Aku dan mantan suamiku sudah lama punya masalah. Bahkan saat bertemu denganmu kami sedang ribut besar."

__ADS_1


"Loh, katanya waktu itu mau program hamil?" tanya Retha heran.


Citra tersenyum. "Aku sudah pernah cerita kan, tiga tahun menikah belum juga hamil. Kami sering bertengkar karena hal itu. Makanya aku mau memeriksakan diri ke dokter untuk mencari tahu apa yang salah pada diriku sampai sulit untuk hamil."


"Tapi, kamu mendapatkan donor sp*rma dari Pak Hendry langsung jadi bayi. Artinya kamu subur, kan? Mungkin mantan suamimu yang bermasalah," tebak Retha.


"Mantan suamiku berselingkuh dengan rekan kerjanya. Bahkan wanita selingkuhannya sampai hamil. Mungkin usia kandungan wanita itu sudah enam bulan."


"Kamu ... Diselingkuhi?" tanya Retha semakin tidak percaya.


Citra kembali mengangguk. "Makanya aku memilih cerai."


"Jadi, kamu menikah dengan Pak Hendry sebatas rasa tanggung jawab terhadap anak di dalam kandunganmu?"


Citra terdiam. Ia merasa tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.


"Aku punya kisah yang hampir sama denganmu," ucap Retha.


Ia meniriskan semua donat yang telah digorengnya. Setelah cukup dingin, ia membawanya ke arah meja makan. Citra turut mengikutinya. Di atas meja telah da beberapa lelehan coklat warna dan aneka toping untuk mempercantik tampilan donat. Keduanya sibuk menghias donat yang baru saja digoreng.


"Awalnya aku juga tidak mencintai Mas Bara. Aku menikahinya hanya demi uang. Keluargaku punya banyak hutang. Bisa dikatakan, aku memanfaatkan Mas Bara." Retha mulai menceritakan tentang dirinya. "Di saat yang sama, Mas Bara yang kesepian, juga butuh pendamping untuk mengusir rasa sepinya. Jadilah hubungan kami saling menguntungkan."


"Tapi, lama kelamaan rasa cinta itu muncul dengan sendirinya bahkan dengan tanpa disadari."


"Aku harap, kamu juga bisa bahagia dengan pernikahanmu. Pak Hendry itu lelaki yang baik. Kepada temannya saja, suamiku, dia sangat baik. Apalagi kepadamu yang merupakan istri dan calon ibu dari anaknya."

__ADS_1


Citra mendengarkan baik-baik cerita Retha. Ia tidak menyangka kisah pasangan yang terlihat sempurna itu juga penuh liku.


Citra sebenarnya tahu jika Hendry lelaki yang baik. Hanya saja, entah mengapa hatinya belum juga mau terbuka untuk menerimanya. Apalagi jika mengingat kelakuan menyebalkan lelaki itu di masa lalu.


__ADS_2