
"Miss, kenapa Mommy Kenzo pergi lagi, ya? Padahal, baru sebentar Kenzo senang bisa bareng Mommy lagi."
Kenzo memasang wajah cemberut. Ia menyandarkan kepala dengan manja pada lengan Retha yang duduk di atas ayunan bersamanya.
Retha tampak bingung untuk menjawab pertanyaan dari Kenzo. Berbeda dengan dulu sebelum menjadi istri Bara, kini hatinya sedikit terasa sakit setiap kali Kenzo membicarakan tentang ibunya.
Ia iri dan ingin juga disayangi Kenzo sebagai ibu sambung, bukan sebagai seorang guru. Hingga saat ini, Bara belum mengizinkan semua memberitahu Kenzo tentang hubungan mereka.
"Mungkin ... Mommy Kenzo ada kesibukan mendadak. Makanya harus pergi lagi." Retha berusaha berkata dengan bijak.
Kenzo tampak menghela napas. "Setiap bangun Kenzo berharap bisa melihat Mommy. Tapi, Mommy sudah tidak datang lagi."
"Mommy kamu sudah tidak peduli denganmu, Kenzo. Dia tidak akan pulang lagi!" sahut Mikha yang membawa sepiring potongan buah dari arah dalam.
Kenzo memanyunkan bibirnya. "Aunty Mikha kok bicaranya begitu!" ucap Kenzo tidak suka.
"Aunty malah lebih sayang Kenzo dari Mommy, kan ... Setiap hari yang nemenin Kenzo main, nemenin Kenzo makan, bahkan nemenin Kenzo tidur ... Itu kan Aunty Mikha, bukan Mommy kamu!" Mikha menggoda sedikit keponakannya.
"Tapi, Mommy baik, kok ... Waktu Mommy pulang, Kenzo tidur sama Mommy terus. Mommy juga antar Kenzo ke sekolah."
Momen-momen singkat bersama Silvia seakan begitu berkesan di hati anak kecil itu. Mikha jadi kesal dengan Silvia. Padahal, Kenzo begitu sayangnya terhadap sang ibu, namun Silvia malah kembali melakukan kesalahan yang sama, meninggalkan keluarga di saat-saat yang buruk.
Ia kira kepulangan Silvia kemarin karena telah berubah. Kenyataannya, wanita itu semakin parah kelakuannya. Ia menyesal dulu selalu berpikiran positif tentang Silvia. Bahkan, tak jarang ia membela Silvia di hadapan ibunya.
"Kenzo ... Ayo ke sini!" terdengar seruan dari Gisel.
Kenzo langsung bergegas turun dari ayunan dan berlari menghampiri Gisel.
"Kamu yang sabar dengan Kenzo, ya. Dia memang masih susah untuk melupakan ibunya yang tidak bertanggung jawab itu," ucap Mikha.
Retha tersenyum. "Itu wajar. Silvia memang ibu kandung Kenzo," jawabnya.
"Aku tidak tahu kenapa kakakku selalu saja berhati-hati menyangkut Kenzo. Dia sangat menyayangi anak tunggalnya itu. Nanti, kalau anakmu sudah lahir, Bara juga pasti melakukan hal yang sama terhadap anakmu. Dia sangat posesif."
Retha hanya tersenyum. Kenzo bukanlah anak kandung Bara, namun diperlakukan dengan begitu sayangnya. Apalagi anak yang sekarang ia kandung merupakan anak Bara, tentu saja Bara pasti akan sangat menyayanginya.
"Dimakan buahnya, Retha! Aku mau ke dalam dulu mengambil teh," kata Mikha seraya beranjak dari duduknya dan kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
Retha mengambil potongan buah yang Mikha bawakan. Meskipun terlihat tenang, sebenarnya pikirannya sedang kalut. Bara bilang akan segera mengabari jika Edis sudah ditemukan. Hari sudah hampir malam namun Bara belum juga mengabarinya. Ia takut terjadi apa-apa kepada Edis.
Saat sedang menikmati buah tersebut, Retha dikejutkan dengan adanya nomor asing yang terpampang di layar ponselnya.
"Halo? Siapa ini?" tanya Retha saat menerima telepin tersebut.
"Halo, Retha ... Lama tidak bertemu. Apa kamu masih mengenaliku?"
Suara seorang lelaki terdengar dari seberang telepon. Ia tak bisa menebak siapa yang saat ini tengah meneleponnya. "Siapa, ya?" tanyanya lagi.
"Kita sering bertemu di klab. Aku sedih sekali kamu tidak mengenaliku."
Retha sama sekali tidak bisa menebak siapa lelaki itu. Di klab, ada banyak pengunjung yabg tidak dapat ia hapalkan satu per satu. Lagi pula, ia sudah cukup lama berhenti dari klab.
"Oke, tidak jadi masalah. Nanti juga kamu akan tahu siapa aku. Tapi ... Kamu pasti mengenal suara ini."
"Halo? Halo?" tidak terdengar suara lagi dari seberang. Retha semakin penasaran dengan penrlepon tersebut.
"Ah! Lepaskan!" terdengar suara seorang wanita.
"Cepat bicara dengan kakakmu!"
"Aku tidak mau!"
"Kamu sepertinya memang harus dipukul dulu baru mau menurut, hah!"
"Ah! Aku tidak mau. Ah!"
"Edis!" teriak Retha. Ia begitu khawatir dengan kondisi adiknya.
"Kamu mau bertemu dengan adikmu?" tanya lelaki itu.
"Maumu apa? Kenapa kamu menyakiti adikku?" tanya Retha dengan nada marah.
"Aku akan melepaskannya jika kamu mau datang ke sini. Sebenarnya aku menantikan dirimu, bukan adikmu."
Retha tidak tahu mengapa ada orang yang menginginkannya bahkan sampai memakai Edis sebagai umpan. "Apa maumu? Apa kamu mau uang? Berapa yang kamu inginkan?"
__ADS_1
"Hahaha ... Aku tidak menginginkan apa-apa. Aku hanya menginginkanmu."
***
Bara dan Zack telah tiba di depan rumah milik Tante Sukma. Mereka memandang ke arah Angga yang sudah bersiap turun dari mobil untuk ikut bersama mereka.
"Apa yang harus kita lakukan dengan anak ini? Apa kita tinggal saja di mobil?" tanya Zack sembari menatap Angga dari atas hingga bawah. Ia ragu mengajak Angga karena masih di bawah umur, bahkan seragam SMA masih melekat di tubuhnya.
Bara kembali membuka mobilnya, mengambil sweater yang tergeletak di jok mobilnya. "Pakai ini!" ucapnya seraya melemparkan sweater kepada Angga.
Angga, dengan wajah polosnya menuruti saja perintah Bara. Ia mengenakan sweater tersebut untuk menutupi pakaian seragamnya.
"Yakin, mau ajak dia, Bar?" tanya Zack memastikan.
"Biarkan dia ikut! Toh nanti dia juga jadi orang dewasa." Bara tidak ambil pusing dengan keberadaan Angga di sana.
"Heh, anak kecil! Pokoknya apapun yang nanti kamu lihat di dalam, jangan sampai ngeces, ya! Kalau bisa tutup mata atau menunduk. Banyak pemandangan tidak ramah anak di dalam!" Zack memberi peringatan kepada Angga sebelum mereka masuk.
Kedatangan ketiganya disambut baik karena penjaga telah mengenal Zack dengan baik. Mereka langsung dipersilakan masuk ke dalam untuk menemui Tante Sukma.
Seperti biasa, pemandangan di dalam rumah itu penuh dengan wanita-wanita cantik berpakaian s3ksi dan menggoda. Beberapa diantaranya memanggil-manggil nama Zack.
Zack merasa menjadi yang paling populer di sana. Ada banyak anak buah Tante Sukma yang telah mengenalnya.
"Halo, Zack ... Tumben kamu datang membawa teman. Sudah lama juga kamu tidak mampir ke tempat Tante," sambut Tante Sukma, wanita berusia 50 tahunan yang masih terlihat cantik dengan riasannya.
Tante Sukma menyambut kedatangan mereka ditemani dua anak kesayangannya, wanita-wanita cantik yang paling dicari lelaki saat ini. Mereka memberikan tatapan menggoda kepada ketiganya.
"Halo, Tante ... Maaf datang tanpa memberi tahu lebih dulu. Kami ada urusan penting dengan Tante."
Tante Sukma mengarahkan pandangan kepada dua lelaki lain yang datang bersama Zack. Keduanya sangat tampan, jarang ada tamu datang setampan mereka.
"Berapa wanita yang kamu butuhkan untuk malam ini, Zack? Aku akan berusaha menyiapkan yang terbaik untuk kalian," ucap Tante Sukma.
"Ah, kedatangan kami bukan untuk itu, Tante. Bisa kita bicara di ruangan yang lebih pribadi?"
Tante Sukma terlihat heran dengan kemauan Zack. Biasanya, lelaki itu datang meminta wanita kepadanya.
__ADS_1