Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Godaan Ira


__ADS_3

"Terima kasih ya, Ga! Bisa sekalian cek mobilku, nggak? Aku bingung besok bagaimana cara berangkat ke kantor," ucap Ira setelah Yoga mengantarkannya.


Yoga melirik ke arah jam tangannya, masih pukul setengah sembilan malam. Kalau ia langsung pulang, pasti akan sampai rumah tepat waktu. Tapi, kasihan juga dengan Ira yang tinggal sendirian, besok akan merepotkannya minta jemput ke kantor. Menurutnya lebih baik membantu Ira memperbaiki mobilnya sebelum ia pulang.


Yoga turun dari mobilnya dan mengikuti Ira menuju garasi mobil di rumah Ira. Ia mencoba menyalakan mobil itu. Ternyata memang tidak mau menyala. Terpaksa ia buka kap depan mobil untuk memeriksa kondisi mesin yang kemungkinan menjadi penyebab mobil itu mogok.


Ira keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi minuman dan kue donat. "Minum dulu, Ga." Ia menawarkan jamuannya kepada Yoga yang masih terlihat sibuk memperbaiki mobilnya.


"Ternyata akinya bermasalah, Ra. Pantas saja mobilnya mogok." Yoga menutup kembali kap mobil setelah selesai memperbaikinya.


"Terus bagaimana? Nggak bisa dipakai, dong ...."


"Masih bisa nyala. Tapi lebih baik besok langsung bawa ke bengkel daripada mogok lagi di jalan." Yoga duduk di sebelah Ira dan mengambil satu donat dari atas piring. Padahal di tempat reuni dia juga sudah banyak makan, akan tetapi perutnya sudah kembali lapar.


Ira memandangi wajah lelaki di sampingnya dengan binar kebahagiaan. Memang benar seperti yang Mike katakan jika suami orang terlihat lebih menggoda. Meskipun kini dia sudah punya kekasih, melihat lelaki yang dulu pernah dicintainya lagi, rasa yang dulu kembali bersemi. Ia sadar jika Yoga tak mungkin dimilikinya lagi, namun hasratnya tak bisa tertahan ingin selalu dekat dengannya.


Musibah mobil mogok yang menjengkelkan bisa menjadi jalan bagi dirinya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan Yoga. Hatinya semakin serakah berharap malam ini Yoga bisa menginap di rumahnya. Menghilangkan kesepian yang setiap malam datang melandanya.


"Donatnya enak," puji Yoga.


"Ah! Em, benarkah?" Ira tersentak dari lamunannya. Ia merasa senang mendapat pujian dari Yoga. "Aku membuatnya sendiri. Kapan-kapan aku buatkan lagi kalau kamu suka. Kita makan dengan teman-teman satu kantor."


"Ide bagus itu. Mereka pasti akan suka. Soalnya ini enak." Yoga menghabiskan donat keduanya. Untuk menghilangkan dahaga, ia meminum jus jeruk yang telah dituangkan ke dalam gelas.


"Mereka pasti suka bukan karena rasanya saja ... tapi karena gratis," ucap Ira.

__ADS_1


"Hahaha ... kamu benar juga. Namanya karyawan kantor pasti suka kalau dengar kata-kata gratis. Apalagi jelang tanggal tua."


Sudah menjadi kebiasaan orang-orang di kantor, jika ada salah satu membawa makanan pasti akan langsung diserbu sampai makanan yang dibawa habis tak bersisa. Mereka selalu kompak dalam bekerja dan sudah seperti keluarga. Apalagi Yoga dan Ira yang pada dasarnya sudah lama saling mengenal, tidak merasa sedikitpun kesusahan dalam beradaptasi. Mereka semakin betah bekerja karena ada orang yang sudah dikenali.


"Ga ...," panggil Ira.


Yoga menoleh ke arah Ira. "Ada apa?"


"Kamu pasti tidak nyaman banget ya selama acara reuni tadi." Ira berkata dengan raut wajah seakan merasa bersalah atas apa yang terjadi di acara reuni.


Yoga tersenyum. Ia mengingat lagi perbincangan di sana, memang topik tentang anak cukup mengganggu pikirannya. Padahal, ia ingin mencoba ikhlas, apapun yang terjadi dengan pernikahannya, ia akan tetap mencintai Citra.


"Yah, mau bagaimana lagi? Namanya reuni pasti hal itu mau tidak mau akan ditanyakan." Yoga berusaha tetap tersenyum meskipun sebenarnya hatinya terluka.


"Aku jadi merasa bersalah sudah mengajakmu ke sana dan memasukkanmu ke dalam grup alumni SMA kita."


"Sudahlah, biasa saja, Ira. Aku juga sudah tidak apa-apa."


Yoga sudah bosan dengan topik yang itu-itu saja tentang pernikahannya. Omongan orang dianggapnya sebagai angin lalu meskipun terkadang muncul rasa sakit.


"Tapi aku yang jadi ikut merasa terbebani ... aku tahu itu hal yang cukup menyesakkan untuk pasangan yang sudah lumayan lama menikah." Ira merengut.


"Aku sudah biasa mendengar pertanyaan seperti itu. Aku sudah tidak kaget lagi. Bahkan ibuku juga sering memperotes hal itu. Jadi tidak usah merasa bersalah."


Wajah Yoga tampak tegar menjalani hidupnya. Ira dibuat semakin terkesima dengan aura yang lelaki itu pancarkan, begitu menenangkan dan meneduhkan. Tanpa ia bisa kontrol, seakan tubuhnya bergerak sendiri mendekati lelaki itu lalu memberikan ciuman di bibirnya.

__ADS_1


Sontak ciuman yang diberikan Ira membuat Yoga membulatkan mata. Ia tidak menyangka jika Ira akan terang-terangan menciumnya.


Ira panik. Ia masih tak percaya dengan apa yang barusan sudah dilakukannya. Keduanya jadi merasa canggung dan bingung mau bagaimana.


"Ah, em ... aku minta maaf ya ... situasinya membuat aku kebablasan ingin menciummu. Sebenarnya aku hanya ingin menghiburmu. Tolong, kamu jangan membenciku." Ira menunduk. Ia tak berani melihat respon Yoga kepadanya.


"Kamu itu teman yang sangat baik, banyak memberikan pertolongan untukku. Aku yang tidak berguna dan sering merepotkan ini hanya bisa berharap jadi tempat berbagi kalau kamu ada masalah."


"Kalau kamu memang merasa tidak nyaman dengan kejadian tadi, anggap saja tidak pernah terjadi." Ira terlihat malu-malu, tidak berani lagi menatap Yoga. Meskipun demikian, di hatinya serasa ada bunga-bunga bermekaran saat ia melabuhkan bibirnya pada bibir Yoga. Ia merasa bersalah sekaligus merasa senang.


"Iya, Ira. Tidak apa-apa. Aku bisa memaklumi." Yoga bangkit dari tempat duduknya. "Aku pamit pulang dulu, ya," pamit Yoga. Lelaki itu juga terlihat salah tingkah akibat perbuatan Ira. Ini pertama kalinya Ira melakukan hal yang melewati batas persahabatan mereka. Yoga masih syok dengan kejadian tersebut.


Ira ikut-ikutan berdiri. "Hati-hati di jalan, ya. Terima kasih sudah mengantarku."


"Kamu juga hati-hati di rumah." Pikiran Yoga sudah kacau, tidak tahu lagi apa yang ingin dilakukannya.


Ira mengangguk. "Yoga!" saat Yoga hendak berbalik, Ira menghentikannya. "Apa boleh aku memelukmu sebentar?" pintanya.


Yoga sebenarnya sudah memiliki perasaan yang tidak enak. Namun, melihat binar mata Ira membuatnya tidak tega untuk menolaknya. Apalagi Ira di negara ini hanya sendirian, orang tuanya telah memutuskan untuk menetap di luar negeri. Ia pasti kesepian sampai membutuhkan tempat bersandar.


Yoga mengangguk. Dibiarkannya Ira memeluk tubuhnya dengan erat. Pelukan yang wanita itu berikan entah mengapa menimbulkan desiran-desiran aneh di dalam tubuhnya. Seakan mulai tumbuh rasa sayang dan kepedulian dirinya kepada Ira, sahabatnya sejak kecil.


***


Sembari menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘

__ADS_1



__ADS_2