
Hendry baru saja keluar dari kamar mandi usai menyelesaikan ritual mandinya. Selembar kain terlilit di pinggangnya. Pikirannya cukup segar usai mandi. Segala beban pikiran pekerjaan seakan luruh bersama air yang mengguyurnya. Ia melangkahkan kaki ke dalam kamar yang selalu sepi. Kamar itu jarang terisi karena sang istri lebih banyak pekerjaan di luar kota.
Klek!
Pintu kamar terbuka. Hendry cukup terkejut saat melihat kedatangan istrinya. "Baby, kamu sudah pulang?"
Wanita cantik bernama Tatiana mengulaskan senyuman manisnya, "Honey, I miss you ...," ucapnya manja.
Keduanya saling mendekat dan berpelukan erat. Hendry sampai mengangkat sang istri dan memutarkannya dalam pelukan saking senangnya. Sudah dua minggu mereka berpisah, akhirnya mereka bisa bersama kembali.
"Aromamu sangat enak, Honey." Tatiana menyandarkan kepalanya pada dada bidang Hendry. Ia sangat menyukai aroma tubuh suaminya seusai mandi. Badannya yang masih lembab seakan menarik dirinya untuk melabuhkan pelukan yang lebih erat.
"Kenapa tidak mengabari kalau kepulanganmu lebih awal, Baby? Aku bisa saja menjemputmu di bandara."
"Aku ingin memberikan kejutan untukmu."
Hendry menggendong tubuh istrinya, membawanya ke arah ranjang. Dengan hati-hati ia baringkan tubuh sang istri di atas ranjang.
Tatiana memandangi wajah suaminya dengan tatapan kerinduan. Ia mengulurkan tangannya mengusap wajah tampan yang dihiasi bulu kasar sisa-sisa cukuran. "Apa sekarang kita bisa melakukannya, Honey?" tanyanya.
Hendry menghela napas. Raut wajahnya berubah murung. "Bagaimana kalau kita mencobanya?"
Tatiana bisa merasakan beban yang ditanggung oleh suaminya. Ia menarik punggung Hendry agar bisa memeluknya. "Kamu sudah rutin cek dan berobat kan, Honey?"
"Tentu saja, Baby. Tapi, kalau kamu terus mengambil pekerjaan di luar kota, kapan kita bisa melakukan usaha yang maksimal."
Keduanya kembali berpandangan.
"Honey, kamu tahu sendiri kalau ini duniaku. Aku sudah mengurangi penerimaan tawaran pekerjaan, tapi untuk benar-benar berhenti, aku tidak bisa. Aku sudah cek kesehatan, semuanya baik. Jadi, kamu yang sekarang harus berusaha menyembuhkan penyakitmu agar kita segera bisa memiliki momongan. Aku akan berhenti kerja kalau kamu berhasil membuatku hamil."
__ADS_1
"Empat tahun pertama pernikahan kita kamu sendiri yang meminta menunda kehamilan. Saat itu kondisiku masih sangat prima. Kenapa tiba-tiba sekarang kamu sangat menginginkan anak?"
"Karena teman-temanku sudah memiliki anak, Honey. Usia kita juga sudah tidak muda lagi. Kamu harus berusaha melakukan peranmu sebagai lelaki sejati."
Ucapan Tatiana melukai harga diri Hendry. Memang, selama satu tahun terakhir ia mengalami masalah dengan organ reproduksinya. Miliknya tidak bisa mempertahankan ketegangannya sampai akhir kegiatan percintaan mereka.
Awal pernikahan kehidupan percintaan mereka masih normal, apalagi sebagai pasangan baru yang pasti menggebu-gebu. Keduanya dalam kondisi yang sehat. Sayangnya, Tatiana memilih untuk menunda kehamilan karena sudsh terlanjur menandatangani perpanjangan kontrak dengan salah satu brand ternama selama empat tahun.
Intensitas pertemuan mereka yang semakin berkurang, membuat keduanya jarang bisa meluangkan waktu untuk bercinta. Lambat laun menyebabkan keengganan melakukan hal tersebut. Mereka terlalu nyaman dengan kesibukan masing-masing. Meskipun ada waktu berdua, mereka hanya sekedar menikmatinya secara biasa tanpa bercinta.
Hingga di tahun kelima, Tatiana tiba-tiba berkeinginan untuk hamil. Keduanya kembali menyisihkan waktu untuk bisa quality time. Sayangnya, Hendry mengalami disfungsi ereksi yang disebabkan oleh faktor psikologi. Miliknya bisa tiba-tiba melemas di pertengahan aktivitas mereka.
Hubungan keduanya sempat memburuk karena hal itu. Namun, Tatiana masih bisa bersabar dengan kondisi suaminya. Mereka mulai mengkonsultasikan masalah tersebut kepada dokter. Tatiana sudah mengurangi pekerjaannya, juga menyepakati untuk kembali ke tanah air.
Hendry juga sudah menjalani berbagai saran dokter, mulai dari menjaga pola makan, olahraga, sampai terapi hormon. Hanya satu hal yang masih belum bisa ia taklukkan, yaitu masalah psikologisnya sendiri. Kecemasan yang berlebihan tidak mampu memenuhi harapan Tatiana, membuat kondisi Hendry belum juga membaik.
Malam ini juga sama, mereka gagal untuk menyelesaikan kegiatan bercinta. Satu tahun lebih bertahan dalam kondisi semacam itu membuat keduanya merasa frustasi. Tatiana sebenarnya kecewa, namun ia tidak bisa menyalahkan suaminya. Hendry juga sudah berusaha untuk mengendalikan pikirannya. Namun, kegagalan demi kegagalan yang terjadi terus membuatnya merasa bersalah dan akhirnya terjadi kembali.
"Kalau kamu memang sangat menginginkan untuk hamil, kamu bisa melakukan inseminasi buatan atau bayi tabung. Apa kamu mau melakukannya?" tanya Hendry.
Tatiana menatap suaminya dengan seksama. "Apa dokter juga menyarankan hal itu?" tanyanya.
Hendry mengangguk.
"Honey, aku juga sebenarnya tidak mau membebanimu dengan masalah ini. Tapi, orang tuaku sudah sering menanyakan masalah anak kepadaku. Ibumu juga. Semua pihak memojokkan aku. Kamu tahu sendiri kalau masalah keturunan pasti pihak wanita yang selalu disalahkan."
Hendry mencium kening Tatiana. "Maafkan aku," ucapnya.
"Ini bukan salahmu, Honey. Seminggu ini aku juga tidak ada kerjaan. Bagaimana kalau kita bersama untuk berkonsultasi dengan dokter? Mungkin aku akan memikirkan saran yang kamu usulkan. Bayi tabung atau inseminasi buatan."
__ADS_1
***
Citra keluar dari kamarnya telah mengenakan pakaian rapi. Semalam suaminya tidur di kamar lain. Hingga pagi ini mereka belum mulai bicara.
Lelaki itu tampak sedang menyeduh kopi dan memanggang roti untuk sarapan pagi.
Perlahan Citra berjalan mendekat ke arah Yoga. Meskipun kelakuan sang suami semalam sangat keterlaluan, tapi ia tidak tahan jika tidak segera berbaikan dengan suaminya. Dirinya tidak bersalah, namun Yoga juga tidak dalam posisi yang salah. Wajar jika suaminya cemburu saat melihatnya bersama lelaki lain. Ia juga akan merasakan hal yang sama jika suaminya dekat dengan wanita lain.
"Mas ...," panggil Citra sedikit ragu.
Yoga tetap mengaduk kopinya tanpa mempedulikan panggilan sang istri.
"Aku akan memikirkan keinginanmu untuk berhenti dari pekerjaan."
Perkataan Citra akhirnya mampu menarik perhatian Yoga.
"Tapi, aku butuh waktu sebelum mengajukan pengunduran diri. Aku akan melakukannya setelah kewajibanku selesai. Mungkin bulan depan."
"Hah! Ternyata masih susah untukmu memilih antara keluarga dengan pekerjaanmu?" Yoga belum bisa sepenuhnya menerima keputusan Citra.
"Ini bukan masalah susah memilih, Mas. Kalau aku tidak bekerja, siapa yang akan membantu panti asuhan?"
"Kamu selalu saja mementingkan orang lain dari pada keluargamu sendiri!"
"Mereka bukan orang lain, Mas. Mereka sudah seperti keluarga. Aku dibesarkan di sana dengan baik sampai bisa seperti sekarang. Bukankah Mas Yoga juga sangat peduli dengan ibu, Fira, dan Tanti? Mas Yoga bisa memberi uang kepada keluarga sendiri, kenapa aku tidak boleh?"
Entah mengapa Yoga menjadi suami yang telah berubah sifatnya. Dulu, tidak pernah masalah dirinya menggunakan penghasilannya untuk membantu panti asuhan.
"Itu hal yang berbeda. Kamu mau pamer kalau sekarang bisa punya uang sendiri? Kalau begitu, selama kamu belum berhenti kerja, aku tidak akan memberikan uang belanja atau apapun untukmu! Jadi tidak semangat sarapan!" gerutu Yoga. Ia meninggalkan kopi dan roti yang baru saja dipanggangnya begitu saja.
__ADS_1
Citra hanya bisa menghela napas dengan kelakuan suaminya.