Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Usaha Penculikan


__ADS_3

Sepanjang jalan Retha masih memikirkan suaminya. Ia yakin telah terjadi sesuatu yang serius namun Bara berusaha menyembunyikan. Janu masih terlelap tidur di pangkuannya. Bayi yang baru berusia dua bulanan itu memang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur. Janu akan terbangun saat merasa lapar atau diaper yang dikenakan tidak nyaman.


Saat tiba di jalanan yang cukup sepi, Retha memandang heran ke mobil belakang yang sejak awal tidak mau mendahului mobilnya. Padahal, Pak Diman mengemudi dengan kecepatan sedang.


"Pak, mobil hitam di belakang itu sejak tadi seperti sedang membuntuti kita, ya?" tanya Retha.


Pak Diman melirik sekilas ke kaca spion. "Benar, Bu. Kayaknya sejak tadi mobil itu terus di belakang kita."


"Bagaimana ini, Pak? Aku takut mereka melakukan sesuatu yang buruk." Retha terlihat mulai cemas.


"Tenang, Bu. Jalanan ini cukup ramai. Mudah-mudahan tetap ramai supaya orang di mobil itu tidak berani macam-macam."


"Percepat laju mobilnya, Pak!" pinta Rertha sembari mendekap putranya.


"Baik, Bu."


Perlahan Pak Diman mulai menambah kecepatan mobilnya. Ia amati ternyata mobil di belakang turut menambah kecepatan.


Pak Diman berharap ia bisa secepatnya lolos dari kejaran mobil tersebut. Sayangnya, jarak mobil mereka semakin terkikis. Apalagi jalanan menjadi lebih sepi sehingga mobil tersebut berani mensejajarkan mobilnya.


Baik Pak Diman dan Retha sama-sama panik. Segala rapalan doa terucap di bibir, berharap kondisi akan baik-baik saja. Namun sayang, pada akhirnya Pak Diman mengalah untuk menepikan mobil karena semakin dihimpit.


"Pak, Bagaimana ini?" tanya Retha khawatir.


"Coba telepon Bapak, saya juga bingung," ucap Pak Diman.


Segera Retha mengambil ponselnya. Ia berusaha untuk menelepon Bara. Sayangnya, Bara tidak menjawab panggilannya. Ia sampai mengulang beberapa kali dan Bara tetap tidak mengangkat ponselnya.

__ADS_1


Empat orang berpakaian hitam keluar dari dalam mobil yang menghimpit mereka. Dengan wajah sangar, mereka mendekat ke arah mobil yang Retha naiki. Kecemasan Retha semakin bertambah. Yang paling ia khawatirkan adalah keselamatan putranya dari pada dirinya sendiri.


"Pak Diman ...," Retha memanggil nama sopirnya dengan nada yang putus asa.


"Tenang, Bu. Mudah-mudahan mereka tidak berniat jahat kepada kita." Pak Diman sebisa mungkin menenangkan majikannya meskipun ia sendiri takut. Seandainya masih muda, mungkin ia akan berani menghadapi mereka. Sayangnya, ia sudah cukup tua untuk adu fisik dengan orang-orang yang tampak kekar itu.


Dug! Dug! Dug!


Salah seorang di antara mereka menggedor keras kaca jendela samping Pak Diman.


"Buka pintunya!" teriakan orang tersebut sampai meskipun tidak terdengar, namun mimik mulutnya bisa terbaca jelas.


Pak Diman diam saja meskipun empat orang itu mengerumuninya.


"Woi! Buka pintunya!" seru orang tersebut sekali lagi.


Buru-buru Pak Diman membuka kaca mobilnya. Orang yang tadinya membawa batu membuang kembali batu tersebut.


"Pak Tua ini akhirnya tahu kemauan kita!" ucap salah seorang di antara mereka yang berambut botak dan memiliki tatto di pipi kanannya.


Keempat preman itu mendekat ke jendela, mengintip ke dalam mobil sembari memasang senyuman.


"Kalian jangan berisik, ada bayi yang sedang tidur di belakang," ucap Si Botak setelah melihat keberadaan Retha dan bayinya di bangku belakang.


Orang yang berambut gondrong membuka paksa pintu samping Pak Diman. Dengan tidak manusiawi, mereka menarik Pak Diman, lalu memukulinya beberapa kali. Retha ketakutan. Ia tidak berani melakukan apa-apa.


Brak!

__ADS_1


Pintu samping terbuka. Si Botak tersenyum lebar menatap Retha. "Nyonya Retha, bisa keluar sebentar dan minta waktunya," ucapnya dengan nada sopan.


"Kalian mau apa?" tanya Retha ketakutan. Ia berusaha melindungi putranya.


"Ikut kami dulu keluar, biar kami jelaskan maksud kedatangan kami," kata Si Botak.


"Aku tidak mau! Kalian ambil saja apa yang kalian mau, tapi tolong jangan sakiti kami!" ucap Retha dengan nada tegas.


"Kalau Nyonya Retha bisa keluar secara baik-baik, kami tidak akan menggunakan cara kekerasan. Ikuti kata-kata kami sebelum kesabaran kami habis!" ancam orang tersebut.


Retha terpaksa menurut. Ia beringsung menuju ke arah pintu keluar. Orang-orang itu tampak senang.


Retha terus mendekap putranya dan memasang sikap waspada. Setelah keluar dari mobil, ia lihat Pak Diman yang telah babak belur akibat dihajar oleh mereka.


"Sebenarnya siapa yang menyuruh kalian? Katakan!" teriak Retha.


"Ssstt! Nyonya, sebaiknya pelankan suaramu, nanti anakmu bisa bangun," ucap Si Botak.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Retha lagi.


"Kami ingin Nyonya Retha ikut bersama kami. Ayo, masuklah ke mobil itu!" Si Botak menunjuk mobilnya yang harus Retha naiki.


Retha masih ketakutan. Meskipun bukan pertama kalinya berhadapan dengan orang semacam itu, namun ia tetap khawatir menghadapi orang-orang jahat seperti mereka. Terlebih saat ini ada Janu.


***


Sorry for slow update 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2