Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Niat Berhenti dari Klab Malam


__ADS_3

Retha berjalan memasuki klab malam tempatnya bekerja. Ia sudah menelepon manajer klab sebelum datang untuk mengkonfirmasi niatnya mengundurkan diri. Meskipun bukan permintaan Bara, Retha juga berniat untuk berhenti kerja dari sana jika tidak ada tanggungan keuangan lagi. Masalah hutang ayahnya sudah terselesaikan, Bara juga sudah menyanggupi untuk membiayai hidupnya. Tidak ada alasan lagi bagi dirinya untuk tetap bekerja di sana.


Manajer klab bernama Hans meminta dirinya untuk datang secara langsung dan membahas permasalahan secara tatap muka. Sebenarnya kontrak kerjanya di sana masih satu bulan.


"Masuk, Ta! Duduk!" pinta Hans.


Retha langsung masuk ke ruangan manajer dan duduk di hadapan Hans yang sedang membaca beberapa laporan klab miliknya.


"Jadi, apa yang mau kamu sampaikan?" tanyanya.


"Saya ingin berhenti bekerja dari sini, Pak."


Hans meletakkan laporan yang sedang dibacanya. Ia menatap serius ke arah Retha. "Kamu yakin?" tanyanya memastikan.


Retha mengangguk.


"Aku dengar kamu baru saja mengundurkan diri dari yayasan. Aku kira kamu akan fokus bekerja di sini."


"Permisi ...." seorang pelayan membawakan dua gelas minuman ke dalam ruangan Hans. Setelah meletakkan minuman di hadapan Retha dan Hans, pelayan itu kembali keluar.


"Saya berencana ingin mencari pekerjaan lain, Pak."


"Kalau kamu baru berencana, lebih baik jangan keluar dulu. Apalagi ayahmu tukang membuat masalah. Nanti kalau kamu keluar, akan ada yang menggantikanmu. Kamu akan kesulitan masuk lagi kalau ingin kembali bekerja di sini." Hans sedikit banyak tahu tentang permasalahan yang retha hadapi. Alasan awal dia ingin bekerja di sana salah satunya karena kesulitan keuangan karena ayahnya. Ia juga meminta jam kerja yang lebih fleksibel karena harus bekerja di yayasan sebagai pengajar.


Retha tersenyum. "Kebetulan tabungan yang saya miliki cukup untuk beberapa bulan ke depan sambil menunggu mendapatkan pekerjaan baru."


Hans tampak menghela napas. "Hal yang paling merepotkan bagiku untuk mengurus klab salah satunya kalau ada pegawai yang tiba-tiba minta berhenti."

__ADS_1


Retha tersenyum kaku. "Ya, bagaimana, Pak ... saya sudah ingin berhenti. Memang kontrak masih ada satu bulan. Tidak usah diberi pesangon juga tidak apa-apa," ucapnya.


"Tidak, tidak ... kamu juga sudah cukup lama bekerja di sini. Akan tetap aku beri pesangon di akhir kontrak. Kamu tahan-tahan dulu deh niatmu mau berhenti. Sisa sebulan saja tidak bisa. Jam kerjanya juga masih tetap sama, aku kurangi dari karyawan yang lain," rayu Hans.


Sebagai seorang manajer ia harus mencari calon karyawan baru saat ada karyawan lama yang ingin berhenti. Makanya ia meminta karyawannya mengkonfirmasi jauh-jauh hari sebelum resign. Tujuannya agar ia punya waktu untuk merekrut karyawan baru.


Ia harus memberikan pelatihan kepada karyawan baru sampai bisa bekerja di tempatnya. Hal itu tentunya membuat malas karena butuh keluar biaya pelatihan. Makanya ia lebih suka membuat sistem kontrak agar karyawannya tidak sembarangan minta berhenti kerja.


"Saya juga paham sih posisi Bapak, tapi hanya untuk saya saja, please ...." Retha sampai menangkupkan kedua tangannya memohon agar kemauannya dikabulkan.


"Kurang baik apa aku sama kamu, Retha. Tega banget mau bikin aku rugi." Hans memegangi kepalanya. "Minum dulu deh!" Hans mempersilakan Retha meminum minumannya. Ia sendiri juga meminum miliknya.


Retha meneguk setengah jus jeruk yang disuguhkan untuknya. "Pinalty kalau melanggar kontrak harus mengembalikan tiga bulan gaji kan, Pak? Saya mau membayarnya."


Hans agak tercengang mendengar Retha punya uang. Ia penasaran bagaimana bisa wanita yang dulu memohon-mohon bekerja di tempatnya malah ingin sekali keluar dari sana, bahkan siap membayar denda.


"Sudah, deh ... dua minggu saja bertahan di sini sambil menunggu anak-anak training selesai. Nanti aku berikan pesangon untukmu secara penuh. Masa seperti itu tidak sanggup?" Hans tampak masih memikirkan untung rugi. "Aku dulu sudah banyak memberikan toleransi kepadamu. Setidaknya bantulah aku dua minggu ini," lanjutnya.


Di lain sisi, ia bingung karena sudah janji kepada Bara akan berhenti dari pekerjaannya. Entqh kebohongan apa yang harus ia buat untuk menutupi dua minggu ke depan. "Baiklah, aku akan tetap bekerja di sini sampai dua minggu ke depan," ucapnya.


Hans mengembangkan senyuman lebar. Ia sangat senang Retha memenuhi keinginannya. "Ini baru karyawan terbaikku! Cepat, ganti pakaianmu dan bantu yang lain melayani tamu!" perintahnya.


"Baik, Pak." Retha menghabiskan minumannya sebelum pergi meninggalkan ruangan.


Niatnya ingin berhenti kerja ia malah harus kembali bekerja. Meskipun terpaksa, ia tetap masuk ke dalam ruang ganti mengenakan seragam yang biasa dikenakannya. Tak lupa ia memakai topeng agar para pelayan di sana dianggap serupa.


"Retha, kamu baru datang?" tanya Ranu yang tampak sedang sibuk di area dapur.

__ADS_1


"Iya. Apa ada pesanan yang harus diantar?"


"Itu!" Ranu menunjuk pada sebuah baki berisi sebotol wine yang terlihat mahal. "Antarkan wine itu ke ruang nomor 32, ya!" pintanya sembari meng0cok-k0cok minuman yang dibuatnya.


"Oh, oke."


Retha mengambil sepotong kain putih untuk membalut botol wine. Ia akan membawa minuman berharga tersebut kepada pemesannya.


Suasana di klab malam tersebut masih sama, ramai seperti biasa. Banyak pengunjung yang asyik berjoget sambil mabuk-mabukan. Retha yang sudah cukup lama bekerja di sana saja belum pernah mencoba minum atau sekedar bergoyang mengikuti iringan DJ.


"Permisi," ucap Retha saat memasuki ruangan nomor 32.


"Oh, ternyata kita bertemu lagi," ucap salah seorang lelaki yang sedang duduk di ruangan itu ditemani oleh dua orang wanita cantik. Dengan bangganya ia memperlihatkan tangannya yang sedang memegang-megang dada kedua wanita tersebut si hadapan Retha. Senyumannya menyeringai seakan menyembunyikan maksud tertentu.


Retha mengingat lelaki itu. Beberapa kali lelaki itu membuat masalah dengannya. Bahkan dia sempat akan dicium paksa olehnya saat mabuk. Untung saja saat itu Bara datang menolongnya.


Retha menepis rasa khawatirnya. Ia mencoba cuek dengan kelakuan lelaki itu yang sengaja membuka pakaian atas wanita di sebelahnya. Seakan ia ingin menunjukkan bahwa wanita itu sebegitu rendah dan murahan sampai bisa ia permainkan.


"Tuangkan segelas minuman untukku!" perintahnya.


"Tuan Aldo, jangan terlalu jangan kasar, sakit ...." wanita itu merengek manja.


Retha berusaha cuek dengan pemandangan di hadapannya. Ia membantu membukakan tutup botol wine mahal tersebut, lalu menuangkannya ke dalam gelas hingga memenuhi setengah gelas tersebut.


"Minumkan padaku!" pintanya.


Retha mengambilkan gelas dan menyentuhkan ujung gelas itu di bibir lelaki yang bernama Aldo. Lelaki itu terus tersenyum memandangi wanita yang sedang memandanginya minum.

__ADS_1


"Kamu mau juga aku bantu m3rem4s milikmu?" godanya.


Retha hanya terdiam. Ia menahan diri dan menundukkan pandangannya, mencoba tidak peduli dengan apa yang didengar dan dilihatnya. Baru kali ini ia bertemu pelanggan yang sangat parah kelakuannya.


__ADS_2