Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Momen-Momen Akhir


__ADS_3

"Pengacaramu katanya mau datang sore sekaligus mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk membelamu. Kamu tenang saja, semua akan berusaha membebaskanmu dengan bersih," ucap Zack.


"Kalau sekedar bebas itu mudah, tinggal pakai uang bisa langsung selesai. Tapi kasihan nanti perusahaanmu kena imbas tidak dipercaya orang," lanjut Zack.


"Kak Bara!"


Bara dan Zack dikejutkan oleh kedatangan Aryo, adik ipar Bara. Mereka tidak menyangka salah satu pihak keluarga Bara sudah mengetahui tentang berita tersebut. Dilihat dari penampilannya, Aryo pasti dari kantor langsung pergi ke sana.


"Hari ini sepertinya kamu akan mendapat banyak kunjungan, Bar." Zack berkata dengan nada lirih.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Aryo dengan raut wajah penuh kecemasan.


"Kamu tahu dari mana aku ada di sini?" tanya Bara.


"Aku tidak sengaja mendengarkan percakapan antara Pak Dion dan Pak Wimar. Katanya Kak Bara terkena kasus di proyek."


Bara menghela napas. Ia tidak memikirkan kalau kedua orang itu akan buka suara. "Kamu sudah mengabarkan ke rumah?" tanya Bara lagi.


Aryo tampak mengangguk.


Bara menepuk dahinya. Ia bisa membayangkan bagaimana keributan yang ada di rumah mendengar dirinya masuk penjara. Sia-sia saja dirinya berusaha menutupi kasus yang menimpanya.


"Mungkin mereka sebentar lagi akan datang," kata Aryo.


"Seharusnya kamu tidak usah mengabari orang rumah, Aryo." Bara tampak lemas.


"Memangnya kenapa? Aku dan Papa akan ikut berusaha membebaskan Kak Bara dari sini."


"Kamu dan Papa tidak usah ikut campur. Pokoknya jangan pernah terlibat denganku sementara waktu."


"Papa tidak mungkin tinggal diam melihat Kak Bara di sini."


"Ya, itu! Makanya aku bilang seharusnya kamu tidak memberitahu mereka. Yang sedang bermasalah itu perusahaanku, jangan sampai perusahaan Papa juga ikut kena. Kamu percaya saja aku bisa mengatasinya sendiri."


"Tapi, aku sudah terlanjur memberi tahu Mikha. Dia pasti sudah memberitahu kepada Mama."

__ADS_1


"Sudahlah! Nanti aku saja yang akan bicara dengan Mama dan Papa. Pokoknya, kamu tidak boleh membahas tentang aku sementara waktu."


Dalam kondisi yang sulit, Bara masih berusaha melindungi keluarganya. Ia tahu memiliki keluarga yang saling menyayangi, begitu juga dirinya yang tetap menyayangi keluarga meskipun terkadang ada perselisihan di antara mereka.


"Bar, kalau begitu, aku pamit dulu, ya! Aku akan langsung melakukan apa yang kamu minta," ucap Zack.


Bara mengangguk. Zack ia suruh untuk mencari keberadaan Mikola, sekertarisnya. Setelah Zack pergi, giliran Aryo yang berbicara dengan Bara.


"Papa tadi ke kantor atau tidak?" tanya Bara.


"Tidak. Kesehatan Papa akhir-akhir ini kurang bagus, sering merasa sesak napas sehingga jarang ke kantor. Sekarang, aku yang lebih banyak mengurusi perusahaan."


"Lakukan dengan baik pekerjaanmu, Aryo. Berbisnislah secara lurus, jangan tergiur dengan tawaran-tawaran yang aneh apalagi menjanjikan kesuksesan dalam waktu singkat. Tidak apa-apa jika usaha yang kita jalani perkembangannya lambat, yang penting konsisten dan di jalur yang benar."


"Aku akan selalu meminta pendapatmu kalau mau menjalin bisnis dengan orang baru."


***


"Pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Jangan lupa minggu depan kita ulangan matematika!"


Kata-kata terakhir sang guru matematika yang mengisi kelas XI -3 membuat para siswa bersorak malas. Hal yang paling tidak mereka sukai adalah pengumuman ulangan. Bahkan pembelajaran yang berlangsung selama dua jam tersebut sudah membuat mereka mau muntah saking sulitnya materi diterima oleh otak.


Edis memasukkan buku-bukunya kembali ke dalam tas. Setelah pelajaran usai, waktunya untuk istirahat telah tiba. Ia sempat melirik ke arah pintu keluar, tampak Angga sudah ada di sana.


Meskipun hampir semua orang tahu kalau mereka berpacaran, Edis masih belum bisa bersikap biasa saat disambangi kakak kelasnya. Ia merasa malu setiap kali Angga datang ke kelasnya. Pemuda itu selalu menjadi pusat perhatian dan membuatnya ikut diperhatikan orang sekitar.


Usai berkemas, ia menghampiri Angga. Dengan santainya lelaki itu langsung menggandeng tangan Edis dan membawanya ke tempat biasa, rooftop sekolah.


"Apa kita tidak ke kantin dulu, Kak?" tanya Edis. Sepanjang koridor yang dilewati, ia hanya menunduk karena setiap murid yang berpapasan dengannya pasti melirik ke arah mereka.


"Hari ini aku membawa makanan. Kita akan makan bersama-sama." Angga memperlihatkan kotak bekal yang ditentengnya.


"Kakak masak sendiri?" tanya Edis kagum.


"Tidak. Ini diberi oleh tetangga baru apartemen. Kebetulan dia seorang koki. Aku diberi satu box sushi ini tadi pagi."

__ADS_1


Mendengar nama masakan Jepang itu, Edis semakin tidak sabar untuk melihat isi kotak bekal yang Angga bawa. "Kenapa anak kelas dua belas selalu lebih awal keluar kelas? Aku perhatikan sebelum bel berbunyi, kalian sudah keluar."


"Jam pelajaran kita sudah berbeda. Kelas dua belas mulai pelajaran pukul enam pagi dan pulang pukul lima sore selama semester akhir dan jelang ujian."


Edis mangguk-mangguk. "Jadi, Kakak sudah tidak ikut ekskul sepak bola?"


"Anak kelas dua belas sudah dilarang ikut kegiatan ekskul apapun. Harus fokus belajar untuk ujian. Tapi, kalau ada turnamen, mungkin pelatih masih mempertimbangkan beberapa anggota senior untuk tetap ikut."


"Pasti capek ya, jadi anak kelas dua belas," gumam Edis.


"Nggak juga, sih. Aku senang berangkat sekolah. Soalnya ada alasan untuk bisa bertemu denganmu." Angga mulai mengeluarkan bualannya sampai wajah Edis terlihat sedikit memerah.


Saat sampai pintu menuju rooftop, ternyata tempat itu terkunci. Lagi-lagi mereka hanya bisa duduk di area tangga saja.


"Kita makan di sini saja," ucap Angga seraya menarik tangan Edis agar duduk di sampingnya.


Ia mengeluarkan kotak makanan yang dibawanya. Saat kotak dibuka, jajaran sushi yang cantik dan menggugah selera terpampang di hadapan mereka. Edis sampai terkesima melihatnya.


"Kamu suka sushi?" tanya Angga.


"Suka banget. Tapi, rasanya sayang kalau dimakan. Soalnya ini terlalu cantik." Edis sampai mengeluarkan ponselnya dan memotret beberapa kali makanan tersebut.


"Kebiasaan cewek kalau lihat sesuatu yang bagus pasti difoto. Ini gunanya untuk dimakan!" Angga langsung mengambil sepotong sushi dan memakannya.


Edis memanyunkan bibir karen tangan Angga mengganggu dirinya yang sedang asyik memfotonya.


"Ayo, dimakan!" pinta Angga.


Edis turut mengambil potongan sushi tersebut. Ia memilih sushi dengan taburan caviar di atasnya. "Dimana tetanggamu menjadi koki? Ini rasanya enak sekali!" Edis sangat antusias ketika merasakan sushi terenak yang pernah ia makan.


"Dia bekerja di restoran hotel XXX. Kalau kamu mau, kapan-kapan kita bisa ke sana."


Mendengar nama hotel tersebut saja Edis sudah lemas duluan. Restoran di sana terbilang mahal. "Kalau makan di sana, sama saja aku harus puasa satu bulan, Kak. Mending jajan di pinggir jalan," ucap Edis.


"Nanti aku hubungi orangnya, siapa tahu bisa memberikan diskon kepada pelajar."

__ADS_1


Keduanya terus menikmati satu persatu potongan sushi sembari memperbincangkan banyak hal seputar keseharian mereka. Bulan-bulan terakhir Angga menjadi murid SMA terasa sangat dimanfaatkannya untuk dihabiskan bersama Edis. Sebentar lagi mereka akan kehilangan momen itu karena Angga akan berkuliah ke luar negeri.


__ADS_2