
Usai pertemuan yang cukup mendebarkan dan panjang, akhirnya tiba waktunya perpisahan. Retha masih memeluk sang suami sebelum lelaki itu kembali ke dalam sel tahanannya.
"Boleh nggak aku ikut tinggal di sini?" rengek Retha.
"Kamu kira ini hotel, Sayang, bisa menginap semaunya? Perlu berbuat jahat dulu supaya dapat tiket masuk," ucap Bara. "Lagian siapa yang dari tadi mengingatkan kalau kita sedang ada di lapas, hm?" sindirnya.
"Bagaimana kalau Mas Bara menerima usul ayahmu untuk membayar uang jaminan saja ... Kenapa Mas Bara harus ada di sini?" Retha kembali merengek.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan. Kalau aku keluar sekarang, nanti rencanaku akan berantakan. Kamu bersabar dulu, ya! Anggap saja aku sedang bekerja di sini."
"Kerja jadi penjahat?"
"Hahaha ...." Bara menertawakan istilah lucu yang dilontarkan Retha. "Anggap saja aku sedang akting. Percayalah, aku tidak akan benar-benar dihukum. Suamimu ini tidak bersalah, Sayang."
"Tapi, tetap saja keberadaan Mas Bara di sini membuatku khawatir. Bagaimana kalau terjadi apa-apa di dalam? Di sana pasti ada banyak orang jahat, kan?"
"Iya, ada banyak."
"Tuh, kan ...." Retha semakin memanyunkan bibirnya.
"Namanya juga penjara, Sayang ... Pasti isinya orang-orang jahat. Kalau isinya orang-orang baik, mungkin namanya pesantren."
"Aku lihat di film orang-orang di dalam sel suka berkelahi!" Retha merinding sendiri membayangkan adegan film yang pernah ditontonnya.
"Kalau di sini beda, banyak yang suka mengaji di dalam. Kasusnya juga ringan-ringan, paling hanya maling ayam atau judi. Bahkan kasusku lebih serius dari mereka."
"Mas ...." Raut wajah Retha terlihat berubah menjadi cemas.
"Kenapa?" tanya Bara.
Ia melirik ke kanan kiri, seperti ragu ingin menyampaikan sesuatu. "Aku mau bilang jujur, tapi jangan marah, ya ...," ucanya dengan raut tidak enak hati.
__ADS_1
"Katakan saja, Sayang. Aku akan mendengarkannya." Bara mengulaskan senyuman di bibirnya.
Retha terlihat menghel napas sebelum menyampaikannya. "Rumah yang Mas berikan untuk ayah sudah dijual oleh ayahku," katanya. Retha merasa sangat bersalah dengan kelakuan ayahnya sendiri. Ia hampir lupa dengan kejadian itu, namun jadi ingat setelah Bara menyinggung tentang judi."
"Oh ...." Bara yang sudah tahu tidak kaget medengarnya. Ia hanya mengusap pipi Retha. "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu tidak perlu memikirkannya," ucap Bara. "Asalkan kamu jadi istri yang baik untukku, perbuatan ayahmu masih bisa aku maafkan."
"Ayahku sepertinya memang sama saja dengan Silvia. Tidak akan pernah bisa bertaubat," ucap Retha pasrah.
"Bagaimana kalau aku menghukumnya? Apa kamu akan marah jika aku membuat ayahmu jera?" tanya Bara.
"Kamu boleh apakan saja ayahku, Mas. Tapi, jangan dilukai juga ...." Retha takut Bara akan membunuh ayahnya.
"Hahaha ... Tenang saja, mana mungkin aku akan menyakiti mertuaku sendiri, Sayang ... Aku hanya akan membuatnya jera saja dan tidak menjadikanmu pusing karenanya. Percayalah!"
Detik-detik perpisahan terasa begitu berat. Mereka yang baru saja berbaikan kini kembali harus dipisahkan.
"Besok-besok kamu masih bisa datang lagi ke sini. Sekarang, pulanglah dan beristirahat. Ada calon bayi kita yang perlu kamu jaga kesehatannya."
Retha akhirnya rela melepaskan pelukannya. Bara mengusap kepala sang istri sebelum mengikuti salah seorang petugas untuk masuk kembali ke dalam tahanan sementara. Tempat Bara ditahan merupakan tahanan sementara bagi tersangka yang kasusnya belum diproses atau belum mendapatkan putusan.
"Ibu Retha, kita akan pulang ke mana?" tanya sang sopir.
"Kita pulang ke apartemen saja. Alamatnya di XXX."
"Sebenarnya saya disuruh Nyonya Ratih untuk membawa Anda pulang ke rumahnya."
Retha terdiam sejenak untuk berpikir. "Sepertinya aku belum siap datang ke sana, Pak. Antarkan saja aku ke apartemen," ucap Retha.
"Baik, Bu."
Retha masih perlu waktu untuk menenangkan diri. Ia belum siap bertemu dengan keluarga mertuanya saat ini. Meskipun ia pernah bertamu ke rumah Bara, namun posisinya kini berbeda karena bukan lagi sebagai guru Kenzo, melainkan sebagai istri Bara.
__ADS_1
***
Silvia duduk di bangku antrean sebuah rumah sakit di Negara Singapura. Setelah ketahuan hamil oleh Bara dan berdebat hebat, ia memutuskan untuk langsung terbang ke negara tersebut. Niatnya sangat mantap untuk melakukan ab0rsi.
Di negaranya, tindakan tersebut merupakan tindakan melanggar hukum dan dianggap ilegal. Berbeda dengan di negara ini, tindakan tersebut dibebaskan.
Silvia merasa belum siap memiliki anak. Kelahiran Kenzo saja baginya merupakan suatu beban. Ia mengakui bahwa dirinya kurang cakap dalam mengurus anak.
Meskipun ia pernah mengatakan kepada Bara bisa menjadi seorang ibu yang baik bagi Kenzo, berusaha memperbaiki sifatnya, akan tetapi setelah beberapa waktu ia coba mengasuh Kenzo sendiri, sebenarnya ia merasa kewalahan mengurusi seorang anak laki-laki itu.
Ia terpaksa bertahan, pura-pura kuat mengasuh Kenzo sendiri demi menarik perhatian Bara. Sayangnya, usaha tersebut sepertinya tidak membuahkan hasil. Bar tetap saja bersikap dingin kepadanya.
Apalagi setelah mengetahui kondisi kehamilan Silvia, Bara akan semakin membencinya. Ia berniat menggugurkan kandungan supaya tidak menjadi beban dalam usahanya menjalin kembali hubungan yang baik dengan Bara. Cukup Kenzo yang ia jadikan alat pemersatu, mengingat Bara sangat menyayangi anak tersebut.
"Misa Silvia ...."
Tiba gilirannya nama Silvia dipanggil oleh petugas. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke dalam ruangan untuk menjalani prosedur kuretase.
"Apa Anda yakin ingin melakukan hal ini?" tanya sang dokter sekali lagi.
"Saya yakin, Dokter!" jawab Silvi dengan mantap.
"Kamu tidak akan menyesal?"
"Tidak, Dokter. Saya akan lebih menyesal jika tetap melahirkannya sedangkan keberadaannya tidak diinginkan."
Silvia berkaca pada pengalamannya dulu melahirkan Kenzo. Kenzo merupakan anak yang tidak diharapkan. Ayah biologis Kenzo yang sangat dicintainya bahkan tidak menganggap anak teraebut sebagai darah dagingnya. Hidup Silvia terasa menderita setelah melahirkan Kenzo. Ia khawatir kehamilan keduanya akan bernasib sama seperti Kenzo. Lebih baik ia menggugurkan bayinya.
Menurutnya, anak yang ideal merupakan anak yang memang diharapkan kehadirannya oleh kedua orang tua. Saat mereka merasa mengharapkan anak, maka ia akan memberikan segala sesuatu dengan maksimal demi anak kesayangan.
"Baiklah, silakan duduk di kursi tindakan, selama 10-15 menit kira akan memulai prosedur kuretase," ucap sang dokter.
__ADS_1
Silvia menuruti perintah dokter. Ia duduk di kursi yang letaknya agak tinggi dengan posisi meng4ngk4ng agar dokter mudah melakukan tindakan.
Berkali-kali Silvia menghela napas memantapkan hati dengan keputusannya. Pergaulan bebas selalu memberikan imbas yang besar terhadap wanita, termasuk dirinya. Lelaki hanya ada saat enaknya saja, sedangkan di saat menderita, wanita kerap kali dihadapkan pada situasi yang sulit. Iapun ingin menyesali takdirnya, namun semu yang telah terjadi tidak akan terulang kembali.