
Sepulang sekolah Edis bersama teman-temannya sibuk merapikan dan membersihkan kelas. Hari ini gilirannya melakukan tugas piket. Biasanya yang mendapat giliran piket harus pulang paling akhir untuk berbenah-benah.
"Edis, boleh nggak kita pulang duluan? Rumah kami kan jauh, kalau kesorean takutnya ketinggalan bus." Fika, teman sekelas dan satu regu piket meminta izin kepada Edis untuk tidak ikut piket sampai akhir.
"Iya, Dis. Kamu kan tinggal di asrama, ngga apa-apa kan kalau kita pulang duluan?" Mata Yuli memancarkan binar penuh harap sembari menangkupkan tangannya.
"Ya sudah kalau kalian mau pulang duluan. Kelas juga sudah beres aku tinggal membuang sampah saja," jawab Edis.
"Makasih ya, Dis! Kita pulang dulu."
Kedua temannya berpamitan kepada Edis. Seharusnya ada dua orang teman laki-laki yang piket hari itu, namun mereka malah kabur duluan. Sebagai anak penghuni asrama, dia lebih sering mengalah pulang akhir saat piket. Dia juga pernah mengalami susahnya mendapat kendaraan kalau terlalu sore pulang. Sebelum memutuskan untuk tinggal di asrama, ia pulang pergi sekolah naik bus.
Tugas bersih-bersih di kelas telah selesai. kondisi kelas sudah rapi. Tersisa kantong sampah yang perlu ia bawa ke tempat pembakaran sampah yang terdapat di belakang sekolah. Untung sampah dari kelasnya tidak terlalu berat sehingga ia bisa membawanya sendiri.
"Cocok juga jadi pemulung!" seru Lova saat melihat Edis kesusahan menenteng kantong sampah yang dibawanya.
Edis berusaha cuek, mengabaikan trio kakak kelas yang selalu mengganggunya.
"Makin belagu dia, Lov!" Siwi berusaha mengompor-ngompori.
"Hajar saja, Lov!" Nida ikut-ikutan mendukung Lova.
Sebagai kakak kelas yang terkenal dengan kecantikannya, Lova terlihat sangat percaya diri. Ia berjalan menghampiri Edis yang sedang membuang sampah. Tanpa aba-aba ia menjambak rambut kasar Rambut Edis lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur.
Edis menghela napas. Kehidupan tenangnya disekolah benar-benar hilang setelah berpacaran dengan Angga. Resiko pacaran dengan cowok paling disukai disekolah adalah kebencian teman-teman cewek.
"Putusin Angga! Kamu tidak pantas jadi pacar Angga!" tegas Lova.
Edis bangkit sendiri seraya mengibaskan tangannya yang terkena kotoran tanah. "Kalian kenapa, sih? Coba lakukan ini ke Kak Angga, kenapa harus padaku? Kalian sukanya pilih lawan yang gampang, ya?" ejek Edis. "Bilang sendiri sama Kak Angga, suruh memutuskan aku lalu pacaran denganmu!" lanjutnya.
"Banyak omong!" Lova emosi dengan ucapan Edis. Dia tidak suka djbantah ataupun dilawan. Kebiasaannya di rumah ia merupakan tuan putri yang segala permintaannya selalu dipenuhi. Tidak kenal kata penolakan apalagi perlawanan.
Lova hendak menampar Edis, namun gadis itu mencekal tangannya. Siwi dan Nida ikut membantu Lova memegangi Edis. Mereka merasa menang jika main keroyokan.
"Kayaknya anak ini harus diberi pelajaran dikeluarkan dari sekolahan ini deh. Gimana kalau kamu hubungi ayahmu, Lova?" usul Siwi. Ia menatap remeh kepada Edis.
__ADS_1
"Itu gampang banget hanya sekedar untuk menendang dia dari sini. Aku hanya kasihan, nanti dia bakal kebingungan kalau dikeluarkan." Lova menyombongkan jabatan ayahnya sebagai ketu komite sekolah.
"Kamu baik banget jadi orang, Lov," puji Nida.
Lova merasa tersanjung dipuji temannya.
Edis tersenyum-senyum. "Memangnya setelah aku keluar dari sini nggak bisa lagi ketemuan dengan Kak Angga? Otak kalian dimana?" Ia sampai jrngah menghadapi kakak kelasnya.
"Kurang ajar anak ini!"
Ketiganya memukuli Edis secara bersamaan. Edis berusaha melawan namun kalah jumlah.
"Kalian sedang apa?"
Seruan dari Angga langsung menghentikan keributan di antara mereka. Angga berdiri di sana sembari membawa bola masih mengenakan seragam tim sepak bola sekolah. Ketiga kakak kelas itu langsung salah tingkah kelakuannya dipergoki Angga. Mereka sampai tidak bisa berkata-kata.
"Edis, kamu tidak apa-apa?" tanya Angga.
Edis langsung menepis tangan Siwi dan Nida. Ia berjalan mendekat ke sisi Angga. "Mereka minta kita putus, Kak," ucap Edis dengan begitu ringan ucapannya.
Angga menatap nyalang kepada ketiga teman sekelasnya. Akhirnya ia melihat sendiri jika pacarnya memang ternyata diganggu oleh Lova dan teman-temannya.
"Angga, sepertinya ada kesalahpahaman sedikit di sini," Lova berbicara dengan canggung kepada Angga.
"Aku yang pertama menembak Edis. Kalau kalian tidak suka, jadikan aku musuh kalian!"
"Angga, maksud kami tidak sejauh itu, Kok." Lova mencoba berkilah. Ia tak ingin dibenci oleh Angga.
"Lova, Nida, Siwi ... aku katakan dengan jelas kalau sekarang Edis pacarku. Mengganggunya berarti juga menggangguku," tegas Angga.
Angga menggandeng tangan Edis. Ia membawa pacarnya itu kembali ke gedung sekolah untuk mengambil tas milik Edis. Hari ini Angga ada jadwal latihan bola di lapangan sehingga ia baru bisa menemui Edis.
Saat menunggu Edis membereskan tas dan peralatan mulisnya, Angga menemukan secarik kertas terjatuh tak jauh dari Edis. Ternyata selembar kertas hasil ulangan matematika bernilai 20 milik Edis. "Ini milikmu?" tanya Angga.
Edis melebarkan mata saat mengetahui kertas ulangannya sedang dipegang oleh Angga dan dilihat. Reflek ia langsung merebutnya dari tangan Angga dan memasukkannya ke dalam tas.
__ADS_1
"Kak Angga apa-apaan sih! Jangan lihat-lihat punya orang!" gerutu Edis sembari meneruskan acara beberesnya.
"Aku kan nggak sengaja." Awalnya Angga hanya santai saja melihat hasil ulangan tersebut. Namun, melihat respon Edis seperti menahan malu, ia jadi tak bisa menahan tawa. Edis semakin kesal melihat Angga yang berusaha menggodanya.
"Hah!" Edis meletakkan kepalanya lemas di atas meja. Ia malu ketahuan sebagai siswa bodoh yang tidak bisa mengusai matematika. Jauh berbeda dengan Angga yang selalu mendapatkan peringkat lina besar.
"Masa pacarku matematikannya payah? Memangnya kalau Ibu Puji mengajar kamu ngapain?" Angga ikut merebahkan kepalanya di atas meja memandangi wajah Edis.
"Aku memperhatikan, Kak. Hanya saja ilmunya cuma numpang lewat dari kuping kiri ke kuping kanan. Nggak ada yang tertinggal di otak."
"Hahaha ... ada-ada saja," guman Angga. "Mau nggak kalau aku ajari?"
"Memangnya Kakak masih ingat pelajarannya?" Edis menyangsikan kemapuan Angga meskipun ia tahu Angga orang yang pintar.
"Kita ke rumahku, aku masih punya catatan zaman masih di kelas 11, siapa tahu berguna untukmu."
"Hm, sebenarnya aku sangat suka ide Kak Angga. Tapi, nanti kasihan Kakak kalau aku orangnya susah nyambung untuk satu pelajaran itu." Edis tampak menghela napas.
Angga mengusap kepala Edis. "Tidak apa-apa, aku orangnya sangat sabar."
Edis jauh berbeda dari Retha. Kakaknya termasuk siswa yang cerdas sampai memperoleh beasiswa selama bersekolah. Berbeda dengan dirinya, biaya sekolah penuh ditanggung oleh kakaknya. Ia tidak memiliki kemampuan akademik yang bagus.
***
Visual
Angga (18 tahun), anak baik-baik yang akhir-akhir ini suka berkelahi. Dalam masa bucin maksimal kepada adik kelasnya yang bernama Edis.
Edis (16 tahun otw 17 tahun), gadis SMA biasa yang berharap kehidupan sekolahnya berjalan biasa saja. Setelah dicintai kakak kelasnya, ternyata masa-masa sekolahnya menjadi banyak tantangan. Ia yang awalnya malas meladeni para pembencinya, kini mulai berani melawan.
__ADS_1
Fabian (36 tahun) Papa muda yang masih pantas sebagai anak muda. Sosok ayah yang pekerja keras serta bertanggung jawab. Ia selalu ingin dekat dengan putranya, namun Angga justru memusuhinya.