Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Kegilaan Zack


__ADS_3

"Selamat siang, Pak ...."


Seorang wanita cantik mengulaskan senyum saat memasuki ruang kerja Zack. Gaya berjalannya dibuat anggun seraya melenggak-lenggokkan tubuhnya bak model. Pakaian ketat yang dikenakannya seolah ingin memamerkan tonjolan yang ada di bagian depan dan belakang tubuhnya.


"Halo, Emili ...." Zack menatap kagum kepada wanita yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya. Wanita sempurna yang sangat sesuai dengan tipenya.


Pertemuan pertama mereka berawal di sebuah klab malam. Emili merupakan seorang model yang mampu menarik perhatiannya. Mereka sempat minum-minum bersama dan saling bertukar nomor telepon.


Tidak ia sangka jika wanita itu begitu cepat menerima respon darinya. Seminggu setelah berkenalan, wanita itu sudah datang menghampirinya di kantor. Zack tidak sabar menghabiskan waktunya untuk bermesraan dengan Emili.


Zack bangkit dari tempatnya. Ia berjalan menghampiri wanita itu lalu memeluknya. Tangan nakalnya sengaja mer3mas bongkahan *4**** berisi Emili. Membuat wanita itu mend3sah manja.


"Kamu nakal, ya ...." Emili merengut.


Zack menyunggingkan senyum dengan respon menggemaskan yang ditunjukkan wanita itu. "Tubuh kamu yang memancingku untuk nakal. Apa kabar, Sayang?"


Zack berani menggunakan kata-kata gombalan yang sudah biasa ia keluarkan saat berkirim pesan maupun bertelepon. Meskipun ini terhitung pertemuan kedua, tapi mereka bisa tampak mesra. Usaha rayuan maut Zack sungguh luar biasa.


"Aku kira kamu berbohong saat mengatakan bahwa kamu seorang manajer di perusahaan besar." Emili tersenyum menatap sosok lelaki yang sepekan ini selalu menggodanya. Awalnya ia tak begitu tertarik. Namun, saat Zack menyebutkan bahwa dirinya merupakan putra dari pengusaha Alden Benedict, pemilik perusahaan salah satu jasa penyedia layanan komunikasi terkemuka, ia jadi penasaran ingin membuktikan. Ternyata memang benar, Zack bekerja di perusahaan besar itu.


"Aku berbohong? Itu tidak ada dalam kamusku."


Zack sangat mahir menggoda wanita. Kebanyakan dari mereka pasti melirik dengan kekayaan dan latar belakang cemerlang yang dimilikinya. Sejauh ini belum pernah ia gagal meluluhkan wanita agar jatuh ke dalam pelukannya.


"Duduklah ... kamu mau minum apa?"


Emili menyunggingkan senyum. Dengan berani ia melingkarkan tangannya ke belakang leher Zack seraya memandanginya dengan gestur s3ksi. "Aku belum haus ... tapi, bolehkah aku mencicipi duduk di pangkuan seorang manajer?" rayunya. Emili ternyata juga pandai menggoda lelaki.


Zack tersenyum lebar. "Itu permintaan yang tidak bisa akh abaikan." Dengan sigapnya, tubuh wanita itu dia angkat seakan terasa ringan.

__ADS_1


Mata mereka masih tetal bertatapan saat Zack berjalan menuju kursi kerjanya. Zack mendudukkan Emili di pangkuannya. Tanpa dikomando, wajah mereka saling mendekat. Seakan ada magnet kuat yang menarik, bibir mereka bersentuhan. Awalnya kecupan yang mereka lakukan sangat lembut untuk mengobati rasa penasaran.


Ketika kenikmatan semakin menjalar, keduanya melakukan ciuman yang lebih mendalam. Bahkan tak sungkan saat lidah mereka kemudian bertautan, diselingi suara decapan dan napas yang memburu. Mereka semakin terhanyut dalam n4fsu.


Tangan Zack sibuk mer3mas *4**** Emili seraya menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh dari pangkuannya. Emili semakin menggila membalas ciuman Zack.


"Kamu sungguh menggoda Emili. Setelah puas sepekan menyiksaku dengan berbagai alasan tidak mau bertemu, akhirnya kamu datang sendiri menemuiku." Zack semakin tidak sabar untuk menjamah tubuh indah wanita yang baru dikenalnya itu.


"Ini sebagai hadiah karena telah sabar menungguku, Zack," ucap Emili sembari meraba-raba dada bidang yang terlihat kokoh itu.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan di hotel? Atau kamu mau main ke apartemenku?"


Zack semakin tidak sabaran. Juniornya sudah meronta-ronta ingin dibebaskan. Apalagi melihat dua gundukan besar yang masih tersembunyi di balik baju ketat Emili. Terlihat berisi dan s3ksi. Ingin rasanya ia mengeluarkan kedua benda kenyal itu dari balik pelindungnya lalu mengh1sapnya sampai puas.


Emili menggeleng. "No ... bagaimana kalau kita bercinta di dalam ruang kerjamu ini saja?" Ia berbicara dengan nada yang sangat nakal.


"Ah, sebenarnya aku ingin sekali. Tapi, ini masih jam kerja. Aku khawatir kemesraan kita akan terganggu." Meskipun Zack putra dari pemilik perusahaan, namun posisinya tidak cukup tinggi untuk melakukan perbuatan yang di luar aturan. Zack boleh nakal di luar. Tapi, di mata keluarganya, ia tetap menjaga nama baiknya sebagai anak yang baik.


Emili meletakkan jari telunjuknya di bibir Zack, seakan tak ingin lagi mendengar ocehannya. "Bukankah hal yang menantang itu lebih menarik? Aku akan memberikanmu pengalaman paling menyenangkan saat bekerja." Ia mengerlingkan sebelah matanya.


Emili turun dari pangkuan Zack. Ia menundukkan tubuhnya masuk ke dalam kolong meja kerja Zack. Sontak hal itu membuat Zack terkejut dan membelalakkan mata.


"Emili ... kamu mau apa?" tanyanya.


"Sstt ... jangan berisik! Aku mau memberimu hadiah yang sudah sabar menungguku." Emili memberi kode agar Zack diam.


"Apa kamu sudah gila?" Zack berusaha menahan pakaian bawahnya yang hendak dibuka oleh Emili. Ini pertama kalinya Zack bertemu wanita seagresif itu.


Tok tok tok

__ADS_1


Zack semakin panik saat mendengar suara pintu ruangannya di ketuk. "Emili, hentikan! Ada yang akan masuk ke dalam ruanganku."


Perkataan Zack dianggap angin lalu oleh Emili. Ia tetap memaksa mengeluarkan milik Zack yang sejak tadi sudah mengeras. Saat pusakanya dipegang, segala daya untuk marah serasa tiba-tiba hilang.


Klak!


Pintu ruangan Zack terbuka. Ternyata yang datang adalah Bara.


"Kenapa wajahmu sepertinya tegang?" tanya Bara saat melihat ekspresi lain yang Azack tunjukkan. Biasanya lelaki itu suka menggodanya saat bertemu dengannya.


"Tidak, aku biasa saja. Ada urusan apa datang menemuiku?" Zack berusaha bersikap santai, menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya ingin meledak karena kelakuan Emili di bawah sana.


"Tadi aku sudah menemui ayahmu untuk membahas proyek pariwisata di luar kota. Mengingat wilayahnya berada di kota kecil san belum terjangkau jaringan internet secara merata, aku sedang menawarkan siapa tahu ayahmu berminat untuk ikut kerjasama. Aku yakin daerah itu nantinya menjadi tempat wisata unggulan."


"Ahh!" Zack menutup mulutnya saat tidak sengaja suara d3sahannya keluar.


Bara mengerutkan dahi. "Kamu kenapa?" Ia merasa curiga dengan kondisi Zack. Sahabatnya itu sangat kelihatan sedang menahan sesuatu. Sesekali lelaki itu terlihat memejamkan matanya dan menghela napas panjang.


"Aku tidak apa-apa," jawab Zack dengan wajah yang memerah dan semakin mencurigakan untuk Bara.


Zack merasakan miliknya basah dan sedang dimanjakan oleh sesuatu yang lentur. Ia akui Emili memiliki skill di atas wanita-wanita yang pernah menjadi partner ranjangnya. Rasa nikmat yang Zack rasakan sampai di ubun-ubun.


"Bisa tidak kamu pulang dulu, Bar ... hari ini aku tidak mood untuk berbicara denganmu," usir Zack.


Di mata Bara, Zack semakin aneh. Lelaki yang sangat suka mencari-cari dia dan mengganggunya, tiba-tiba jadi anti sosial.


❤❤❤❤❤


Jangan lupa kasih like dan tinggalkan komen 😘

__ADS_1


**IG: Momoy Da***ndelion*


**FB: Momoy Da***ndelion*


__ADS_2