
"Mas Bara sudah selesai kerjanya?" tanya Retha. Ia masih berbicara dalam sambungan telepon.
"Sudah. Aku juga baru kembali ke kamar hotel. Tempat biasa kita tidur bersama."
Wajah Retha memerah. Setiap perkataan Bara terdengar memalukan, membuatnya teringat apa yang pernah mereka lakukan. "Kenapa Mas Bara belum tidur? Ini sudah larut malam."
"Aku belum bisa tidur. Apalagi tidak ada yang dipeluk."
Retha tertawa kecil. "Biasanya juga nggak ada."
"Setelah ada kamu kan beda."
"Mas Bara cepat tidur, besok kan harus kerja lagi. Aku juga akan tidur, soalnya besok masuk sekolah."
"Oh, iya. Kalau begitu aku mengalah saja meskipun sebenarnya masih ingin ngobrol. Tidur yang nyenyak, ya. Nice dream."
***
"Nih, kalau mau membuat kura-kura, kita buat bulatan besar ... lalu diratakan bagian bawahnya. Ini jadi cangkangnya ...."
Jam istirahat Retha berkumpul bersama beberapa muridnya membuat bentuk-bentuk dari lilin mainan. Mereka tampak antusias mengikuti contoh yang Retha berikan.
"Miss, apa seperti ini?" tanya salah seorang muridnya.
"Wah, bagus sekali, Manda!" puji Retha.
"Miss Retha, Kenzo membuat dinosaurus!" seru Jeno.
Retha melirik ke arah Kenzo. Anak itu memang suka beda sendiri membuat sesuatu lain dari yang diajarkan, tidak seperti teman-temannya.
"Dinosaurusnya bagus! Kalian juga bisa membuat bentuk yang lain dari mainan ini."
"Aku membuat cacing, Miss Retha." Emran menunjukkan hasil karyanya dengan bangga kepada gurunya.
Retha tak bisa menahan tawa melihat kelakuan anak itu.
__ADS_1
"Retha, Ibu Jihan menyuruhmu ke ruangannya sebentar," ucap Miss Ester dari balik pintu.
"Anak-anak, Miss Retha menemui kepala sekolah dulu, ya! Kalian main sendiri dulu. Ingat, tidak boleh bertengkar!"
Retha meninggalkan ruang kelasnya setelah memberikan pesan kepada muridnya. Ia merasa aneh Ibu Jihan kembali memanggilnya. Masalah uang sudah diselesaikan. Retha merasa tak lagi memiliki tanggungan kepada sekolah.
"Selamat siang, Bu."
Retha berdiri di depan pintu ruang kepala sekolah. Tampak Ibu Jihan tengah duduk di kursinya dengan raut wajah yang sedikit muram.
"Masuklah, Miss Retha."
Ibu Jihan menghela napas. Sesekali tatapannya mengarah pada Retha seolah ingin mengungkapkan sesuatu yang berat untuk dikatakan.
"Ada apa Ibu memanggil saya?" Retha sudah memiliki perasaan tidak enak saat Ibu Jihan terlihat malas untuk bicara.
"Apa benar seminggu lalu kamu pergi hanya untuk datang ke pernikahan teman?" tanya Ibu Jihan dengan tatapan yang serius.
Seketika debaran jantung Retha meningkat. Rasa cemas meliputi pikirannya. Ia punya firasat Ibu Jihan telah mengetahui apa yang dilakukannya di luar kota.
"Tapi kenapa kamu tidak memposting satupun fotomu bersama temanmu yang menikah itu di akun sosial media?"
Retha menghela napas perlahan. Ia tidak tahu jika kecurigaan Ibu Jihan akan mrngarah pada hal sepele semacam itu. "Saya tidak ada waktu untuk memegang ponsel karena terlalu sibuk di sana, Bu."
Ibu Jihan terdiam. Ia tampak membuka laci meja dan mengambil sesuatu dari dalam tempat tersebut. Saat Ibu jihan mengeluarkan beberapa lembar foto, Retha sudah tidak bisa berkutik lagi. Ibu Jihan memiliki foto saat dia keluar dari kontrakan Tiur. Ada juga foto saat ia mengenakan pakaian kerja di klab malam.
Akhirnya keburukan yang Retha coba tutupi terbongkar dengan sendirinya. Ia tidak menyangka ada orang yang tega membocorkan pekerjaannya kepada pihak sekolah.
"Retha, tolong jawab dengan jujur. Apa benar foto yang ada di sini memang benar-benar kamu? Atau hanya editan?"
Retha tertunduk. Ia tak kuasa menjawab tidak karena kenyataannya itu memang foto-fotonya. Sekalipun ia akan menutupinya kali ini, suatu saat juga pasti akan ketahuan.
"Saya berusaha untuk tidak mempercayai foto-foto ini, Retha. Entah siapa yang mengirimkannya kepada saya beberapa hari lalu. Tapi, kamu juga sepertinya tidak bisa mengelak akan hal ini."
"Saya minta maaf, Bu," lirihnya.
__ADS_1
Ibu Jihan terlihat kecewa mendengar kejujuran Retha yang menjadi guru kesayangannya. Menurut Ibu Jihan, Retha anak yang disiplin dan tekun. Meskipun memiliki masalah keluarga, tapi tidak mempengaruhi kualitas kerjanya.
"Kenapa kamu seperti ini, Retha ...." Ibu Jihan bertanya dengan nada kecewanya.
"Saya tidak ingin mengelak, Bu. Terus terang gaji dari sekolah masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya."
"Seperti yang Ibu tahu, ayah saya tidak bekerja. Beliau suka menghabiskan uang untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Bahkan tak jarang berhutang pada rentenir."
"Saya harus menanggung hutang begitu banyak karena ayah saya, sampai uang sekolah sempat terpakai. Bagaimana lagi saya menyelesaikan permasalahan keluarga jika tidak mencari solusi, Bu?"
"Saya bekerja di sana juga sebatas sebagai pengantar minuman."
"Lalu, kenapa kamu berada di kontrakan itu?" tanya Ibu Jihan.
"Saya tinggal menumpang di tempat teman saya di sana karena kontrakan saya sudah habis masanya dan tidak punya uang untuk memperpanjang."
"Adik saya yang SMA dan tinggal di asrama juga butuh banyak uang. Belum lagi uang sekolah yang harus saya kembalikan."
"Saya melakukan pekerjaan di sana bukan untuk memenuhi gaya hidup, Bu. Hanya sekedar untuk bisa bertahan hidup."
"Sebelum masuk ke sini, kamu pasti sudah tahu apa peraturan bagi pengajar yayasan kami." Ibu Jihan bisa memahami apa yang dialami oleh Retha. Namun, peraturan tetaplah peraturan. Ia ingin menegakkan apa yang sudah menjadi kesepakatan yayasan sejak belasan tahun lalu.
"Saya tahu dan saya sadar, Bu. Maaf kalau selama ini saya berbohong." Retha berbesar hati mengakui kesalahannya dan siap menerima resiko yang harus diterimanya.
"Kamu akan tetap saya keluarkan!" tegas Ibu Jihan.
Mata Retha berkaca-kaca. Menjadi seorang pengajar merupakan cita-citanya sejak dulu. Ia sangat bahagia bisa diterima sebagai pengajar di yayasan tersebut. Akan tetapi, ia juga menyadari bahwa perbuatannya bisa mencoreng lembaga yang sangat dicintainya. Mengingat perjuangannya selama ini di sana bersama guru-guru yang lain membuat air matanya tak tertahankan.
Ibu Jihan memberikan lembaran tisu kepada Retha. Ia sudah menganggap semua guru di yayasannya sebagai anak sendiri. Retha masih terlalu muda untuk menghadapi permasalahan besar yang dibuat oleh ayahnya. Sebagai rekan kerja, ia hanya bisa prihatin dan memberikan nasihat sebijak mungkin agar Retha tetap menjadi orang yang baik.
"Untuk terakhir kali, saya hanya bisa membantumu untuk menutupi hal ini. Kamu bisa mengajukan surat pengunduran diri supaya kami bisa melepasmu dengan terhormat dari yayasan ini."
Retha masih terus terisak. Dibalik kesedihannya, ia juga bersyukur dipertemukan dengan orang sebaik Ibu Jihan. Sejak awal bertemu, ia mendapatkan banyak bimbingan dan bantuan darinya.
Meninggalkan yayasan mungkin sesuatu hal yang sangat berat untuk dilakukan. Namun, ia tidak boleh mengorbankan posisi Ibu Jihan sebagai kepala sekolah karena sering membantunya. Pasti ada orang yang ingin menjatuhkannya. Jika ia tidak mengalah, orang jahat itu akan mengincar yayasan atau Ibu Jihan.
__ADS_1