Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Kecemburuan Yoga


__ADS_3

Yoga masih menunggu di depan gedung perusahaan. Ia sudah berada di sana sejak satu jam lalu untuk menjemput istrinya. Saat satu per satu karyawan pulang, ia belum melihat istrinya keluar. Hingga lampu di area atas perusahaan telah dimatikan, iatrinya tak kunjung keluar.


Ucapan Ira selama di kantor semakin membuatnya curiga kalau sang istri menyembunyikan sesuatu. Bisa jadi Citra memang sedang menjalin hubungan khusus dengan lelaki lain di sana.


Rasa tidak sabar menunggu membuat Yoga akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Ia akan menanyakan kepada petugas keamanan yang tampak masih berjaga di depan lobi.


Betapa terkejut dirinya saat tiba di area lobi, ia melihat istrinya sedang berjalan bersebelahan dengan seorang lelaki. Dari cara berpakaiannya bisa ditebak jika lelaki itu memiliki jabatan tinggi di perusahaan tersebut.


Gemuruh kecemburuan mulai memenuhi dadanya. Yoga mengepalkan tangan menyaksikan istrinya bersama lelaki lain yang berwajah tampan dan lebih keren darinya. Ia rasa ucapan Ira benar, istrinya lembur karena lelaki itu.


"Mas Yoga!" Citra terkejut saat melihat kehadiran suaminya di sana. Ia kira Yoga tidak bisa menjemputnya karena harus lembur juga. Ternyata, sang suami sudah berada di depan pintu lobi untuk menjemputnya. Buru-buru ia mempercepat langkah menghampiri sang suami.


"Katanya Mas tidak bisa jemput," ucap Citra. Ia kaget sekaligus senang karena dijemput suaminya sendiri.


Yoga memberikan tatapan dingin kepada Hendry. Ia tidak terima istrinya dekat-dekat dengan lelaki lain.


"Ayo kita pulang sekarang!" ajak Yoga.


"Pak, saya pulang dulu," pamit Citra kepada Hendry.


Hendry hanya mengangguk. Ini pertama kalinya bertemu dengan suami Citra. Akhirnya ia tahu seperti apa lelaki beruntung yang bisa menjadi pendamping Citra.


Ada sedikit kekecewaan di hatinya, mengapa mereka dipertemukan saat sama-sama telah menikah. Ia kira tidak akan pernah bisa bertemu dengan Citra lagi selepas lulus SMA. Ternyata mereka kembali dipertemukan dalam kondisi yang tidak memungkinkah untuk bersama.


Tidak bisa dipungkiri, Hendry pernah memiliki rasa kepada Citra saat SMA. Wanita menarik yang sedikit pemberani itu sudah mencuri perhatiannya sejak awal masa orientasi siswa.


Kembali bertemu Citra seakan membuat semangat hidupnya kembali. Ia yang sedang mengalami masalah rumah tangga bisa melupakan sejenak beban pikirannya setiap kali berhasil menjahili Citra.


Memang, setiap kali bertemu Citra hasrat untuk mengganggunya tumbuh. Ia seakan kembali pada masa SMA yang menyenangkan.

__ADS_1


Ia sudah sering menunjukkan rasa ketertarikannya kepada Citra, namun sepertinya wanita itu hanya menganggap apa yang dilakukannya sebagai pengganggu. Citra membenci dirinya, baik dulu maupun sekarang.


Citra sesekali memandangi suaminya yang sedang fokus menyetir. Ia merasa Yoga sedang marah kepadanya. Sejak tadi sang suami tidak mengajaknya berbicara sepatah katapun. Perjalanan yang mereka lalui penuh dengan keheningan.


Hingga mereka sampai di rumah, Yoga tak mengucapkan sepatah katapun. Tak ada yang bisa Citra lakukan selain mengikuti suaminya hingga masuk ke dalam kamar.


"Mas ...."


"Siapa lelaki itu?"


Belum selesai Citra berbicara, Yoga sudah lebih dulu melayangkan pertanyaan yang arahnya sudah bisa dibaca akan kemana.


"Dia manajer baru di kantor yang aku ceritakan, Mas," jawab Citra jujur.


Yoga tidak begitu saja mempercayai istrinya. "Apa yang kalian lakukan berdua di kantor yang gelap sampai larut malam?"


Tergambar jelas jika Yoga sedang cemburu. Ia mencurigai sang istri berbuat hal tidak senonoh dengan atasannya di dalam kantor.


"Kamu masih kerja setelah orang lain pulang? Kerja apa? Memuaskan bosmu yang tampan itu, hah!" Yoga berbicara dengan nada suara yang meninggi.


Citra sangat syok dengan tuduhan yang Yoga berikan. Ia tidak menyangka sang suami bisa memiliki pikiran begitu buruk tentang dirinya.


"Jangan-jangan karena ini kamu tidak mau berhenti kerja. Pasti menyenangkan punya bos setampan dia. Sebelum pulang kamu kasih jatah dulu padanya?"


Plak!


Citra tidak tahan dengan ucapan Yoga. Ia kelepasan menampar suaminya sendiri agar berhenti berbicara buruk tentangnya. "Aku sudah bilang kalau pekerjaan kantor sedang banyak, Mas! Bisa-bisamya kamu menuduhku seperti itu!" Citra tidak terima difitnah sesuatu yang tidak dilakukannya. Jangankan memiliki niatan untuk dekat dengan Hendry, satu ruang kerja dengan lelaki itu saja dia sudah malas.


Yoga memegangi pipinya yang ditampar sang istri. "Satu jam aku menunggumu di sana. Saat karyawan lain sudah pulang, kenapa kamu masih di dalam bersama bosmu berduaan? Siapa yang tahu apa yang kalian lakukan."

__ADS_1


"Aku berani sumpah tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Pak Hendry, Mas! Aku hanya melakukan pekerjaanku saja."


"Semua orang bisa berkata sesukanya untuk menutupi kebohongan. Sudah berapa lama kamu mengkhianati aku?" Yoga menatap Citra dengan penuh amarah. Ia terus maju seakan ingin menghabisi istrinya sendiri.


"Sumpah, aku tidak pernah berbuat yang tidak-tidak di luaran sana, Mas!" Citra memundurkan langkah. Ia ketakutan melihat raut wajah suaminya yang berubah menakutkan.


"Jangan bohong!" bentak Yoga. Kamu pasti memanfaatkan kemandulanmu untuk menggoda lelaki lain. Kamu tahu kalau kamu tidak akan bisa hamil makanya bisa bebas jadi pemuas ranjang lelaki manapun di luaran sana, kan?"


Tuduhan Yoga sudah sangat keterlaluan. Citra sampai menangis saking sakit hatinya mendengar ucapan Yoga. "Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan, Mas ...." Citra berkata sembari menitihkan air mata.


"Citra, aku mengizinkanmu kerja untuk menyenangkan hatimu, bukan untuk bermain api dengan lelaki lain di luar sana. Aku sungguh kecewa terhadapmu."


"Kenapa istri yang sangat aku cintai ini bisa berkelakuan seperti wanita murahan di luaran sana?"


Citra menggeleng, menolak segala tuduhan yang ditujukan kepadanya.


Yoga membuka paksa pakaian Citra. "Aku ingin tahu di mana lelaki itu menyentuhmu. Dia pasti senang sekali bisa bebas mengeluarkan benihnya di rahimmu. Soalnya kamu wanita mandul, tidak akan bisa punya anak."


Yoga terus mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Citra sudah tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa terisak membiarkan sang suami mengecek sendiri tubuhnya agar lelaki itu puas.


"Tadi kalian berapa kali melakukannya sebelum pulang? Apa kalau aku tidak datang kalian akan lanjut sampai pagi?" tanya Yoga sinis. Ia semakin kesal karena Citra tak menjawabnya, malah menangis. Ia tak akan terpancing dengan air mata buaya yang dikeluarkan oleh istrinya.


Yoga melucuti satu per satu pakaian yang Citra menakan dengan perasaan emosi. Ia meneliti dengan seksama mencari bekas-bekas yang mungkin ditinggalkan oleh lelaki lain di tubuh istrinya. Namun, ia tidak menemukan apapun. Bisa saja lelaki itu sangat berhati-hati agar tidak ketahuan sehingga tidak meninggalkan bekas.


Ia belum puas sampai berlanjut mengecek bagian paling privasi istrinya. Tempat itu tidak akan bisa bohong jika memang ada lelaki yang telah menyentuh istrinya. Ternyata, dugaannya salah. Tempat yang disentuhnya terasa kering.


Seketika ia tersadar jika dirinya telah bersikap keterlaluan kepada Citra. "Mandilah! Setelah itu, langsung tidur!" perintah Yoga.


Tanpa meminta maaf atau mengatakan hal lain, Yoga keluar begitu saja meninggalkan Citra yang sudah ia te.lan.jangi.

__ADS_1


Citra semakin menangis sesenggukan sembari meringkuk bersandar pada dinding. Ia sangat kecewa dengan perbuatan yang telah suaminya lakukan kepadanya.


__ADS_2