
"Daddy ...."
Kenzo berlari menghampiri sang ayah yang baru saja muncul dari pintu masuk hotel. Anak itu langsung memeluk sang ayah yang selama dua minggu ini tidak bisa dijumpainya.
"Apa kabar jagoan Daddy ini?" tanya Bara sembari menciumi putra kesayangannya.
Wajah anak itu langsung berubah cemberut. Tatapan matanya seakan ingin mengadu kepada ayahnya. "Dad ... kapan pulang? Daddy harus pulang sama Kenzo."
"Nanti, kalau urusan Daddy di sini sudah selesai juga akan pulang, kok. Daddy masih sibuk, Sayang ...." Bara mencoba memberikan pengertian.
"Kenzo perlu Daddy ... bilang Miss Retha supaya kembali ke sekolah. Pokoknya Kenzo nggak mau sekolah kalau tidak ada Miss Retha," rengeknya. Seperti yang ibunya bilang, Kenzo terus mencari-cari Retha, guru kesayangannya.
"Anakmu seperti itu terus kalau disuruh sekolah, Bara. Mama juga sudah bosan menasihatinya," ucap Ratih.
Bara mengangkat Kenzo dalam gendongannya. Ia mencium tangan sang ibu seraya memeluknya.
"Kondisimu sudah membaik sekarang?"
"Bara kan sudah bilang kalau Bara tidak apa-apa. Kita duduk dulu, Ma." Bara mengajak ibu dan anaknya duduk di salah satu sudut sofa lobi hotel.
"Syukurlah, mama bisa melihat langsung kondisimu jadi lega."
"Siapa yang mengantar Mama ke sini?"
"Siapa lagi kalau bukan Aryo. Mikha dana anak-anaknya juga sedang ada di sini. Tapi besok kami juga sudah pulang lagi."
Bara berpikir sejenak. Ternyata ada adiknya juga di sana. Kemungkinan ia tidak bisa memenuhi janjinya untuk jalan-jalan berdua dengan Retha. Kalau mereka nekad, bisa-bisa adik atau ibunya akan memergokinya.
"Kamu kenapa, Bar? Seperti orang sedang bingung?"
Pertanyaan sang ibu membuat lamunannya seketika buyar. Ia buru-buru bersikap biasa. "Nggak apa-apa, Ma. Aku kan sudah bilang sedang ada banyak kerjaan,"
"Dari dulu kerjaan terus yang kamu pikir. Memangnya kamu masih kurang cukup kaya? Nikmati hidupmu sedikit jangan hanya kerja, kerja terus. Sampai anakmu sendiri juga tidak terurus," sindir Ratih.
Bara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi salah tingkah mendengar perkataan ibunya. Sebenarnya kegalauan terbesarnya karena khawatir tidak bisa menikmati masa bersenang-senangnya dengan seorang wanita yang kini terus memenuhi pikirannya. Ada sedikit rasa bersalah pada Kenzo karena dirinya sejenak melupakan anak yang biasanya ia rindukan.
"Bagaimana pertemuanmu waktu itu dengan Thea? Kamu belum cerita kan sama Mama?"
Akhirnya pertanyaan yang tak ingin ia dengar keluar juga. "Aku tidak tertarik dengannya, Ma. Dia juga tidak tertarik dengan Bara. Kami sama-sama tidak cocok."
"Kata siapa? Thea beberapa kali datang ke rumah mengunjungi mama. Paling kamu yang terlalu dingin sampai Thea bilang dibuat kurang nyaman dekat denganmu."
__ADS_1
'Wanita itu ...,' batin Bara. Ia jadi geram pada Thea. Sudah sangat jelas tujuannya mendekati ibunya, pura-pura meminta dijodohkan hanya untuk bisa mengolok-oloknya.
"Mama mau menginap dimana? Apa mau menginap di sini biar Bara pesankan satu kamar tambahan." Bara sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Ia sedang tidak ingin mendengarkan rencana perjodohannya.
"Tidak perlu! Mama sudah dipesankan kamar hotel oleh Mikha. Tujuan mama ke sini juga untuk melihat kondisimu, kalau kamu baik-baik saja, mama juga lega."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertiga makan siang dulu?"
"Mama juga sudah makan siang dengan Kenzo di tempat Mikha. Ini mama mau kembali lagi, tadi Eril nangis karena mama tinggal."
"Bara panggilkan sopir untuk mengantar mama."
"Di depan sudah ada sopir Aryo, kok. Kamu cepat selesaikan saja urusannya dan pulang ke rumah!" Ratih terus menggerutu karena sang anak sepertinya tidak peka kalau ia ingin putranya pulang hari itu juga. "Kenzo, kita pulang sekarang, ya ... Daddy masih ada kerjaan," bujuk Ratih.
"Tidak mau!" Kenzo memeluk sang ayah dengan posesif. Ia masih ingin bersama ayahnya.
"Ayahmu nanti tidak bisa fokus kerja kalau ada kamu."
"Kenzo nggak akan ganggu Daddy kok! Kenzo masih mau sama Daddy ...." Kenzo merajuk sembari mengeratkan pelukannya.
"Besok kita kan mau pulang, Sayang ...." Ratih masih berusaha membujuk cucunya.
Bara agak pusing menghadapi putranya. "Ma, biarkan Kenzo bersamaku dulu hari ini. Besok aku antar ke tempat Mama siapa tahu dia mau dibujuk supaya pulang."
"Ya sudah kalau begitu terserah kamu saja. Mama mau kembali sekarang."
Bara mengantarkan sang mama pulang bersama sopir adik iparnya. Kenzo masih bergelayut manja dalam pelukannya.
"Daddy, ayo pulang ... kita cari Miss Retha sama-sama supaya mau ke sekolah lagi ...." Kenzo kembali merengek.
"Memangnya kamu sangat menyukai Miss Retha?" tanya Bara.
Kenzo mengangguk.
'Daddy juga suka Miss Retha, Kenzo,' batinnya. Sepertinya ayah dan anak itu menyukai wanita yang sama.
Bara mengambil ponselnya untuk menghubungi Zack. Ia menyuruh Zack mengantar kembali Retha ke kamarnya. Ibunya sudah pulang, menurutnya akan aman kalau mempertemukan anaknya dengan retha.
"Kenzo mau ketemu Miss Retha?" tanyanya.
"Mau ...."
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita bertemu Miss Retha sekarang."
Kenzo mengernyitkan dahi. "Memangnya Miss Retha ada di sini?" tanyanya.
"Daddy kan bisa melakukan apa yang Kenzo mau. Kalau Kenzo ingin bertemu Miss Retha, akan Daddy kabulkan!"
"Yeay!" Kenzo bersorak kegirangan.
Bara membawa putranya menaiki lift menuju kamar. Sepanjang jalan Kenzo tak henti-hentinya mengoceh menceritakan tentang pengalamannya bersama Miss Retha di sekolah. Bara hanya bisa mendengarkan. Putranya benar-benar mengagumi sosok wanita itu.
Pikirannya menjadi bimbang. Selama tiga tahun sendiri, baru kali ini juga ia merasa desir-desir rasa yang tidak tidak biasa. Wanita itu mampu membuat hatinya tersentuh. Padahal ia sudah pernah bertekad untuk menikah lagi setelah Silvia mencampakannya.
Klek!
Pintu kamar terbuka. Tampak ada Retha dan Zack sedang duduk di sofa. Melihat kedatangan Bara bersama Kenzo, sedikit membuat mereka terkejut.
"Miss Retha ....!" seru Kenzo kegirangan. Ia memaksa turun dari gendongan Bara dan berlari memeluk guru kesayangannya.
Retha mematung. Ia tidak menyangka jika Bara akan datang membawa anaknya.
"Miss Retha, Miss Retha kenapa ada di sini?" tanya Kenzo penasaran.
Retha tersenyum kaku. "Miss Retha ada urusan di sini, Sayang. Kenzo apa kabar?"
"Kenzo tidak baik, Miss. Kenzo tidak mau sekolah karena tidak ada Miss Retha. Miss Retha lama tidak ke sekolah. Kenzo jadi kesal." Kenzo menggerutu mengeluarkan keluhannya di depan gurunya. Ia terlihat begitu bahagia bisa berjumpa dengan Retha.
"Kenzo tidak boleh seperti itu. Semua guru itu baik. Kalau Miss Retha sedang ada urusan, Kenzo bisa brlajar dengan guru yang lain dulu."
"Tidak mau! Kenzo maunya sama Miss Retha!"
"Bar, Retha guru anakmu, ya?" tanya Zack dengan raut wajah tercengang.
"Iya."
"Parah juga ya kamu. Apa kata ibu-ibu tukang gosip sekolah kalau tahu kamu mengencani guru anakmu sendiri," ucapnya dengan raut masih tidak percaya.
"Kalau bukan kamu yang membawanya ke sini, semua ini tidak akan terjadi," ucap Bara. Ia tak mau disalahkan.
"Tapi aku tidak berniat memberikannya padamu. Kembalikan Retha untukku!" Zack masih tidak mau kalah.
Bara mengacungkan kepalan tangannya yang membuat Zack menciut. "Masih ingat kan semua rahasiamu ada padaku?" ancamnya.
__ADS_1