Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Pelakor Licik


__ADS_3

"Makan-makan ...." seru Indah. Ia bersama Irul dan Friz datang ke ruangan membawa makanan dan minuman yang cukup banyak. Seluruh staf HRD sontak langsung berkumpul tanpa komando mengelilingi makanan yang baru saja datang.


"Gratis kan, Ndah?" tanya Lilis memastikan.


"Gratis, dong ... Ini dari Pak Hendry, sebagai permintaan maaf tidak memberikan kita oleh-oleh," ucap Indah dengan semangat.


Meja utama tempat merek biasa mengadakan rapat kini menjadi meja makan sementara. Ada kopi, jus, pizza, ayam goreng, dan donat berjajar di sana siap disantap. Semua tampak antusias ingin segera menicipi makanan yang baru datang tersebut.


Citra bersikap biasa saja. Ia hanya berdiri di belakang kerumunan, tidak terlalu ingin tahu apa yang sedang rekan-rekannya kerumuni.


Netranya memandang ke arah pintu ruangan manajer. Hendry tengah berdiri di sana memandangi para staf-nya. Sejenak pandangan mereka bertemu seraya bertatapan untuk beberapa waktu.


"Pak Hendry! Ayo ikut makan bareng kita!"


Seruan Indah membuat Hendry dan Citra saling membuang muka. Keduanya ikut bergabung dengan staf lain, mencoba berbaur dan berbincang-bincang sambil makan.


Baru kali ini ruang kerja HRD terasa seperti keluarga. Sebelumnya, jangankan untuk makan dan bercanda seperti hari ini, sekedar pergi ke toilet saat jam kerja saja bisa kena mara manajer sebelumnya. Mereka dituntut untuk bekerja sebaik mungkin tanpa alasan apapun.


Kehadiran Hendry di sana setidaknya membuat mereka merasa merdeka. Meskipun, awal-awal kedatangan Hendry, mereka juga harus kerja rodi. Tapi, itu semua juga tak lepas dari kesalahan manajer sebelumnya.


"Cit, kata Pak Mulyono sudah ada beberapa orang yang melamar untuk mengisi posisi di HRD," ucap Lilis sembari mengunyah pizzanya.


"Oh, iya? Aku malah tidak tahu," jawab Citra.


"Setahuku posisi di sini sudah penuh ya, Cit. Aku heran saja mengapa perusahaan malah membuka lowongan untuk divisi kita. Apa menurutmu akan ada yang dipecat salah satu dari kita?"


"Entahlah."


Citra sebenarnya sudah tahu jawabannya. Orang yang akan digantikan adalah dirinya. Dia sudah mengajukan pengunduran diri sejak satu bulan lalu. Antara sedih dan bahagia, ia menantikan momen resign-nya.


Ia merasa sudah cukup adil terhadap perusahaan. Ia harus menerima sikap dingin Yoga karena belum juga berhenti dari sana. Setelah ia keluar, Citra yakin hubungannya dengan Yoga akan membaik. Ia akan lebih berusaha menjadi seorang istri yang bisa membahagiakan suami.


"Kamu kan yang sering masuk ke ruangan Pak Hendry, masa nggak tahu, Cit?" desak Lilis.


"Memang aku tidak tahu, Lis. Memangnya apa juga gunanya kita tahu sekarang? Kalau ada yang harus dipecat nanti kita juga tahu sendiri."

__ADS_1


"Takutnya aku yang dipecat, Cit. Kalau tahu kan bisa siap-siap."


"Kamu tidak akan dipecat. Kamu kan pegawai yang rajin," ucap Citra enteng.


"Kalau bukan Pak Hendry yang bicara, aku tidak akan percaya."


"Lalu kenapa tanya kepadaku?" tanya Citra kesal.


"Aku kira kan kamu tahu."


Lilis mengambil ponselnya yang bergetar. Tampak ada pesan masuk berasal dari orang yang tidak disukanya.


"Kenapa, Lis? Kok mukanya jadi cemberut? Pesan dari siapa?" tanya Citra ingin tahu.


"Ck! Biasa ... Dari Jaka!" jawab Lilis dengan nada kesal.


"Mungkin mau ajak jalan bareng akhir pekan. Cie cie ...," goda Citra.


Dengan perasaan kesal, Lilis tetap membuka pesan dari Jaka. Saat pesan itu terbuka, ada beberapa gambar yang Jaka kirimkan kepadanya. Segera ia download gambar tersebut karena opsi download otomatis tidak ia nyalakan.


Ini suami Citra, bukan? Aku melihat mereka di rumah sakit. Wanita di sebelahnya siapa? Apa adik ipar Citra?


Setahu Lilis, Yoga memiliki dua orang adik perempuan. Satu sudah menikah dan yang satu masih kuliah.


"Cit ...," panggil Lilis.


Citra yang sedang memakan donatnya sampai keheranan dengan Lilis. "Kenapa sih? Mukanya kok serius banget."


Lilis mengirimkan foto-foto tersebut ke nomor Citra. "Buka, Cit. Itu foto yang Jaka kirimkan padaku," ucapnya dengan nada lemas.


Dengan raut keheranan, Citra membuka pesan yang Lilis kirimkan padanya. Ia terdiam saat melihat foto-foto tersebut. Rasanya tidak percaya jika di antara suaminya dan Ira ada hubungan. Yang ia yakini selama ini mereka hanya sahabat yang kebetulan kenal sejak kecil.


Sangat jelas foto tersebut memperlihatkan kemesraan suaminya dengan Ira. Tidak mungkin jika mereka hanya berteman, tapi di foto tampak Ira mencium pipi Yoga.


Citra menghela napas. Ia sadar masih berada di kantor, tidak boleh ada yang melihatnya menangis.

__ADS_1


"Dia siapa, Cit?" tanya Lilis dengan nada lirih. Ia lirik teman-teman yang lain masih asyik bercengkrama dengan Pak Hendry.


"Teman Mas Yoga, Lis," jawab Citra. Meskipun perasaannya hancur, ia berusaha untuk tetap bersikap tenang.


"Masa teman sikapnya begitu? Kelihatan banget kalau dia seperti pelakor yang mau merebut suamimu, Cit!"


Ucapan Lilis membuatnya berpikir kembali. Waktu ada acara makan malam di rumah Yoga, tiba-tiba saja wanita bernama Ira itu ada di sana. Tanpa rasa malu, wanita itu berbaur dengan keluarga Yoga. Bahkan terlihat menikmati saat ibu mertua dan iparnya menjelek-jelekkan dirinya.


"Lis, Orang tua Jaka dirawat di rumah sakit mana?" tanya Citra.


"Di rumah sakit dekat sini saja, Cit. Rumah sakit XXX. Kamu mau ke sana?" tanya Lilis balik.


Dada Citra seakan bergemuruh. Jam kerja masih lama. Ia tidak sabar untuk memastikan sendiri foto-foto tersebut. Apalagi letak rumah sakit sangat dekat dengan kantornya.


Citra bangkit dari duduknya menuju meja kerjanya. Ia mengemasi barang dan memasukkan ke dalam tas. Lilis yang melihat gelagat aneh temannya ikut mengejar.


"Cit, jangan nekad. Bisa jadi Jaka salah," ucap Lilis.


"Salah atau benar, biar aku sendiri yang membuktikannya, Lis. Aku tidak bisa menunggu lagi." Wajah Citra memucat. Ia benar-benar syok melihat foto kemesraan suaminya dengan wanita lain. Selama sebulan terakhir, Yoga bahkan tidak sudi bersentuhan dengannya. Bisa-bisanya Yoga bersikap biasa saat ada wanita yang bergelayut manja padanya.


"Cit ... Biar aku temani!" Lilis masih berusaha menghalangi.


"Aku bisa mengatasinya sendiri, Lis."


Citra sudah membulatkan tekad untuk melabrak wanita yang berani merusak rumah tangganya. Ia tidak akan membiarkan harga dirinya sebagai istri sah diinjak-injak oleh wanita murahan yang dekat dengan suami orang tanpa status yang jelas.


Citra berjalan mendekati Hendry yang sedang tertawa-tawa dengan staf lain. "Maaf, Pak," Citra menyela pembicaraan Hendry.


Hendry mengalihakan perhatiannya pada Citra. Ia heran wanita itu sudah menenteng tas padahal masih siang. "Kamu mau kemana?" tanyanya.


"Saya mau izin pulang karena kurang enak badan, Pak."


Dari wajahnya memang Citra terlihat lesu. "Apa kamu butuh diantar?"


"Tidak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri. Maaf sebelumnya." Citra berpamitan kepada Hendry selaku manajer di sana.

__ADS_1


Langkahnya terlihat memburu. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan wanita perusak rumah tangga orang itu.


__ADS_2