
"Sayang, apa kamu lupa kalau suamimu sekarang ada di sini? Apa aku harus mengingatkanmu setiap hari agar kamu tidak lupa? Aku suamimu, ayah dari bayi yang ada di dalam perutmu."
Ucapan Hendry membuat Citra tersadar. Ia merasa bodoh dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Maafkan aku," ucap Citra.
Wanita itu menundukkan kepalanya tak berani memandang wajah sang suami yang tengah memberikan tatapan tajam kepadanya. Ia sendiri menyadari telah melakukan kesalahan.
"Kenapa ... Kita berhenti di sini?" tanya Citra.
"Bukankah kamu sedang merindukan rumah itu? Atau ... Kamu merindukan lelaki yang baru saja keluar itu?" tanya Hendry dengan nada kesalnya.
Entah mengapa batas kesabarannya hari ini telah habis. Hatinya terasa panas melihat istrinya masih menaruh perhatian dengan mantan suaminya.
Ia yang berusaha mati-matian menampilkan perannya sebagai suami yang baik bahkan tidak pernah istrinya pedulikan. Keberadaannya bagaikan angin lalu yang terabaikan. Hendry yang selalu berusaha, sementara Citra terlihat hanya jalan di tempat.
"Kamu jangan salah paham. Aku tidak berminat untuk kembali lagi padanya," ucap Citra dengan nada khawatir. Baru kali ini ia melihat Hendry marah kepadanya dan raut wajahnya terlihat menyeramkan.
"Kamu menginginkan rumah itu kembali? Aku bisa mendapatkannya untukmu!" Hendry masih menatap marah pada Citra.
Citra menggeleng.
"Atau jangan-jangan kamu ingin kembali lagi padanya?" tebak Hendry. "Untuk yang satu itu, aku tidak bisa melakukannya!" tegasnya.
Hendry langsung menjalankan kembali mobilnya. Ia mengambil arah memutar menuju ke jalan semula. Ia tidak jadi mengantarkan Citra membeli lumpia di daerah sana.
Diri Hendry sudah dipenuhi amarah. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti orang kesetanan. Jalannya pun ugal-ugalan. Permintaan Citra untuk berhenti tidak digubris. Wanita itu berpegangan kencang karena ketakutan dengan gaya menyetir Hendry.
Sampai di basement apartemen, Hendry baru menghentikan mobilnya. Ia menarik tangan Citra untuk buru-buru masuk ke dalam private lift yang langsung terhubung dengan unit apartemen mereka.
__ADS_1
"Pak, pelan-pelan ... Apa kamu lupa kalau aku sedang hamil?" keluh Citra yang sedari tadi harus setengah berlari mengikuti pergerakan Hendry.
Ucapan Citra tak menyurutkan Hendry bersikap kasar. Ia tetap menarik istrinya untuk mengikuti langkahnya ke dalam kamar. Ia dorong tubuh Citra ke atas ranjang.
"Bapak apa-apaan, sih?" tanya Citra. Ia begitu syok dengan perlakuan Hendry yang sudah di luar kebiasaan.
"Pak? Bapak? Apa kamu masih menganggapku sebagai atasan saat kita di rumah?" Hendry kesal dengan panggilan itu. Ia yang sudah membiasakan diri memanggil istrinya dengan sebutan 'Sayang', sementara sang istri masih saja keceplosan memanggilnya 'Pak'.
"Memang sepertinya aku harus memberitahumu siapa sebenarnya suamimu sekarang!"
Hendry melepaskan jaketnya dan membuangnya sembarang. Ia juga melepaskan ikat pinggang serta membuka kancing kemejanya secara kasar.
Citra menjadi gugup. Ia beringsut mundur saat Hendry berusaha mendekatinya dengan ekspresi wajah menyeramkan. "Kita sudah sepakat tidak akan melakukan hubungan badan selama pernikahan." Citra berusaha mengingatkan kembali Henry pada perjanjian yang telah mereka sepakati.
Hendry hanya menyeringai. "Sepakat? Kita juga sepakat untuk saling memberikan nama panggilan 'Sayang' saat di rumah. Apa kamu pernah melakuannya? Kesepakatan hanya omong kosong belaka!" sindir Hendry.
Citra terdiam. Meskipun sekarang mereka sudah bisa berbicara dengan bahasa yang lebih santai, namun Citra memang tidak bisa memanggil Hendry dengan sebutan itu.
Citra berusaha kabur turun dari atas ranjang. Sayangnya, Hendry kembali berhasil menangkap dan menindihnya. Kedua tangan Citra ditahan dengan kuat sampai wanita itu tak berdaya dibuatnya.
"Kamu tidak merasa khawatir dengan bayi di perutku? Cepat menyingkir!" teriak Citra.
Hendry masih menampakkan wajah datarnya. Kecemburuan yang membara tidak bisa membuatnya berpikir dengan logika.
"Kenapa aku harus peduli? Selama ini aku sudah berusaha melakukan peranku dengan baik sebagai suami apa kamu pernah peduli?" tatapan mata Hendry begitu tajam mengintimidasi. "Di matamu aku selalu menjadi orang yang buruk, kan? Aku akan memperlihatkan kepadamu betapa buruknya diriku!"
Hendry menunjukkan sikap pemaksa dan ketidaksabarannya. Ia berusaha melepas paksa pakaian yang masih melekat di tubuh Citra. Semakin wanita itu memberontak, ia semakin ingin memaksanya. Bahkan dengan agresif ia mencium paksa bibir istrinya.
Citra merasa tidak bisa mengimbangi kekuatan suaminya. Dalam kondisi marah, sang suami membuatnya semakin tidak berdaya. Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dengan brutal lelaki itu menyisir wajahnya dengan ciuman yang bertubi-tubi. Hendry benar-benar sudah tidak peduli dengan kondisi kehamilannya.
__ADS_1
Sesekali ia merasa perutnya terjepit. Ia menjadi panik takut terjadi apa-apa dengan kandungannya. Meskipun janin di rahimnya ada dengan cara yang tidak biasa, namun ia sangat ingin mempertahankannya. Ia terus merajuk agar Hendry berhenti. Lelaki itu tak mau mendengarnya.
"Hentikan!" seru Citra saat ciuman Hendry sudah mencapai ceruk lehernya. "Aku mau melakukannya!" serunya lagi karena Hendry masih juga belum mau berhenti.
Hendry yang mendengar hal tersebut menghentikan ciumannya. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan. Ia melihat raut kepasrahan yang terpancar dari wajah istrinya.
"Ayo kita lakukan. Tapi, hati-hati dengan kandunganku," ucap Citra.
Mendengar perkataan Citra kemarahan Hendry mereda. Raut wajahnya berubah. Ia bangkit dari atas Citra dan membantu istrinya duduk. Kedua mata mereka kembali bertemu.
Dengan tampak malu-malu Citra melepaskan sendiri pakaiannya di depan Hendry satu demi satu. Lelaki itu tampak tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Dari pakaian luaran hingga bagian dalam ia tanggalkan tanpa menyisakan apapun.
Suasana seketika hening. Hendry tertegun melihat istri yang kini ada di hadapannya. Meski dengan cara memaksa ia tetap terkesima memandangi lekukan tubuh indah yang selama ini ia bayangkan.
Ada sedikit rasa bersalah di hatinya telah membuat Citra terpaksa mau melakukannya. Namun, ia tidak bisa terima jika sang istri masih memikirkan masa lalu, sementara ia selalu ada di sampingnya.
Citra menjadi kikuk sendiri. Ia telah menanggalkan seluruh pakaiannya, namun lelaki itu hanya tertegun memandanginya saja.
"Jangan ditutupi!" perintah Hendry ketika Citra hendak menyilangkan kedua tangannya di dada. "Biarkan saja, aku ingin melihatnya."
Hendry melepaskan celananya yang menjadi kain terakhir yang melekat di badannya. Citra memalingkan muka tak berani memandang ke arah suaminya.
Hendry kembali merebahkan Citra di atas ranjang. Kali ini dengan gerakan yang hati-hati dan penuh kasih.
"Hati-hati dengan bayinya," kata Citra mengingatkan. Ia sudah pasrah dengan apa yang nantinya akan terjadi di antara mereka.
"Tenang saja, aku bisa melakukannya dengan baik," ucap Hendry.
***
__ADS_1
Bersambung dulu, ya .... 😘
Boleh komentar dong, saran novel baru kalian mau author menulis tentang siapa? Cerita apa yang ingin kalian baca kelanjutannya?