
"Bar ... Mikola meninggal di penjara."
Jantung Bara seakan mau copot saat mendengarkan ucapan Hendry di telepon. Dia menyuruh Hendry untuk menggantikannya menjenguk Mikola, sementara dirinya baru saja mengunjungi nenek Mikola di sebuah panti lansia.
Wajahnya terlihat memucat setelah menerima kabar tersebut. Ia tidak tahu caranya memberi tahu kepada wanita tua, keluarga satu-satunya Mikola.
"Mas, kamu kenapa? Kok nggak masuk mobil? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Retha sembari melongok lewat pintu mobilnya yang masih terbuka. Sesekali ia menggoyang-goyang tubuh mungil Janu yang ada di pangkuannya. Anak bayi itu sedang tidur.
"Ah, tidak ada apa-apa," ucap Bara sembari mengulaskan senyuman. Ia mendekati istrinya, memberikan kecupan kepada wanita itu dan juga anaknya. "Kalian pulang duluan, ya! Aku masih ada urusan," katanya.
Retha menatap heran suaminya. Ia merasa ada yang aneh. "Apa ada masalah?" tanyanya memastikan.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya sedikit urusan bisnis. Nanti kalau sudah selesai, aku akan langsung pulang."
Sebenarnya Retha tidak tenang mendengar perkataan Bara. Namun, ia sedang membawa bayinya yang perlu segera beristirahat di rumah. Ia tidak membawa serta baby sitter Janu.
"Pak Diman, antar Ibu ke apartemen, ya!" pinta Bara.
"Baik, Pak."
Bara menutup pintu samping mobil. Ia melihat tatapan sang istri yang tampak tidak mau meninggalkannya. Ia hanya mengulaskan senyum agar Retha tidak khawatir padanya.
Tak lama setelah mobil yang Retha naiki pergi, salah seorang anak buahnya datang menjemput. Ia segera menaiki mobil tersebut dan menyuruh sang sopir mengantarnya ke tahanan tempat Mikola berada.
__ADS_1
Bara setengah berlari memasuki area lobi rumah tahanan yang pernah menjadi tempatnya mendekam selama beberapa bulan akibat fitnah. Di tempat itu juga Mikola ditahan.
Saat ia melihat Hendry sedang berbincang dengan seorang polisi, ia segera mendekat.
"Ah, Bar! Akhirnya kamu datang juga," ucap Hendry.
"Bagaimana?" tanyanya cemas.
"Mikola meninggal. Seseorang telah menusuknya dengan pisau yang dilumuri racun," jawab Hendry dengan raut diliputi kesedihan.
"Mikola dibunuh?" tanya Bara memastikan.
Hendry mengangguk pelan. Bara mengepalkan jemarinya dengan erat. Rasanya ia ingin mengamuk mengetahui ada yang berani mengusik keberadaan Mikola.
Meskipun Mikola sudah pernah mengkhianatinya, ia tetap menganggapnya sebagai keluarga. Mikola orang yang selalu ada baik dalam puncak karir maupun masa terpuruknya.
"Aku ingin melihat Mikola," kata Bara dengan nada lemas.
Hendry dan polisi tersebut mendampingi Bara menuju ke sebuah ruangan tempat jenazah Mikola disemayamkan.
Langkah kaki Bara terasa semakin berat saat mendekati peti yang ada di hadapannya. Dalam dirinya sudah sangat bergemuruh seakan ingin meluapkan kesedihannya. Ia masih menahan diri agar bisa kuat dan tidak menangis.
Jasad Mikola ada di dalam peti mati yang hanya tertutup kain putih yang tipis. Sekilas mereka bisa samar-sama melihat sosok yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Perlahan Bara menyibakkan kain tersebut. Ia melihat wajah Mikola dengan jelas. Wajah yang telah dirias dengan sangat tampan, namun tetap terlihat pucat dengan mata terpejam.
Bara tidak sanggup lagi menahan kesedihannya. Tangisannya pecah melihat orang yang disayanginya meninggal. Padahal, Mikola sudah berjanji padanya akan bertahan sampai dirinya keluar dan kembali menjadi orang kepercayaan bara.
Hendry dan polisi tersebut sengaja diam membiarkan Bara mengekspresikan kesedihannya.
"Siapa kira-kira pelakunya?" tanya Bara saat tangisannya telah mereda.
"Kami masih melakukan penyelidikan, Pak. Sampai saat ini belum bisa ditentukan siapa pelakunya, jawab sang polisi.
Hendry memberi kode kepada polisi tersebut agar memberikan waktu untuk dirinya dan Bara bicara berdua di sana.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Hendry.
"Aku akan mengurus prosesi kremasinya. Aku masih tidak tega jika menyampaikan kabar ini kepada neneknya. Mikola tidak memiliki keluarga lagi selain neneknya."
"Kamu tetap harus menyampaikan kabar ini. Bagaimanapun juga, neneknya berhak tahu kondisi cucunya."
Hendry mangguk-mangguk. "Pak Rudy sudah ditahan, Bar. Sekilas tadi aku melihatnya di ruang tahanan sementara."
***
Sorry for slow up date
__ADS_1
Up coming, nantikan 😘