Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Pahlawan Tersembunyi


__ADS_3

"Loh ...." Ibu Hana tampak terkejut saat melihat kedatangan Citra bersama Hendry.


Hendry menaruh telunjuknya di mulut, memberi kode agar wanita tersebut diam. Hana paham dan akhirnya langsung mengabaikan Hendry. Fokusnya kini beralih pada Citra.


Hana memeluk Citra sembari mengelus punggungnya. Ia mempersilakan Citra dan Hendry untuk duduk terlebih dahulu di ruangannya. Anak-anak panti ia suruh tidak mendekat karena mereka ingin membicarakan hal pentingm


Ia cukup kaget saat mendapat telepon dari Citra, katanya ia akan tinggal sementara di panti.


"Jadi ada apa sebenarnya?" tanya Hana.


Citra melirik ke arah Hendry. Sebenarnya ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar ceritanya. Namun, tidak sopan kalau langsung menyuruh Hendry pulang setelah membantu membawakan banyak barang.


"Aku sudah mengajukan proses perceraian dengan Mas Yoga, Bu."


"Apa?" Hana begitu kaget mendengarnya. Padahal beberapa minggu lalu ia seperti baik-baik saja dengan Yoga. "Kenapa?"


"Mas Yoga selingkuh, Bu. Dan selingkuhannya sedang hamil. Dia memilih untuk menikahi wanita itu dan mengusirku dari rumah."


Mendengar cerita Citra, Ibu Hana hanya bisa mengelus dada. Sejak awal pernikahan mereka, ia juga sudah takut akan terjadi hal semacam itu. Yoga menang baik, namun keluarganya yang sombong tidak sepenuhnya bisa menerima Citra.


"Kamu yang sabar, Cit," nasihat Ibu Hana.


"Iya, Bu. Ini juga sedang berusaha ikhlas kehilangan rumah. Kalau aku nekad menuntut harta gono-gini, perceraian kami akan semakin lama."


"Ya sudah, toh kamu masih punya rumah ini untuk kembali. Biarkan saja kalau memang Yoga maunya begitu. Keikhlasanmu, akan berbuah manis suatu saat nanti."


Citra menghela napas. Hidupnya kini bagaikan roller coaster. Sejak awal pernikahan, ia sampai lupa rasanya bahagia. Sampai akan berpisah, Yoga dan keluarganya seakan tidak ingin membuat hidupnya tenang. Ada saja ulah mereka untuk mengganggu hidupnya.


"Bu, aku mau mandi dulu, ya ... Gatal seharian belum mandi," ucap Citra dengan tidak bersemangat.


"Iya, mandilah dulu."


Citra pergi meninggalkan ruangan Ibu Hana. Saat ia hendak keluar, seorang penghuni asrama bernama Mila masuk membawakan nampan berisi makanan dan minuman untuk Hendry.


"Silakan diminum, Om," ucap Mila sopan.

__ADS_1


Hendry menyunggingkan senyum. "Terima kasih."


Mila kembali keluar membiarkan Ibu Hana berbicara dengan Hendry.


"Ini ... Citra sedang mandi. Bolehkan kalau Ibu berbicara denganmu?" tanya Hana.


Hendry tersenyum. Ia senang Ibu Hana mau diam tidak membahas tentangnya di hadapan Citra. Sebenarnya, dulu Hendry sering datang ke panti. Tujuannya tidak jelas, hanya ingin melihat keberadaan Citra saja.


Saat SMA ia kagum dengan Citra yang bisa bertahan di sekolahnya. Wanita itu tetap percaya diri meskipun berasal dari kalangan tidak mampu, apalagi yatim piatu.


Saking penasarannya dengan Citra, Hendry jadi tahu tentang Panti Asuhan Anugrah Tuhan, tempat Citra tinggal. Saat iseng memperhatikan Citra belajar di halaman belakang, ia dipergoki oleh Ibu Hana. Sejak itu ia jadi dekat dengan Ibu Hana tanpa sepengetahuan Citra.


"Ternyata benar yang dikatakan Citra, Ibu Hana tidak menua."


"Benarkah? Rambutku sudah mulai memutih sekarang."


"Itu justru menambah keanggunan Ibu Hana, terlihat khariamatik."


Ibu Hana hanya bisa tersenyum mendengar bualan Hendry. "Kamu sekarang bekerja di mana?" tanyanya.


"Di kantor yang sama dengan Citra."


"Mungkin dia minder, Bu. Soalnya saya terlalu ganteng untuk jadi temannya." Hendry mulai mengeluarkan kesombongannya.


Ibu Hana tidak bisa menahan tawanya. "Kamu benar, Citra tidak cocok punya teman setampan kamu."


"Bercanda, Bu. Saya sebenarnya baru bekerja di perusahaan Citra."


Ibu Hana mangguk-mangguk kembali. "Kamu sudah menikah?"


"Menikah pernah, Bu. Tapi sekarang sudah bercerai dengan mantan istri saya. Sekarang saya duda. Apa Ibu Hana tertarik dengan saya? Kita kan sama-sama single. Ibu Hana belum menikah lagi, kan?"


"Hahaha ...." Ibu Hana tertawa terpingkal-pingkal sampai merasakan perutnya sakit. "Kamu bisa tidak, tidak usah melawak. Ibu heran kamu ganteng-ganteng tapi hobi melawak."


"Soalnya hidup sudah terlalu memusingkan, Bu. Kita semua butuh lawakan."

__ADS_1


Hana masih tertawa. Melihat ekspresi wajah Hendry yang biasa saja ia sudah tertawa. Lelaki itu berwajah bule tapi berjiwa lokal. Bahkan candaan-candaannya sudah sangat umum di masyarakat.


"Ini aneh sekali, kenapa kamu sudah bercerai, Citra juga mau cerai. Seakan-akan perceraian jadi sesuatu yang menular."


"Mungkin supaya adil. Bu Hana susah janda, saya menduda, sebentar lagi Citra juga menjanda. Apa ini kutukan dari Bu Hana untuk kami?" canda Hendry.


Ibu Hana menabok lengan Hendry. "Sembarangan! Ibu ini beda cerita karena cerai mati."


"Padahal Ibu masih cantik, seharusnya masih banyak yang mau menikah dengan Ibu Hana."


Ibu Hana tersenyum. "Siapa yang mau menikah dengan janda beranak banyak?"


"Bagaimana kalau saya?"


Ibu Hana hanya bisa geleng-geleng kepala. Hendry paling bisa menggodanya.


"Dulu, saya juga suka sama ibu. Ibu Hana sangat cantik dan penyayang kepada anak-anak. Sifat keibuannya besar."


"Masa, sih? Kok Ibu ingatnya ada anak SMA berwajah bule nekad memanjat tembok cuma ingin mengintip Citra?" ledek Ibu Hana.


Hendry tersenyum-senyum mendengarnya. "Jangan ceritakan itu ke Citra ya, Bu. Sebenarnya itu hanya alasan kok, saya cintanya sama Ibu Hana."


"Halah! Sudah berhenti membualnya, minum dulu!"


Ibu Hana mengambil cangkir teh yang Mila sajikan, begitu pula dengan Hendry.


"Sampai sekarang Citra belum tahu kalau kamu yang sebenarnya telah membayar uang SPP selama dia SMA. Juga orang yang sudah mengusahakan beasiswa kuliahnya dulu."


Hendry hanya tersenyum mengingat hal tersebut. Rasa kekagumannya terhadap Citra ia realisasikan dengan membantu biaya sekolah Citra. Saat itu Ibu Hana bilang kondisi keuangan panti asuhan sedang kurang baik, sementara nilai Citra menurun dan seharusnya kehilangan jatah beasiswanya. Dengan memanfaatkan nama besar ayahnya, diam-diam Hendry membayar biaya sekolah Citra agar tidak dikeluarkan dari sekolahnya. Hendry menggunakan tabungannya untuk membantu sekolah Citra.


Sebelum ia lulus dan berkuliah, ia titipkan sejumlah uang untuk nantinya Citra berkuliah juga. Ia yakin suatu saat bisa kembali bertemu dengan Citra setelah dewasa. Ia menginginkan saat itu bisa sama-sama sukses ketika bertemu. Hal menggelikan yang terjadi, mereka sama-sama gagal saat bertemu kembali, gagal dalam berumah tangga.


Saat masih berkuliah, sesekali Hendry masih datang ke panti bertemu dengan Ibu Hana. Ia menanyakan keadaan Citra tanpa mau bertemu langsung dengan wanita itu. Hendry hanya mau mengajak serius saat ia benar-benar telah memiliki kemampuan finansial.


Sayangnya, usai kuliah, ia diminta sang ayah berkarir si luar negeri. Kesibukan lambat laun membuatnya melupakan Citra. Hingga akhirnya ia dijodohkan dengan Tatiana dan hidup menetap di sana.

__ADS_1


Perjalanan rumah tangga yang hari demi hari dirasa semakin hambar, membuat Hendry ingin mencari suasana baru. Ia memutuskan untuk membeli sebuah perusahaan yang hampir bangkrut. Bukan karena ia bodoh, tapi karena melihat salah satu profil karyawannya merupakan Citra, wanita yang pernah menjadi cinta monyetnya.


"Kalau begitu, jangan sampai dia tahu selama-lamanya, Bu. Biar menjadi rahasia kita berdua saja," pinta Hendry.


__ADS_2