
"Bisa nggak kalian keluar sekarang?"
Perkataan Angga langsung membuat ketiga gadis itu terdiam. Mereka awalnya membahas hal-hal random di hadapan Angga sampai lupa tujuan untuk melihat kondisi Angga saja. Dari tadi Angga sudah berusaha bersabar menahan kepanasan karena selimut yang disediakan di ruang UKS cukup tebal.
"Aku mau istirahat sendiri, bisa kan kalau kalian keluar?" Angga berusaha menggunakan nada seramah mungkin.
"Tuh kan, Angga jadi marah ...."
"Kamu sih yang duluan!"
"Lah, kok aku?"
"Sudah, sudah ... kok kalian malah jadi ribut di sini. Nanti Angga terganggu. Kita keluar saja, yuk!" Lova merasa tidak enak hati. Ia menghentikan perdebatan kedua temannya dan menyuruh mereka keluar.
"Kita keluar dulu, ya ... semoga kamu cepat sembuh," ucap Lova sebelum pergi.
"Iya, terima kasih sudah ke sini."
Angga memperhatikan langkah ketiga temannya meninggalkan ruangan. Setelah terdengar suara pintu tertutup kembali, akhirnya ia bisa bernapas lega.
"Kamu sudah boleh keluar!" Angga menyibakkan selimut dan menyuruh Edis keluar.
Wajah Edis tampak sangat merah seperti kepiting rebus. Ia terlihat menghela napas panjang merasa lega akhirnya bisa keluar. Sejak tadi ia sudah kepanasan dan seakan mau mati tidak bisa bernapas. Keringat sampai bercucuran membasahi tubuhnya.
"Benar-benar ini petugas kesehatan menyediakan selimut kayak kita tinggal di kutub utara. Heran!" gumam Angga.
Keduanya saling bertatapan dan salah tingkah.
"Kakak haus, nggak?" tanya Edis seraya turun dari atas ranjang. Tanpa menunggu balasan dari Angga, ia sudah pergi lebih dulu ke arah kulkas mengambil minuman di dalamnya.
Ia berikan sekaleng minuman dingin kepada Angga dan satu kaleng ia minum sendiri. Keduanya masing sama-sama canggung karena permasalahan yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Kamu ... nggak pulang?" tanya Angga canggung.
__ADS_1
"Ah, iya. Kakak pasti terganggu ada aku, ya." Edis berniat pergi mendengar ucapan Angga. Sebelumnya Lova dan teman-temannya juga baru saja disuruh pulang karena mengganggu.
"Maksudku bukan begitu." Angga menahan tangan Edis. "Takutnya kamu pulang kesorean nanti."
Edis kembali duduk di kursi sebelah ranjang Angga. "Aku masih mau di sini menemani Kak Angga," katanya.
Angga tersenyum lega. "Aku kira kamu sudah tidak mau bertemu denganku lagi."
Edis melemparkan tatapan keheranan kepada Angga. "Aku kira Kak Angga yang sudah tidak mau bertemu denganku. Kakak bahkan menitipkan tas kepada pengurus asrama."
Angga memijit kepalanya sendiri. "Aku hanya malu bertemu denganmu. Aku kira kamu masih marah gara-gara yang waktu itu."
"Bukannya Kak Angga yang marah?" Edis membalikkan pertanyaannya.
Mereka akhirnya saling menyadari kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Sebenarnya mereka masih saling menyayangi dan peduli. Namun, keduanya merasa bersalah dan menganggap satu sama lain saling tidak nyaman.
"Jadi, kita belum putus, kan?" tanya Angga.
"Kakak menganggap kita sudah putus?" Edis kaget dengan pertanyaan Angga. Ia tidak menyangka kalau akibat masalah itu Angga menganggap hubungan mereka telah berakhir.
"Ivan ketua kelasku, Kak. Dekat dari mana? Aku biasa saja berteman dengan anak-anak satu kelas.
"Aku lihat tadi kalian duduk bersebelahan. Dia juga memberimu es krim, kalian kelihatan punya kedekatan lebih dari sekedar teman."
Edis tidak menyangka jika Angga sebegitu memperhatikan dirinya. Ia kira Angga sudah tak peduli kepadanya. "Kakak juga tadi bareng Kak Lova terus. Dia memberi Kak Angga minum, juga membantu nengusap keringat Kakak. Aku kira Kakak sudah melupakanku dan memilih Kak Lova." Ia tidak mau kalah. Kejadian yang membuatnya tidak nyaman saat menonton di tribun disampaikan langsung kepada Angga.
"Itu karena aku kesal. Kamu menonton dengan lelaki lain," gerutu Angga. Sebenarnya selama pertandingan ia tidak pernah bisa fokus. Pandangannya selalu mengarah pada Edis, memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Saat melihat ada lelaki yang mendekati Edis, darahnya semakin mendidih. Ia bahkan tidak ingat kalau Lova yang memberikan minuman dan mengelap keringatnya. Pikiran Angga benar-benar menjadi kosong.
Sepanjang pertandingan ia berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya, namun tetap gagal. Hal yang paling parah terjadi, kakinya cedera karena telat menghindari tekelan lawan. Dengan kondisi kaki yang diperban total, ia rasa akan lama sembuhnya.
"Kami tidak janjian nonton bareng, Kak. Kebetulan saja kami ketemu di sana, kita teman satu kelas jadi dia duduk di sebelahku. Kami tidak ada hubungan apa-apa, dia malah suka mengejekku bodoh karena sering remidi."
Angga bernapas lega. Mengetahui hubungannya dengan Edis masih baik-baik saja, ia sudah sangat senang. "Boleh aku memelukmu?" tanyanya.
__ADS_1
Edis yang mendengarnya merasa sedikit malu. Namun, ia tetap bangkit dari duduknya seraya berpindah duduk ke tepian ranjang. Angga langsung memeluknya erat. Berpisah beberapa minggu dengan Edis sudah membuatnya merasa bertahun-tahun ditinggalkan wanita itu. "Aku minta maaf ya, sudah membentak dan memarahimu waktu itu," ucapnya.
"Hm, Kak Angga kalau marah menyeramkan," ujar Edis.
Angga melepaskan pelukannya, dipandanginya wajah yang sudah beberapa lama tidak dilihatnya. Edis masih sama, selalu membuatnya bersemangat saat berada di sampingnya. Perlahan wajahnya didekatkan kepada sang pacar. Dengan kecupan ringan, bibir mereka bertemu. Belum puas dengan ciuman yang singkat, ia mengulangnya sampai beberapa kali hingga keduanya saling menautkan bibir. Permasalahan yang sebelumnya merekan hadapi seketika terlupakan. Dua remaja yang saling mencinta itu kembali dimabuk asmara.
Brak!
"Angga!"
Suara dorongan keras pintu mengagetkan Angga dan Edis. Keduanya langsung melepaskan ciuman dan saling menjauh.
Dengan napas terengah-engah, Fabian datang. Ia lega melihat kondisi putranya baik-baik saja di sana. Lagi-lagi kemesraan Angga dan Edis terhenti karena kedatangan Fabian. Fabian yang khawatir juga merasa canggung bertemu dengan Edis di sana.
"Kata dokter tidak perlu khawatir, kaki Angga hanya terkilir," ucap pelatih yang datang di belakang Fabian. "Loh, kok Edis ada di sini?" tanya pelatih yang menyadari kehadiran Edis di tempat Angga.
Edis menunduk karena malu. Rasanya peristiwa memalukan yang waktu itu terulang kembali, mereka pasti akan berpikir yang macam-macam kepadanya.
"Dia tadi tiduran di ranjang sebelah karena pusing, Pak. Saya butuh teman jadi menyuruhnya menemani saya di sini," kilah Angga membela Edis.
"Oh ...." Pak pelatih hanya mangguk-mangguk.
"Apa putra saya butuh dirawat di rumah sakit?" tanya Fabian.
"Tidak perlu, Pak. Kata dokter cukup dirawat di rumah saja. Mungkin sekitar satu minggu dia sudah pulih kembali. Asalkan tidak banyak tingkah juga dia, aku dengar komplen dari beberapa guru Angga jadi sedikit nakal akhir-akhir ini," jawab sang pelatih.
Angga berusaha cuek dengan ucapan pelatihnya. Ia kesal saja kelakuannya terus dibahas padahal sudah lama berlalu.
"Kalau begitu, saya ingin membawa Angga pulang saja sekarang," kata Fabian.
"Oh, baiklah! Coba saya carikan kursi roda di ruangan sebelah." Pak pelatih kembali berlari keluar ruangan.
"Edis, terima kasih sudah menemani Angga di sini."
__ADS_1
Edis tidak menyangka Fabian akan berbicara dengannya. Ia masih merasa malu dengan kejadian sebelumnya. Tapi, Fabian tetap berusaha ramah dengan dirinya.