Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Kondisi Darurat


__ADS_3

"Silakan ikut kami!" pinta Si Botak sekali lagi.


Retha menggelengkan kepala. Ia tidak ingin mengikuti orang yang tidak jelas tujuannya.


Kesal dengan sikap Retha, Si Botak Berusaha menarik paksa tangan Retha agar ikut dengannya.


"Lepaskan tangan Ibu Retha!" dengan sisa tenaganya, Pak Diman berusaha memberikan perlawanan. Ketiga orang lainnya kembali mengetoyok agar Pak Diman tidak menghalangi usaha mereka.


"Tidak mau! Aku tidak mau ikut dengan kalian!" Retha terus berusaha melawan saat diseret oleh lelaki itu. Janu yang semula tertidur sampai terbangun mendengarkan keributan di sekelilingnya.


"Oew ... Oew ... Oew ...."


"Dasar menyusahkan! Aku banting juga bayimu! Pakai menangis segala!" Si Botak terus berusaha menarik Retha agar berjalan ke arah mobilnya.


Retha menggigit lengan Si Botak. Ia mendapat balasan pukulan di kepala yang cukup keras.


"Sialan!" maki Si Botak.


Duag!


Satu tendangan datang dari depan menghempaskan tubuh Si Botak ke tanah. Semua tercengang dengan kehadiran seorang wanita di sana.


Citra yang tanpa sengaja melewati jalan jadi curiga saat melihat mobil Bara berhenti di tepi jalan. Ia yang menyetir sendiri menepikan mobilnya saat melihat Retha sedang diseret oleh seorang lelaki.


Keempat penjahat itu mengarahkan pandangan kepada wanita yang baru bergabung di sana.

__ADS_1


"Lebih baik kamu pergi kalau tidak mau mendapat masalah, wanita hamil!" seru Si Gondrong yang sejak tadi ikut menahan Pak Diman.


"Kalian yang seharusnya cepat pergi dari sini sebelum polisi datang!" ancam Citra.


Retha berusaha menenangkan bayinya yang terus menangis. Ia antara cemas dan senang melihat Citra ada di sana. Citra yang ia kenal memang pemberani, pernah menolongnya saat menghajar pencopet. Namun, wanita itu kini tengah hamil tua.


"Citra, kamu kenapa di sini? Ini bahaya ...," ucap Retha lirih.


"Kita akan pergi dari sini bersama, Retha. Tenang saja!" ucap Citra.


Keempat lelaki itu sama-sama maju ingin melumpuhkan wanita yang terlihat sok berani itu. Namun, Pak Diman kembali berusaha menahan mereka, sehingga dua orang penjahat harus disibukkan menghadapi Pak Diman.


Retha yang paham kondisi tersebut tidak menguntungkan, mengambil inisiatif terbaik menurutnya.


Citra membulatkan mata. "Kamu sudah gila? Kita harus kabur bersama!" lirihnya dengan nada kesal.


"Janu rewel sekali! Tolong tenangkan dia!" dengan mata berkaca-kaca, Retha menyerahkan paksa Janu kepada Citra. "Cepat bawa dia pergi dari sini! Awas kalau kamu tidak bisa menjaganya!" pinta Retha.


"Kalian sedang berdiskusi apa? Ini bukan tempat arisan!" ejek Si Botak yang meremehkan kedua wanita itu. Ia dan Si Gondrong merasa keduanya bukan lawan sepadan.


Tanpa pikir panjang, Retha berlari sekuat tenaga menyeruduk dan mendorong Si Botak hingga menabrak Si Gondrong.


"Citra, cepat lari! Selamatkan Janu!" teriak Retha.


Citra yang panik dan tidak dapat berpikir lagi menghadapi situasi itu, dengan berat hati akhirnya mau berlari meninggalkan tempat itu membawa Janu.

__ADS_1


Si Botak dan Si Gondrong tampak kesal. Apalagi mereka mendapat perintah agar tidak melukai Retha dan bayinya.


"Hah! Menyusahkan!" gerutu Si Botak. Ia memegangi Retha yang terus berusaha mengamuk. "Kamu cepat kejar wanita yang tadi!" perintah Si Botak kepada Si Gondrong.


Si Gondrong langsung bangkit mengejar Citra yang telah masuk ke dalam mobilnya. Sebelum berhasil menutup pintunya, Si Gondrong lebih dulu datang. Lelaki itu menyeret kasar Citra hingga keluar dari mobil. Sementara, Janu telah ia taruh di jok mobil.


Citra berusaha melawan. Ia kerahkan bela diri yang dikuasainya untuk menghajar Si Gondrong. Setelah berhasil membuat Si Gondrong tidak berdaya dengan pukulannya, ia kembali ke dalam mobil. Tampak dari kaca spion, Si Botak berusaha kembali mengejarnya. Cepat-cepat ia menginjak pedal gas mobilnya.


Tangisan Janu membuat pikiran Citra kalut. Ia sudah tidak bisa lagi berpikir menyelamatkan Retha dan sopirnya, kondisi tidak memungkinkan.


Air matanya keluar, sembari menyetir ia terisak, menyesal tidak bisa membawa serta Retha bersamanya. Perasaannya begitu tertekan, apalagi suara tangis Janu semakin meraung-raung. Ia menguatkan diri untuk terus melajukan mobilnya.


Di pertengahan jalan, Citra merasakan perutnya sakit. Saking sakitnya, ia hampir pingsan rasanya. Di dalam perutnya seakan ada gerakan yang tidak teratur. Bayinya seperti terganggu. Ia lihat darah segar mulai merembes di celana yang dikenakannya.


Citra semakin panik. Ia berharap segera menemukan rumah sakit terdekat sembari berkonsentrasi pada kemudinya.


Setelah melajukan mobilnya beberapa saat, Citra akhirnya menemukan sebuah rumah sakit. Dengan sisa-sisa tenaga, ia memasuki halaman rumah sakit tersebut dan menghentikan mobilnnya tepat di depan UGD.


Ia yang telah lemas, membuka pintu mobilnya dan melambaikan tangan ke arah satpam.


"Tolong ...," ucapnya dengan nada lemas.


***


Sorry for slow update 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2