
"Hah ... rasanya badanku pegal sekali ...." Edis meregangkan tangannya setelah kelelahan mengerjakan soal yang Angga berikan. Ia kembali menyandarkan punggungnya pada Angga. Lelaki itu memeluknya seraya menepuk kepala Edis karena bangga pacarnya itu akhirnya bisa menyelesaikan soal yang ia berikan.
"Coba Kakak cek lagi, aku nggak tahu salah atau benar. Aku mau makan kuenya dulu, ya!" Edis bangkit dari tempatnya, berpindah ke sofa mengambil sepotong roti yang Angga suguhkan kepadanya. Setelah satu jam betkutat dengan angka, akhirnya ia bisa bebas juga. Giliran Angga yang sedang meneliti hasil berpikirnya. Edis sudah tidak peduli lagi pekerjaannya benar atau tidak.
Memandangi wajah serius Angga yang sedang meneliti pekerjaannya, ia jadi merasa terpesona oleh lelaki itu. Angga terlihat tampan saat sedsng serius. Pantas jika pacarnya banyak disukai murid-murid di sekolahnya. Ia juga dulu sempat kagum kepada Angga sejak kelas satu, Angga menjadi kakak kelas di gerakan pramuka yang paling ganteng.
Tangan Edis iseng. Ia tempelkan krim dari kue yang dimakannya ke ujung hidung Angga. Ia tertawa terbahak-bahak melihat penampilan lucu Angga karena ulahnya. Namun, lelaki itu masih sangat serius mengoreksi pekerjaan Edis. Melihat Angga yang tak mau merespon, Edis kembali nakal menempelkan krim kue ke pipi Angga.
"Edis ... hentikan!" dalam mode serius, Angga memberikan peringatan. Tangann dan matanya masih fokus pada buku milik Edis.
"Kenapa? Ini lucu!" Edis semakin ngelunjak karena Angga terlihat tak marah padanya. Semakin banyak krim yang Edis tempelkan membuatnya terus tertawa melihat wajah Angga dipenuhi Krim.
Akhirnya kesabaran Angga habis. Tangan Edis ditahannya, tubuh Edis dijatuhkan pada sofa. Ia menindih wanita iseng itu di bawahnya. Seketika tawa Edis langsung berhenti.
"Hehehe ... Jangan marah dong, Kak ...." Edis meringis.
Tanpa aba-aba, Angga menempelkan pipinya ke wajah Edis untuk menyapu krim di wajahnya.
"Aduh, Kak! Aku jadi ikut kotor!" Edis berusaha mendorong Angga. Lelaki itu balas dendam menempelkan krim itu kembali padanya.
"Siapa yang mulai coba?" Angga tak mau berhenti. Ia ingin krim itu berpindah pada Edis.
"Kan bercanda, Kak ... aduh, tolong ... aku jadi kotor!" Ia merasa seperti memakai masker lengket krim kue.
"Kalau kotor kan kita bisa mandi bareng," goda Angga.
__ADS_1
"Nggak mau!" Edis kembali berusaha mendorong Angga.
"Kenapa? Pekerjaanmu benar semua loh," ucap Angga.
"Benarkah?" Edis terkejut hampir tak percaya.
"Iya, sudah aku teliti dan benar semua." Angga menyunggingkan senyum.
"Aku tidak menyangka akhirnya bisa mengerjakannya. Terima kasih, Kak," ucapnya dengan senyuman lebar.
"Kayaknya kamu memang bersemangat untuk mendapatkan banyak hadiah, ya ...." Angga senyum-senyum. Ia melepaskan baju atasannya hingga menunjukkan dada bidangnya yang terpahat dengan baik hasil dari rajin berolahraga. Ia gunakan kaos miliknya untuk mengelap sisa krim yang masih menempel di wajah.
Edis jadi punya firasat buruk. Ia tersenyum kaku mengingat kesepakatan mereka di awal. Apalagi melihat Angga melepaskan bajunya, ia jadi merasa takut. Di sisi lain, sebagai remaja yang penuh dengan rasa penasaran, terkadang ada sebersit keinginan untuk mengetahui hal-hal yang lebih jauh dari sekedar ciuman. Ia mencoba mengusir pikiran kotor yang terkadang muncul dalam otaknya.
"Kira-kira aku harus menciummu berapa lama dan dimana saja? Soalnya sepuluh soal kamu jawab benar semua." Angga semakin mendekatkan wajahnya, membuat Edis merasa gugup.
"Ah, jangan begitu. Aku juga mau memberi hadiah spesial untuk pacar yang pintar belajar." Angga kembali tersenyum. Ia mendaratkan ciuman di bibir Edis dengan lembut. Wanita itu memejamkan mata menyambut ciumannya. Beberapa kali bibir mereka saling berpagutan dengan sangat mesra.
Angga mengalihkan ciumannya ke area pipi Edis merambat ke area hidung, dagu, hingga ke area leher. Edis terus meronta merasa kegelian. Ia tidak bisa menahan tawanya setiap kali bibir Angga mengecupi sisi rahangnya, rasanya sangat geli.
"Aduh, Kak ... stop ... geli ... kenapa aku jadi seperti sedang dimakan?"
Angga menghentikan ciumannya, menatap mata Edis. "Aku makan krim di wajahmu, bukan memakanmu," ucapnya.
Wajah Edis langsung memerah.
__ADS_1
Tatapan mata Angga terlihat serius memandang fokus kepada Edis yang ada di bawahnya "Boleh nggak aku menciummu sampai habis?"
Edis tak memberi jawaban. Namun, diamnya Angga anggap sebagai persetujuan. Keduanya kembali memagut bibir satu sama lain. Bibir mereka saling bertautan membuat gejolak muda yang membara dalam diri bangkit. Ciuman yang mereka lakukan semakin memanas ditandai dengan napas keduanya yang saling tersengal serta des4han kecil yang mengiring di sela-sela ciuman mereka.
Edis merasakan tangan Angga yang mulai menyusuri pinggangnya bergerakk begitu lembut menyusup ke dalam pakaian yang dikenakannya. Ia menyadari sepenuhnya perbuatan Angga namun seakan terhipnotis untuk pasrsh berada di bawah pemuda itu. Rasanya ia sudah gila membiarkan tangan Angga semakin menyusup hingga akhirnya berhasil meraih salah satu gundukan yang tersembunyi di tubuhnya.
Mata Angga memandang sekilas ke arah Edis seolah sedang memastikan respon wanita itu. Melihat Edis yang terdiam, ia terus menciumi Edis dan meraba buah terlarang milik kekasihnya.
Brak!
Keromantisan keduanya terhenti saat terdengar suara benda terjatuh bersuara cukup keras. Mereka langsung panik saat Fabian berdiri di sana memergoki keduanya. Dengan cangung dan gugup, mereka memperbaiki posisi sebaik mungkin. Kepala mereka tertunduk, rasanya sangat malu kegiatan merek dipergoki oleh orang dewasa.
"Bisa kalian jelaskan apa yang baru saja kalian lihat?" Fabian tampak syok melihat kelakuan putranya sendiri.
Wajah Edis terlihat pucat. Ia tahu dirinya bersalah dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Angga yang melihatnya langsung menarik tangan Edis agar pergi bersamanya.
"Aku akan mengantarmu pulang. Biar besok aku bawakan tas milikmu," ucap Angga lirih.
"Kalian mau kemana?" Fabian menahan tangan Angga. Putranya sangat tidak sopan bersikap di depan orang tua. Bahkan untuk suatu perkara yang salah, anak itu tidak mau berbesar hati mengakui kesalahannya.
"Apa urusanmu bertanya? Terserah kami mau pergi kemana," ucap Angga ketus. Ia tak menyangka ayahnya akan pulang hari itu. Kalau ia tahu, ia tidak akan mengajak Edis ke rumahnya.
"Apa urusanku? Ini rumahku dan aku ayahmu!" Fabian meninggikan suaranya. Ia ingin menyadarkan putranya bahwa apapun yang terjadi, dirinya tetaplah seorang ayah bagi Angga yang harus dihormati.
"Kalau memang harus memarahiku, tunggu aku mengantar Edis pulang. Aku yang salah, jangan ikut marah di depan Edis. Dia tidak salah apa-apa. Aku yang mengundangnya ke rumah ini!"
__ADS_1
Edis merasa tidak enak hati kepada ayah Angga. Ia ingin berbicara namun terlalu malu. Angga kembali menarik tangannya, membawanya pergi meninggalkan sang ayah begitu saja.