
Retha duduk di depan cermin memoleskan make up tipis-tipis pada wajahnya. Ia sengaja mengenakan blouse pink model turtle neck lengan panjang untuk menutupi bekas keganasan Bara semalam. Hampir seluruh tubuhnya dilenuhi tanda merah hasil karya Bara yang slektakuler. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan ujung sedikit di-curly agar menarik. Sementara bagian bawah ia memakai rok midi warna hitam dengan aksesoris ikat pinggang emas sebagai pemanis.
Sore tadi Bara mengabari dirinya untuk bersiap-siap. Katanya ia ingin mengajak Retha makan malam bersama Kenzo. Ia sangat antusias untuk bertemu dengan anak kecil menggemaskan itu. Seandainya bisa, ingin ia sampaikan bahwa dirinya sekarang merupakan istri dari ayahnya. Ia berharap bisa hidup bersama dengan Bara dan Kenzo dalam satu atap yang sama.
"Sayang, kamu sudah siap?" Bara melongok dari balik pintu.
Tepat setelah Retha selesai berdandan, akhirnya Bara muncul di sana. "Aku sudah selesai dandan, Mas," ucap Retha sembari merapikan kembali rambutnya sedikit.
Bara berjalan mendekati istrinya seraya memberikan kecupan. Ia merasa ada yang masih kurang dari penampilan istrinya. Dia kembali berjalan ke arah laci meja, mengambil sebuah bingkisan yang masih berpita lalu memberikannya kepada Retha.
"Apa ini, Mas?" tanya Retha.
"Buka saja, Sayang."
Bara berdiri di belakang kursi Retha yang sedsng sibuk membuka bingkisan itu. Ternyata isinya satu set perhiasan dari berlian. Retha sampai tercengang melihat benda berkilau yang terkena cahaya itu.
"Aku bantu pakaikan, ya!"
Bara mengambil kalung lalu melingkarkan di leher Retha. Tak lupa sepasang anting juga ia pasangkan di telinga Retha. Cincin berlian disematkan pada jari wanita itu. Retha tampak semakin elegan dengan perhiasannya. Bara tersenyum melihat kecantikan istrinya. Setelah semalam terjadi pergumulan yang panas, ia jadi ingin kembali menahan istrinya di dalam kamar. Wanita itu sangat cantik dan menggemaskan sampai membuatnya terus bern4fsu.
"Ah, aku jadi tidak sabar untuk nanti malam," rengek Bara sembari menyandarkan kepalanya di bahu Retha.
"Mas, aku baru bisa bangun jam dua siang gara-gara Mas Bara. Apa masih tega melanjutkan yang tadi pagi?" Retha protes. Ia tidak akan kuat jika setiap hari terus digempur dengan agresif oleh suaminya. Semalam saja rasanya ia sampai kurang tidur karena sang suami tidak ada rasa lelahnya.
Bara memeluk sang istri sembari menciumnya. "Nanti kalau libur jadi susah masuk lagi, Sayang. Kalau sudah biasa pasti nggak capek." Lelaki itu sangat pandai merayu.
"Kenzo dimana, Mas? Katanya mau makan malam bersamanya?" tanya Retha.
"Kenzo ada di bawah bersama Pak Diman."
"Mas Bara ajak Pak Diman juga?" tanya Retha kaget.
"Iya, Sayang. Lak Diman itu baik, kamu tidak perlu khawatir, dia tidak akan membocorkan hubungan kita," kata Bara menenangkan hati Retha.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang?" tanya Bara.
Ia memberikan tangannya untuk Retha gandeng. Wanita itu masih terlihat kesulitan berjalan. Bara hanya senyum-senyum melihatnya. Ia tidak akan membahas karena Rerha pasti akan kembali marah jika bilang yang sesungguhnya.
"Miss Retha ...."
Kenzo kegirangan melihat kehadiran Retha di sana. Ia langsung memeluk Retha dan meminta duduk di pangkuannya. Anak itu selalu menyukai Retha dan merindukannya. Oleh karena itu, malam ini, Bara mengajak Kenzo bertemu Retha.
Setiap kali ada Kenzo, Bara merasa diabaikan. Selama di mobil Retha hanya sibuk bercerita dengan Kenzo. Anaknya sangat pandai bercerita dan Retha merupakan pendengar yang baik. Keduanya sudah kompak sebagai seorang ibu dan anak yang saling menyayangi. Bara harap suatu saat Kenzo bisa menerima keberadaan Retha sebagai ibu sambungnya.
Pak Diman yang menyimak obrolan hangat keluarga kecil di belakangnya ikut merasa senang. Ia menjadi saksi turun naiknya kehidupan Bara. Sejak awal pernikahan Bara dengan Silvia, Pak Diman sudah bekerja sebagai sopir pribadi Bara. Kehidupan mereka juga awalnya baik-baik saja sampai Silvia kabur dari rumah tanpa membawa Kenzo. Untung saja saat itu ada Pak Diman yang cepat pulang, Kenzo hampir memanjat balkon apartemen karena mencari-cari ibunya. Silvia benar-benar meninggalkan Bara dan Kenzo begitu saja saat itu.
Lama ia merasa kehidupan Pak Bara menjadi hambar. Sampai akhirnya majikannya itu mengatakan ingin menikahi seorang wanita bernama Retha yang ternyata mantan guru di sekolah Kenzo yang sudah sering Pak Diman temui. Melihat kebahagiaan bosnya, Pak Diman turut merasa gembira.
"Pak Diman ikut juga masuk ke dalam, kita makan bersama," ajak Bara.
Pak Diman tercengang diajak makan bersama keluarga kecil itu. "Maaf, Pak. Saya menunggu di lobi saja," tolak Pak Diman.
"Ayolah, Pak Diman ... masa rezeki ditolak," sahut Retha yang sedang menggendong Kenzo.
"Pak Diman, ayo!" Kenzo ikut-ikutan mengajak sopirnya.
Pak Diman merasa canggung untuk makan malam bersama mereka. Namun, karena terus dipaksa ia akhirnya mau.
Sebenarnya Pak Diman canggung karena takut mengganggu acara makan malam keluarga kecil itu. Tapi, bukannya dianggap menjadi pengganggu, mereka justru senang mengajak Pak Diman berbincang membahas banyak hal sederhana yang membuat tawa pecah di antara mereka.
"Jadi, Pak Diman sudah sepuluh tahun ikut Mas Bara?" tanya Retha.
"Benar, Bu. Waktu Pak Bara masih kuliah terkadang saya yang mengantar ke kampusnya. Soalnya Pak Bara suka tidur di perjalanan ke kampus."
"Kamu pemalas, Mas?" Retha melirik ke arah Bara.
"Bukan malas, tapi aku begadang karena kerja. Dulu sambil main for3x, Sayang. Walaupun sering boncosnya."
__ADS_1
"Tapi, kalau Pak Bara dapat untung banyak, saya suka dibelikan baju baru, Bu."
Obrolan mereka terus berlanjut sembari menikmati hidangan malam itu. Mereka telah menganggap Pak Diman sebagai bagian dari keluarga. Tak ada batasan dalam menikmati makan malam itu.
Seperti biasa, Kenzo meminta dipangku oleh Retha. Tanpa Bara paksa untuk mereka dekat, anak itu memang sudah menyukai Retha sejak awal. Sayangnya, Kenzo bisa menjadi saingannya mendapatkan perhatian Retha. Kalau ada Kenzo, ia pasti kalah.
Alasan itulah yang membuat Bara ingin menjauhkan Kenzo sementara dari Retha. Jika anak itu ia ajak, sudah dipastikan ia tak akan bisa lagi mengulang malam menyenangkan seperti kemarin.
"Miss, Kenzo boleh menginap di rumah Miss Retha?" tanya Kenzo dengan polos.
Bara menghentikan suapannya mendengar perkataan putranya. Retha tampak melirik ke arahnya sembari tersenyum. Sepertinya wanita itu kegirangan dengan kemauan Kenzo.
"Tentu saja, Sayang. Kamu boleh menginap di rumah Miss Retha. Nanti kita bisa main sebelum tidur seperti waktu itu," ucap Retha. Tanpa pikir panjang wanita itu langsung mengiyakan. Ia justru bersyukur ada Kenzo nanti di rumahnya. Itu artinya, Bara tidak bisa bersikap agresif seperti semalam. Ia cukup kaget merasakan pengalaman pertamanya sebagai seorang istri. Apalagi memiliki suami yang terus ingin menempel padanya. Ia kira hubungan suami istri hanya dilakukan sekali untuk mendapatkan anak. Tapi, Bara entah berapa kali melakukan hal itu kepadanya.
***
Visual
Bara Atmaja (32 tahun) CEO PT Atmajaya Group
Seorang pengusaha yang gila kerja di luar tapi juga gila istri kalau di rumah.
Kenzo Atmaja (5 tahun) anak TK yang ceria, bucin sama Miss Retha.
Miss Retha (24 tahun)
Bucinnya Bara dan Kenzo
__ADS_1