Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Keputusan


__ADS_3

"Kalau Ibu Citra tidak menginginkan kehamilan ini, kami bisa melakukan prosedur kuretase atau aborsi. Berhubung kejadian ini memang kesalahan dari pihak kami," ucap Dokter Ester.


Citra masih terdiam dan tertegun. Hendry di sampingnya memberikan tatapan penuh harap. Meskipun keputusan ada di tangan Citra sepenuhnya, namj besar harapannya wanita itu tetap mau mempertahankan janin tersebut.


Hendry juga sudah lama menginginkan seorang anak. Apalagi dengan kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk memiliki keturunan secara alami. Jika penyakitnya tidak bisa sembuh, setidaknya dia telah memiliki keturunan yang kini berada di dalam rahim Citra.


"Saya masih belum bisa memutuskannya, Dok. Ini sesuatu yang benar-benar sangat mengejutkan." Tangan Citra rasanya masih gemetar sampai saat ini.


"Kapanpun Ibu Citra memberikan keputusan, silakan hubungi kami. Kami juga akan memberikan kompensasi atas kesalahan yang terjadi," ucap Dokter Ester.


"Sekali lagi saya minta maaf." Dokter Jenny menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa penasaran.


Citra keluar dari ruangan tersebut setelah urusannya selesai. Ia menghirup udara banyak-banyak setelah sebelumnya merasa sesak di dalam sana. Dalam diam, Hendry mengikuti Citra di belakang.


"Pak ...." tiba-tiba Citra menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap ke arah Hendry setelah mengumpulkan keberanian. "Saya akan tetap mempertahankan anak ini. Saya tidak mau menggugurkannya!" tegasnya.


Hendry sedikit kaget mendengar keputusan Citra.


"Bapak tidak perlu menyogok saya dengan sekoper uang untuk menggugurkannya karena sudah pasti tidak akan saya terima. Jangan khawatir, saya akan membesarkan anak ini sendiri dan tidak akan merepotkan Anda."


"Tidak usah melibatkan siapapun, termasuk orang tua Anda. Lupakan saja kejadian ini, saya juga tidak akan menuntut tanggung jawab agar Anda maupun keluarga Anda mengakui anak yang saya kandung ini!"


Hendry speechless. "Kamu kira ini sinetron?" Ia heran Citra bisa sampai berpikiran seperti itu.


Kaki Citra terasa lemas. Ia langsung berjongkok di hadapan Hendry. "Hah! Ya Tuhan ... Bisa-bisanya aku hamil anak orang ini," ucapnya lemas.


"Memangnya kenapa kalau dia anakku?"


"Masih perlu Bapak bertanya, ya? Tentu saja karena Bapak menyebalkan!"


"Aku rasa tidak masalah jadi orang sedikit menyebalkan. Yang penting aku tampan. Anak yang akan kamu lahirkan nanti setidak ga akan good looking."

__ADS_1


"Hah! Aku jadi lapar!"


Citra kembali bangkit. Ia melihat sekeliling, memilih restoran mana yang kira-kira akan ia datangi. Setelah beberapa saat melihat-lihat, ia memutuskan untuk makan di restoran Jepang.


"Kok Bapak terus mengikuti saya?" protes Citra saat Hendry ikut-ikutan duduk satu meja dengannya.


"Karena kamu membawa calon anakku," ucap Hendry santai.


Citra sampai tidak habis pikir Hendry menggunakan alasan itu untuk terus mengikutinya.


Pelayan datang membawakan daftar menu. Perdebatan mereka sejenak terhenti. Baik Citra maupun Hendry sama-sama memesan makanan yang mereka inginkan.


Ia melotot ke arah Hendry yang sedang memandanginya sembari tersenyum senang. "Kenapa Bapak terus melihat saya?" tanyanya dengan nada sinis.


"Siapa yang sedang memandangi kamu? Aku sedang membayangkan calon anakku!" kilah Hendry.


Citra menghela napas. "Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya akan membesarkan anak ini sendiri. Bapak tidak perlu melakukan apa-apa dan Bapak tidak ada hak atas anak ini."


"Kata siapa? Aku juga punya hak atas anak itu. Dia bisa tumbuh kan juga berkat bibit unggulku. Memangnya kamu bisa hamil sendiri tanpa bibit dariku?" ucap Hendry sombong.


Makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Mereka kembali berhenti berdebat. Citra merasa kelaparan setelah mendapatkan kenyataan yang benar-benar di luar dugaan. Ia memakan dengan lahap makanan yang dipesannya.


Sementara, Hendry terus tersenyum memandangi Citra makan. Perasaannya seakan dipenuhi dengan kebahagiaan. Ia akan memiliki seorang anak dan yang mengandung anaknya merupakan wanita yang sejak dulu ia kagumi.


"Kenapa Bapak tidak makan?" tanya Citra. Ia risih diperhatikan terus oleh Hendry.


"Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan," jawab Hendry sembari menatap Citra secara romantis.


"Kalau begitu, seharusnya Bapak tidak usah pesan apa-apa. Akan lebih baik lagi kalau Bapak tidak perlu ke sini."


"Makanan ini aku pesan untuk calon anakku. Sekarang, kamu tidak hidup sendiri. Jadi, aku pastikan kalau kamu akan cukup makan."

__ADS_1


Citra tertawa kecil. " Bapak kira aku semiskin itu sampai tidak kuat untuk makan?"


"Kalau aku pecat, mungkin kamu akan kelaparan."


Citra terdiam. Ia sampai lupa kalau lelaki di hadapannya adalah manajernya.


"Tenang saja, selama kamu kuat bekerja, kamu aman di kantor. Aku tidak akan memecatmu karena kamu ibu dari calon anakku."


"Lalu, bagaimana dengan karyawan baru yang sudah perusahaan terima?"


Pihak yang mengajukan surat pengunduran diri merupakan Citra sendiri. Ia tidak bisa menyalahkan jika dirinya benar-benar dipecat. Kasihan juga dengan pegawai baru yang sudah lulus seleksi namun harus dibatalkan hanya karena ia tidak jadi dipecat.


"Dalam kondisi seperti ini kamu masih mengkhawatirkan orang lain? Kamu itu baik atau bodoh? Orang kalau terlalu baik biasanya hanya akan dimanfaatkan orang lain."


Citra terdiam.


"Sudahlah! Jangan pikirkan hal sepele seperti itu. Karyawan baru tetap akan masuk mengisi jabatan manajer HRD menggantikan posisiku. Tidak ada karyawan lain yang dipecat juga."


"Lalu ... Bapak nanti jadi apa?" tanya Citra heran.


"Aku kan yang punya perusahaan. Bebas mau jadi apa saja semauku. Kamu maunya aku jadi apa? Jadi suamimu?" godanya.


Citra berdecih. Hendry begitu enteng mengucapkan candaan-candaan terhadapnya. "Bapak tidak perlu merasa bertanggung jawab sampai harus menikahi saya."


"Tapi, ini mauku sendiri. Kita sudah sama-sama single, boleh kan kalau kita menikah?" Hendry berkata dengan sorot mata seriusnya.


"Anda jangan terus bercanda untuk suatu keputusan yang penting seperti ini."


Hendry mengulurkan tangannya meraih tangan Citra. Ia genggang lembut tangan wanita itu penuh ketulusan. "Aku serius, aku ingin menikahimu dari lubuk hatiku yang terdalam."


Citra menarik tangannya sendiri. Sentuhan Hendry membuatnya hampir terbuai. Setelah bercerai dengan Yoga, ia memutuskan tidak akan menikah lagi. Pernikahan sebelumnya memberikan luka yang mendalam hingga menyisakan trauma. Bahkan luka itu masih membuatnya menitihkan air mata setiap kali mengingatnya.

__ADS_1


Citra yang sekarang tidak mempercayai komitmen dan janji suci antara pria dan wanita. Dirinya yang telah lama mengenal Yoga, mengarungi pernikahan selama tiga tahun, nyatanya tidak memberikan hasil yang bahagia.


Begitu pula dengan lelaki yang kini sedang berniat melamarnya. Hendry juga gagal mempertahankan tumah tangga yang telah berusia 5 tahunan. Mana bisa orang yang sama-sama pernah gagal bisa dengan mudah memutuskan untuk menikah lagi?


__ADS_2