
Brak!
Thea menggebrak meja yang ada di hadapannya. Ia marah karena anak buahnya gagal membawa anak Bara ke hadapannya.
"Dasar tidak becus! Mengurus bayi kecil saja tidak bisa! Percuma aku membayar kalian mahal-mahal!" omelnya.
Thea sebenarnya lebih menargetkan Janu. Ia tahu dengan menggunakan anak itu, Bara tidak akan bisa berkutik. Bara pasti mau ia suruh melakukan apapun demi mendapatkan anaknya kembali, termasuk untuk membebaskan ayahnya.
"Ya sudahlah! Yang penting wanita itu juga masih ada," ucap Thea dengan senyuman liciknya.
Ia berjalan meninggalkan ruang kerjanya menuju tempat istri Bara berada. Wanita bernama Retha itu ia satukan dengan Pak Agus, lelaki yang susah payah ia dapatkan.
***
"Bagaimana kabar cucuku?" tanya Agus.
Kedua anak dan ayah itu tampak canggung setelah sekian lama tidak bertemu.
"Baik, Ayah," jawab Retha dengan nada rendah.
"Siapa namanya? Ayah dengar cucuku laki-laki."
"Namanya Januar Atmaja. Panggilannya Janu."
Agus hanya mengangguk-angguk. Atas perbuatannya selama ini, ia mendapatkan karma tidak bisa melihat cucunya sendiri. Ia sadar telah membuat kehidupan putrinya penuh dengan penderitaan. Di saat ia mulai menerima untuk melanjutkan hidup jauh dari kedua putrinya, tiba-tiba ada orang yang menemukannya. Ia dipaksa ikut dengan mereka.
Agus tidak terlalu bodoh sebagai manusia. Ia tahu orang-orang yang membawanya ke tempat itu punya niat buruk terhadap keluarga putrinya.
Klek!
Pintu terbuka. Thea bersama anak buahnya tiba di sana. Wanita itu menyimpulkan senyuman sinis menatap Retha dan ayahnya.
"Kalau bukan karena ayahku, kalian sudah aku habisi sekarang!" ucap Thea dengan angkuhnya.
Wanita itu telah menghubungi Bara dan membuat kesepakatan agar ayahnya yang kini berada di dalam penjara bisa dibebaskan jika ingin istri dan mertua Bara ia bebaskan.
Retha hanya bisa pasrah berada di sana. Ia harap putranya akan baik-baik saja bersama Citra. Ia tidak terlalu khawatir pada keselamatannya sendiri, asalkan Janu selamat.
Ia tidak menyangka jika pelaku penculikan dirinya merupakan Thea, wanita yang pernah dijodohkan dengan Bara. Saat suaminya berada di dalam penjara, Thea bilang pernah menjanjikan kebebasan Bara jika mampu menyingkirkan Silvia.
Baru kali ini Retha bertemu secara langsung dengan wanita itu. Ia kira dulu Thea berada di pihak dirinya dan suaminya. Ternyata, wanita itu juga tidak ada bedanya dengan Silvia.
"Retha, kamu mau mendengar rencanaku ke depannya?" tanya Thea. Wanita itu tersenyum meremehkan.
"Apapun itu, tolong kamu hentikan saja. Kamu pasti sudah tahu jika perbuatanmu ini tidak baik dan melanggar hukum," ucap Retha dengan nada yang lembut.
"Hah! Hahaha ... Kamu sok bijaksana juga, ya!" cibir Thea. "Memangnya kelakuan ayahmu sesuci apa sampai berani mengajariku? Aku sudah tahu semua tentang ayahmu. Bisa-bisanya keluarga Bara menerima keluarga macam kalian sebagai menantu dan besan!"
Thea sangat ingin menyebarkan identitas mertua Bara di kalangan para pengusaha. Ia yakin akan banyak orang yang terkejut sama seperti dia sebelumnya. Keluarga Bara pasti akan sangat malu mengetahui identitas asli besan mereka.
Agus tertunduk lesu. Padahal, ia telah berniat taubat setelah Bara mengirimnya ke perkampungan di Nusakambangan. Ia tahu perbuatannya selama ini salah dan hanya membuat susah kedua putrinya. Kejadian terakhir telah menyadarkannya, tidak ingin terlibat dengan kehidupan anaknya lagi.
__ADS_1
"Ayahku sudah mengetahui kesalahannya dan tidak aka mengulangi perbuatannya yang dulu," bantah Retha.
Thea semakin tersenyum mengejek. "Apa Bara sudah datang?" tanyanya kepada salah satu anak buah.
"Saya rasa masih dalam perjalanan, Nona,"
"Kamu sudah mempersiapkan yang aku suruh, kan?"
"Sudah, Nona."
"Apa yang sedang kamu rencanakan pada Mas Bara?" tanya Retha khawatir.
Thea kembali menunjukkan senyum liciknya. "Nanti juga kamu akan tahu sendiri," ucapnya.
Kejadian semacam ini sudah pernah terjadi. Retha tahu dirinya hanya dijadikan sebagai umpan agar Bara datang ke sana. "Nona Thea, perbuatan buruk tidak akan berakhir dengan baik. Tolong hentikan sebelum kamu menyesal."
"Aku orang yang penuh perhitungan. Apa yang sudah aku rencanakan, pasti akan terealisasi."
Thea masih membutuhkan Bara untuk melepaskan ayahnya. Ia akan menghabisi semuanya selepah ayahnya keluar dari penjara. Apalagi memandangi wajah lugu Retha membuatnya muak. Bagaimana bisa wanita seperti itu lebih Bara pilih dibandingkan dirinya? Apalagi Retha memiliki seorang ayah penjudi dan pemabuk.
"Aku sudah sangat tidak sabar melihat kehancuran keluarga kalian secara perlahan. Pasti sangat menyenangkan membeberkan identitas kalian yang sebenarnya ke publik."
"Aku tidak takut dengan ancamanmu!" Retha memasang wajah serius. Ia yakin bisa melalui semua dengan baik.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan tersenyum paling akhir. Mulailah khawatirkan dirimu sebagai istri Bara. Siapa tahu keluarganya tidak bisa menerima keadaanmu yang sebenarnya," ejek Thea.
Retha terdiam. Keluarga Bara memang mungkin saja tidak bisa menerima kondisi keluarganya yang sebenanya. Tapi, ia tidak akan takut menghadapi hal itu.
Kabar itu membuat Thea senang. Berbeda dengan Agus dan Retha, keduanya tampak khawatir.
"Ayo temui tamu penting kita. Kalian juga bawa mereka bersama kita!" perintah Thea.
Empat orang anak buah Thea mendekat ke arah Agus dan Retha. Masing-masing memegangi lengan di sisi kanan dan kiri mereka agar tidak kabur.
Bara datang sendiri setelah mendapatkan telepon misterius dari salah satu anak buah Thea. Ia melihat istri dan mertuanya ada bersama mereka.
"Selamat datang, Bara. Sudah lama kita tidak bertemu," sambut Thea.
"Lepaskan mereka!" Bara sedang tidak ingin basa-basi. Apalagi ia melihat tatapan sendu yang ditunjukkan oleh istrinya.
"Kenapa harus buru-buru? Bukankah ada banyak hal yang harus kita bicarakan?"
"Katakan kemauanmu sekarang dan lepaskan mereka! Aku tidak punya waktu untuk meladenimu, Thea!"
"Oh, kasar sekali kamu sekarang, ya! Baiklah, kamu tentunya sudah tahu apa mauku, kan?" tanya Thea memastikan. "Bebaskan ayahku dari penjara dan cabut tuntutanmu secepatnya!" lanjut Thea.
"Ayahmu tidak hanya bermasalah denganku. Ada banyak pihak yang ia rugikan."
"Aku tidak peduli!" ucap Thea memotong perkataam Bara. "Bebaskan ayahku dan aku akan membebaskan mereka."
"Angkat tangan! Tempat ini sudah dikepung!"
__ADS_1
Seruan polisi yang datang sembari menyodorkan senjata membuat semua orang terkejut. Thea merasa telah dikhianati kesepakatannya oleh Bara. "Bara ... Bisa-bisanya kamu melibatkan polisi!" kata Thea geram.
Bara juga tidak menyangka polisi akan secepat itu datang.
Thea secara cepat mengambil pistol dari anak buahnya. "Kamu akan menyesal, Bara!" serunya dengan amarah. Tanpa pikir panjang, ia mengarahkan pistol tersebut kepada Retha dan langsung melesatkan satu tembakan.
Dor!
"Retha!" teriak Bara. Kenekatan Thea tidak pernah ia prediksi.
Peluru melesat begitu cepat. Sebelum mengenai tubuh Retha, ternyata Agus lebih dulu memeluk putrinya hingga peluru itu mengenai punggungnya.
Dor! Dor! Dor!
Thea seperti orang gila. Ia melepaskan tiga tembakan susulan mengenai punggung Agus.
Polisi yang melihatnya, langsung memberikan tembakan untuk melemahkan Thea.
Dor!
Satu peluru menembus pundak kanan Thea. Saat wanita itu ingin kembali melesatkan tembakan, polisi kembali menembak kakinya hingga jatuh dan limbung.
Anak buah Thea yang terkejut langsung lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Ia sudah tidak peduli lagi dengan kondisi Thea yang sudah tidak berdaya. Mereka hanya berpikir untuk menyelamatkan diri sendiri dari kejaran polisi.
"Ayah!" teriak Retha. Tubuhnya gemetar saat menerima tubuh ayahnya yang berlumuran darah dan terjatuh dalam pangkuannya. Tangisannya pecah melihat ayahnya sekarat tepat di hadapannya.
Sembari menahan kesakitan, Agus menatap wajah putrinya. Ia tahu dirinya akan segera mati. Mulutnya bahkan tidak bisa digunakan untuk berkata-kata. Matanya hanya bisa mengalirkan air mata penyesalan belum bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk putrinya.
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Agus menggenggam tangan Retha seolah mengisyaratkan bahwa dirinya akan selalu menguatkan putrinya. Ia rasa kini dirinya telah bisa meninggalkan Retha. Putrinya telah mendapatkan lelaki yang tepat sebagai pendamping hidup.
"Ayah! Ayah ...." tangisan Retha kembali pecah saat sang ayah benar-benar memejamkan mata. Tangan lelaki itu melepas dan tak memberikan respon apapun saat ia mengguncangkan tubuhnya. Agus telah meninggal. Retha benar-benar tidak memiliki keluarga lagi.
"Pak Agus!" Bara ikut berteriak mendekati Retha dan Agus. Ia memeluk tubuh istrinya yang masih menangis tersedu-sedu dengan kematian Agus.
Kesedihan Retha menular kepada Bara. Lelaki itu juga tak kuasa untuk menahan kesedihannya.
Thea masih memiliki tenaga untuk bangkit. Tak ada satupun anak buahnya yang tersisa. Ia benar-benar dikhianati. Sembari menahan sakit di are punggung dan kaki, ia kembali berusaha meraih pistol yang sempat terlepas dari tangannya.
Dendam telah mengusai hatinya. Jika ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan hidupnya, orang lain juga harus ia buat menderita.
Thea mengarahkan pistol kepada Bara dan Retha. "Kalian harus mati!" lirihnya.
Dor!
Sebelum Thea menarik pelatuk pistolnya, polisi yang mengetahui gerakannya tanpa segan menembak kepala Thea. Seketika wanita itu langsung menemui ajalnya terkena tembakan polisi.
Bara dan Retha yang dalam suasana duka sedikit terkejut dengan peristiwa itu. Selain Agus, Thea juga meninggal di tempat yang sama.
Polisi segera mengamankan area. Anak buah Thea yang berusaha kabur masih terus dikejar.
***
__ADS_1
Maaf untuk update lambatnya 🙏🏻