
Retha mendorong pintu kamar hotel yang telah terbuka. Ia masuk ke dalam begitu saja meskipun sepertinya belum ada orang. Sepertinya Zack memang belum kembali. Sesuai arahan, ia akan menunggu di dalam sembari bersiap-siap. Dilepaskannya kimono putih yang menutupi seragamnya lalu digantungkan pada lemari yang ada di dekat pintu masuk.
Bekerja sebagai terapis pijat untuk orang khusus memiliki sejumlah aturan yang ketat. Mereka diharuskan memakai pakaian yang disediakan agar aman, tidak membawa senjata tajam maupun racun yang bisa membahayakan calon pelanggan. Peralatan yang digunakan juga khusus disediakan agar tidak bisa dimanipulasi.
"Sudah aku bilang jangan sembarangan masuk ke kamarku, sia ...." makian Bara terhenti ketika melihat yang masuk ke dalam kamarnya ternyata bukan Zack. Buru-buru ia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan selembar handuk karena ia kira Zack lagi-lagi masuk kamarnya tanpa permisi.
Lebih mengejutkan bahwa yang ada di hadapannya sekarang adalah Miss Retha, guru favorit putranya. Sangat mengherankan tiba-tiba wanita itu ada di sana hanya mengenakan b1kini yang cukup terbuka.
Tas yang Retha bawa sampai terjatuh saking kagetnya. Tubuhnya membeku saat menyadari orang yang ditemuinya bukan Zack, tetapi Bara. Pikirannya sangat kalut memikirkan nasibnya ke depan. Ia pasti akan dipecat dari sekolahan. Reputasi baiknya sebagai seorang guru akan hilang.
"Kamu ... kenapa ada di sini?" tanya Bara.
"Ah! Itu, Pak ... Maaf, ya ... saya kira ini kolam renang. Salah masuk ruangan, Pak! Permisi!" Buru-buru Retha kabur menyambar kimononya lalu berlari ke arah pintu.
"Tunggu!" cegah Bara.
Retha mengurungkan niat untuk membuka pintu tersebut.
"Sepertinya kita harus bicara," ucap Bara dengan nada serius.
"Mati riwayatmu, Retha ...," gumamnya pada diri sendiri.
Retha kembali berbali, bersikap biasa-biasa saja seolah ia memang tidak bersalah. "Bapak kenapa?" tanyanya setelah menyadari lelaki itu berjalan dengan bantuan tongkat. Kaki dan tangannya juga dibalut perban.
"Ada kecelakaan kerja sedikit jadi aku seperti ini." Perlahan Bara berjalan menuju ke arah sofa.
Retha yang melihatnya buru-buru berlari mengejar Bara untuk membantunya berjalan. "Kalau Bapak sakit, kenapa masih bekerja? Bukankah seharusnya Bapak dirawat di rumah sakit?"
"Otak saya tidak sakit, masih sanggup diajak bekerja. Fisik juga tidak terlalu parah. Saya masih bisa mengatasinya sendiri."
Retha langsung terdiam. Ia menyadari bahwa lelaki yang ada di hadapannya adalah orang yang keras kepala.
"Jadi, jelaskan kenapa kamu ada di sini?" tanya Bara dengan tatapan serius.
Retha tidak bisa mengelak lagi. "Sebenarnya saya bekerja sebagai terapis pijat, Pak. Ada yang memesan saya untuk masuk ke kamar ini." Ia menggigit bibirnya sendiri takut dimarahi Bara.
__ADS_1
"Siapa?" Bara mengerutkan dahi. Kalau orang itu adalah Zack, ia bertekad akan menghajarnya habis-habisan.
"Saya dipesan oleh Bapak Zack. Ini nomor pin yang diberikan kepada saya." Retha menyodorkan kartu akses yang dipegangnya.
"Nomor 320?" tanya Bara.
Retha mengangguk.
"Tapi, ini kamar nomor 310."
Retha membulatkan mata. Tidak mungkin ia salah masuk kamar. "Tapi ... kode pintunya benar, Pak. Tidak mungkin saya salah masuk kamar," kilahnya.
Bara mendengus kesal. Lagi-lagi ulah Zack yang sengaja menyeting kamar mereka dengan kode yang sama. Sahabat baiknya itu memang perlu dihajar supaya kapok. "Jadi, kamu masuk ke kamar ini untuk melayani Zack?" tanyanya.
Retha mengangguk.
Entah mengapa terbersit rasa tidak suka dengan pengakuan Retha. Rasanya ia tidak rela guru kesayangan putranya dekat dengan Zack yang sudah jelas-jelas jiwa playboy-nya tidak tertolong lagi.
"Tolong Bapak jangan melaporkan pekerjaan saya ke pihak sekolah, ya, Pak ...," rayu Retha. "Saya tahu pekerjaan ini sangat tidak pantas dilakukan. Bapak pasti kecewa putra Bapak dididik oleh orang seperti saya." Retha menunjukkan ketidakberdayaannya. "Tapi, saya selalu berusaha untuk mengajar anak-anak secara tulus dari lubuk hati."
"Saya bersedia melakukan apa saja asalkan Bapak merahasiakan ini dari pihak sekolah. Saya benar-benar melakukan ini karena terpaksa. Ini akan jadi pertama kali dan terakhir kali saya melakukan hal seperti ini." Retha mer3mas-r3mas jarinya sendiri karena gugup.
"Kamu mau melayani saya?"
Retha membulatkan mata mendengar pertanyaan Bara. "Apa?" Ia ingin memastikan apa yang baru saja didengarnya.
"Layani saya sebagai bentuk kesepakatan di antara kita. Saya tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapapun." Wajah Bara tampak serius mengatakannya. Sebenarnya, ia tidak rela wanita baik hati itu harus mengenal Zack.
Retha masih tidak percaya seorang Bara bisa mengucapkan hal semacam itu kepadanya. Dari penampilannya, ia bukan tipe lelaki yang mudah tertarik dengan seorang wanita. Bahkan, lelaki itu sangat dingin dalam bersikap kepada orang lain.
'Apa mungkin karena dia sudah lama kesepian hidup sendirian?' gumam Retha dalam hatinya. Semua orang tahu bahwa Bara sudah 3 tahun menduda.
"Em, Pak ... tapi saya sudah dibayar selama satu minggu ini. Mungkin Bapak bisa menghubungi saya lagi setelah pekerjaan saya selesai."
"Batalkan!" pinta Bara dengan entengnya.
__ADS_1
Retha membelalakkan mata. Membatalkan kesepakatan yang telah dibuat, sama artinya ia harus mengembalikan uang 50 juta ditambah denda 20%. Tujuannya melakukan hal itu juga untuk melunasi hutangnya. Kalau ia mangkir dari pekerjaan, hutangnya justru akan bertambah banyak.
"Bapak kan masih sakit, tidak mungkin juga kan Bapak bisa menyentuh saya dalam kondisi seperti ini," ucap Retha.
Bara menoleh ke arah Retha. Sepertinya wanita itu sudah salah mengartikan perkataannya. "Kamu kira saya ingin kamu melakukan hal seperti yang Zack perintahkan padamu?"
Retha mengedip-ngedipkan matanya tidak paham.
"Kamu kira saya sedang mengajakmu tidur bersamaku?"
"Kalau bukan untuk itu, Bapak mau saya melakukan apa?" tanya Retha dengan polosnya.
Bara menepuk kepalanya. Ia tidak percaya wanita sebodoh itu bisa terjerumus dalam pekerjaan semacam itu. Bagaimana bisa Zack tertarik dengan Retha yang sangat jauh dari tipe wanita idealnya.
"Kamu lihat kondisi saya? Saya sedang sakit." Bara menunjukkan tangannya yang dibalut perban. "Saya ingin kamu tinggal bersama saya, membantu hal-hal yang tidak bisa saya lakukan sendiri. Termasuk juga membereskan kamar."
Retha baru paham setelah mendengarkan penjelasan Bara. Senyum lebar mengembang di wajahnya. Ia kira Bara ingin mengajaknya tidur.
"Kalau seperti itu, saya bisa, Pak. Saya pandai memasak dan membersihkan rumah." Retha merasa bahagia Bara tidak memintanya melakukan hal yang macam-macam.
"Saya ingin kamu mulai bekerja hari ini juga!" pinta Bara.
"Tapi, Pak. Saya tidak bisa. Saya tetap harus bekerja. Kalau saya tidak melakukannya, nanti saya bisa kena denda 20% dan harus mengembalikan uang yang sudah saya terima!"
"Pokoknya kamu harus tetap di sini!"
*****
Sambil menunggu up date selanjutnya, mampir dulu ke sini 😘
Judul: Suamiku Bukan Jodohku
Author: Dina Dinul
__ADS_1