Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Bayi Besar tak Mau Kalah


__ADS_3

"Ba-ca ... baca! A-pa ... apa!" Kenzo sedang belajar membaca dua suku kata dengan pendampingan Retha.


"Wah, kamu sekarang jadi semakin pintar membaca, ya!" puji Retha.


"Miss Ester yang mengajari di sekolah. Tapi maunya belajar sama Miss Retha aja!"


"Lah, ini sedang belajar sama Miss Retha."


"Maunya belajar setiap hari sama Miss Retha!"


"Oke, nanti setiap hari kita bakalan belajar bersama setiap hari."


Bara tampak melipat tangannya, berdiri di depan pintu ruang kamar yang digunakan Kenzo dan Retha belajar bersama. Ia benar-benar tidak dipedulikan sejak mereka pulang dari makan malam. Retha terus membersamai Kenzo. Anak itu juga sampai jam sembilan malam belum terlihat mengantuk, padahal biasanya jam delapan sudah tidur.


Mereka pulang dari restoran pukul tujuh malam, berarti selama dua jam keduanya asyik bermain dan bercanda tanpa dirinya. Bara selalu diusir setiap kali ingin bergabung main dengan mereka. Kenzo menjadi pesaing berat baginya untuk mendapatkan perhatian Retha.


Kenzo tidak ada bosan-bosannya mengajak Retha bermain. Saat pulang, mereka sempat main game konsol, lanjut main lego, kejar-kejaran, sampai akhirnya Kenzo minta belajar membaca juga. Ia mengalah untuk bersaing dengan putranya sendiri dan memilih masuk ke ruang kerjanya kembali.


Sambungan video masih terhubung. Bara tengah mengadakan pertemuan secara daring bersama sekertaris dan beberapa manajer perusahaan. Ia sesekali meninggalkan rapat virtual dengan alasan ke kamar kecil, padahal untuk mengecek anak dan istrinya.


"Bagaimana dengan jadwal pertemuan dengan CEO perusahaan YH minggu depan, Pak?" tanya sang sekertaris.


"Jangan membahas kerjasama dengan perusahaan YH dulu. Kalau mereka sabar, agendakan pertemuan bulan depan. Aku sudah bilang minggu depan ada urusan ke luar negeri, kan?"


"Tumben Pak Bara mau ke luar negeri bukan untuk urusan bisnis. Kami saja Anda pekerjakan hampir 7 hari dalam satu minggu, Pak!" celetuk Mira, manajer keuangan yang terkenal paling berani menyindir Bara.


"Ini Mira akan saya coret dari daftar karyawan penerima oleh-oleh kalau saya pulang!" ancam Bara. Semua peserta rapat yang berjumlah enam orang itu tertawa mendengar ucapan Bara.

__ADS_1


"Jatah Mira untuk saya, Pak!" sahut Diaz, manajer marketing.


"Yah, Pak ... kok main ancam!" Mira memanyunkan bibirnya.


"Kalian kerja over time saya hitung lembur, loh! Sekarang saja kita rapat virtual, ada tambahan bonus. Kalian cuti juga saya perbolehkan, masa giliran saya ambil cuti kalian kaget?"


"Soalnya biasanya Bapak tidak pernah absen kerja, Pak. Ini tumben kami mau ditinggal dua minggu." Sahrul, manajer personalia ikut menyahut.


"Saya juga butuh healing seperti kalian."


"Mau cari istri baru ya, Pak?"


Bara menyunggingkan senyum. "Tidak. Aku sedang muak saja bertemu kalian."


"Jangan lupa oleh-olehnya, Pak!"


"Kalau kerjaan kalian bagus, nanti saya belikan oleh-oleh. Tenang saja."


Saking solidnya hubungan mereka, jarak antara atasan dan bawahan begitu tipis. Meski demikian, Bara terkenal sebagai bos yang galak, disiplin, dan gila kerja. Rata-rata karyawan yang sejak awal ikut dengannya juga sudah dibuat gila olehnya. Baru sekarang ini saja Bara sedikit santai dalam bekerja.


Pukul sepuluh malam ia mengakhiri rapat. Bara tahu anak buahnya juga perlu waktu istirahat esok hari. Ia juga meregangkan tangannya yang sudah terasa pegal. Laptop ia matikan sebelum keluar dari ruang kerjanya.


Ia kembali mengintip ke kamar. Tampak anak dan istrinya telah tertidur lelap di sana. Dipandanginya wajah tenang keduanya.


"Masa aku tidur sendiri di kamar sebelah," gumam Bara sembari menggaruk kepalanya.


Ia lihat putranya sudah sangat nyenyak tertidur. Biasanya tidak akan terbangun sampai pagi. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk memboyong sang istri ke kamar sebelah. Perlahan Bara mengangkat istrinya agar tidak terbangun dari tidurnya dan tidak membangunkan Kenzo. Rasanya ia tidak bisa lagi tidur sendirian setelah menikahi Retha. Ia tidak mau ranjangnya sepi dan dingin lagi.

__ADS_1


Saat membaringkan kembali di atas ranjang, rok istrinya tersingkap. Gairah yang tadinya sempat mereda tiba-tiba muncul. Rasanya ingin segera menerkam istrinya, namun tidak tega juga melihatnya yang masih lelap tertidur.


Bara menoleh ke arah pintu yang terbuka. Segera ia tutup dan menguncinya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Ia sudah seperti bermain kucing-kucingan dengan anaknya sendiri. Kenzo pasti marah jika tahu Miss Retha dibawa pergi ayahnya.


Bara mulai melepaskan satu per satu pakaiannya. Sepertinya ia akan nekad saja memuaskan hasratnya kepada sang istri. Malam pertama belum cukup untuknya. Hasrat dalam jiwa masih menggebu-gebu. Bahkan miliknya terlihat sudah sangat siap menerjang.


"Maaf ya, Sayang ... suamimu ini bukan orang yang sabaran. Aku akan pelan-pelan dan tetap tidur saja yang nyenyak, ucap Bara seraya melepaskan pakaian milik istrinya.


Bekas kemerahan yang ia buat kemarin masih terlihat cantik menghiasi tubuh istrinya. Ia jadi semakin tidak sabaran.


"Uhh ...." Terdengar suara melengkung sang istri saat Bara menyesap puncak bukit indahnya. Ia tidak pernah kuat menahan godaan dari dua gundukan menggoda wanita muda yang baru sehari ia rasmikan sebagai istri


"Hm, geli ...." Retha berusaha menyingkirkan tangan Bara darinya. Tidurnya terusik. Ia merasa ada yang terus mengganggunya. Matanya sedikit terbuka menatap sang suami yang sudah berada di bukit kembarnya.


"Ngantuk, Mas ... aku nggak kuat. Besok saja," ucapnya dengan nada rendah yang terdengar lemah.


"Tidak apa-apa, nanti tidurmu akan makin nyenyak. Malam ini cukup sekali ya, supaya kamu tidak kelelaha." Bara berusaha merayu.


"Ada Kenzo ...." Retha masih belum sepenuhnya sadar.


"Kenzo di kamar sebelah, kita aman." Bara mendaratkan kecupan di dahi.


"Dingin ...," rengek Rerha. Ia tidak tahu kalau bajunya sudah dibuang entah kemana oleh Bara.


"Nanti aku hangatkan biar kamu tidak kedinginan."


Bara memeluk tubuh istrinya. Ia pagutkan bibirnya pada bibir Retha dengan lembut. Wanita itu membalas ciumannya masih dengan memejamkan mata. Setiap kali Bara menyentuhnya, wanita itu akan mengeluarkan des4han. Ia terlalu malas untuk terbangun. Rasanya sudah sangat mengantuk. Ia pasrah saja dengan apa yang Bara lakukan pada tubuhnya.

__ADS_1


Setiap jengkal permukaan kulitnya disentuh oleh lelaki itu dengan lembut. Membuat g4irah Retha muncul meskipun malas terbangun. Saat Bara mulai memasuki dirinya, ia juga hanya menahan des4han saat perlahan benda itu kembali masuk ke dalam dirinya. Bara menepati ucapannya. Lelaki itu tak seagresif malam lalu, ia begitu lembut memaju mundurkan pusakanya.


Apa yang Bara lakukan bertahan beberapa menit sampai ia merasakan Bara mempercepat gerakannya. Ia turut mengerang saat titik sensitifnya tersentuh milik Bara. Keduanya mencapai pelepasan bersama kemudian tertidur sambil berpelukan.


__ADS_2