Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Silvia Tercengang


__ADS_3

Silvia merasa lemas saat kembali ke tanah air. Ia menghabiskan waktu selama dua minggu di Singapura untuk melakukan proses ab0rsi dan pemulihan. Ketika ia pulang, kondisi sudah sangat berubah. Apartemen yang biasa ditinggalinya terpasang garis polisi. Ia dengar juga bahwa perusahaan Bara dihentikan dan telah dipasangi garis polisi juga.


Menurut kabar yang beredar, kini Bara berada di dalam penjara menunggu proses peradilannya dibuka. Bara terlibat kasus penipuan dan penggelapan dana proyek dengan nilai yang cukup besar. Seluruh aset milik Bara disita. Rasanya ia mau gila, setelah keputusan besar yang baru saja ia lakukan, kini ada persoalan lain menanti dirinya. Bara bangkrut dan dipenjara.


"Kamu nggak mau menjenguk Bara? Kasihan dia kondisinya buruk di penjara. Bahkan keluarganya tidak ada yang peduli kepadanya," ucap Zack saat bertemu dengan Silvia di lobi apartemen. Ia sangat penasaran dengan respon Silvia mengetahui kini Bara sudah tidak punya apa-apa.


"Kamu kemana saja? Suami dua minggu sudah di dalam penjara malah baru kelihatan. Harusny kamu juga ikut diperiksa, kan?" tambah Zack.


Silvia menatap heran ke arah Zack. "Kenapa aku harus ikut diperiksa? Aku kan tidak tahu apa-apa," gerutunya.


"Kamu kan istrinya, otomatis juga mendapatkan kucuran dana dari suami, kan? Dari mana kamu bisa berpenampilan mewah seperti ini kalau bukan dari uang suami?"


Silvia menatap dirinya sendiri. "Ini semua aku beli dengan uangku sendiri. Bara sama sekali tidak memberiku uang."


"Oh, iya? Baru tahu ternyata temanku itu sebenarnya sudah bangkrut sejak lama." Zack tertawa ringan. "Kalau kamu butuh tumpangan, main saja ke apartemenku. Passwordnya tanggal ulang tahunku. Kamu tahu, kan?" katanya sembari mengerlingkan mata dengan genit. "Oh, iya. Bara dipenjara di lapas XXX. Temui saja dia, pasti dia sangat merindukanmu," ucap Zack lagi sebelum ia akhirnya pergi dari sana.


Silvia terduduk di salah satu sudut sofa lobi apartemen. Baru saja ia kembali sudah ada berita mengejutkan. Seketika badannya terasa lemas.


Ia jadi kembali teringat pada perdebatannya terakhir kali dengan Bara. Bara bersikeras meminta cerai dengannya, namun ia sendiri tidak mau menyetujui. Ia sengaja menggugurkan kandungannya agar Bara tidak lagi merasa terbebani dengan anak yang bukan darah dagingnya.

__ADS_1


Setelah melewati proses ab0rsi yang menyakitkan, serta proses pemulihan yang cukup lama hingga dua minggu, ia berharap akan menjadi pribadi yang baru. Rahimnya telah dikosongkan dari bayi tak diinginkan itu. Ia siap jika suatu saat Bara menginginkan anak darinya.


Namun, mengetahui kondisi Bara yang kini telah kehilangan segalanya, ia kembali berpikir ulang untuk kembali padanya. Harta yang sekarang ia miliki memang cukup banyak. Tapi, kalau ketahuan sebagai istri Bara, mungkin hartanya akan ikut disita untuk menutup kerugian yang dialami oleh proyek sang suami.


"Aku bisa jadi miskin lagi," gumamnya sembari menghela napas.


"Oh, ternyata ada super model di sini ...."


Tak sengaja Thea lewat di area lobi apartemen dan melihat sosok Silvia. Kebetulan ia sudah cukup lama ingin kembali bertemu dengan wanita itu. Ia tidak sabar untuk tertawa di atas penderitaan yang Silvia alami.


Silvia merasa malas melihat kehadiran Thea di sana. Waktunya sangat tidak tepat berurusan dengan wanita itu. Bukannya pergi, Thea dengan santainya duduk di sisinya.


"Kemana saja? Aku rasa kamu juga belum mendengar kondisi terbaru suamimu. Kaget ya, lihat apartemen dilabeli garis polisi?" Thea tertawa penuh kemenangan.


"Oh, tentu saja tidak! Aku datang pasti untuk memberikan informasi penting untuk teman SMA ku ...." Thea terlihat terus memasang wajah bahagia selama berbincang dengan Silvia.


Perasaan Silvia masih belum stabil, ia masih syok dengan kondisi yang menimpa Bara. Rasanya tidak bisa dipercaya situasi berubah sangat cepat hanya berselang sehari ia pergi.


"Kamu mau bilang apa? Cepat katakan saja!" tanya Silvia dengan nada ketus.

__ADS_1


Thea menyeringai. "Bara ternyata selama ini punya istri simpanan. Apa kamu sudah tahu?" ia mengatakannya dengan penuh kemenangan.


Silvia tertegun mendengar perkataan Thea. "Apa kamu bilang kalau istri simpanannya adalah dirimu?" ia ikut tertawa. Thea selalu mencari gara-gara dengannya.


"Tentu bukan ... Memang Bara sempat menawariku sebagai istri ketiganya. Tapi, sebagai wanita terhormat, tentu saja aku menolaknya. Kecuali dia mau menceraikanmu dan istri keduanya."


"Hah! Omong kosong!" Silvia masih tidak percaya.


Thea mengeluarkan ponselnya. Ia membuka-buka galeri ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Silvia. "Ini foto pernikahan Bara dengan wanita yang bernama Retha. Kamu bisa mengeceknya di status kependudukan kantor catatan sipil. Aku sudah pernah mengeceknya, ternyata benar seorang Bara telah berani memiliki dua orang istri. Hahaha ...." Thea tak bisa menahan tawanya. "Itu salahmu juga yang memberi celah Bara menikah lagi. Tiga tahun pergi tanpa kabar sudah menjadi alasan yang kuat bagi negara untuk mengizinkan permohonan menikah lagi untuk Bara."


Silvia membulatkan mata menatap beberapa foto pernikahan sederhana tersebut. Ia tidak menyangka jika Bara tak sesetia yang dipikirkannya. Ia sangat senang saat mengetahui foto pernikahan mereka masih terpasang di dinding apartemen. Ia kira selama lima tahun Bara tak bisa berpaling darinya. Tak disangka ada seorang penggoda yang mampu menggoyahkan iman sang suami untuk menikah lagi tanpa sepengetahuannya.


Tangannya bergetar menahan amarah. Wanita yang tampak tersenyum memamerkan cincin pernikahan di samping Bara tak lain adalah Retha, guru kesayangan Kenzo. Ia pernah bertemu dengan wanita itu satu kali. Siapa sangka di balik penampilan lugunya ternyata wanita itu diam-diam menggoda suaminya.


Kalau saja ia bertemu lagi dengan guru Kenzo itu, ingin sekali ia menjambak rambutnya. Akan ia tampar di depan umum sembari ia permalukan sebagai seorang pelakor yang tidam terpuji. Tampangnya yang sok alim bisa menipu orang lain dengan gampangnya.


"Bisa kamu lihat, kan? Dia tidak terlalu cantik jika dibandingkan dengan dirimu. Sepertinya dia juga tipe wanita yang polos dan penurut, karakter yang sangat berkebalikan denganmu. Apa memang Bara sudah ganti selera?" Thea masih berusaha memanasi Silvia. Ia senang melihat raut kemarahan yang ditunjukkan oleh Silvia.


"Kamu tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya, Silvia. Bagaimanapun juga, dia memang hadir untuk mengisi kekosongan Bara saat kamu tidak ada. Apa kamu akan tetap bertahan sebagai istri pertama Bara dan hidup akur dengan madumu? Apalagi suami kalian kan sedang terkena kasus, kalian harus bersatu menjadi pengayom Bara yang pasti sangat pusing saat ini."

__ADS_1


"Tapi, kalau Bara mau menceraikan kalian berdua, aku siap membantunya keluar dari penjara. Sayangnya, Bara sepertinya tidak mau menceraikan kalian."


Thea begitu puas melakukan pembalasannya. Hidup Silvia tak berjalan baik dan wanita itu tidak bisa lagi menyombongkan dirinya. Setidaknya ia telah berhasil membalaskan rasa sakit hati yang dialami sahabatnya.


__ADS_2