Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Masalah yang Masih Terkubur


__ADS_3

"Kak Citra ...."


"Ibu Hana, Kak Citra datang!"


"Ye ... Ada Kak Citra ...."


Kehadiran Citra di Panti Asuhan Anugerah Tuhan disambut oleh keceriaan anak-anak. Ia mengembangkan senyum saat anak-anak itu berlarian menghampiri dirinya yang baru memasuki halaman panti. Ia berikan dua keranjang buah kelengkeng yang sengaja dibelinya di jalan kepada dua orang anak yang paling besar, agar dibagikan dengan anak-anak lainnya.


Ia mencium tangan Ibu Hana yang berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya. Mereka berpelukan. Wanita berusia sekitar enam puluh tahunan itu merupakan kepala panti yang merawat Citra sejak kecil.


Ibu Hana mendedikasikan hidupnya untuk mengurus panti asuhan yang telah dikelolanya selama 30 tahunan. Citra termasuk salah satu penghuni pertama yang diterima panti asuhan. Ibu Citra meninggal tak lama setelah melahirkan Citra, sementara ayah Citra meninggal beberapa bulan kemudian akibat kecelakaan. Citra yang sebatang kara, oleh tetangganya akhirnya dititipkan ke panti asuhan.


Ibu Hana sebenarnya pernah menikah. Namun, dari pernikahannya tidak dikaruniai seorang anak. Suaminya yang seorang tentara meninggal saat bertugas. Saking cinta matinya terhadap sang suami, ia tidak mau menikah lagi dan lebih memilih mendirikan sebuah yayasan panti asuhan untuk merawat anak-anak yang kurang beruntung, salah satunya Citra.


"Apa Ibu sehat?" tanya Citra ketika keduanya telah duduk di ruangan Ibu Hana.


"Seperti yang kamu lihat, Ibu selalu seperti ini. Hanya bertambah tua saja," ucap Ibu Hana.


"Di mataku Ibu masih sama seperti yang dulu, masih cantik," puji Citra.


"Kamu bisa saja. Bagaimana kabar suamimu?"


"Mas Yoga juga baik, Bu. Dia sedang sibuk jadi tidak bisa ikut datang ke sini." Citra berusaha menutupi kondisi rumah tangganya.


"Akhir pekan juga tetap sibuk?" tanya Ibu Hana heran.


Citra mengangguk. Sebenarnya, Yoga bahkan tidak pulang ke rumah semalam. Alasannya masih sama, katanya sibuk kerja. Citra sampai heran pekerjaan apa yang membuat suaminya harus tetap bekerja di akhir pekan. Kalau ditanya, pasti selalu dibalikkan menjadi Citra yang salah. Katanya, semua gara-gara Citra yang tidak mau berhenti dari pekerjaan. Padahal, ia sudah memberikan surat pengunduran diri, hanya perlu menunggu waktu untuk diizinkan keluar saja.

__ADS_1


"Ibu mertuamu juga baik, kan?"


"Baik, Bu. Semuanya tidak ada masalah." Citra menutupi kepedihannya dengan senyuman.


"Syukurlah kalau begitu. Ibu hanya kepikiran saja kalau kamu sampai ada masalah karena belum bisa hamil. Tapi, ungtunglah kamu mendapatkan suami dan mertua yang pengertian."


Citra hanya bisa berusaha mempertahankan senyumnya. Ia tidak ingin masalahnya menjadi beban pikiran bagi Ibu Hana. "Ini untuk Ibu." Citra menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kepada Ibu Hana.


"Kamu ini kenapa setiap datang ke sini selalu memberi ibu uang? Seolah kamu anggap pemberian seperti ini adalah hal wajib. Kamu boleh datang ke sini kapan saja tidak usah terbebani untuk memberikan apa-apa untuk ibu maupun tempat ini." Ibu Hana antara senang dan susah menerimanya. Ia tahu bahwa Citra yang telah menikah pasti memiliki banyak kebutuhan, namun tetap berusaha menyisihkan penghasilan setiap bulan untuk diberikan ke panti asuhan.


"Kamu sudah berkeluarga, dahulukan saja kebutuhan keluargamu, Citra. Kami di sini juga masih berkecukupan."


Sejak lulus SMA Citra sudah mulai bekerja sambil kuliah. Citra yang mendapatkan beasiswa sama sekali tidak memberatkan panti untuk menyekolahkannya. Citra bahkan memberikan gajinya untuk panti, bukan untuk kepentingan sendiri.


Sampai dia lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang lumayan, Citra juga tidak pernah lupa kepada panti asuhan tempatnya tinggal. Setelah menikah, Citra juga masih bersikap sama.


***


Setelah pertama kali melakukan hubungan dengan Ira, Yoga menjadi kecanduan untuk menghabiskan waktu bercinta dengan sahabatnya tersebut. Ia kerap menghabiskan waktu di rumah Ira atau di hotel untuk sama-sama melepaskan hasrat yang terpendam. Bahkan, tak jarang Yoga sampai menginap dan tak pulang.


Meskipun ia masih mencintai Citra, namun untuk urusan bercinta, Ira lebih favorit di hati Yoga. Wanita itu lebih atraktif di atas ranjang dibandingkan istrinya yang hanya seperti seonggok patung. Bahkan Ira cenderung lebih aktif untuk menyenangkannya. Lelaki manapun tidak akan sanggup menahan godaan terhadap Ira. Ia merasa sangat beruntung memiliki Ira yang mampu mengalihkan beban pikirannya baik karena urusan pekerjaan maupun urusan rumah tangga.


Seperti Hari Minggu ini, ia hanya bermalas-malasan menghabiskan waktu di atas ranjang mencumbui Ira. Seakan Yoga tidak ingat lagi kalau di rumah ia meninggalkan istrinya. Menjalin hubungan dengan wanita selain istinya memberikan suatu tantangan yang menyenangkan. Ia merasa berkuasa atas dua wanita untuk kesenangannya sendiri.


Drrt ... Drrt ....


Ponsel milik Yoga bergetar. Ia meraihnya di atas meja.

__ADS_1


"Dari siapa?" tanya Ira yang masih terbaring di sampingnya.


Yoga menaruh jari telunjuknya di bibir agar Ira diam. Wanita itu tahu jika yang saat ini menelepon Yoga pasti adalah Citra.


"Halo," sapa Yoga saat pertama mengangkat telepon.


Ira cemberut. Ia tidak rela Yoga berhubungan dengan istrinya. Sudah benar semalam hingga siang ini ia berhasil menahan Yoga agar tetap bersamanya. Bermodalkan tubuhnya, Yoga tidak bisa menolak saat diajak tidur bersama. Ia sangat senang ketika Yoga terlihat bersemangat setiap kali diajak barcinta.


"Mas, nanti jadi acara makan bersama di rumah Ibu?"


"Iya, tentu saja. Acaranya jam 5."


"Mas Yoga kok belum pulang-pulang?"


Yoga hendak menjawab, namun tangan nakal Ira yang menggenggam miliknya membuat ia urung untuk berbicara. Yoga menutup mulutnya sendiri agar desa.hannya tidak terdengar.


Ira sangat ingin mengganggu Yoga agar tidak berlama-lama bicara dengan Citra. Ia semakin ingin menguasai Yoga untuk dirinya sendiri setelah aatu bulanan lebih menjalin hubungan terlarang itu. Kalau bisa, secepatnya ia akan mencari cara agar Citra segera menghilang dari hidup Yoga.


"Nanti aku akan pulang, pekerjaan sedang banyak." Yoga jadi gemas pada Ira yang senyum-senyum karena berhasil mengganggu konsentrasinya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu Mas Yoga di rumah."


"Tidak usah!" jawab Yoga. "Kamu berangkat saja sendiri, kita bertemu di rumah Ibu. Soalnya tidak akan keburu kalau aku harus pulang dulu menjemputmu. Kamu bisa naik taksi, kan?" kelakuan Ira membuat Yoga semakin enggan pulang.


"Ya sudah, kalau begitu nanti aku pergi sendiri saja. Mas Yoga jaga kesehatan dan jaga pola makan, jangan sampai sakit karena banyak kerjaan."


"Ya, pasti akan aku lakukan."

__ADS_1


Yoga langsung mematikan sambungan telepon setelah dirasa cukup untuk memberi Citra kabar. Sekarang, giliran Ira yang harus diberi pengertian kalau kelakuan Ira membuat dirinya ingin menerkam kembali wanita itu.


__ADS_2