Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Kemarahan Seorang Ayah


__ADS_3

"Kak!" Edis menghentikan tangan Angga yang sedari tadi terus menariknya.


Mereka telah keluar dari kawasan apartemen Angga dan sampai di jalanan menuju asrama Edis. Jarak antara apartemen dengan sekolahan atau asrama memang cukup dekat, melalui jalan pintas hanya memakan waktu 30 menit dengan berjalan kaki. Angga juga lebih suka jalan kaki dari pada membawa motor atau mobil ke sekolah karena harus mengambil jalan memutar.


"Maaf sudah membuatmu mendengarkan hal yang tidak mengenakkan hati," ucap Angga sembari mengacak rambutnya sendiri karena kesal. Ia juga merasa malu di depan Edis karena kejadian sebelumnya. "Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum kamu kembali ke asrama? Tadi aku belum se.pat membuatkanmu makanan," lanjutnya. Ia sungguh salah tingkah sejak kejadian tadi.


"Kamu tidak perlu minta maaf, sebenarnya aku juga tidak merasa terganggu dengan ucapan ayahmu."


Edis menundukkan kepalannya. Ia memainkan jemarinya untuk menyembunyikan rasa gugup. Bagaimanapun juga, hari ini pertama kalinya ia melakukan hal yang lebih jauh dari sekedar ciuman. Ia masih canggung dengan pengalamannya apalagi langsung ketahuan oleh ayah pacarnya sendiri.


"Kamu bicara apa?" Angga tak mengerti dengan jalan pikiran Edis.


Edis mersih lengan Angga, menatapnya dengan tatapan sendu. "Bagaimana kalau kita kembali ke rumahmu, kita minta maaf sama-sama kepada ayahmu?" tanyanya.


Angga tidak habis pikir Edis bisa berkata begitu. "Kenapa kita harus minta maaf? Aku rasa wajar yang namanya pacaran pasti mesra-mesraan. Apa dia tidak pernah merasa muda?" Angga terkekeh dengan kemauan Edis.


"Mungkin kita tidak merasa salah, tapi jika orang tua tidak merasa nyaman dengan perbuatan kita, bukankah lebih baik kita minta maaf?"


"Kamu ... menyesal dengan yang tadi?" lirih Angga.


"Apa?" Edis tak mendengar jelas ucapan Angga kepadanya.


"Ah, tidak apa-apa." Angga menggaruk kepalanya sendiri. Ia benar-benar bisa gila memikirkan kejadian tadi. Momen yang seharusnya sangat romantis rusak begitu saja dengan kehadiran ayahnya. Mereka bahkan jadi sangat canggung. "Aku tidak mau meminta maaf kepadanya. Lebih baik kamu kembali dulu ke asrama," lanjutnya.


"Kak ...." Edis masih berusaha membujuk Angga.


Angga menggeleng. Ia tetap merasa tidak bersalah kepada ayahnya. "Biar nanti aku yang menghadapinya sendiri. Aku tidak apa-apa dimarahi, asalkan bukan kamu. Aku tidak terima dia juga ikut memarahimu."

__ADS_1


"Menurutku hal yang wajar kalau seorang ayah marah melihat perbuatan kita. Aku rasa ayahku juga akan melakukan hal yang sama." Edis mencoba bemahami situasi yang dihadapinya. Ia memikirkan perbuatan mereka memang hampir kelewat batas seandainya ayah Angga tidak datang.


Angga tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan Edis. Ia merasa pacarnya lebih memihak kepada ayahnya. "Ya sudahlah! Aku akan mengantarmu pulang."


Angga tak mau lagi membahas permasalahan tersebut. Ia kembali menarik tangan Edis agar berjalan melewati gang menuju asrama. Sesampainya di halaman asrama, ia melepaskan Edis untuk kembali masuk ke dalam. Sementara, dirinya akan kembali ke rumah.


Tidak tahu mengapa rasanya sangat sulit untuk memperbaiki hubungan dengan ayahnya. Sebelumnya, berkat nasihat dari Edis, ia sedikit melunak kepada ayahnya. Hari ini kejadian kembali terulang, mereka harus kembali berselisih paham.


***


Fabian menrebahkan tubuhnya pada sandaran sofa. Dilonggarkannya lilitan dasi pada leher seraya menghela napas dalam-dalam. Menjadi orang tua di usia muda dan memiliki anak usia remaja sangat sulit. Apalagi setelah memergoki perbuatan putranya sendiri ia jadi semakin khawatir dengan pergaulan Angga.


Fabian sengaja mempercepat urusan bisnisnya di luar kota agar bisa cepat pulang. Ia membawakan hadiah sepatu baru home made dari merk yang sangat Angga sukai. Katanya mereka sedang meluncurkan produk baru dalam junlah terbatas, makanya Fabian langsung membelinya untuk Angga.


Ia melirik ke arah meja, memperhatikan buku-buku yang masih berserakan di atas meja. Melihat apa yang ada di sana, ia rasa kedua anak itu sebelumnya sedang belajar bersama.


Pintu apartemen terbuka. Angga berjalan masuk ke dalam dengan wajah merengut. Anak itu seperti malas kembali ke rumah seperti biasanya.


"Duduk di sini, aku ingin bicara." pinta Fabian dengan nada sehalus mungkin.


"Aku berdiri saja!" Jiwa membantah Angga seakan selalu menjadi yang menguasai dirinya. Ia hanya ingin mendengarkan ocehan ayahnya tanpa harus mematuhinya.


"Jangan kamu pikir apa yang aku ucapkan tadi sedang memarahi kalian atau terutama kamu, Angga. Kamu laki-laki, mungkin tidak terlalu terpengaruh dengan pergaulan bebas."


Seperti dugaan Angga, ayahnya membahas kejadian tadi. Ia akan berusaha menebalkan telinga agar tidak emosi.


"Papa tidak melarang kalian dekat atau pacaran, tapi setidaknya tahu batasan. Apalagi kalau kamu benar-benar mencintai Edis, seharusnya kamu menjaga dia. Kalian masih SMA, masih butuh waktu yang panjang untuk meraih cita-cita dan juga memperbanyak pengalaman hidup. Kalau terjadi apa-apa kepada kalian? Terutama Edis? Lalu bagaimana?"

__ADS_1


"Kasihan orang tua Edis yang sudah bersusah payah membesarkannya. Kalau Edis kenapa-napa, mereka pasti kecewa."


"Kalian juga baru fase cinta yang labil, belum tentu juga hubungan kalian bisa bertahan lama. Bagaimana kalau kalian tidak berjodoh? Kalian menikah dengan pasangan yang lain, bagaimana nasib Edis dengan suaminya nanti? Kamu jangan egois menjadi laki-laki, Angga."


"Hahaha ...." Angga terkekeh. "Apa kamu sedang membicarakan tentang dirimu sendiri?" sindir Angga.


Fabian terkejut putranya berani berkata tidak sopan seperti itu.


"Mama hamil waktu kalian masih lulus SMA, kan? Kenapa sekarang jadi sok mengatur pergaulanku?"


"Angga ...."


"Mana ada orang yang seusia denganmu sudah memiliki anak sebesar aku kalau bukan karena hamil duluan? Jangan berlagak menasihati kalau diri sendiri pernah berbuat salah!"


Fabian menghela napas. "Justru karena Papa pernah merasakan sulitnya menjadi orang tua saat muda, aku tidak ingin kamu merasakannya juga!" Ia meninggikan suaranya. "Kamu pikir mudah memutuskan untuk membesarkan anak yang menjadi tanggung jawab seumur hidup?"


Napas Fabian sampai tersengal-sengal untuk memarahi Angga. Ia sangat murka dan ingin menghajar putranya sendiri yang sangat pembangkang.


"Kalau memang tidak ingin membesarkanku, kenapa dulu tidak diaborsi saja supaya aku tidak lahir?"


"Berani kamu bicara seperti itu? Siapa yang tidak ingin membesarkanmu? Apa aku pernah mengatakannya? Kalau aku tidak mau membesarkanmu, untuk apa aku bekerja keras dan memberikan seluruh fasilitas terbaik untukmu?"


"Bukan aku yang tidak mau menerimamu sebagai anak, tapi kamu yang yang tidak mau menerima kebaikan Papa!"


"Itu salahmu sendiri!" teriak Angga. "Kalau saja Papa tidak menyakiti Mama, aku tidak akan sebenci ini kepadamu!" Angga emosi. Ia berlari meninggalkan ayahnya menuju ke kamar yang terletak di lantai atas. Terdengar suara bantingan pintu sangat keras saat Angga naik.


Fabian kembali merebahkan tubuhnya. Pikirannya jadi semrawut karena putranya sendiri. Ia hanya takut kesalahan yang pernah dilakukannya akan terulang oleh Angga. Fabian merasakan sendiri kerasnya perjuangan membesarkan anak saat baru lulus SMA. Bahkan orang tua istrinya yang cukup tidak peduli dengan kondisi kehamilan putrinya sendiri. Fabian bekerja serabutan setelah lulus SMA demi mencukupi kebutuhan anak istrinya yang juga masih dibantu orang tuanya. Saat-saat itu merupakan saat-saat terberat hingga akhirnya ia bisa jadi sesukses sekarang.

__ADS_1


__ADS_2