Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Wanita yang Tak Puas


__ADS_3

Flash Back On


"Bara, kenapa kamu masih saja bersama dengan wanita itu?"


Ratih tidak habis pikir putranya begitu keras kepala untuk menikah dengan Silvia. Memang sejak SMA mereka sudah berpacaran, tapi Ratih kira cinta anaknya masih sekedar cinta anak muda. Ia sejak awal sudah tidak suka dengan Silvia maupun keluarganya.


"Apalagi alasannya, Ma. Aku cinta Silvia," jawab Bara santai.


"Pernikahan bukan hanya modal cinta, Bar. Memangnya kamu yakin bisa memenuhi tuntutan wanita seperti Silvia? Dia sudah terbiasa hidup glamor sejak remaja. Kamu, disuruh kerja bantu di perusahaan Papa saja tidak mau. Kamu pikir hasil usahamu mampu mencukupi Silvia nanti? Untuk melaksanakan pernikahan juga butuh biaya yang besar." Ratih sangat gusar dengan tingkah putranya. Semakin hari bukannya bertambah dewasa, Bara malah semakin seenaknya sendiri. Ia tidak pernah mempertimbangkan apapun hanya mengikuti kemauannya saja.


"Kami tidak akan melakukan resepsi, Ma. Hanya pernikahan biasa," kilah Bara.


Ratih membulatkan mata. Saking kesalnya, otott di sekitar leher sampai tertarik. "Apa yang baru saja kamu katakan? Kamu pikir keluarga kita seperti apa? Kamu mau orang-orang mencemooh Papa Mamamu? Putra kebanggaan keluarga Atmaja menikah tanpa perayaan? Kamu sudah gila, Bara!" Kalau bukan anak kesayangannya, mungkin Bara sudah ia pukuli berkali-kali.


"Aku hanya tidak ingin merepotkan siapa-siapa."


Ratih rasanya ingin menangis. Putranya sudah sangat sulit dinasihati. Dari sekian banyak wanita yang berusaha mendekati Bara, hanya Silvia terus yang Bara pilih. "Dengan kamu menikahi Silvia saja sudah merepotkan kami, Bara. Mereka juga menilai seperti apa menantu kami nanti."


"Sudahlah, Ma ... capek kalau harus mendengarkan perkataan orang terus." Bara tak pernah mengurusi perkataan orang lain. Ia hanya peduli dengan pilihannya sendiri.


"Hah! Mau bagaimana lagi orang tua sepertiku menasihatimu. Kalau kamu memang tetap mau menikah, ya sudah lakukan saja! Mama hanya bisa membantu semampunya. Nanti Mama akan menghubungi pihak Wedding Organizer yang pernah menangani pernikahan adikmu. Biar Mama yang menanggung semua biayanya."

__ADS_1


"Aku bilang kan tidak usah, Ma!"


Pada akhirnya, pernikahan tetap terlaksana dengan pesta yang meriah. Seluruh biaya pernikahan ditanggung oleh orang tua Bara. Mereka juga perlu menjaga martabat keluarga agar tetap disegani rekan bisnis.


Satu tahun sebelumnya Mitha, adik Bara lebih dulu menikah dengan Aryo. Bara memang sebelumnya belum terlalu ingin cepat menikah. Ia masih fokus mengembangkan bisnisnya sendiri. Ia berencana menikah setelah bisnisnya sukses. Namun, rencananya luluh karena bujukan Silvia. Bara begitu menurut kepada wanita itu.


Pernikahan Bara dan Silvia menjadi pertama kali Ratih bertemu langsung dengan orang tua Silvia. Secara sekilas ia bisa menilai jika mereka tipe orang tua yang gila harta. Lebih membuat Ratih khawatir karena mereka terkenal sebagai orang yang senang hidup secara hedon tidak disesuaikan dengan kondisi keuangan yang dimiliki. Usaha yang keluarga Silvia lakukan juga tidak terlalu bagus.


"Mas, kamu mintalah uang kepada orang tuamu. Sampai kapan kita mau hidup pas-pasan seperti ini? Aku malu kalau bertemu dengan teman-temanku nggak punya baju yang bagus," keluh Silvia.


"Kamu selalu keluar bertemu denganmu memangnya tidak ada pekerjaan selain pamer? Bukannya tas-tas koleksimu ada banyak di rak? Baju-baju juga memenuhi lemari masih bagus kamu bilang nggak punya pakaian?" Bara melepaskan ikatan darinya. Ia baru pulang bekerja dan mendengar keluhan sang istri.


"Ini juga aku lakukan untuk menjaga nama baikmu, Mas. Aku bergaul dengan mereka supaya relasi bisnismu tetap terjaga."


"Aku sudah menuruti kemauanmu untuk tidak bekerja, Mas. Aku sudah jadi istri dan ibu yang baik di rumah, tapi kebutuhanku tidak pernah kamu cukupi."


Perkataan Silvia sedikit menyinggung perasaan Bara. Ia susah bekerja keras banting tulang setiap hari demi anak istri, namun Silvia masih tetap merasa kurang. "Seminggu yang lalu aku sudah memberimu dua ratus juga, Silvia. Apa itu masih kurang?"


"Untuk beli tas saja sudah habis, Mas. Aku belum sempat membeli sepatu dan baju yang cocok dengan tas baruku."


Bara membulatkan mata mendengar jawaban Silvia. Ia sampai bangkit kembali dari rebahannya. "Jadi, uang yang aku berikan sudah kamu habiskan?" tanyanya kaget.

__ADS_1


Silvia mengangguk. "Itu juga masih kurang banyak, Mas ...."


"Silvia ... kamu sadar nggak, sih ... itu jatah uang untuk satu bulan, bisa-bisanya kamu habiskan hanya untuk membeli satu tas." Bara ingin marah namun tidak bisa. Ia sadar bahwa sudah menjadi tugasnya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.


"Kenapa jatah yang Mas Bara berikan semakin sedikit?"


"Aku memberikan sesuai kemampuanku, Silvia. Apa kamu lupa, bulan kemarin kamu minta lima ratus juta untuk orang tuamu? Usahaku masih belum terlalu baik, jadi, bersabarlah. Sementara jangan boros, lebih baik gunakan uang untuk makan saja daripada membeli barang yang tidak perlu."


"Kamu sendiri yang menyuruhku berhenti kerja, Mas. Apa aku salah kalau meminta kepadamu?" Silvia tampak kecewa dengan Bara.


Bara mendekat ke arah Silvia. Dipegangnya kedua pundak sang istri sembari memberikan tatapan hangatnya. "Tidak ada yang menyalahkanmu, Silvia. Aku minta maaf belum bisa mewujudkan semua keinginanmu. Tapi, tolong ... bersabarlah. Aku juga sedang berusaha menjadi seorang pengusaha sukses untuk membahagiakanmu dan Kenzo."


Silvia merasa begitu tersiksa dengan kondisi ekonominya. Ia sangat ingin bekerja supaya bisa menggasilkan uang sendiri. Apa yang Bara berikan masih sangat kurang untuknya. Ia ingin kembali menjadi seorang super model.


Sayangnya, fitrah sebagai seorang ibu menjadi penghalang keinginannya untuk kembali bekerja. Beberapa agensi yang ia temui mengatakan, mereka bisa memakai Silvia kembali jika bentuk badan Silvia telah kembali bagus. Akibat hamil dan melahirkan, tubuh Silvia memang jadi sedikit lebih berisi. Apalagi ia harus menyusui bayinya, sehingga n4fsu makannya kurang bisa terkontrol.


Menapaki usia Kenzo sudah lebih dari satu tahun, ia memutuskan untuk menyapih dini Kenzo. Tentu tanpa sepengetahuan Bara. Ia ingin memiliki bentuk badan ramping seperti dulu. Kenzo perlahan ia alihkan ke susu formula, sementara dirinya melakukan diet cukup ketat. Ia juga jadi rajin berolahraga dan fitnes. Hanya butuh beberapa bulan saja tubuhnya telah kembali ideal.


"Sil, ada lowongan model profesional di luar negeri. Apa kamu mau ikut?" tanya salah seorang rekan Silvia.


"Kalau jauh sepertinya aku tidak bisa. Aku punya anak kecil," tolak Silvia.

__ADS_1


"Yah! Begitulah kenapa agensi malas memakai model yang sudah beranak. Soalnya susah dibawa kemana-mana. Jadi, terserah kamu saja mau ikut atau tidak."


Flash Back Off


__ADS_2