
Silvia baru tahu jika dirinya sedang hamil saat Bara membawanya ke rumah sakit. Ternyata usia kandungannya sudah tiga bulan lebih. Selain meninggalkan harta kekayaan, Gerald juga meninggalkan benih yang kini tumbuh di dalam perut Silvia.
Selama menikah, Bara tidak pernah berbuat kasar kepadanya. Baru kali ini Bara sampai menamparnya bahkan sangat keras.
"Jawab Silvia ... Kamu hamil anak siapa lagi? Apa anak Rangga lagi, hah?" teriak Bara.
Silvia hanya bisa terdiam. Ia takut sendiri melihat Bara marah yang seperti orang kesurupan. "Aku bisa menggugurkannya kalau kamu tidak suka," ucapnya sembari menunduk.
"Kamu benar-benar wanita gila!" Bara tidak habis pikir dengan jalan pikiran Silvia yang sudah tidak seperti wanita waras.
Silvia berlutut di hadapan Bara sembari menitihkan air matanya. "Maafkan aku, Mas ... aku tidak tahu akan jadi seperti ini. Huhuhu ...."
"Hah!" Bara menjambak kasar rambutnya sendiri. Wanita yang dulu ingin dimuliakan olehnya justru semakin bertingkah gila.
"Aku sudah bilang akan berubah ... akan menjadi istri yang baik, Mas. Beri aku kesempatan memperbaiki diri untuk terakhir kali. Demi Kenzo, Mas ... Hiks! Hiks!" Silvia memohon-mohon di hadapan Bara sembari menangis tersedu-sedu.
"Masih berani kamu menyebut nama Kenzo untuk menutupi perbuatan busukmu?" Bara semakin emosi Silvia terus mengintimidasinya dengan membawa Kenzo. Wanita itu sangat tahu jika Bara lemah saat membahas tentang Kenzo.
"Mas, aku harus bagaimana lagi? Kamu masih suamiku dan Kenzo anakku. Terima aku lagi. Aku janji tidak akan mengecewakan kalian." Silvia terus memasang wajah memelasnya.
Bara menghela napas dalam-dalam. "Aku sudah tidak tahu lagi harus berkata apa kepadamu, Silvia. Niatku sudah bulat untuk menceraikanmu. Silakan lakukan apapun sesuka hatimu setelah kita bercerai."
"Dulu kamu bisa menerima Kenzo meskipun tahu dia bukan anak kandungmu. Tapi, kenapa kamu tidak bisa menerimaku yang sekarang, Mas?"
"Tidak ada orang waras yang akan jatuh ke lubang yang sama, Silvia."
__ADS_1
Kata-kata Bara begitu menohok di hati Silvia. "Apa yang akan kamu lakukan dengan Kenzo jika kita bercerai? Dia bukan anakmu, Mas. Kamu juga sudah tahu itu."
"Aku akan tetap merawatnya seperti anakku sendiri. Aku juga tahu kamu tidak akan mau merawat Kenzo."
"Aku akan membawa Kenzo pergi jika kamu menceraikan aku, Mas!" Silvia menimpali ucapan Bara.
Bara rasanya ingin tertawa. "Kamu mau merawat Kenzo? Juga dengan anak yang sedang kamu kandung? Dua tahun merawat Kenzo saja saja sudah banyak mengeluh. Mana bisa wanita sepertimu mengurus anak."
Apa yang Bara katakan tidak sepenuhnya salah. Silvia memang tidak berbakat mengurus anak. Ia bahkan lebih suka bekerja dari pada berkutat dengan kesibukan di rumah maupun mengurus anak.
"Masih ingat waktu kamu pergi dari apartemen ini? Kamu biarkan Kenzo sendirian di apartemen, anak itu sampai main ke balkon dan hampir jatuh ke bawah. Kamu tidak peduli anakmu sendiri mau hidup atau mati?"
"Memangnya kenapa kalau aku tidak peduli?" Silvia mengangkat kepalanya. Tatapan matanya seperti ingin menantang Bara. "Aku memang lebih peduli kepada kebahagiaanku sendiri. Apa aku salah? Apa aku tidak berhak bahagia?" Silvia marah-marah.
"Aku memang telah melakukan kesalahan. Bukan sekali, tapi dua kali. Apa aku tidak berhak untuk mendapatkan kesempatan memperbaiki diri? Aku benar-benar ingin berubah, Mas!" lanjut Silvia.
Bara mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Pak Diman.
"Halo, Pak ... sudah sampai di mana?" tanyanya.
"...."
"Oh, baguslah. Kalau Kenzo sudah keluar dari kelas, antarkan dia ke rumah neneknya, ya! Nanti aku jemput di sana."
"...."
__ADS_1
Bara mematikan kembali teleponnya. Pak Diman masih menunggu di depan gerbang sekolahan Kenzo karena belum waktunya jam pulang sekolah. Bara tidak ingin Kenzo kembali ke apartemen karena Silvia masih ada di sana.
"Hah! Maksudmu apa, Mas? Kamu menyuruh Pak Diman mengungsikan Kenzo agar aku tidak bisa membawanya?" Silvia terkekeh dengan kelakuan Bara. "Kamu jangan jadi orang yang kocak, Mas ... Kamu tahu dia bukan anak kandungmu, tapi masih berniat membesarkannya?"
"Aku tidak ingin Kenzo dibesarkan oleh wanita sepertimu! Cukup terlahir dari rahimmu menjadi kesialan pertama dan terakhirnya." Bara mengatakannya dengan tegas.
Sesayang itu rasanya Bara kepada Kenzo. Dia anak lelaki pertama yang membuat seorang Bara merasa bahagia saat melihat sosok mungil itu ketika terlahir. Ia bahkan tak peduli saat beberapa teman dekatnya memberi tahu bahwa Kenzo kemungkinan bukan putra kandungnya. Berbekal rasa cintanya pada Silvia dan Kenzo, ia rasa bisa menghadapi semuanya. Kenyataannya, Silvia berkhianat kepadanya.
"Bagaimanapun juga aku ibunya!"
"Ya! Tidak ada yang menyangkal fakta itu. Telah melahirkannya dengan selamat ke dunia merupakan kebaikan yang pernah kamu berikan pada Kenzo. Aku harap kamu tidak mengotori kebaikanmu itu dengan hal lain yang lebih parah lagi. Aku akan melanjutkan untuk membesarkan Kenzo."
"Kamu tidak boleh egois, Mas! Aku juga berhak atas Kenzo. Aku bisa menuntutmu jika menghalangi aku memiliki Kenzo. Aku juga akan memberitahu Mama Ratih kalau Kenzo bukan cucunya."
"Aku tidak akan tinggal diam jika kamu berani melakukannya, Silvia!" seru Bara. "Aku bisa saja melaporkan perselingkuhanmu!" ancam Bara.
"Jangan macam-macam denganku, Silvia. Kamu tidak tahu apa yang bisa aku lakukan saat marah. Bahkan untuk mengulik hubunganmu dengan Rangga secara detil aku juga bisa. Apa mungkin kamu suka keributan? Pasti akan seru jika mencatut nama Rangga." Bara menyeringai. Ia memiliki rencana licik jika Silvia tidak mau menuruti kemauannya. Bara dan Silvia sama-sama keras kepala. Mereka merasa benar.
"Aku tetap tidak mau bercerai denganmu. Kalaupun kamu mau cerai, berikan aku uang 300 miliar!" Silvia menuntut adanya kompensasi atas pengajuan perceraian oleh Bara.
Bara sampai tercengang mendengar nominal yang Silvia ucapkan. Nominal itu sangat tinggi untuk dirinya yang masih tergolong pengusaha muda. Menuruti kemauan Silvia sama saja wanita itu ingin memiskinkan dirinya.
"Aku tidak mau lagi mendengarkan kegilaanmu. Aku beri waktu 3 hari untuk kamu meninggalkan apartemen ini. Masalah perceraian, hubungi saja pengacaraku!"
Bara bangkit dari tempatnya. Ia hendak meninggalkan ruangan yang membuatnya muak. Namun, Silvia menahan tangannya.
__ADS_1
"Mas, aku tidak mau bercerai. Titik."
Setelah mengatakan hal teraebut, Silvia melepaskan tangannya. Ia membiarkan Bara berjalan ke arah pintu keluar lalu sosoknya menghilang di balik pintu. Tangisan Silvia pecah. Ia sadar dirinya telah membuat kesalahan fatal, namun tetap tidak mau menerima resiko perbuatannya.