
Ira memperhatikan Yoga yang memilih menyendiri sembari merokok di balkon sebuah tempat karaoke. Lelaki itu memang lebih pendiam akibat urusan rumah tangganya.
Ira menyeringai. Ia yakin ini saat yang tepat untuk masuk ke dalam hati Yoga di saat rasa cinta lelaki itu sedang diragukan terhadap istrinya sendiri.
Malam ini kantor mereka mengadakan acara sederhana di tempat karaoke untuk merayakan salah satu staf yang berulang tahun. Dengan manisnya Ira akhirnya bisa menarik Yoga agar ikut serta. Meskipun sudah ia racuni pikiran Yoga dengan hal-hal buruk tentang Citra, agaknya lelaki itu masih merasa berat meninggalkan wanita itu.
Ira melangkah mendekati Yoga sembari membawa dua gelas alkohol di tangannya. "Minum!" Ira menawarkan satu gelasnya kepada Yoga. Tenang saja, kadar alkoholnya rendah, kok!" tambahnya. Yoga seakan ragu untuk menerima minuman yang ia berikan.
Akhirnya Yoga mau menerima minuman tersebut dan meneguknya. Ira merasa bahagia. Ia turut meneguk minumannya sendiri.
"Masih belum baikan dengan istrimu?" pancing Ira.
"Belum. Aku masih mendiamkannya karena belum juga mau berhenti dari pekerjaannya." Yoga terlihat kecewa sembari menatap ke bawah, memperhatikan lalu lalang kendaraan yang lewat.
"Aku heran ada wanita seegois dia, ya! Apa tidak memikirkan perasaanmu sama sekali?"
"Entahlah. Aku bahkan sudah mengancamnya tidak akan memberikan uang bulanan lagi. Sepertinya hal itu tidak menjadi masalah."
"Mungkin dia sudah mendapatkan cukup uang dari hal lain."
Mendengar perkataan Ira, amarah Yoga semakin meninggi. Ia sampai menenggak habis minuman di gelasnya. Bayangan saat Citra bersama manajer itu kembali melintas di pikirannya. Setiap hari istrinya pasti sangat bahagia bisa berjumpa dengan manajer muda dan tampan itu.
"Kita masuk ke dalam lagi, yuk! Yang lain pasti sedang menunggu kita," ajak Ira. "Bersenang-senanglah dengan yang lain, jangan terus memikirkan rumah tanggamu yang tidak menyenangkan."
Bujukan Ira mampu membuat Yoga menurut. Mereka kembali ke dalam ruang karaoke yang telah dipesan menikmati kegembiraan bersama orang-orang. Sejenak Yoga bisa melupakan masalahnya dengan tingkah konyol yang diperlihatkan oleh rekan kerjanya.
__ADS_1
Tak terasa malam kian larut. Satu per satu dari mereka mulai pamit pulang.
"Ra, bagaimana dengan Yoga? Aku juga harus segera pulang karena sudah larut malam," ucap Tono, salah satu rekan kerja yang belum pulang.
Ira melirik ke arah Yoga yang tampak tidak berdaya karena mabuk. "Kalau begitu kamu pulang saja. Biar nanti Yoga aku yang mengurusnya," katanya.
"Kamu yakin?"
"Iya, kamu pulang saja. Aku bisa mengurusnya."
"Baiklah, aku pulang dulu. Terima kasih, Ra. Untuk hari ini," pamit Tono.
Ira mengantar kepulangan Tono sampai ke depan pintu ruang karaoke. Setelah Tono pergi, ia menutup pintu tersebut. Kini, tersisa dirinya dan Yoga saja.
Ira berjalan mendekati Yoga yang setengah tertidur akibat mabuk. Dipandanginya wajah lelaki yang sejak lama membuatnya jatuh cinta. Ia sampai tidak tahu sejak kapan rasa cinta itu mulai tumbuh untuk Yoga. Terbiasa bersama sejak kecil hingga dewasa membuatnya seolah tidak rela jika Yoga berakhir dengan wanita lain. Masih terasa menyesakkan setiap kali mengingat Yoga yang kini berstatus sebagai suami orang.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Pasti ada seorang istri yang sedang menantikan kepulangan suami dengan cemas.
Ira mengambil ponsel Yoga, membuka kunci layar tersebut dengan sidik jari Yoga. Dengan mudah ia bisa membuka ponsel tersebut. Ia memastikan nomor yang baru saja menghubungi Yoga, benar saja itu nonir Citra.
"Citra, kamu tidak perlu menunggu kepulangan suamimu. Malam ini biar aku yang menjaganya," ucap Ira sembari menyeringai.
Malam ini aku tidak pulang. Aku lembur sampai pagi di kantor.
Ira mengirimkan pesan tersebut ke nomor Citra lalu menghapusnya di ponsel Yoga agar tidak dicurigai. Pandangannya kembali fokus pada Yoga, lelaki yang paling dicintainya.
__ADS_1
"Yoga, malam ini kita harus bersenang-senang sampai puas, ya ... Akan aku tunjukkan betapa besar rasa cintaku kepadamu. Dan aku pastikan kamu tidak akan lepas dari jeratanku."
Ira memanggil seorang pelayan untuk membantunya memapah Yoga yang mabuk berat. Karena tidak memungkinkan membawa Yoga pulang ke rumah, Ira memutuskan menyewa satu kamar hotel yang berada di samping tempat karaoke. Untungnya ada pelayan tempat karaoke yang membantunya mengantar Yoga sampai hotel.
Perasaannya seakan berbunga-bunga saat melihat Yoga terbaring di atas ranjang. Saking bahagianya, ia sampai ingin menangis. Perjuangannya sampai di titik ini begitu menguras kesabaran dan waktu yang lama. Tidak peduli orang lain akan menyebutnya sebagai pelakor, ia hanya ingin mewujudkan rasa cintanya selama belasan tahun. Hasrat untuk memiliki Yoga sudah tidak bisa ia kendalikan lagi.
Perlahan ia mulai menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh Yoga. Sudah sejak lama seharusnya dia yang memiliki tubuh itu, bukan Citra. Ia yang seharusnya duduk di pelaminan dan menjadi istri Yoga. Mengingat kembali keberadaan Citra membuatnya semakin serakah. Ia juga melepaskan pakaiannya sendiri hingga keduanya tak memakai sehelai kainpun yang melekat di tubuh.
Malam ini bagaikan malam pengantin bagi Ira. Ia akan menghabiskan malam dengan penuh cinta bersama lelaki yang disukainya.
"Hm, Ira ... Apa yang kamu lakukan," Yoga masih memiliki sedikit kesadaran saat Ira berada di atas tubuhnya.
Ira menyunggingkan senyum. Ia senang jika Yoga masih bisa mengingat malam ini. Yoga memang harus mengingatnya, bahwa ada wanita yang sangat mencintainya.
"Yoga, aku cinta kamu," ucap Ira.
Yoga hanya tersenyum mendengar perkataan Ira. Tanpa aba-aba, Ira langsung menyambar bibir Yoga dan menciumnya. Membuat lelaki itu sedikit terkejut, namun tubuhnya seakan tak mau menolak apa yang Ira lakukan. Bahkan, pertemuan bibir serta lidah mereka seakan menciptakan gelayar-gelayar aneh dalam dirinya. Yoga seakan terpancing untuk berhasrat kepada wanita agresif yang ada di atasnya.
Sentuhan yang Ira berikan kepada tubuhnya semakin membuat Yoga tidak berdaya. Ia telah ikut terhanyut menginginkan sosok wanita tanpa busana di atasnya. Tangannya ikut nakal menggerayangi bagian tubuh sahabatnya sendiri.
Malam ini menjadi pertama kalinya Yoga menyentuh wanita selain istrinya. Mengingat sudah dua minggu lebih tidak menyentuh istrinya, hasrat itu tiba-tiba muncul. Sepertinya malam ini ia akan menggila dan tak bisa menahan diri lagi.
"Ira ...." Yoga masih berusaha menahan diri saat wanita itu memegang miliknya.
"Aku tidak apa-apa, Yoga. Kita nikmati saja malam ini. Aku juga menginginkanmu," ucap Ira.
__ADS_1
Bagaikan gayung bersambut, keduanya melanjutkan aktivitas mesra tanpa ragu. Yoga yang awalnya tak berdaya karena mabuk, tiba-tiba kembali memiliki tenaga untuk merengkuh Ira dengan mesra. Suara ******* yang mereka ciptakan memenuhi ruangan. Keduanya telah dikuasai oleh na.fsu, tak bisa lagi memikitkan bahwa mereka sedang melakukan sebuah hubungan terlarang.